
Hari ini menjadi hari yang paling menegangkan bagi Yuna karena akan melaksanakan tes masuk ke dokteran.
Pada pagi hari Yuna sudah siap dengan beberapa perlengkapan yang di perlukan, ia kini tengah memakan sarapan yang di siapkan oleh Ibunya.
Selesai sarapan Yuna berjalan menuju halte bus dan sampai di kampus satu jam sebelum tes di laksanakan.
Hati Yuna bergejolak gugup menghadapi semua, namun ia harus semangat demi mimpi yang baru di pikirkan seusia benih jagung yang baru tumbuh.
Mata Yuna menatap lekat jalanan ketika ia berhasil duduk di samping jendela, memejamkan mata untuk berdoa agar ia bisa berhasil. Tidak lupa ia juga memberi tahu Delon bahwa wanita itu sudah berada di dalam bus.
Sepuluh menit lamanya berada di dalam bus akhirnya Yuna keluar sambil menatap gedung megah di depannya bertuliskan nama kampus yang ia tuju.
Hembusan napas gusar milik wanita itu terdengar berat, langkah kakinya perlahan memasuki gerbang hingga ia kini duduk di kursi taman.
Sambil menunggu Delon datang Yuna membaca beberapa buku yang ia bawa, mengingat kembali pelajaran yang mungkin keluar nanti.
Tidak kunjung lama Delon datang berlari, napas tersengal-sengal milik pria itu membuat Yuna menatap sambil cekikikan.
"Kamu berlari hingga ke sini?"tanya Yuna tersenyum.
"Lalu kamu pikir?"tanya Delon.
"Sudah siap?"sambung pria tersebut dengan tatapan khawatir.
Yuna mengangguk dengan cepat.
Hingga tibalah waktunya, Yuna segera pergi untuk menuju ruangan yang sudah di tentukan. Tempatnya terletak tidak jauh dari taman, tidak memerlukan waktu banyak.
Mata Yuna terbelalak ketika melihat banyak saingannya di dalam sana, namun hatinya selalu mengatakan bahwa ia pasti bisa karena ia akan melakukan yang terbaik.
Ujian di laksanakan, semua orang terlihat beradu dengan pikirannya sendiri untuk memecahkan soal pertanyaan yang ada di dalam komputer. Lain dengan Yuna yang selalu mendapatkan jawaban secara langsung meski harus menhingat keras tapi ternyata jawabannya tepat.
Empat jam berlalu, para calon dokter di ruangan tersebut keluar dengan wajah penuh gelisah karena satu hari kemudian mereka akan menerima hasil yang baik atau buruknya harus di terima.
"Bagaimana?"tanya Delon yang senantiasa setia menunggu Yuna.
"Terisi semua, tapi melihat mereka gelisah aku juga jadi ikut gelisah mendengar mereka mengatakan bahwa ujian ini akan di umumkan besok."
Delon menenangkan Yuna dengan iming-iming memberikan ice cream secara gratis.
"Tenang, aku juga dulu sepertimu Yuna. Mari sekarang kita beli ice cream terlebih dahulu, aku yang traktir."
Yuna yang mendengarnya seketika berubah ekpresi menjadi senang lantaran ia akan mendapatkan ice cream gratis.
Mereka berdua pergi ke toko terdekat untuk membeli dua buah ice crem untuk menenangkan panas di dalam pikiran karena overthinking.
Merasa sedikit tenang Yuna memutuskan untuk pulang dan memberi tahukan tentang kelancaran dalam mengerjakan soal tersebut.
Langkah kaki Yuna terlihat lunglai, cemas dan tidak percaya diri atas apa yang ia lakukan tadi. Takutnya akan membuat orang tuanya kecewa karena gagal.
Namun seketika Yuna tersadarkan akan sebuah kalimat yang menggejolak di dalam dirinya yang berisikan kata semangat, terlihat sederhana tapi orangnya yang tidak.
Ketika melamun, tiba-tiba handphone Yuna mendapat notif pesan dari seseorang misterius. Nomor yang tidak pernah menghubungi Yuna sebelumnya bahkan tidak ada pada kontak mengirimkan beberapa foto.
Dahi Yuna mengkerut ketika ia melihat foto tersebut ketika di unduh adalah miliknya, ada yang memata-matai Yuna.
Dengan gelagap aneh Yuna segera berlari agar tiba ke rumah dengan cepat, tapi sial bus di sana sudah pergi selama Yuna membuka isi pesan tersebut.
Tiba di perhentian bus selanjutnya, syukur ada bus yang berhenti. Dengan segera Yuna masuk ke dalam bus dengan napas tersengal-sengal karena berlari, sudah lama ia tidak melakukannya.
Masuk ke dalam rumah pun Yuna harus melihat sekitar untuk memastikan tidak ada yang mengejarnya, tapi ia yakin bahwa ada mata-mata dari kejauhan hanya untuk melihat Yuna, tapi siapa?
"Ada apa Yuna."tanya Ibunda Yuna dengan wajah kebingungan.
Yuna menggeleng cepat, enggan memberitahu apa yang sebetulnya ia alami.
"Aku naik ke atas."
Meregangkan tubuh sambil menghela napas tenang membuat Yuna nyaman, sekilas ia melupakan kejadian barusan. Tanpa ia sadari matanya kini mulai terpejam karena lelah.
Di kediam Jeon, semua orang di buat terkejut atas ke datangan seorang pengawal yang dulu pernah bekerja dengan Jungkook. Ia mengatakan panjang lebar tentang kejadian yang menimpa Tuan di keluarga tersebut.
Semua orang menatap heran kearah pengawal tersebut sambil tertawa ketika menjelaskan bahwa Jungkook masih hidup.
"Kami melihat sendiri baju yang dia kenakan untuk terakhir kalinya sangat sama. Jangan berasumsi yang tidak-tidak, butuh uang berapa banyak kamu?"
Padahal pengawal dengan baju sederhana tersebut hanya ingin memberitahu keberadaan Jungkook saat ini, tapi mereka menganggap remeh.
"Jika memang betul adanya, mari kita ikuti yang dia mau."
Sudah sepakat, mereka akan pergi ke alamat yang di berikan oleh pengawal tersebut. Tidak berharap Jungkook masih hidup tapi untuk menutup milut.
Jimin yang menguping dari balik pintu sontak segera menelepon seseorang yang begitu penting untuk kehidupan satu orang.
Imbalan yang di berikan oleh keluarga Jeon sangat mahal, bahkan bisa membeli seluruh yang di inginkan.
"Jimin, segera ikut dengan orang ini. Kami akan menunggu di sini."
Jimin menyanggupinya tapi pengawal tersebut meminta seluruh keluarga bisa datang ke sana. Berat hati mereka meneri itu semua, sudah terlihatkan apa yang sebenarnya mereka inginkan. Bukan kebahagian anak tapi obsesi sebagai orang kaya yang tak terkalahkan.
...****************...
"Mana? Mana Jungkook?"tanya Ibunda Jungkook dengan tatapan tajam kearah pengawal tersebut.
"Tapi saya melihatnya secara nyata bahwa Tuan di bawa ke rumah kosong di dalam hutan ini."kekeh pengawal tersebut.
PLAK!
PLAK!
Dua tamparan dari Ibunda Jungkook mengenai pipi pengawal yang sudah menitup kediaman Jeon tersebut.
"Penjarakan dia karena sudah menipu keluarga Jeon!!"
Kenyataan memang tidak dapat di pungkiri jika anak yang di andalkan di keluarga Jeon sudah tidak ada, hanya kerangka yang kini di gerogoti cacing tanah di dalam kuburan.
Sementara Jimin mengelus dada merasa lega karena tidak ada yang mempercayai pengawal tersebut hingga di anggap penipu, untung saja.
"Jimin, sedang apa kamu menatap pria di sana. Biarkan, mungkin dia orang gila."
Dengan senyum melengkung Jimin pergi dari sana, senang saja rasanya.
Syukurlah Tuan...