
Waktu sudah semakin malam, beberapa pelanggan sudah pergi dari cafe karena sebentar lagi akan tutup.
Yuna tengah berada di balik layar tepatnya di dapur, ia membersihkan sisa makanan beserta alat-alat makan.
"Yuna, jangan lupa untuk membuang sampah di belakang."ujar salah satu senior.
Wanita itu bangkit, mengangkut sampah yang terisi penuh di dalamnya. Tubuh kecil Yuna menggiring plastik hitam di sampingnya menuju ke belakang yang jaraknya cukup jauh.
"Yuna, sedang apa kamu?"tanya Gerld segera menghampiri wanita itu dengan gagah.
Gerld mengambil plastik sampah yang di genggam oleh Yuna, membantu untuk membuangnya ke tempat sampah.
"Kenapa harus wanita yang melakukan pekerjaan kasar seperti ini? Tadi saya lihat ada pria. Apa gunanya mereka?"tanya Gerld dengan amarah.
Yuna menggeleng,"Saya kan baru masuk bisa di bilang anak baru, wajar saja jika mereka melakukan itu."
"Ini tidak wajar!"
Mata wanita tersebut membelalak sambil menutup mulut Gerld dengan cepat,"Jangan bicara begitu, saya butuh pekerjaan. Sudah beruntung bisa bekerja di sini, saya harap Anda tidak datang kembali. Sudah tahukan jawaban saya apa? Tidak!"
"Terimakasih sudah membantu!"ujar Yuna sebelum ia pergi ke dalam.
Yuna menatap kearah depan, tepatnya deretan meja dan kursi yang harus ia angkat seorang diri karena seniornya sudah pergi.
"Bagaimana? Apa masih bisa melakukan seorang diri?"tanya Gerld dari belakang.
Tanpa menoleh Yuna menolaknya begitu saja, wanita tersebut segera mengangkat kursi ke atas meja satu persatu.
"Kenapa masih membantu? Saya kan sudah bilang tidak usah!"ujar Yuna.
"Saya yang mau, tidak ada hak untuk menolak. Mengerti?"
Yuna diam saja ia tidak menggubris apa yang di lakukan oleh Gerld, biarkan saja pria itu melakukan apa yang di inginkan.
"Mengapa kamu menolak menjadi sekertaris saya?
"Jawabannya sudah jelas!"
"Apa? Karena masalah gosip yang beredar itu?"
"Tentu, semua itu membuat hidup saya tidak tenang. Saya tidak menyesal sudah membantu Bapak tapi pandangan orang berbeda."
"Baik, saya mengerti."
Gerld tidak berkata sepatah kata pun membuat wanita itu keheranan, yasudah biarkan saja hingga akhirnya tugas Yuna selesai tepat di jam satu dini hari.
"Saya antar kamu pulang."
"Tidak usah, saya bisa sendiri."
"Yuna, ini sudah malam. Apa kamu tidak takut?"
Yuna menggeleng, menolak semua yang di katakan oleh Gerld.
"Yuna!"
Gerld sudah tidak bisa sabar lagi, wanita itu tidak mau dekat dengannya padahal sudah larut malam.
Tangan Yuna di genggam erat oleh pria tersebut menyeretnya ke dalam mobil untuk pulang.
"Saya tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Kamu harus ingat bahwa kamu seorang wanita yang bisa kapan saja dalam bahaya."
Yuna duduk, menurut apa yang di katakan oleh Gerld sampai mereka berdua sampai di tujuan yaitu rumah Yuna.
"Terimakasih, lain kali Bapak tidak usah menunggu saya karena jawabannya sama."ujar Yuna pergi.
Mobil mewah milik pria itu pergi melesat menembus angin malam, sementara Yuna masih menatap kepergiannya.
Bukan apa-apa rasanya tidak nyaman di dekati oleh pria lain selain Jungkook, untuk saat ini pintu hati Yuna masih hilang terkunci dan tidak tahu sampai kapan bisa terbuka kembali.
"Ada apa denganmu Yuna, berhenti berpikir. Jangan biarkan pria lain mendekatimu apalagi seorang dosen yang akan menjadi gosip di kampus."ujar Yuna pada dirinya.
Wanita dengan keringat bercucuran tersebut segera masuk ke dalam rumah, melihat sekitar yang ternyata sudah tidak ada cahaya lampu selain di area dapur.
Suara serak nan sendu tersebut datang dari Ibunya yang terbangun hanya untuk memastikan anaknya sudah makan atau belum.
"Sudah, Yu-Jung?"
"Dia sudah makan dan lainnya, sekarang anakmu sudah tidur di kamarnya. Jangan lupa kamu juga mandi dan segera tidur."ujar Ibundanya.
Yuna mengangguk nurut, ia segera berjalan menuju lantai atas tidak sabar melihat wajah anaknya serta meregangkan tubuhnya yang amat letih.
Ketika membuka kenop pintu dengan perlahan Yuna menyaksikan pemandangan yang memilukan hati, tepatnya Yu-Jung.
"Yu-Jung, wajahmu selalu saja mengingatkanku kepada Ayahmu. Aku tidak bisa menahan tangis di pipi, maafkan Ibumu ibi."ujar Yuna menyentuh pipi anaknya perlahan.
Kecupan lembut mendarat di kening anaknya, mengusap perlahan tanpa mengganggu agar tidak terbangun.
Selesai menemui anaknya Yuna segera membuka seluruh pakaian lalu masuk ke dalam kamar mandi membasuh penatnya.
"Yuna, mari kita berjalan dengan penuh semangat. Semangat Yuna demi Yu-Jung!"ujar Yuna.
Tubuh terbalut handuk dengan rambut basahnya segera keluar untuk mengenakan pakaian tidur, menyelesaikan perawatan wajah lalu tertidur sambil melihat bintang yang tertempel di langit-langit kamarnya.
...****************...
Seperti Ibu pada umumnya Yuna segera menyiapkan peralatan unttuk Yu-Jung seperti memandikan dan yang lainnya. Untung sekali Yuna tidak harus pergi ke kampus di karenakan tidak ada mata pelajaran.
"Yuna, apa sekarang kamu tidak bekerja?"tanya Ibundanya.
"Apa sebaiknya kamu keluar saja? Orang tuamu masih mampu menyekolahkan anak dan cucu serta kehidupan kita. Kamu terlihat lelah."
Yuna menggeleng, bagaimana juga apa yang sudah ia kerjakan maka harus di selesaikan.
"Tidak, aku masih bisa melanjutkannya. Untuk keluarga serta anakku."ujar Yuna.
Sebagai seorang Ibu hanya bisa menyemangati dan mendukung tanpa menjatuhkan atau memaksa anaknya mengikuti kemauan jika memang sudah memutuskan.
"Yuna, setelah selesai ajak Yu-Jung untuk berjemur di bawah sinar matahari."
"Baik."
Setelah selesai dengan memandikan Yu-Jung, Yuna segera membawa anaknya berjalan-jalan di taman agar sehat untuk tulang.
Tidak lupa Yuna bertemu dengan Sona yang tengah bermain jauh di seberang sana hingga akhirnya Yuna yang memanggil anak tersebut.
"Wah adek bayi!"teriak Sona dengan gembira.
Lama tidak bertemu dengan anak tersebut membuat Yuna tersenyum karena penampilannya sudah berbeda serta berat badan yang tampak bertambah, bukankah itu artinya Sona sudah bahagia?
"Apakah Sona sekarang sudah bahagia?"
Sona tersenyum senang,"Aku bahagia karena nenekku datang, mereka sekarang sudah lebih sayang kepadaku."
Yuna tersenyum ikut bahagia atas apa yang di rasakan oleh Sona,"Wah bukankah benar apa yang di katakan oleh kakak bahwa setiap orang akan bahagia hanya menunggu waktu saja."
"Betul, tapi aku takut setelah nenek pergi mereka kembali berubah lagi. Apakah mereka akan berubah? Aku takut!"
Yuna meneluk Sona dengan dekapan yang lembut serta hangat,"Masih ada kakak Yuna. Jangan khawatir."
Sona mengangguk senang,"Kakak Yuna memang yang terbaik, terimakasih!"
Mereka berdua terlihat bahagia begitu pula dengan Yu-Jung yang tersenyum seakan sudah mengerti apa yang di katakan oleh dua wanita tersebut.
Di rasa cukup Yuna membawa Yu-Jung pulang kembali bersama dengan Sona yang berada di samping.
"Boleh menginap di rumah kak Yuna? Aku ingin tetap dengan dengan adek bayi."
"Tentu saja boleh, tapi kamu harus meminta izin terlebih dahulu mengerti?"
"Mengerti!"
Lengkung senyum nyata dari keduanya terlihat begitu bahagia.