
Tuan?"
"SYUKURLAH TUAN SUDAH SADAR!"
Jemari Jungkook di gerakkan, ia menatap atap ruamah sakit dengan mata yang masih samar di lihat. Pandangannya kini tertuju pada sebuah box bayi di sampingnya, bertanya milik siapa itu?
Meski mulut pria itu masih kaku untuk berbicara setidaknya mata hatinya selalu berkata, tentu yang pertama adalah mengucapkan rasa syukur karena sudah berhasil melewati segalanya.
Tangan yang lemah segera di gerakkan untuk membuka selang oksigen yang menutup mulutnya, dengan lirih Jungkook berkata.
"Ba-yii siapa ini?"tanya pria tersebut membuat Jimin tersenyum.
Jimin menggendong bayi yang tengah tertidur tersebut, membawanya tepat di samping wajah Jungkook.
"Jika anak ini mirip sekali dengan Tuan, lantas bayi siapa ini?"
Mata Jungkook terbelalak ketika mendengarnya, jujur bayi di sampingnya mirip sekali dengan dia ketika masih bayi juga.
"Yuna?"tanya Jungkook.
Jimin mengangguk cepat,"Tentu selama ini yang mengurus Tuan adalah Nona."
Jungkook senang bercampur sedih karena sudah di pertemukan kembali oleh takdir yang membuat mereka akan bersatu kembali. Tapi senyum Jungkook yang berbinar kembali redup ketika ia tidak dapat menggerakkan kedua kakinya.
"Jimin, kenapa aku tidak bisa menggerakkan kedua kakiku?"tanya Jungkook membuat Jimin ikut panik.
"Tuan, biar saya hubungi dokter."ujar Jimin segera bangkit.
Apa benar kaki pria tersebut akan lumpuh?
Namun sebelum pergi Jungkook meminta Jimin untuk merahasiakan bahwa dirinya sudah sadarkan diri. Tentu Jimin setuju dengan perkataan Tuannya, lantas pergilah dia untuk bertanya pada dokter.
Setelah di periksa, memang betul pria tersebut mengalami kelumpuhan seperti yang sudah di obrolkan kala itu. Akibat dari kecelakaan memang fatal, safarnya sudah rusak sampai mengakibatkan lumpuh untuk sesaat.
Di dalam hati Jungkook memaki dirinya sendiri, jika selama ini yang menemaninya adalah Yuna lantas sampai kapan wanita itu terus kesulitan karena mengurus orang tidak berguna.
"Dokter, saya mohon untuk merahasian segalanya. Anggap saja saya masih koma seperti hari lalu, jangan bilang kepada wanita bernama Yuna."ujar Jungkook memohon.
Dokter tersebut tersenyum,"Saya adalah dosen serta dokter di sini, dan Yuna adalah salah satu mahasiswa saya di kedokteran. Saya paham betul kenapa Anda tidak ingin wanita itu mengetahuinya. Dia wanita yang baik serta kuat, tidak pernah ada kata menyerah dalam hidupnya meski harus menerima makian ketika hamil tanpa suami. Sekarang Tuhan menjawab doanya yang membuat Anda sadar kembali, tolong jaga dia. Tadi saja dia membantu kami para dokter yang kewalahan dalam merawat pasien untung ada dia yang membantu, Anda sangat beruntung Tuan."
"Kalau begitu, saya pamit."sambung dokter tersebut setelah menjelaskan panjang lebar.
"Yuna menjadi dokter?"
"Iya, Nona menjadi mahasiswa kedokteran terbaik di universitasnya."
"Dia hebat tanpaku, Jimin."
Tatapan kosong Jungkook membuat Jimin khawatir,"Tuan jika Nona tidak tahu bahwa sekarang Anda sudah sadar lantas bagaimana dengan dirinya? Nona terlalu sabar mengurus Anda hingga tidur di sini sepanjang malam. Apa Tuan yakin tidak mau memberitahu Nona?"
Jungkook galau mendengar hal tersebut, ia memiringkan wajahnya ke sebelah kiri."Dia sudah menghadapi semuanya dengan makin, lantas jika aku kembali dengan keadaan ini bagaimana dengan dia? Tentu banyak orang yang tidak menyukai pria cacat."
"Tapi Nona akan menerimanya."
"Dia memang akan menerima, tapi orang lain bagaimana? Pandangan orang selalu saja menyesatkan."
Jungkook kekeh dengan pilihannya, masih berpura-pura koma hingga waktunta tepat untuk memberitahu Yuna.
Tidak sampai sepuluh menit Yuna datang dengan sekantung obat di tangannya, ia merebahkan tubuhnya di atas sofa. Melihat sekilas Jungkook yang tidak berubah posisi namun tidak ada Jimin di sana.
Sambil memakan bubur yang sudah ada sejak pagi hari Yuna menatap lekat wajah Jungkook.
"Jungkook, aku akan tetap menunggumu. Apa kamu tidak mau bangun dari koma untuk melihat anak serta wajahku kembali, aku akan menjadi dokter Jungkook."ujar Yuna.
Setelah memakan bubur wanita itu segera meneguk enam pil obat yang berada di telapan tangannya. Ternyata efek salah satu obat tersebut mengandung obat tidur hingga akhirnya Yuna tidak sadarkan diri.
Selain itu Jungkook yang mendengar semua ucapan Yuna mulai meneteskan air mata, menjawab segalanya dalam hati.
Melihat istri dan bayinya yang tertidur membuat hati Jungkook teriris kembali seakan terkena serpihan kaca kecil namun menyakitkan. Bagaimana bisa pria cacat melindungi keluarganya? Mereka juga akan malu mendapati pria seperti itu menjadi suami serta Ayah.
Entah sampai kapan Jungkook berprasangka terus menerus, tapi intinya pria itu menangis sampai membuat bantal yang ia tiduri basah.
Yuna terbangun karena bermimpi buruk, sial sekali.
Tanpa di sadari Yuna berjalan menuju Jungkook berada lalu memeluknya,"Aku tidak ingin kehilanganmu!"
Jungkook yang masih terjaga ingin memeluk kembali tubuh yang ia rindukan, membalas setiap perkataan Yuna.
"Aku tidak akan meninggalkamu atau sebaliknya!"
Aneh, Yuna menyentuh bantal Jungkook yang basah. Rupanya pria tersebut menangis ketika dalam keadaan koma.
"Kenapa kamu menangis?"tanya Yuna menyeka air mata di atas pipi Jungkook.
"Jangan menangis Jungkook, semuanya akan baik-baik saja."
Jungkook tidak bisa menahannya, kepura-puraan yang akan ia buat sebelumnya hancur karena tidak kuasa menahan air mata.
Kedua tangan Jungkook mulai memeluk pinggang ramping Yuna membuat wanita itu terkejut.
"Aku juga tidak ingin kehilanganmu,"suara serak pria tersebut membuat Yuna menutup mulutnya saking terkejut.
"Jungkook?"
"Iya."
"Ini betul?"
Seakan tidak percaya Yuna menepuk kedua pipinya.
Jungkook membuka kedua matanya, menatap lekat wanita di depannya. Tangis Yuna pecah, manik mata yang ia rindukan setiap waktu bisa ia tatap kembali.
Mereka berdua akhirnya berpelukan, menguntai segala kasih dan cinta yang ada pada mereka. Begitulah takdir yang memisahkan lalu menyatukan kembali.
"Yuna, apa kam-"
"Iya, aku sudah melahirkan anak kita. Wajahnya sangat serupa denganmu, lihatlah? Tidak ada sedikit pun rupaku, padahal aku yang melahirkannya. Bukankah tidak adil?"tanya Yuna memanyunkan bibirnya marah.
Gemas sekali ekspresi Yuna membuat kedua tangan Jungkook mencubit pipi wanita itu.
Yuna membawa anaknya, tepat di tengah-tengah karena mereka bertiga tertidur bersama di atas brankar. Keluarga bahagia yang Yuna harapkan sudah lengkap, tidak ada lagi kehilangan di antara mereka. Hidup yang lalu biarlah berlalu agar mereka bisa menjalani yang sekarang dan yang akan datang.
Tanpa sadar mereka tertidur, meski Jungkook terbalut alat di atasnya tidak masalah untuk Yuna. Anaknya bisa mendapatkan orang tua yang lengkap seperti sekarang ini.
Pintu ruang rawat inap di buka dari luar, seorang perawat terharu melihat keluarga kecil yang tengah berbahagia. Dengan senyum mengembang perawat tersebut mengurungkan niatnya untuk mengambil barang yang tertinggal, rasanya mereka butuh waktu bersama.
"Semoga menjadi keluarga yang bahagia."
Dan pintu tersebut tertutup kembali......
...****************...
"Bagaimana hasilnya?"
"Nona wanita itu selalu saja selamat!"
"Tapi saya mendapatkan yang lebih baik dari itu, apa Nona ingin mendengarnya?"
"Katakan!"
"Yuna melahirkan anak Jungkook,"ujar penelepon di sebrang sana yang membuat wajah wanita di ruangan ber AC terdiam bahkan mengepalkan kedua tangannya.
"Bunuh dia!"