
Suara burung berkicau merdu beriringan dengan deru angin yang menggugurkan setiap daun yang menempel di sela-sela ranting, ketukan sepatu hak tinggi menggema di sepanjang jalan menyatu dengan suara alami dari alam. Kibasan rambut pirang nan panjang dengan wajah sembong membuat seorang wanita yang tengah mengelus nisan di sampingnya menoleh heran.
Kacamata hitam yang menghimpit hidung mancung wanita berpakaian serba hitam tersebut di buka, memperlihatkan mata tajam dengan manik mata menyorot penuh amarah.
"Siapa kamu?"
Satu pertanyaan pertama dari wanita yang terduduk lesu di samping nisan bertuliskan sebuah nama yang tidak asing di telinga.
"Tidak penting, Anda tidak harus tahu siapa saya dan hubungan bersama dengan orang yang ada di dalam sana."
"Apa hubungan kalian?"
"Mari bekerja sama, hancurkan wanita yang membawa sial itu."
"Sebetulnya siapa, Anda?"
Mata mereka bertemu, seakan memiliki nasib yang sama keduanya sepakat untuk melakukan kerja sama gila.
"Setuju?"
"Setuju, aku ingin melihat dirinya menderita seperti kita."
...****************...
Yuna masih bersama dengan Sona, anak kecil itu masih enggan untuk pulang ke rumahnya.
"Bagaimana kalau kita ke taman bermain?"tanya Sona dengan mata berbinar.
"Taman bermain memakan waktu dua jam dari sini ke Lucerne."ujar Yuna kebingungan karena ia tidak bisa meninggalkan kelas.
"Bagaimana kalau nanti di saat libur, mau?"tanya Yuna lembut pada Sona.
Sona terlihat tidak mau menerima ajakan tersebut karena keinginan gadis tersebut sudah bulat, tapi bagaimana juga ia harus memahami keadaan. Tidak ada ikatan apa pun di antara mereka berdua.
"Baiklah!"ujar Sona gembira kembali.
Yuna menjadi tenang, memang tidak ada hubungan spesial antara mereka. Namun rasanya nyaman saja jika di lakukan bersama anak tersebut, mereka sama-sama kesepian.
Ketika jam menunjukkan pukul delapan Yuna segera pergi bersama dengan Sona, ia harus membawa pulang anak kecil tersebut karena bagaimana pun orang tua akan tetap khwatir.
"Boleh kalau aku tidak pulang?"
"Tidak bisa, orang tuamu akan khawatir. Bagaimana pun mereka yang merawatmu sampai sebesar ini."penjelasan singkat Yuna sampai Sona mengangguk paham.
Kini Yuna seorang diri menuju kampus untuk melakukan tugasnya sebagai seorang pelajar tentunya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?"tanya Delon yang tiba-tiba menghampiri.
"Eh kayak hantu aja."tanya Yuna menepuk pundak Delon.
"Kenapa melamun?"tanya Delon.
"Hidup keras ya Del, kenapa anak kecil bisa merasakan yang namanya pilih kasih."ujar Yuna dengan sendu.
"Siapa?"
"Ada, seorang anak yang aku temui beberapa minggu ini. Dia seperti di asingkan oleh keluarganya termasuk Ibunya."ujar Yuna membuat Delon mengangguk lesu.
Mereka berdua menuju kampus setelah percakapan tersebut, Delon terus berusaha membuat wanita tersebut tetap tenang dalam mencari solusi anak yang menjadi tokoh utama obrolan mereka.
Di ruangan kelas Yuna berusaha fokus dalam pembelajaran termasuk praktek yang akan di adakan setelahnya.
"Yuna, apa kamu sedang banyak pikiran?"tanya salah satu teman yang duduk di sebelah Yuna.
Yuna menggeleng,"Mungkin hanya lelah."
"Jangan lupa setelah ini ke ruang praktek ya, aku duluan."
Kelas sudah kosong, tidak ada satu pun yang tersisa selain Yuna. Wanita itu selalu saja melamun akhir-akhir ini, seperti banyak beban yang tanggung olehnya.
"Yuna, dosen sudah mencarimu!"
Yuna mengangguk paham, ia segera pergi ke tempatnya untuk melakukan beberapa analisis di sana. Di atas meja sudah tersedia satu ekor tikus yang masih hidup, melihatnya saja sudah membuat wanita tersebut kegelian.
Dosen mengatakan untuk menjelaskan anaotomi yang ada pada tikus. Satu jam lamanya, akhirnya Yuna yang mendapatkan bagian selanjutnya untuk menjelaskan. Dengan sempurna wanita itu menjelaskan, bahkan beserta definisinya.
Bukankah Yuna pintar? Tentu ia bisa memahami secara rinci.
Selesai sudah tugasnya di kampus hari ini, tapi sialnya dosen meminta Yuna untuk menemuinya di ruangan. Jantung wanita itu berpacu dengan kencang, khawatir menyangkut nilainya karena banyak tidak fokus.
Benar saja, setelah duduk Yuna di peringati agar lebih memperhatikan. Meski mendapatkan nilai sempurna karena selalu berhasil menjawab setiap pertanyaan yang di pelajari, tatapan Yuna selalu kosong setelahnya itu membuat sang dosen khawatir.
"Sebetulnya kamu itu pintar Yuna, tapi kenapa selalu tidak fokus. Meski pertanyaan bisa kamu jawab, tapi tidak selamanya seperti itu. Apa karena kehamilan itu?"
Betul, setiap dosen di jurusan kedokteran sudah mengetahuinya terkecuali murid disana. Yuna takut semuanya akan mengejek bahkan sampai ke tahap yang serius, wanita itu bukan menyembunyikan kehamilan tanpa Ayah karena malu, jujur saja bukan. Ini semua agar ia bisa bergaul selayaknya saja tanpa di sisihkan oleh orang lain.
"Apa ada masalah dengan kandunganmu?"tanya dosen paruh baya tersebut, mirip dengan Ayahnya.
Yuna terdiam lesu, perlahan ia mengangguk.
"Ada apa?"
"Janin saya lemah karena usia yang masih rentan, saya takut keguguran jadi setiap saat memikirkannya."
Dosen di depannya itu menghembuskan napas gusar,"Dengar Yuna, kamu ini mahasiswa kedokteran. Apa kamu tidak sadar dengan apa yang kamu lakukan itu salah? Dengan banyaknya pikiran yang terbeban akan semakin mudah untuk kamu stress lalu kehilangan janin itu."
Yuna menelan salivanya, betul apa yang di katakan oleh dosennya. Bagaimana bisa seorang mahasiswa bisa teledor dengan hal kecil seperti itu.
"Kami tidak mempermasalahkan kehamilanmu selama itu tidak mengganggu pembelajaran, tapi saya lihat kamu semakin berpikiran yang tidak-tidak. Apa kamu sadar Yuna?"
"Seorang dokter akan memberikan peringatan saja agar kamu tahu apa yang harus di lakukan, tapi kini? Kamu malah meracuni anakmu sendiri. Pikiran itu yang menjadi penyakit terberat."
Banyak arahan yang sudah di katakan oleh dosen tersebut membuat Yuna tertunduk lesu, ia sudah bersalah.
"Maaf sebelumnya karena sudah membuat tidak nyaman, dan terimakasih atas segalanya. Kalau begitu saya pergi, selamat siang."
Yuna keluar dari ruang dosen dengan tatapan sendu, sialnya ia masih saja berpikiran aneh tentang masa yang akan datang.
Entah kemana arah jalan wanita itu sekarang, hanya melamun saja. Hingga...
BRUG!
Tubuhnya seakan menabrak sesuatu yang keras dan tinggi, sampai ia mendongak ke atas.
"Eh maaf!"ujar Yuna menunduk beberapa kali.
"Lain kali perhatikan langkahmu itu!"ujar pria yang ia tabrak.
Pria tersebut pergi, tapi setelah Yuna melangkahkan kakinya ke depan pria itu segera berlari menghalang.
"Kenapa selalu bertemu?"ujar pria tersebut dengan kesal.
Yuna mengingat kembali,"Siapa?"
"Siapa? Dasar penguntit!"pekik pria tersebut.
"Maaf, saya permisi."tanpa pembelaan seperti biasanya wanita itu pergi menyisakan kebingungan.
"Aneh,"gumam pria tersebut.
Yuna tidak dapat berpikir jernih, ternyata berat juga menjalani dua sekaligus. Mahasiswa dan wanita hamil.
Sampai akhirnya Yuna bertemu Delon, ia menceritakan apa yang sudah dosen katakan. Dan kalian bisa menebak kalimat pria tersebut, tentu sama. Seorang dokter harus berpikiran seperti itu bukan?
"Gila memang kamu, aku tidak tahu kalau kamu sekacau ini Yuna!"pekik Delon penuh kerisauan.
"Mau bagaimana lagi? Aku merasa ketakutan dalam diri ini. Entah karena Sona, anakku, kampus atau kehamilan ini yang bisa di ketahui oleh orang-orang."
"Asal kamu tahu orang-orang itu tidak akan tahu apa yang kamu rasakan kalau mereka tidak mengerti. Jangan terlalu takut, jalani dan hadapi saja karena orang yang menyayangimu akan tetap menemani termasuk aku dan Melissa."
Hati Yuna terenyuh mendengarnya, bahagia bisa mendapatkan mereka yang selalu ada untuknya. Beruntung bisa di pertemukan..