Mr. Jungkook's Naughty Wife

Mr. Jungkook's Naughty Wife
BAB 51



"Aaaa... Suapan terakhir!"


Bayi besar di hadapannya membuka mulut lebar ketika menerima suapan terakhir dari wanita yang tertawa terbahak-bahak karena lucu.


"Apa tidak malu di lihat Jimin?"tanya Yuna ketika menatap Jungkook yang kegirangan seperti anak kecil.


Pria itu menjawab dengan gelangan cepat membuat Yuna menepuk jidatnya.


Setelah menyuapi bayi besar kini sudah saatnya menyuapi makan untuk bayi kecil yang sudah merengek.


Jungkook tersenyum melihat pemandangan yang selama ini ia nantikan, keluarga kecilnya. Sosok Yuna memang pantas menjadi seorang Ibu karena sabar dan bertanggung jawab.


"Mau sampai kapan tersenyum?"tanya Yuna karena lengkung senyum pria tersebut selalu tergambar.


Pria itu tersipu malu, ia mulai mengambil mainan anak kecil di sampingnya untuk menghibur sang buah hati tapi sayangnya tidak sesuai dengan harapan, bayi tersebut menangis karena suara bising yang di timbulkan.


"Kenapa dia menangis? Bukankah anak kecil menyukainya?"tanya Jungkook keheranan.


"Dia masih bayi Tuan, bagaimana Anda ini."


"Begitukah? Ah aku baru tahu karena baru menjadi Ayahkan?"


Sepertinya banyak perubahan pada Jungkook yang sekarang dengan dulu, dirinya yang sekarang semakin lucu atau mungkin manja untuk sesaat karena sudah lama tidak bersama.


Menyelesaikan tugasnya di rumah sakit sudah saatnya Yuna pergi ke kampus untuk menyelesaikan tugas yang lain. Ia berpamitan pada Jungkook dan anaknya serta pada Jimin yang selalu ada di sana.


Ketika hendak pergi pergelangan tangan Yuna di cekal oleh Jungkook dengan wajah manja tentunya, wanita itu hanya tersenyum lucu sebelum ia melepaskannya.


"Nanti aku akan kembali membawakan makanan enak untukmu, mau?"


Jungkook mengangguk cepat,"Janji?"


"Janji, tentu aku akan membawakannya. Aku tidak pernah berbohong jika kamu memang selalu."


Yuna pergi dengan perasaan senang seperti mendapatkan durian runtuh, tidak-tidak melainkan anugerah terindah.


Dari ketika Jungook tersadar sampai saat ini lengkung senyum Yuna tidak pernah pudar sedikit pun seakan tidak ada hal membahagiakan selain kembali bersama.


"Yuna, kamu terlihat senang. Ada apa?"tanya Melissa yang terheran melihat sahabatnya itu terus tersenyum.


"Hanya bahagia."


"Senang melihatmu selalu tersenyum tapi agak aneh juga, ada kabar bahagia apa?"


"Ada saja, rahasia!"


Tugas di kampus memang berat untuk Yuna dari pada di rumah sakit untuk merapat kedua pangerannya, bahkan kali ini wanita itu harus menetap di kampus karena akan bekerja kelompok. Sebetulnya Yuna dapat mengerjakannya sendiri, namun itu tidak adil untuk dirinya dan yang lain. Pekerjaan kelompok itu bersama bukan seorang diri.


Meski mata Yuna berkunang-kunang kabur tapi tekadnya untuk terus mengerjakan pekerjaan tepat waktu adalah sebuah keharusan.


"Bagaimana kalau kita kerjakan besok? Waktunya masih tersisa banyak, Yuna bagaimana pendapatmu?"


Tentu jawaban Yuna adalah tidak karena ia tidak akan memiliki waktu lain seperti sekarang.


"Lagi pula ini sudah malam, apa kamu ingin kami sampai menginap di sini?"


"Baiklah kalian pulang saja, sisanya serahkan kepadaku."ujar Yuna dengan alat tulis di tangannya.


Yang lain mulai pergi menyisakan Yuna seorang diri di sana, kelas memang di biarkan terbuka sampai jam sepuluh malam karena sering ada tugas seperti ini. Seorang diri tidak masalah ketimbang tidak menyelesaikannya.


Sekitar dua jam lamanya berada di sana bahkan penjaga memperingati Yuna agar segera pulang, untung pekerjaan sudah selesai.


"Lain kali jangan sendirian, apa kamu tidak takut? Rajin tentu tidak masalah tapi ingat juga dengan waktu."


"Baik, terimakasih."


Wanita itu seorang diri berjalan menuju halte bus, tepatnya bus terakhir untuk malam ini. Dengan jiwa pemberani Yuna kembali ke rumah orang tua untuk membawa barang yang ia perlukan.


Tidak lama Yuna mengambil barang tersebut ia kini sudah berada di rumah sakit, membuka kenop ruang rawat inap kemudian menatap Jungkook sekilas yang tengah membaca koran.


"Yuna.."panggil Jungkook dengan lembut.


Yuna menyeka keringat di dahinya,"Ada apa? Kamu perlu sesuatu?"


"Ada apa? Katakan saja."


Terlalu lelah Yuna sampai tidak mengingat janji apa yang sudah ia katakan kepada Jungkook sebelum berangkat.


"Jika tidak ada aku akan tidur, lelah."


Jungkook mengangguk,"Tidurlah."


Tentu pria itu mengerti bahwa menjadi seorang mahasiswa serta mengurus dua orang sekaligus akan sangat melelahkan.


"Jika ada apa-apa bicara saja."


"Hm.."


Yuna menarik selimutnya kemudian menutup kedua mata yang sudah perih karena lelah.


Hembusan napas gusar Jungkook terdengar,"Padahal tadi pagi dia sudah berkata akan membawakan sesuatu, apa dia tidak ingat? Yasudahlah."


Jungkook kembali menempatkan dirinya untuk melanjutkan tidur, padahal ia sangat berharap dengan hadiah yang di bawa wanita itu.


"Bagaimana dia bisa lupa?"gumam Jungkook.


Tolong di maklum, Jungkook biasanya memang tidak seperti ini bahkan terbilang kejam dan berpendirian. Namun ketika berhadapan dengan wanita yang ia cintai semuanya akan berubah, Yuna yang membuatnya seperti itu. Jika di katakan kekanak-kanakan itu memang betul ia tidak menyangkalnya.


...****************...


Satu minggu berlalu, Jungkook sudah bisa pulang ke rumahnya. Jimin mengurus surat kepulangan milik pria tersebut sedangkan Yuna memilih untuk merapihkan pakaian yang menumpuk.


Tepatnya di kediaman rumah Jungkook, megah dan berlapir emas dengan pilar tinggi menjuntai ke atas. Di lihat memang tidak kalah dengan rumah yang pernah pria itu miliki sebelum menjadi seperti ini, entah sekarang bagaimana keadaanya?


Yuna memutuskan untuk tinggal di sana, meski belum menikah secara sah tapi status mereka sudah jelas. Jungkook juga mengatakan akan mengadakan pernikahan setelah kakinya dapat berjalan kembali meski memakan waktu yang lama namun wanita itu tetap setia.


Dengan kursi roda yang di pakai Jungkook masuk ke dalam di bantu oleh Jimin yang mendorong dari belakang, pria yang duduk di atasnya hanya bisa terdiam tanpa senyuman kali ini. Entah apa yang mengganggunya?


"Jungkook, apa suasana hatimu tidak baik?"


Jungkook menggeleng tanpa menjawab, selama satu minggu pria itu diam membisu tanpa berkata pada Yuna.


"Apa aku membuatmu marah?"


*Apa kamu tidak ingat?


Menyebalkan*!


Jungkook menatap anak tangga di depannya, namun karena ia tidak dapat menaikinya maka mereka sepakat untuk tidur di lantai bawah.


"Kamu ingin di lantai atas? Aku setuju saja tapi aku khawati-"


"Aku sadar diri bahwa aku pria cacat, tidak usah memperdulikan aku!"


Jimin terkejut dengan jawaban Tuannya yang membuat wanita di sampingnya terdiam.


"Bawa aku ke kamar Jimin."


Sementara Jimin mengantar Jungkook yang hendak istirahat, Yuna pergi untuk membersihkan kamar yang akan di gunakan anaknya. Di pikir lagi anak baru tiga minggu tidak boleh tidur sendirian karena takut ada hal yang tidak di inginkan terjadi. Betulkan?


Membereskan barang-barang yang ia bawa untuk di masukkan ke dalam lemari bersebelahan dengan milik Jungkook di dalam sana.


"Apa kamu tidur? Sepertinya kamu lelah ya. Baiklah kalau begitu."ujar Yuna ketika melihat Jungkook tidak berkutik sedikit pun.


Wanita itu kembali membersihkan rumah serta merapihkan beberapa hal disana di bantu oleh Jimin.


"Apa ada yang salah dengan Jungkook? Apa dia marah denganku?"


Jimin mengangguk,"Sepertinya ada, coba Nona pikirkan lagi siapa tahu lupa."


Yuna berkutik dengan pikirannya hingga menemukan jawaban,"Hadiah, aku menjanjikan hadiah waktu itu. Aku sangat lelah kuliah hingga melupakan janji tersebut, bagaimana ini? Apa kamu bisa mengantarku ke kota?"


"Tentu."


Mereka berdua akhirnya pergi ke pusat kota untuk mencari hadiah yang di bicarakan oleh Yuna kala itu, dasar wanita pelupa.