
Mata Yuna berkaca-kaca ketika ia menceritakan pada Ibunya tentang masalah yang ia tanggung, jelas seorang Ibu mengerti perasaan anaknya. Namun hanya semangat yang bisa di berikan, hal yang lain hanya anaknya yang dapat mengatasi.
"Sabar Yuna, mengertilah bahwa hidup memang penuh dengan masalah."ujar Ibunda Yuna.
Yuna terus menangis di pelukan sang Ibu, mengatakan hal yang membuat hatinya gelisah. Sekuat-kuatnya seorang wanita, tempat terbaik adalah menangis di pelukan orang terkasih.
Tiga puluh menit Yuna melakukan semua itu, ia kini sudah kembali dengan tegar. Saatnya melakukan janjinya untuk membawa Sona ke taman hiburan, mereka akan berangkat besok karena untungnya ia tidak ke kampus.
Malam berganti, wanita itu tengah memakan sekotak permen yang di beli lusa kemarin. Entah rasanya mood selalu saja kembali ceria ketika memakan gula-gula bulat itu.
"Jangan terlalu banyak Yuna, mengerti?"
"Iya."
Wanita yang tengah menonton film di kamarnya itu menatap langit malam karena salju mulai berjatuhan.
"Indahnya,"ujar Yuna menatapnya.
...****************...
Pagi bersama dengan mereka, tentu Yuna dan Sona. Kedua wanita itu kini tengah bersiap-siap menuju ke stasiun kereta tepatnya terowongan bawah tahah.
Gelap serta lembab bertautan di antara keduanya ketika sampai di bawah terowongan tepat kereta yang akan membawa mereka ke tujuan.
Beberapa orang menatap mereka keanehan karena seperti Ibu dan anak yang bepergian.
"Jika kamu ingin tidur, tidur saja."ujar Yuna ketika melihat mata Sona mengantuk.
Gadis kecil itu mengangguk kemudian tidur di atas pengkuan Yuna.
Sekitar dua jam berlalu akhirnya mereka sampai di Lucerne, menaiki taxsi sekitar tiga puluh menit saja mereka sudah sampai tepat di depan taman hiburan yang di maksud.
"WAH!"teriak Sona yang terpukau melihat keindahannya.
Setelah membeli dua tiket untuk masuk mereka bisa menikmati segala yang ada di sana, gadis kecil tersebut segera menaiki berbagai permainan sedangkan Yuna hanya melihat. Kalian tahukan apa yang dia khawatirkan? Tentu bayi di kandungan yang terguncang.
"Kak Yuna ayo naik!"ajak Sona, dengan gelengan pelan serta senyum Yuna menolaknya.
"Ayo!"
Pasrah, Yuna akhirnya ikut naik tapi kali ini hanya permainan kecil tidak akan membuatnya terlalu lelah.
Yuna yang dasarnya menyukai hal manis ia segera membeli dua aromanis untuk dirinya dan Sona. Mereka tampak bahagia menikmati waktu bersama, apa mungkin ia dan anaknya akan seperti ini semoga saja.
"Manis seperti kakak!"ujar Sona mencubit pipi Yuna.
Yuna tersenyum,"Kamu juga!"
Sore mulai datang, saatnya mereka berdua kembali ke Borne agar tidak terlalu malam sampai di sana.
"Boleh kalau kita ke sini lagi?"
"Tentu!"
Belum pernah Sona merasakan hal sebahagia ini, ia tidak pernah menyangka bahwa bisa merasakannya bersama dengan orang asing bukan dengan keluarga. Setidaknya bidadari tidak bersayap itu memang nyata adanya, contohnya Yuna.
Mereka membawa banyak barang yang ada di taman hiburan tadi, namun semuanya milik Sona. Tapi gadis kecil itu memberikan satu Boneka beruang kecil untuk Yuna, bukan untuk Seol.
"Terimakasih, segeralah pulang."ujar Yuna.
Berlari bahagia Sona pergi dari hadapan Yuna, sebelum itu ia selalu melakukan kebiasaan untuk mencium pipi bidadarinya sebelum pergi.
"Semoga selalu bahagia, Sona."ujar Yuna tersenyum ceria.
Karena tenang melihat Sona masuk kedalam rumah, kini saatnya ia pulang ke rumahnya sendiri untuk beristirahat karena letih.
Tapi sebelum sampai di rumah, ia melihat sebuah bayangan yang mengikutinya dari kejauhan. Kali ini apa lagi? Orang dengan pakaian serba hitam itu belum berhenti penguntit.
Menutut Yuna kantor polisi adalah tempat yang aman untuk saat ini, maka ia segera masuk ke dalamnya untuk mencari perlindungan.
"Ada apa, Nona?"
"Ada orang yang mengikuti saya, tolong Pak."
Yuna di berikan secangkir minuman berupa air hangat, mereka menawarkan untuk mengantar pulang karena waktu sudah semakin malam dan tidak baik seorang wanita bepergian seorang diri.
"Apa boleh kami mengantar?"
Dengan senang hati Yuna mengangguk cepat,"Saya sangat berterimakasih."
"Apa sudah lama selalu di ikuti?"
"Sekitar dua minggu Pak, saya selalu merasa takut."
"Baik kami akan memperketat penjagaan di daerah ini."
Sesampainya di rumah di temani oleh dua polisi di belakangnya, ketika mereka hendak pergi Yuna tidak lupa mengucapkan terimakasih.
"Ada apa Yuna? Kenapa ada polisi?"
Yuna menjelaskan bahwa sudah dua minggu ia di- ikuti oleh orang tidak jelas.
"Kalau begitu kamu harus lebih berhati-hati."
Yuna mengangguk, perlahan wanita itu memberikan sebuah barang indah untuk Ibunya ketika berada di taman hiburan yang cocok di pakai wanita paruh baya di hadapannya.
"Tidak mahal, bagus bukan?"
"Sangat bagus, terimakasih sayang."ujar Ibunda Yuna bahkan satu kecupan mendarat tepat di keningnya.
"Istirahat sana, kamu sudah kelelahan hari ini."
Ketika hendak menaiki anak tangga tiba-tiba perut Yuna keram seakan ada yang meremasnya dengan kuat.
"AU!"ringis Yuna kesakitan.
Dengan cepat Ibunda Yuna menarik anaknya untuk duduk, tapi rasanya sungguh sakit. Perut Yuna tidak bisa menahannya lagi, wanita itu terus meringis. Tidak tahu harus berbuat apa sang Ibu segera menelepon taksi.
"Kita ke rumah sakit sekarang."
"Jangan aku takut!"ujar Yuna.
Bukan soal dokter atau di rawat inap, kekhawatiran Yuna adalah takut janinnya kenapa-kenapa yaitu keguguran.
Yuna terus menggeleng, menolak untuk ke rumah sakit.
"Kamu mau ke rumah sakita atau melihat anakmu pergi seperti Ayahnya?"pertanyaan tersebut membuat Yuna terdiam meski air mata sakitnya terlihat menetes.
"Ba-ik."
Setibanya di rumah sakit, dokter segera memeriksa kandungan Yuna di ruang IGD.
Pontang-panting cemas sang Ibu terus berdoa untuk anaknya yang masih berusia muda, keguguran adalah hal yang lumrah untuk usianya.
"Tuhan tolong Yuna,"ujarnya secara terus menerus.
Tiga puluh menit sang Ayah menghampiri, memeluk istrinya dengan erat sembari menenangkan wanita paruh baya yang terus memanggil nama Yuna.
Satu jam lamanya, dokter keluar. Entah apa yang akan mereka katakan, jika memang betul harus kehilangan janinnya maka sudah di pastikan hati Yuna hancur.
"Ada apa dokter? Bagaimana keadaan anak kami?"tanya kedua orang tua tersebut.
"Puji Tuhan, janin di dalam perut Yuna bisa bertahan. Sepertinya anak tersebut tidak ingin meninggalkan kesedihan untuk kalian, dia kuat. Lain kali tolong Yuna untuk tidak beraktivitas berlebih apa lagi bepergian jauh. Apa dia pergi ke suatu tempat?"
Ibu Yuna membenarkannya, menjelaskan apa yang sudah anaknya lakukan hari ini.
"Tolong jangan di ulangi lagi, sekarang Yuna akan di pindahkan ke ruang rawat inap. Permisi."
Yuna sudah siuman, ia menatap lekat ruangan yang tengah di tempati. Ada infus di tangannya serta oksigen yang membantunya bernapas.
Mata wanita tersebut terbelalak, ia memeriksa perutnya yang datar.
"Anakku!"
"Anakku!"
Teriakan Yuna membuat kedua orang tuanya terbangun dari tidur, mereka segera menenangkan anaknya.
Air mata Yuna menetes dengan deras,"Apa yang terjadi?"
"Tenang Yuna, anakmu baik-baik saja. Ia masih berada di janinmu, anak kuat itu akan terus menemanimu hingga tua. Dokter hanya mengatakan kamu hanya kelelahan, perlu istirahat yang cukup."
Yuna menghembuskan napas leganya, untung anaknya kuat jika memang betul ia kehilangan janinnya maka sudah tidak tahu apa yang akan terjadi padanya karena tidak mampu menjaga tunas milik orang yang ia cintai itu.
"Sekarang kamu mau makan apa?"tanya Ayah Yuna sambil mengelus puncak kening anaknya.
"Tidak ada."
"Apa kalian tidak pulang?"tanya Yuna.
"Aku baik-baik saja."sambung wanita itu.
"Apa kamu perlu sendiri?"tanya sang Ibu yang mengerti jelas ucapan Yuna.
Dengan anggukan sang Ibu membawa suaminya pergi agar Yuna dapat ruang sendiri menenangkan dirinya.
Ketika ruangan tersebut menyisakan dia seorang diri, Yuna tidak henti mengucap syukur sembari mengelus perutnya.
"Apa kamu baik-baik saja di dalam sana, Nak. Maaf sudah membuatmu berjuang."
Menjadi seorang Ibu seberat ini, apalagi jika sudah banyak orang mengatakan bahwa janin yang di kandung lemah.
Untuk mencari udara segar Yuna segera bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju rooftop. Namun ketika ia melintasi satu ruangan rawat inap rasanya jantung Yuna berdetak tidak karuan, ia menatapnya sekilas.
"Aneh,"ujar Yuna.
Karena rasa penasaran yang membara Yuna mengintip di antara pintu dengan kaca sedikit, anehnya tertutup gorden berbeda dengan ruangan lain yang di biarkan terbuka.
Tangan jahilnya hendak membuka kenop pintu tersebut tapi perawat segera emperingatinya, "Maaf Nona, Anda tidak bisa masuk ke dalam."
Terlihat aneh bukan? Apa orang di dalam sana sangat penting bagi sebuah negara hingga di perlakukan khusus.
"Siapa yang ada di dalam sana?"ujar Yuna.
"Maaf Nona kami tidak bisa memberitahu Anda, silahkan."
Sedangkan di ruangan aneh tersebut jari telunjuk milik orang yang terbaring di atas brankar tersebut menunjukkan reaksi dengan menggerakkan jari telunjuknya ketika mendengar suara wanita dari luar.
"TUAN!"