Mr. Jungkook's Naughty Wife

Mr. Jungkook's Naughty Wife
BAB 41



Aktivitas yang sudah di lakukan oleh Yuna di kampus hari ini cukup membuatnya kelelahan, terutama praktek. Banyak hal yang harus ia lakukan agar dapat mendapatkan nilai sempurna sebagai seorang dokter, bukan hanya itu saja tapi agar bisa membuat orang yang mendukungnya bangga.


"Yuna!"


Panggilan dari dosen di depan sana membuat wanita yang tengah melamun segera menongak.


"Iy-iya!"


"Di kelas saya di larang tidak memperhatikan, jika memang tidak dapat maka silahkan keluar."


Mata Yuna terbelalak, bukan maksudnya melakukan hal tersebut. Tahukan setiap orang selalu memiliki beban pikiran tersendiri, begitu juga wanita itu.


Yuna menunduk beberapa kali meminta maaf akan keteledorannya dalam belajar,"Maaf Pak, saya berjanji tidak akan melakukannya lagi."


Permasalahan tersebut selesai, wanita yang tengah memperhatikan dengan lekat tersebut mencatat beberapa materi yang di keluarkan oleh dosen. Melihat ambisi Yuna dosen tersebut tersenyum senang.


"Ada yang bisa menjawabnya!"


"Saya Pak!"


Dengan lantang Yuna menjawab setiap pertanyaan yang di ajukan oleh dosen, jawaban yang sangat mengagumkan hingga dosen tersebut puas sekali.


"Bagus Yuna, pertahankan. Saya suka kamu yang bisa berpikir terbuka seperti ini, tolong nanti perhatikan seperti ini agar sampai lebih baik."


"Baik."


Semua orang menatap Yuna yang begitu hebat, ternyata pilihannya menjadi dokter adalah yang tepat.


"Yuna!"teriak Melissa pada wanita yang baru saja keluar dari kelas.


Untuk Melissa wanita itu lebih memilih Hukum ketimbang hal yang membuat otak berpikir keras, itu pilihannya.


"Melissa!"


Kedua wanita lajang itu berjalan menuju cafe terdekat di kampus, mengobrol bersama sambil menunggu Delon yang masih berada di kelas. Kating satu itu akan menghadapi pelatihan sebagai dokter, hebat sekali.


"PAK DOKTER!"teriak mereka berdua ketika melihat Delon menghampiri.


"Sedang apa?"tanya Delon tersenyum.


"Masih bertanya?"


Dua jam mereka mengobrol bersama hingga mulut ketiga orang tersebut berbusa, sudah saatnya mereka melanjutkan aktivitas yang berat. Siapa suruh ingin cepat bertambah dewasa?


Tinggal Yuna seorang diri di cafe, hanya menatap beberapa orang yang berlalu lalang di depannya serta suasana yang sama percis dengan novel yang sering ia baca.


Semerbak wangi parfum yang menyengat sampai ke kedua lubang hidung Yuna, baunya sangat familiar bagi wanita itu. Sontak ia membalikkan tubuhnya, mencium ke sekitar arah dimana letaknya berasal. Tepat di sampingnya pemilik wangi tersebut berada, seorang pria yang memakai jas rapi tengah menyeruput secangkir kopi.


Yuna menelan salivanya, ia mulai teringat dimana ia pernah mencium wangi tersebut. Hingga akhirnya lerung hati Yuna mengatakan, Jungkook pemiliknya.


Sadar di perhatikan pria di samping Yuna menatap wanita tersebut dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Apa ada yang salah?"tanya pria tersebut bangun menghampiri Yuna.


Wanginya semakin menyengat, anehnya ia tidak merasa mual ketika menghirup aroma tersebut. Anaknya tahu bahwa wangi tersebut sama dengan milik Ayahnya.


"Kenapa?"tanya kembali pria tersebut ketika melihat Yuna tersenyum.


"Aneh,"gumam pria tersebut pergi seakan tidak nyaman.


Sedangkan Yuna malah menatap lekat punggung pria yang kini semakin mengecil,"Aromanya menenangkan."


Jika kalian ingin tahu wanginya seperti apa, wanginya seperti vanilla bercampur dengan strawberry agak unik memang.


Tiga puluh menit tetap di sana Yuna yang mulai bosan pergi ke perpustakaan tempat dimana ia sering menghabiskan waktu senggang. Tidak memakan waktu lama wanita itu sudah sampai, tapi ia terkejut melihat pria yang ia temui ada di perpustakaan yang sama. Pria itu membeli beberapa buku rupanya terlihat dari apa yang ada di depan kasir.


"Kamu menguntit ya?"tanya pria tersebut ketika Yuna baru saja masuk. Setiap orang yang akan mengetahui siapa saja yang masuk karena lonteng berdenting tepat di depan pintu jika di dorong.


"Tidak, tanya saja Tuan ini. Setiap hari sudah menjadi hal yang lumrah untuk ke perpustakaan."jawab Yuna sebelum ia pergi mencari buku.


Perpustakaan tersebut selalu menerima orang yang hendak membeli atau meminjam buku jadi membuat Yuna leluasa. Apa salahnya jika tempat tongkrongannya adalah perpustakaan?


Yuna duduk di lantai kedua karena lebih tenang dan tempatnya nyaman untuk membaca serta banyak buku yang ia butuhkan.


"Kenapa hari ini selalu bertemu dengan wanita gila seperti, Anda!"ujar pria tersebut lugas.


"Apa tidak terbalik? Saya sudah sering kemari karena saya adalah seorang mahasiswa. Kalau Anda? Hanya pria berubur bukan?"


"Diam!"


Ketika pria itu membentak semua orang yang di sana menatap tajam.


Yuna tersenyum puas,"Dengar?"


Butuh waktu satu jam Yuna berada di sana selebihnya ia membawa pulang, kali ini meminjam.


Menyelesaikan aktivitasnya di sana Yuna memiliki janji dengan Sona. Masih ingat dengan anak kecil itu? Iya dia meminta Yuna untuk bertemu untuk bermain.


"Ada apa?"tanya Yuna ketika ia menemukan Sona bersedih.


"Hanya sedang tidak baik-baik saja, sedih!"ujar Sona cemberut.


"Kenapa?"


"Ibuku mengatkan bahwa dia lebih menyayangi adikku, apa aku bukan anak kandungnya ya?"


Yuna menyuruh Sona untuk duduk terlebih dahulu, menenangkan wanita kecil itu agar tidak terlalu bersedih.


"Sudah ya jangan terlalu bersedih, mungkin dia sedang banyak pikiran."


"Aku rasa tidak."


Kesepian bukan hal yang di inginkan oleh setiap orang, hanya saja ada banyak alasan yang membuatnya seperti itu.


"Kan masih ada aku!"ujar Yuna tersenyum.


Sona memeluk tubuh Yuna,"Aku berterimakasih pada Tuhan karena sudah mengirimkan bidadari cantik seperti kakak."


Yuna merasa bahagia bisa bermanfaat untuk orang lain."Jangan pernah merasa sendirian Sona, mengerti?'


"Baik!"


Begitulah yang bisa Yuna berikan pada Sona, sepucuk harapan agar anak kecil tersebut terus tersenyum. Apalagi jika sudah dewasa kesunyian serta di tinggalkan bukan hal yang aneh, benar bukan?


Sepanjang hidup Yuna sudah merasakan banyak hal, kesepian bahkan ujungnya di tinggalkan. Tidak lupa pernah di khianati oleh Sunoo pacarnya sendiri dulu hingga hampir di jual karena hal gila, lalu di pertemukan oleh pria baik seperti Jungkook yang pada akhirnya meninggalkan. Begitulah hidup...


Waktu mulai berganti menjadi gelap, malam menyapa setiap jalanan yang masih ramai orang. Yuna segera mengantar Sona untuk segera pulang karena bagaimana pun Ibunya akan khawatir.


"Semangat Sona, jangan pernah menyerah. Jika ada masalah apa-apa bilang saja, kamu kan anak pemberani dan cantik. Mengerti?"


"Baik, terimakasih!"ujar Sona mencium pipi Yuna tiba-tiba.


"Pulanglah, dadah!"


Setelah mengantar Sona, wanita yang tengah berbadan dua itu pulang. Bukannya senang, Yuna malah merasa khawatir pada Sona takut terjadi sesuatu pada wanita kecil itu.


Hingga ia mendengar isak tangis memangil nama Yuna,"SONA!"


Seketika Yuna menoleh, ia menatap Sona yang menangis tersedu-sedu.


"Ada apa?"


Sebelum menjawab Yuna sudah tahu permasalahannya, pipi Sona memar karena di tampar.


"Baik, kamu pulang saja ke rumah kakak. Ayo!"


Sesampainya di rumah, ia menyiapkan makan untuk Sona. Ibunya tidak banyak bertanya karena mengerti bagaimana lembutnya hati Yuna, hingga di waktu Sona berada di lantai atas tepatnya kamar Yuna sang Ibu segera bertanya dan wanita itu menjelaskan hingga paham.


Di kamar Sona tengah menatap bingkai dengan foto wanita yang seperti bidadari di sana, tentu saja Yuna. Terlihat raut wanita itu tidak suka berbeda dengan pria di sampingnya yang tersenyum lebar.


"Sona, sedang apa?"tanya Yuna yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


"Siapa pria ini? Kenapa kakak terlihat tidak bahagia?"


Yuna duduk di tepian ranjang, menceritakan semua ceritanya tentang Jungkook dan awal mereka bertemu kembali.


"Sekarang dia kemana?"


Berat hati Yuna mengatakan,"Sudah bersama Tuhan."


"Maaf, aku jadi membuat sedih."


Yuna tersenyum,"Tidak, lagi pula kakak sudah mulai berdamai dengan masalah ini. Jika disini kakak bahagia maka di sana dia merasakan hal yang sama."


"Tapi ingat Sona, jangan pernah menyia-nyiakan seseorang yang begitu membuatmu merasakan layaknya ratu. Jika kamu sudah kehilangannya kamu akan meminta waktu untuk mundur kembali, mengerti?"


"Mengerti!"


"Anak pintar,"ujar Yuna mengelus puncak kening Sona dengan lembut.