Mr. Jungkook's Naughty Wife

Mr. Jungkook's Naughty Wife
BAB 60



"Yuna, ada apa denganmu? Sekarang kamu tidak tersenyum seperti waktu itu, apa yang terjadi?"tanya Melissa.


Yuna menggelengkan kepalanya, kedua sahabatnya memang tidak mengetahui bahwa suami wanita tersebut masih hidup wajar saja mereka kebingungan.


"Tidak ada, hanya memikirkan nilai kuliah."bohong Yuna.


"Ah tidak perlu khawatir aku tahu kamu mampu, lihatlah tangan kecil dan otakmu yang selalu saja bekerja dengan baik. Aku justru iri denganmu."


"Kamu lebih hebat dariku, bagaimana dengan pekerjaan kuliahmu?"


"Aman!"


Yuna tersenyum senang, setelah dirasa waktunya ia segera pergi menuju kelas. Sebelum sampai di sana wanita itu tidak sengaja menyenggol punggung kekar yang ada di depannya.


Merasa bersalah wanita itu menunduk meminta maaf, namun ketika pria di hadapannya berbalik alangkah terkejutnya ia.


"Pak?"


"Apa kamu tidak punya mata? Kenapa selalu saja bertemu dengan hal seperti ini bersamaan denganmu."


"Mungkin jodoh!"ujar Yuna tersenyum geli.


Gerld menatap Yuna dengan mata penuh tanda tanya,"Segera pergi ke kelas!"


"Hari ini Bapak yang akan menjadi dosennya?"


"Yasudah siapa lagi? Apa kamu tidak melihat jadwalnya. Mata kamu rabunkah Yuna?"


"Sekali lagi saya minta maaf, permisi."


Menatap punggung wanita di depannya sambil menggeleng-geleng karena sudah lebih dari tiga kali, aneh memang.


Jodoh? Bukan!


Di dalam kelas dosen yang tidak lain adalah Gerld tengah menjelaskan secara rinci bersamaan dengan para mahasiswa yang menulis secara manual.


"Apa ada yang ingin di tanyakan?"


Semuanya menggeleng, beginih..


"Yuna? Apa kamu ingin bertanya?"


"Tidak."


Untuk kali ini Yuna tidak dapat menjawab atau mengajukan pertanyaan karena pikirannya sudah penuh dengan yang lain, lebih baik ia diam.


"Tidak biasanya kamu tidak bertanya, apakah sudah jelas akan penjelasan saya sehingga membuat kalian enggan."


"Baiklah kalian bisa keluar sekarang terkeculi Yuna, kamu ikut saya."


Yuna menarik napasnya gusar mungkin ini tentang kejadian tadi ketika ia menabrak pria itu tanpa sengaja, sepertinya akan memberikan pelajaran.


"Ada apa Pak?"tanya Yuna.


"Aku ingin bertanya, apakah kamu baik-baik saja?"


"Baik."


"Apa kamu sibuk?"


"Tidak."


"Apakah kam.."


"Bapak langsung saja ke intinya, apa ada hal yang menganggu Bapak karena saya menabrak Anda tadi pagi?"


"Saya ingin Anda menemani saya ke sebuah pesta pernikahan, bagaimana?"


Yuna mengerutkan dahinya,"Kenapa harus saya? Bukankah ada yang lain? Say.."


"Apa kamu tidak punya waktu sabtu sekarang?"


Jika menolak maka ia khawatir akan pandangan dosennya tapi jika menerima pandangan orang lain yang akan menghakimi.


"Memangnya kemana?"


"Kamu jawab saja bersedia atau tidak."


"Baik, saya bersedia jika memang sabtu sekarang."


Gerld merogoh handphonenya di saku celana untuk memberikan pada Yuna.


"Ini apa?"


"Tambahkan nomor teleponemu, apakah kamu tidak mau?"


"Oh, baiklah."


Selesai memasukkan nomor pribadinya ke kontak Gerld, Yuna izin pamit.


"Saya akan menjemputmu pagi, kita akan menghadiri pernikahan di negara lain."


"Apa? Bapak serius? Dimana?"


"Hanya dua jam saja, tenang. Saya tidak berani apa-apa kepada wanita sepertimu, jangan berpikiran yang berlebihan."


"Ah, baiklah. Saya pergi sekarang, selamat tinggal. Alamat rumahnya akan saya beritahu ketika Bapak menghubungi saya."


Yuna merasa aneh, menghadiri pernikahan di negara lain berarti pernikahan tersebut di adakan oleh keluarga yang berada sampai melakukan hal seperti itu.


Tenang ini hanya menemani, bukan sebagai pasangan melainkan dosen dan mahasiswa tidak lebih.


...****************...


"Segera masuk, kita akan terlambat."


"Baik."


Sebelumnya Yuna sudah meminta izin kepada kedua orang tuanya soal menghadiri pernikahan sahabat dosennya itu.


"Kamu terlihat berbeda, Yuna."ujar Gerld.


"Terlihat cantik?"


"Sama saja, mungkin dengan gaun menjadi lebih modis."


Di bandara pribadi tepatnya, banyak deretan jet pribadi yang mampu membuat mata Yuna tidak berkedip.


"Sungguh, ini milik Bapak?"


"Keluarga, bukan saya."


Mereka berdua masuk ke dalam, ini pertama kalinya Yuna berada di pesawat tanpa ada orang lain di sampingnya yang tidak ia kenal. Sungguh menakjubkan, semoga suatu saat nanti ia dapat membawa Yu-Jung berkeliling dunia dengan jet pribadi seperti ini.


"Apa kamu senang Yuna?"tanya Gerld yang membuat Yuna menoleh.


"Senang, begitu indah di atas sini. Apakah setiap hari burung melihat hal ini? Aku iri dengan meraka yang mampu terbang setinggi ini tanpa ke khawatiran."


"Kamu salah Yuna, burung tidak dapat terbang bebas jika ada manusia yang mengincar mereka. Terlihat indah memang jika di pikir, tapi kita tidak tahu bagaimana menjadi mereka selama ini."


"Betul juga, Anda hebat sekali!"ujar Yuna tersenyum.


Entah kenapa melihat Yuna tersenyum senang seperti itu bahkan duduk dekat di depannya membuat jantung pria itu berdetak lebih kencang dari biasanya.


Apa dia jatuh cinta?


"Yuna, apakah kamu.."


"Tuan pesawat akan mendarat silahkan di kencangkan sabuk pengamannya."


"Iya tadi Bapak mau bilang apa?"


Gerld menggeleng dengan cepat mengurungkan niatnya,"Tidak ada."


Tibalah mereka berdua di negara Jerman dengan segala ke indahannya disana, bahkan Yuna di buat terkejut karena ada sebuah mobil mewah menghampiri.


"Silahkan,"ujar pelayan yang keluar di dalamnya.


Yuna menatap Gerld dengan tanda tanya hingga akhirnya pria itu mengangguk dan mereka berdua masuk bersama melanjutkan perjalanan untuk menuju ke acara resepsi pernikahan.


"Apakah Jerman seindah ini?"


"Apa kamu belum pernah kemari?"


"Belum, ini pertama kalinya. Bagaimana dengan Bapak?"


"Sudah sering, saya bisa meminta sesuatu?"


"Apa itu?"


"Jangan memanggil saya Bapak, cukup Gerld saja. Bisa?"


Yuna mengangguk,"Baik."


Akhirnya mobil masuk ke salah satu hotel mewah yang terletak di atas puncak dengan pemandangan rumput hijau layaknya karpet terbang.


Gerld membantu Yuna turun, menggandeng wanita tersebut selayaknya pasangan.


Yuna bertanya apakah ia bisa memilih makanan dengan sesuka hati, tentu saja di perbolehkan.


"Kamu bisa pergi makan apa saja setelah kita menyaksikan sumpah pengantinnya, apa bisa?"


"Tentu."


Langkah kaki Yuna berjalan untuk duduk di salah satu kursi karena akan segera di adakan sumpah pengantin.


"Lihatlah, mereka saling mencintai bahkan ketika sang pria lumpuh dan tidak mampu berjalan hanya di kursi roda saja."ujar Gerld yang membuat Yuna melihat kearah yang di tuju oleh pria itu.


Dulu aku juga menikah dengan Jungkook meski ia tidak dapat berjalan, tapi ternyata cintanya tidak cukup besar untuk membuat keluarga mereka bertahan.


"Dimana?"


"Disana!"


Kedua bola mata Yuna membelalak terkejut melihat mempelai pengantin pria yang di katakan bahwa memiliki kaki lumpuh, pemikiran kalian benar itu adalah Jungkook.


Mata Jungkook menatap manik mata Yuna, masih memiliki cinta penuh di antara mereka berdua.


Yuna yang terduduk segera bangkit, menahan sesak di dadanya. Meski matanya memanas bahkan merah tapi ia tidak bisa menangis karena air matanya sudah habis.


Gerld yang kebingungan segera bangkit untuk bertanya pada Yuna,"Ada apa denganmu?"


"Kenapa tidak memberitahu bahwa mereka yang akan menikah."


"Memangnya kenapa Yuna?"


Karena tidak ingin membuat kerusuhan mereka berdua kembali duduk, menyaksikan mempelai wanita yang di antarkan ke mimbar oleh Ayahnya. Sementara mempelai pria hanya menatap kearah selainnya, melihat wanita tengah menunduk lesu.


"Jungkook, ada apa denganmu? Fokus!"ujar Alea yang membuat Jungkook segera beralih pandangan.


Alae menatap wanita yang di tatap dalam oleh Jungkook,"Yuna? Kenapa dia ada di sini? Apa kamu yang mengundangnya?"


Tatapan mematikan Alea membuat Jungkook memperingati,"Jika kamu tidak ingin merasa malu maka berhenti melihatnya seperti itu kamu tidak pantas."


"Baik, selama kamu tidak menatapnya sedalam itu."