
Jungkook terdiam diri, ia hanya dapat menangani perusahaan di rumah tanpa bepergian. Perlahan pria itu di kejutkan oleh wanita yang mencium rambut belakangnya, kalian tebak siapa dia.
"Bisa tolong hentikan, itu mengganggu!"peringat Jungkook menepis pergelangan tangan Alea.
"Kita sudah sah menjadi suami istri, mau sampai kapan kamu bersikap dingin seperti ini?"
"Selamanya."
Alea kesal, ia duduk di kursi yang bersebelahan dengan suaminya.
"Apa kamu masih mencintai wanita itu? Lupakan Jungkook!"
Jungkook yang tidak menoleh sedikit pun kearah Alea segera menatap nanar wanita itu,"Jangan pernah berharap akan hati ini, hanya Yuna seorang pemiliknya."
"Meski sekarang Yuna sudah bersama dengan pria lain? Kamu yakin dia tidak akan mencintai pria lain selain kamu? Bukankah dia sangat kecewa karena keputusan sudah menikah denganku."
"Bisakah mulutmu itu diam? Sebaiknya kamu pergi sekarang juga sebelum aku benar-benar marah."peringat Jungkook.
Tentu Alea tidak akan menggubris apa yang di ucapkan oleh Jungkook, wanita menyebalkan itu terdiam sambil menatap wajah Jungkook dengan penuh alibi.
"Bagaimana kalau kita pindah saja ke Swiss, kamu past.."
"ALEA!"
"Apa kamu tidak berpikir bahwa lebih baik kita rebut saja hak asuh anak, biarkan Yuna menjalani hidupnya kembali tanpa ada beban."
Jungkook menghentakkan balpoin yang tengah ia pegang,"Bisa diam? Pergi!"
Alea mengangguk,"Bagaimana pun anak itu juga anakku, maka aku akan merebut hak asuh tersebut!"
Perkataan Alea membuat Jungkook kesal bukan main, tidak ada yang lebih berhak atas hak tersebut selain Yuna. Jika hal tersebut terjadi coba bayangkan betapa sedih Yuna dan kecewanya dia pada Jungkook.
"Jimin, segera ikuti Alea kemana pun ia pergi tolong beritahu saya."
"Baik Tuan."
Setelah menyelesaikan tugas Jungkook beranjak dari duduknya, ia segera berjalan menuju ruang rahasia yang tertutup oleh beberapa rak buku di sana.
Jika kalian bingung, jawabannya pria itu sudah tidak lumpuh lagi. Sejak kapan? Sejak pernikahan sialan tersebut menimpa. Pernah mendengar satu pepatah jika ingin membantainya maka kalian harus masuk ke dalamnya. Sekarang mengertikan? Alasan Jungkook menikah dengan Alea karena apa.
"Hallo, saya butuh kamu untuk mengawasi wanita bernama Yuna di Swiss. Saya akan kirimkan fotonya serta biodata lengkap, jangan sampai di ketahui."
Kalian salah jika berpikir bahwa Jungkook tidak mengawasi Yuna, selama ini selalu ada yang memperhatikan wanita tersebut di mana pun itu termasuk masalah gosip yang menyebar sudah di ketahui oleh Jungkook. Jujur hati pria itu merasa sakit namun bagaimana lagi? Jungkook hanya bisa membiarkannya lalu kembali dengan persi terbaik setelah menghancurkan kutu kecil yang selalu menggerayapi.
"Tuan salah satu pengawal sudah berhasil masuk ke cafe yang menjadi tempat Nona Yuna bekerja, apa yang harus kami lakukan?"
"Awasi saja dia, mengerti?"
"Baik!"
Jungkook bisa tenang sekarang, hanya sampai menunggu waktu bermainnya selesai saja. Mari kita lihat sehancur apa keluarga Alea yang sudah bermain api.
"Mari kita lihat tanggal mainnya!"ujar Jungkook melihat kearah kalender di sampingnya.
Senyum menyeringai pria tersebut membuat seisi ruangan semakin mencekam.
"Tunggu aku Yuna."
...****************...
Yuna tengah menari bersama dengan Sona di kamarnya, kali ini wanita lajang tersebut tidak merasa kesepian karena ada anak kecil yang selalu menemaninya.
"Bagaimana kalau kita bermain!"
"Boleh!"
Mereka kemudian bermain, seakan mengulang masa kecil Yuna selalu tersenyum senang.
"Yang kalau pakai bedak ini, setuju?"
"Ehm!"
Ibunda Yuna yang berada di lantai bawah tersenyum mendengar gelak tawa dari lantai atas, sementara Yu-Jung berada di gendongannya karena tidak bisa melepaskan cucu kesayangannya.
"Apakah Yuna bersama Sona?"
"Iya, mereka sedang bermain. Biarkan saja, melihat Yuna seperti itu membuatku bahagia. Tidak sepantasnya kala itu kita merenggut masa remajanya hanya untuk menikah dengan pria jahat seperti Jungkook, lihatlah sekarang akibatnya."
"Aku juga menyesal, tapi jika begitu tidak akan ada cucu tampan ini."
"Wajahnya mirip Jungkook ketika kecil, semoga saja hal jahat dari Ayahnya tidak menurun aku sangat takut dia sama dengan Jungkook."
Kembali pada Yuna dan Sona yang sudah di penuhi oleh bedak bayi berwarna putih di wajah keduanya, permainan yang mengasikkan.
"Ahh kakak!"
"Kemarilah Sona.."
Yuna tertawa lepas, rasanya ia bisa merasakan tawa sebenarnya. Teringat akan temannya Hina di Korea membuat wanita itu bersedih kembali karena dulu mereka sering melakukan permainan serupa.
"Ada apa?"
"Teringat akan sahabat kakak di sana, kami sering melakukan permainan seperti ini sangat bahagia."
Sona memeluk Yuna,"Kakak di sana juga akan sangat merindukan kak Yuna, pasti!"
Yuna menatap Sona sambil tersenyum kemudian melanjutkan permainan kembali.
Sekitar dua jam kemudian, mereka sudah kelelahan dan memutuskan untuk tidur. Selang beberapa menit sang Ibu naik ke laintai atas untuk menyerahkan Yu-Jung yang sudah harus di beri asi.
Yuna menatap Ibunya dengan bahagia,"Terimakasih."
"Sama-sama, senang sekali melihat kamu bisa sebahagia ini. Tetap seperti ini ya, seorang Ibu akan sangat mendukung keputusan anaknya."
"Baik, doa saja."
Sona sudah tertidur lebih awal, sementara Yuna masih harus menidurkan Yu-Jung yang sedikit rewel. Maklum anak bayi, jika siang tidur maka malam tidak mengantuk.
Yu-Jung akhirnya tertidur pulas setelah di nyanyikan oleh Ibunya penghantar tidur dengan suara yang merdu.
Sebelum tidur rutinitas Yuna seperti biasanya yaitu ke kamar mandi lalu merawat wajahnya terlebih dahulu.
Tapi Yuna terkejut ketika handphone yang ada di atas nakas berdering kencang, salah ia lupa mensenyapkan benda pipih tersebut.
Di lihat tepatnya layar hitam ada seseorang yang meneleponnya tapi dengan nomor yang tidak ada di kontak, artinya nomor orang asing. Takut orang yang ia kenal namun dalam masalah maka Yuna segera mengangkatnya, menempelkan benda itu ke daun telinga.
"Hallo dengan siapa ini?"
Tidak ada suara, Yuna bingung.
"Kalau tidak bicara saya tutup."
"Ehm!"
"Siapa? Ada perlu apa?"
"Tolong berkata, jika memang tidak menjawab maka saya tutup."
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik, kalau boleh tahu ini dengan siapa?"
Suara serak yang tidak pernah Yuna kenal bertanya soal kabarnya, aneh sekali.
"Sebelumnya saya minta maaf, jangan menghubungi saya kembali jika Anda tidak mengucapkan apa-apa. Saya tidak kenal dengan nomor handphone ini jadi tolong jangan menghubungi saya lagi."ujar Yuna dengan tegas.
Tidak ada jawaban, hanya suara hembusan napas yang terdengar.
"Yun.."
Kedua mata Yuna terbelalak mendengar orang asing tersebut memanggil namanya, sekarang ia berpikir keras akan suara yang tidak asing di telinga.
"Siapa dia?"
Di lain tempat, Alea menatap keheranan Jungkook yang menatap langit malam dengan tangan sedikit gemetar.
"Tidak biasanya kamu menatap jendel, sedang memikirkan apa? Pasti wanita sialan itu."
"Alea jangan mengatakan hal seperti itu, saya tidak akan mengampuninya."
"Mengapa ada handphone di sini?"
"Kembalikan!"
"Ada apa dengamu? Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?"tatapan Alea menujukkan ia mencurigai sesuatu yang tengah di sembunyikan Jungkook.
"Tidak ada."
"Baik,"ujar Alea pergi.
Huhhh hampir saja...