
Beberapa bulan berlalu, kini saatnya Yuna masuk ke perguruan tinggi. Dengan penuh keyakinan wanita itu akan mengambil jurusan kedokteran agar ia bisa mengambil spesialis jantung.
Di temani oleh Delon, kini Yuna semakin tenang karena bisa mendapatkan banyak pelajaran tambahan dan bimbingan dari dokter yang kini tengah berada di semester akhir.
Yuna menatap buku anatomi di depannya kemudian beralih menatap kearah samping.
"Kamu sudah berapa jauh belajar untuk masuk kedokteran?"tanya Delon.
Dengan senyum terkikik Yuna mengatakan,"Mungkin masih sedikit."
Delon menggeleng cepat, ia segera bangkit dari duduknya untuk segera mengambil beberapa buku yang dapat membantu pembelajaran Yuna.
"Jangan kebanyakan."
Dari dulu Yuna memang tidak suka membaca apalagi pelajaran, namun ketika ujian ia selalu mendapatkan nilai tinggi karena belajar ngebut saja sudah cukup untuk materi tersebut masuk ke dalam otak.
"Bagaimana?"tanya Delon ketika ia meletakkan beberapa buku di depan Yuna.
"Banyak sekali.."keluh Yuna menatap dengan mata iba pada Delon.
"Kamu ini ingin mengambil jurusan kedokteran, buku seperti ini sangat biasa."
"Biasa?"rasanya Yuna ingin menangis mendengarnya.
"Semangat, awal memang berat tapi setelah di jalani akan terbiasa dan mudah."ujar Delon memberikan semangat pada wanita di sampingnya.
Jam terus berjalan hingga tiba akhirnya dimana mereka harus segera berpisah karena Delon yang memiliki banyak jadwal di kampus tepat dimana nantinya juga akan menjadi kampus Yuna.
"Baik, pelajaran hari ini sampai di sini. Semangat untuk tesnya dan semoga lulus ujiannya, Ibu dokter."
"Terimakasih Bapak, dokter?"ujar Yuna tertawa.
Keduanya terlihat lebih nyaman untuk mengobrol hingga tanpa di sadari di antara keduanya ada salah satu yang menyimpan perasaan melebihi teman atau sahabat.
Karena seorang diri di sana Yuna memutuskan untuk pulang karena ia juga tidak berani terlalu lama di tempat umum apalagi ia seorang wanita.
Di perjalanan pulang Yuna selalu saja melihat pasangan-pasangan yang tengah menikmati waktu bersama, terlihat bahagia. Agaknya Yuna belum melupakan masalalu sepenuhnya, terlihat dari manik mata yang kini mulai berkaca-kaca.
"Nona apakah kamu sedang bersedih?"tanya seorang wanita paruh baya, sontak mata Yuna menoleh.
"Ah tidak."ujar Yuna berbohong sambil mengusap air mata yang hendak menetes.
Wanita paruh baya tersebut meminta Yuna duduk di kursi taman bersama dengan dia, entah apa yang hendak di obrolkan tapi Yuna menurut saja.
"Kamu terlihat sedang bersedih, matamu memperlihatkan apa yang terjadi."ujar wanita paruh baya tersebut.
"Dulu suamiku meninggal karena kecelakaan yang menimpanya hingga tewas, sampai saat ini aku masih berharap dia masih ada dengan hidup bersama kenangannya."
"Lalu?"
"Aku tidak menikahi pria lain selain dirinya seorang, usiaku juga tidak jauh darimu. Kami baru saja menikah kala itu, tapi musibah menimpa begitu saja."
"Saya turut berduka cita."
"Kalau kamu ingin bercerita boleh mengatakannya, aku terbuka karena sepertinya nasib kita sama."
"Kami hanya bertunangan, seharusnya aku bertanya alasan kepadanya meninggalkan tanpa ucapan. Tapi aku malah berpikir yang tidak-tidak hingga aku tahu banyak hal yang ia ketahui agar aku tidak bersedih."ujar Yuna.
"Dia sudah meninggal beberapa bulan yang lalu, aku sangat menyesal sampai saat ini."sambung Yuna.
Tangan wanita paruh baya tersebut merangkul pundak Yuna, menepuk perlahan seakan mengatakan ia masih harus melanjutkan perjalanan yang panjang.
"Kamu masih muda, berjalanlah ke depan. Aku yakin seiring berjalannya waktu kamu akan merelakan dia meski berat, aku turut berduka cita."
Setelah banyak obrolan di antara keduanya mereka berdua berpisah.
"Yuna, tenangkan dirimu mari lanjutkan hidup ke depan."ujar Yuna sambil mengelus dada.
Sesampainya di rumah Yuna segera masuk ke dalam kamar untuk mandi.
Seperti biasa Yuna akan termenung menatap jendela di depannya sambil menangisi sebuah foto di sana, siapa lagi kalau bukan Jungkook.
Tidak berlangsung lama dering handphone yang berada tepat di atas nakas memudarkan lamunan, dengan segera Yuna mengangkat panggilan tersebut.
Dari seberang sana samar-samar Yuna mendengar suara Jimin, terdengar serak. Seketika mata Yuna terbelalak ketika Jimin mengirimkan sebuah video yang membuat dahi Yuna mengerut.
Di dalam video tersebut terdapat dua anak kecil usia sekitar enam tahun tengah berlarian di taman dengan rerumputan seperti karpet.
Beberapa pertanyaan mulai di tanyakan pada sang pemberi video tersebut, namun ia meminta Yuna untuk mengingat sendiri karena jika di beri tahu wanita itu tidak akan percaya.
Yuna menatap wanita tersebut, ia mulai mencari foto yang berada tepat di dalam buku hariannya saat kecil. Ketika ia menemukan foto di belakangnya Yuna tersadar maksud Jimin.
Setelah video tersebut pria di seberang sana mengirimkan ribuan video hingga foto yang membuat Yuna berpikir keras.
Satu video yang membuat Yuna semakin yakin bahwa kedua anak itu adalah dirinya dan Jungkook karena tempat di video itu sama percis seperti yang pernah pria itu tunjukkan, air terjun waktu Yuna tenggelam.
Dengan selembar foto dan beberapa bukti di handphonenya Yuna segera berlari menuju lantai bawah tepat dimana kedua orang tuanya berada.
"Apa alasan kalian menikahkan aku dan Jungkook adalah ini?"tanya Yuna sambil memberikan handphonenya.
Mereka saling bertatapan, menghembuskan napas gusar kemudian menjawab."Betul itu kalian, apa ingatanmu sudah kembali?"
Sebentar, sejak kapan Yuna kehilangan ingatan?
Panjang lebar orang tua Yuna menceritakan segalanya, antara kedua anak dengan kasih sayang luar biasa sejak kecil dari terpisah oleh jarak dan keadaan kini terpisah dengan takdir.
"Kamu kehilangan ingatan karena kecelakaan di usia sekitar sembilan tahun, karena itu kamu tidak dapat mengingat sedikit pun kedekatan antara kalian. Maka dari itu kami berusaha untuk menyatukan kalian dengan ikatan perjodohan ini, namun ternyata kamu menolak dengan lugas. Kami tidak dapat memaksa tapi Jungkook mengatakan bahwa kalian akan saling mencintai kembali hingga waktu dimana kalian bertemu setelah sekian lama terjadi."ujar Ayah Yuna dengan panjang lebar.
Yuna kebingungan, ia kini memahami setiap hal yang sering di ucapkan Jungkook. Pantas saja dia selalu ada dan memberikan waktu untuk jatuh cinta kembali karena ini. Tapi sekarang semuanya sia-sia saja, Yuna tidak dapat membalas segala hal yang sudah pria itu lakukan.
"Yuna, kami memang salah karena tidak memberitahu kannya kepada mu. Tapi Jungkook menginginkan kamu mengingat segalanya dengan murni tanpa ada paksaan."
Mata Yuna tidak bisa membendung air mata di sela matanya hingga akhirnya menetes. Dengan pakaian sederhana yang sedang di kenakan saat ini Yuna segera pergi entah kemana, mungkin tempat dimana ia akan menangis seorang diri.
Kamu terlalu kejam karena sudah menyembunyikan kebenaran ini!!
JUNGKOOK!