
Yuna menatap gelas yang ada di depannya, nampak setengahnya.
"Yuna, apa kamu tidak tidur?"pertanyaan tersebut membuat Yuna yang melamun terkejut.
"Eh!"
"Kamu kenapa?"
Hanya gelengan dari wanita tersebut sampai akhirnya ia membuka suara.
"Tadi ada yang menelpon dengan nomor asing, suaranya seperti Jungkook."
"Jungkook, Jungook lagi!"
"Itu benar, Yuna tidak akan salah mengenalinya."
"Memang kamu tidak salah tapi kami sudah kecewa dengan dirinya, ingat Yuna yang pergi tidak akan kembali meski begitu mau sampai kapan seperti ini? Sampai anakmu dewasa sedangkan kalian melakukan hal ini selama beberapa kali."
"Maksudnya?"
"Jujur sebagai seorang Ibu sudah muak, dia sudah mendapat kesempatan kedua kali untuk keluarga yang bahagia. Namun sekarang? Dia seakan membuangmu begitu saja."
Yuna terdiam, ia tidak dapat berkutik sedikit pun mati kutu di buatnya.
"Sudah tidurlah, tidak ada yang perlu kamu pikirkam kembali."
Baik, dengan tegas Yuna ucapkan dalam dirinya sendiri bahwa tidak ada kesempatan kembali jika ia kembali. Apa yang sudah hancur tidak bisa di rakit kembali bagaimana pun itu.
Selesai dengan isi kepala Yuna kembali ke kamarnya untuk tidur karena waktu sudah malam.
"Kakak dari mana?"tanya Sona serak.
Sona terbangun dari tidurnya membuat Yuna segera mengusap punggung anak tersebut dengan lembut,"Tidur kembali, besok kita akan pergi berjalan-jalan. Mau?"
"Mau."
Alhasil mereka tertidur meski Yuna masih memikirkan siapa orang yang menghubunginya, perlahan tangan Yuna mengambil handphone dan menekan tombol blokir untuk nomor tersebut.
"Ada apa? Tolong jangan pikirkan lagi."gumam Yuna hingga berhasil memblokir nomor tersebut.
...****************...
Mata Yuna terasa perih hari ini, ketika bangkit dari tidur wanita itu segera mengecek di depan cermin melihat apa yang terjadi.
Betul saja kedua mata Yuna seperti iritasi padahal ia tidak bepergian jauh yang membuat matanya terus berangin.
Kemungkinan hari ini rencana untuk bermain tidak akan terlaksana karena mata Yuna harus segera di periksa.
"Kak Yuna kenapa?"pertanyaan dari Sona membuat wanita itu meminta maaf.
"Sona, kakak sepertinya tidak bisa membawa kalian untuk berjalan-jalan karena harus periksakan mata ke rumah sakit."
Sona melihat kedua bola mata Yuna yang memerah bahkan menyeramkan seperti hantu.
"Bagaimana sekarang? Apa terasa perih?"tanya Sona.
"Sangat."
Yuna berjalan menuju lantai bawah untuk meminta pertolongan pada sang Ibu, tapi sialnya ia tidak berhasil menemukan keberadaan wanita paruh baya tersebut.
Hingga sepuluh menit berlalu ia melihat sang Ibu baru saja pulang dari pusat perbelanjaan.
"Ada apa?"
"Lihat, mataku merah seperti ini."tunjuk Yuna.
"Astaga Yuna, matamu merah sekali. Apa kamu tidak berencana ke rumah sakit? Itu iritasi!"
Yuna mengangguk,"Sepertinya akan pergi ke rumah sakit, apa aku bisa meminta tolong untuk menjadi kedua anak di kamar."
"Tentu, kamu pergi saja segera siap-siap."
Dengan sigap Yuna berjalan, matanya mengeluarkan air dengan lendir yang membuat wanita itu tidak nyaman melihat.
"Kakak akan pergi ke rumah sakit, Sona tunggu di rumah bersama Yu-Jung dan nenek. Bisa?"
"Tentu!"
Selesai berkemas Yuna segera pergi dengan kacamata menghimpit hidung.
"Yuna, hendak kemana kamu?"
Padahal Yuna sedang terburu-buru, namun pertanyaan dari belakang membuatnya menoleh.
"Sedang apa di sini?"
"Menunggu kamu? Apa kamu tidak melihat grup bahwa akan ada acara di kampus."
Yuna menepuk jidatnya,"Mampus!"
Segera ia mengecek handphone dan benar saja bahwa akan ada acara pada beberapa minggu mendatang dan hari ini akan di adakan rapat wajib.
"Kamu hendak kemana? Biar saya antar. Pasti kampuskan!"
"Bukan!"kesal Yuna.
Agar pria di hadapannya ini bisa diam maka Yuna membuka kacamata hitam yang ia kenakan, begitu terkejut pria itu sampai matanya membelalak.
"Bagaimana? Saya sedang sakit mata sekarang hendak ke rumah sakit."
"Kalau begitu naiklah, saya akan antarkan."
"Apa Bapak tidak ada tugas? Saya sakit pun masih harus ke kampus."
"Saya antar ke rumah sakit bukan kampus, kamu salah paham."
Yuna pergi dari sana tapi sialnya Gerld masih mengikuti dengan mobilnya.
"Naiklah, naik bus akan membuat matamu terkena debu!"
"Tidak!"
Tibalah dimana Yuna ketinggalan bus yang akan membawanya ke rumah sakit, melihat semua kesialan tersebut Gerld hanya tertawa lalu menyuruh Yuna menerima tawarannya.
"Bagaimana? Ayo naik!"
Yuna bergegas menaiki mobil Gerld dengan terpaksa karena jika ia menundanya maka akan kehilangan waktu.
"Apakah sakit?"
"Sakit, jangan bertanya hal yang sudah terlihat jelas. Cepatlah!"
Sesampainya di rumah sakit Yuna segera masuk untuk mendaftarkan dirinya kemudian menunggu antrian. Wanita itu mengira bahwa Gerld akan pergi setelah mengantar tapi ia salah ternyata pria tersebut menyusulnya.
"Sedang apa?"
"Menunggu kamu, bagaimana apa sudah masuk ke dalam?"
Yuna menggeleng,"Harus mengantri terlebih dahulu memangnya kamu pemilik rumah sakit sampai tidak harus mengantri."ujar Yuna bercanda.
Gerld segera berjalan ke depan, berbicara dengan perawat di sana hingga mereka mengangguk.
"Yuna ayo masuk!"
"Kemana?
"Periksa mata!"
"Hah?"
Yuna kebingungan, ia beranjak perlahan tanpa mengkahkan kaki sedikit pun.
"Ayo!"ajak Gerld menyeret Yuna untuk segera berjalan mengikuti.
Langkah mereka berhenti tepat di depan sebuah ruangan yang tertulis dokter mata.
"Maksudnya bagaimana?"
"Masuk!"
"Hah? Perlu aku temani juga?"
Gerld mengetuk kenop pintu kemudian membukanya perlahan, terlihat seorang dokter muka di sana dengan senyum mengembang.
Satu kata ketika Yuna melihatnya, tampan!
"Fer, tolong di cek."
"Fer? Maksudnya?"tanya Yuna bingung.
Dokter tampan itu tersenyum,"Baik Ger."
Apa maksudnya? Jujur Yuna tidak tahu hubungan apa di antara mereka berdua hingga akrab seperti itu.
"Maksudnya ini bagaimana?"
Gerld tersenyum,"Sudah kamu tidur di sana saja biarkan dia memeriksa matamu."
Yuna menurut, ia membelalakkan kedua matanya untuk di periksa menggunakan sebuah senter kecil.
"Apa hubungan kalian?"tanya dokter tersebut.
"Hah? Saya tidak mengerti tolong di jelaskan."
"Kamu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu siapa dia?"
"Bagaimana? Saya tidak mengerti."
"Dia pemilik rumah sakit ini, jangan lupa bahwa pria tersebut juga seorang dokter spesialis."
"Hah? Yang benar!"
"Tentu, lihat saja tampang saya yang serius."
"Saya tidak percaya, dia hanya dosen di universitas saya di fakultas kedok.."
Seketika Yuna berpikir kembali untuk mencocokkan.
"Betul dia seorang dokter!"
"Kalian pacaran?"
"Bukan, jangan berpikir hal yang tidak-tidak."
Bukan hanya itu saja dokter muda tersebut terus menggoda Yuna dengan pertanyaan menyesatkan.
Sungguh tidak menyangka bahwa pria sederhana tersebut memiliki harta berlimpah bahkan pemilik rumah sakit terbesar, jangan lupa dia juga seorang dokter spesialis serta dosen.
Bayangkan seberapa banyak uang yang akan ia hasilkan dalam satu hari, apakah sampai bisa membeli pesawat terbang?
"Sudah, matamu ini harus di bersihkan terlebih dahulu baru bisa kembali bersih. Sepertinya banyak debu yang masuk hingga menyebabkan iritasi apalagi terkena pancaran sinar handphone saat malam dengan kondisi lampu mati."
"Iya betul, baik kalau begitu terimakasih."
Yuna bangkit dari tidurnya, ia menatap wajah Gerld yang nampak khawatir.
Benarkah dia pemilik perusahaan? Luar biasa!