
Yuna mengemudikan mobilnya dengan perlahan dengan mata yang memicing kearah luar untuk melihat apakah ada Jungkook di sana.
Sekitar dua jam lamanya wanita itu mencari tapi tidak ada hasil yang ia dapat, hanya kecemasan karena belum menemukan pria itu.
Tidak lama dering hanphone Yuna terdengar nyaring di antara kesunyian, dengan segera ia mengangkatnya ternyata dari Jimin terlihat dari layar hanphone.
Hembusan napas lega terdengar ketika Jimin memberitahu bahwa Jungkook sudah kembali. Benar saja ucapan Jimin yang mengatakan bahwa Jungkook akan kembali dengan sendirinya, semoga dia baik-baik saja.
Sampai di rumah, tanpa basa-basi Yuna segera berlarian masuk kedalam hanya untuk melihat keadaan suaminya sekarang ini.
"Apa kamu baik-baik saja? Tadi pergi kemana?"tanya Yuna tepat di depan Jungkook yang bahkan tidak tersenyum sedikit pun.
"Jimin antarkan saya ke kamar, saya sudah mengantuk."ujar Jungkook tanpa menggubris Yuna yang terpaku di depannya.
Yuna terheran denhan sikap Jungkook yang mengacuhkan dirinya,"Ada apa denganmu? Apa aku berbuat salah?"
Tidak ada jawaban, hanya suara jam dinding yang menggema.
Jungkook mengatakan bahwa ia akan menggugat cerai Yuna tanpa persetujuan siapa- pun dan ia dengan sadar melakukan itu semua. Tentu Jimin terkejut mendengar hal tersebut bahkan sudah menjadi yang kedua kalinya.
"Tuan apakah ini benar? Ingatkah baru kemarin Tuan berjanji untuk tidak menceraikan Nona dalam keadaan apa pun. Nona selalu saja menemani Tuan dalam keadaan apa pun, saya bahkan berharap hidup Tuan yang sekarang akan lebih baik dari sebelumnya. Lalu kenapa Tuan melakukan hal ini?"
"Kamu tahu siapa yang menculikku tadi?"
"Saya tahu, dia..."
"Dia memperingati agar segera kembali ke perusahaan untuk memimpin dan menikah dengan Alea, bukan hanya itu mereka juga meminta aku tidak berhubungan dengan Yuna atau anak kami. Jika aku tidak menuruti perintahnya maka keluargaku akan hancur, aku tidak mau."
"Jadi mereka sudah tahu?"
"Iya mereka bilang saat aku masih ada di rumah sakit. Memang tidak heran, banyak anak buah yang akan mengawasi di sepanjang sudut. Bukankah dulu aku mati terlalu mudah untuk mereka? Tentu mereka tidak akan percaya."
Jimin mengangguk,"Sekarang apa yang akan kita lakukan?"
"Tuliskan surat cerai untukku, bawa Yuna pergi dari rumah ini dan kembalikan dia pada kedua orang tuanya dengan membawa surat lain yang akan aku tulis sendiri."
"Baik Tuan, saya laksanakan."
Waktu semakin malam, tapi nampaknya Jungkook tidak ada di kamar. Yuna memilih untuk tidur lebih dulu bersama dengan anaknya di samping agar mudah di tenangkan jika malam menangis.
Sementara Jungkook yang baru kembali melihat hal yang membuat hatinya enggan berpisah dari mereka, dua orang yang ia sayangi tengah tertidur pulas di sana.
Dengan perlahan Jungkook menghampiri mereka, mengelus puncak kening Yuna bahkan mengecupnya karena setelah malam ini mereka tidak akan bertemu lagi.
Jika Jungkook memilih ia rela kehilangan hartanya dari pada dua orang di depannya, tapi ini sudah takdirnya. Mau berlari kemana pun Jungkook akan tertangkap oleh mereka, hanya menerima apa yang sudah di tetapkan untuknya. Andai kakaknya masih ada apakah Jungkook bisa memilih hidupnya sendiri?
"Maafkan aku Yuna, kamu harus kembali hidup dengan rasa sakit karena jika tidak dengan itu maka kematian yang akan kamu dapatkan aku tidak bisa."
...****************...
Pagi hari Yuna di kejutkan dengan beberapa koper miliknya yang sudah bertender di luar membuatnya bertanya-tanya.
"Apa maksudnya ini?"tanya Yuna yang kesal bahkan kebingungan.
"Tuan meminta Nona untuk keluar dari rumah ini sekarang, dan ini juga surat dari Tuan untuk Nona."ujar Jimin membuat Yuna segera membukanya.
"Permainan apa lagi yang sedang ia mainkan, katakan bahwa ini semua tidak lucu."
"Silahkan di lihat Nona, semuanya sudah jelas tertulis di sana. Silahkan, barang-barang sudah di kemas."ujar Jimin.
Yuna emosi, ia segera mencari keberadaan Jungkook yang tidak menampakkan dirinya sama sekali.
"Kemana dia?"
"Tuan sudah berangkat, sebaiknya Nona lupakan Tuan dan masa depan di pikiran."
"Ada apa denganmu Jimin? Sebetulnya apa yang sudah terjadi? Rahasia apa yang kalian sembunyikan dariku!"
Yuna geram, pernikahan yang baru tumbuh tidak mungkin berakhir begitu saja dalam keadaan yang bahkan tidak ia mengerti.
"Ini tidak lucu!"
"Silahkan."
"JIMIN!"
Jimin terdiam, entah harus mengatakan apa kepada Yuna yang sudah meneteskan air mata karena percuma saja mencari Jungkook atau meneriaki namanya pria itu tidak akan keluar sebab dia sudah pergi jauh.
"Tuan sudah tidak ada di sini, percuma saja Nona berteriak."
"Apa yang kamu katakan? Jungkook kemana?"
"Saya tidak tahu."
"Jimin!"teriak Yuna mencengkram kerah baju Jimin dengan kuat.
"Nona, maaf."ujar Jimin sebelum ia pergi meninggalkan Yuna yang terkampar di lantai menangis tersedu-sedu.
"Kamu jahat Jungkook!"
"KAMU JAHAT!"
Teriakan Yuna terdengar langang di rumah, tidak ada yang menenangkannya termasuk Jimin. Bukan tidak ingin melainkan tidak tega melihat air mata bercucuran jatuh.
Siang hari setelah menunggu Jungkook menghampiri namun nyatanya tidak ada Yuna segera menggerek kopernya untuk meninggalkan kediaman tersebut dengan anaknya yang masih bayi berada di gendongan.
Mengucapkan kata pamit di dalam hati kemudian pergi meninggalkan setiap kenangan di sana meski baru secuil saja.
Entah apa lagi yang menjadi masalah Jungkook kali ini sampai menginginkan perceraian yang betul dia sendiri saja tidak mau menjelaskan alasannya.
Sudah cukup Yuna, jika kamu tidak di hargai pergilah sejauh mungkin jangan pernah menerima atau kembali dengan orang yang sama bahkan menyakiti untuk kedua kali.
Langkah demi langkah semakin menjauh ke depan sana, sebuah mobil mewah menepi membuat Yuna bahagia sesaat. Di kira Jungkook yang menghalangi pergi nyatanya Jimin yang mengantarkan kepergian.
Di dalam mobil tepatnya pertengahan jalan Yuna selalu bertanya soal Jungkook pada Jimin, sialnya pria itu hanya bungkam tidak mengatakan satu patah kata dari mulutanya.
"Jimin, jaga selalu Tuanmu. Aku tidak tahu apa kesalah yang sudah di perbuat hingga dia harus seperti ini kepadaku, aku kira setelah dia kembali di genggamanku semuanya tidak akan seperti ini. Aku selalu berharap kami bahagia sepanjang waktu dalam keadaan apapun, nyatanya dia selalu menyembunyikan segala hal dariku sampai akhirnya ia memilih sendiri tanpa memikirkan perasaanku."
Yuna mengoceh seorang diri, meski mendengar Jimin tidak mau berkata apa pun seperti orang bisu.
"Sudah di sini saja,"ujar Yuna memilih menepi di antara persimpangan jalan menuju rumahnya.
Anak mana yang mau melihat kedua orang- tuanya sedih karena berpisah dengan pasangannya dengan cara yang tidak baik. Dari pada mempersulit Jimin maka biarkan Yuna yang menjelaskan sendiri alasannya, tentu tidak menyalahkan Jungkook melainkan dirinya sendiri.
"Selamat tinggal Jimin, terimakasih untuk selama ini. Dan aku minta maaf jika banyak salah kepadamu, senang bisa mengenalmu. Aku pergi,"ujar Yuna melangkah menjauh dari mobil.
Jimin yang masih memperhatikan Yuna mulai mengetik sebuah pesan pada Jungkook.
Sudah selesai Tuan, Nona sudah pergi bersama dengan Yu-Jung untuk hidup yang lebih bahagia. Selamat sampai tujuan untukmu Tuan...