
Yuna menangis di sepanjang jalan yang membuat dirinya menjadi bahan pembicaraan. Tidak memperdulikan wanita itu hanya fokus sampai ia sampai di tujuan akhir yaitu rumah kedua orang tuanya.
"Yuna!"
Semua orang yang ada di sana terkejut melihat Yuna yang datang dengan mata sembab bahkan baju yang acak-acakan.
"Ada apa denganmu?"
Pelukan hangat seorang Ibu meresap hingga ke sela tulang.
"Aku sudah bercerai dengan Jungkook,"kalimat yang di ucapkan oleh Yuna mampu membuat mereka mengelus dada.
"Kali ini ada apa lagi?"
Yuna menggeleng cepat, segalanya sudah terlihat jelas terlihat pada penampilan wanita itu.
"Duduk, berikan Yu-Jung kepadaku."
Jika terus di pertanyakan seorang anak tidak akan bisa tenang maka biarkan mereka menangkan terlebih dahulu agar nanti setelah ia siap maka akan berbica dengan sendirinya.
Hanya melamun menatap dinding kamar yang kosong tanpa apa pun, bahkan segelanya masih berada di kediaman Jungkook termasuk foto entah kemana perginya.
Kini hanya dirinya dan Yu-Jung yang perlu ia pertahankan karena Yuna sudah tersadar bahwa semuanya akan pergi begitu saja tanpa berpamitan.
"Yu-Jung tolong bertahan, Ibumu akan memberikan segalanya."ujar Yuna tertidur di samping anaknya sambil meneteskan air mata.
Jangan di tanya seberapa sedihnya Yuna saat ini, ia sudah hancur berkeping-keping. Bagaimana suatu saat nanti Yuna tidak dapat mempercayai pria lain lagi karena trauma akan hal ini.
"Yuna, apakah kamu sudah makan?"tanya Ibunya di balik pintu.
"Sudah!"teriak Yuna menjawab padahal itu kebohongan karena sebetulnya ia belum menyentuh secuil nasi.
Tanpa di sadari Yuna tertidur bersama anaknya di atas ranjang menghapuskan segala sedih yang kini melanda kehidupan mereka.
Sementara Jungkook yang tengah berada di dalam pesawat hanya menggenggam erat cincin pernikahan antara dirinya dan Yuna.
"Aku berharap kamu bahagia tanpa diriku, lupakan sosokku."gumamnya.
Akhirnya pria itu tiba dengan beberapa penjaga yang membantunya untuk sampai di kediaman Jeon. Di sana tepatnya taman setiap orang menunggu kedatangan Jungkook yang bahkan harus di bantu dengan kursi roda, tentu semuanya terkejut menatap tajam.
"Sekarang kamu lumpuh?"
Baru saja pertama menginjakkan kaki kembali pertanyaan itu selalu terlontar lugas.
"Iya."
Alea yang ada di sana segera membantu Jungkook namun tangannya di tepis kuat,"Jangan menyentuhku!"
Jungkook mendapatkan peringatan melewati mata tajam Ayahnya, terpaksa pria itu menerimanya meski tidak mau.
"Aku sudah mencarikanmu dokter terbaik di sini, besok aku temani kontrol. Mau?" tanya Alea.
Keterpaksaan Jungkook yang membuatnya mengangguk cepat.
"Bagus!"sorak Alea.
Dengan senang hati Alea juga meminta izin untuk mengobrol dengan Jungkook empat mata saja, mau bagaimana lagi mereka tentu pergi.
"Ada apa?"tanya Jungkook dengan ketus.
"Jangan seperti itu, aku akan merawatmu hingga berjalan lagi. Tapi jika di pikir-pikir sebaiknya kamu seperti ini agar tidak kabur lagi, meski kabur kemana pun aku akan selalu menemukan-mu bukankah luar biasa?"
Jungkook berdecak sebal mendengar ucapan Alea,"Ini semua bukan karena kamu, ingat kamu hanya orang yang terobsesi. Ini bukan cinta Alea!"
"Aku tidak peduli ini cinta atau bukan karena aku menginginkan mu maka aku harus mendapatkannya."
"Tunggu, kamu menyebutku egois? Aku sudah mencintaimu semenjak kita kuliah. Apa kamu tidak ingat? Meski Yuna adalah cinta pertama atau sampai sekarang aku tidak peduli selagi tubuhmu milikku."
"Sakit!"
"Kamu yang sakit, sekarang bagaimana? Kamu tidak akan berkutik sedikit pun."ujar Alea sambil tertawa terbahak-bahak.
"ALEA!"
"Jangan marah-marah ingat bahwa kamu sedang sakit."ujar Alea menepuk pipi Jungkook.
Jungkook pergi seorang diri dengan cara mendorong sendiri tapi nyatanya ia tidak bisa bahkan kesulitan.
"Ada apa? Kamu tidak bisakan? Apa membutuhkan bantuan? Oh aku lupa bahwa kamu mampu. Benar bukan?"
"Ah aku lupa kamu lumpuh dan hanya duduk di kursi roda. Bagaimana rasanya? Bukankah ini yang kamu pikir bahwa aku akan melupakan keinginanku, tidak segampang itu Jungkook."ujar Alea seraya menaikkan kedua alisnya.
Dan yang kalian tidak inginkan terjadi, Jungkook terjatuh begitu saja di lantai. Alea hanya tertawa melihat semuanya tanpa ada niatan untuk membantu. Melihat Jungkook meringis kesakitan membuat Alea puas dengan semua perlakuannya.
"Bukankah itu enak? Bagaimana sekarang apa masih bersikeras untuk seorang diri setelah melihat diri kamu saja serendah itu."
Jungkook mengepalkan kedua tangannya, ia sangat kesal pada Alea yang memperlakukannya seperti tidak memiliki harga diri.
"Ada apa ini?"tanya salah satu pelayan yang sudah mengurus Jungkook dari ia kecil.
Pelayan berumur tersebut segera membantu Jungkook untuk duduk di atas kursi roda, sedangkan Alea pergi dari sana membiarkan dua orang itu.
"Tuan kenapa Anda masih ada di sini? Segera pergi."
"Saya tidak menyangka Tuan masih hidup tapi kala itu saya mendengar pembicaraan Tuan besar bahwa Tuan Muda masih hidup. Saya tidak menyangkanya, kenapa Anda tidak pergi saja?"
Jungkook menghela napasnya gusar,"Mau kemana lagi saya pergi? Sejauh apa pun mereka akan tetap menemukan aku. Bukankah mereka memang memiliki banyak cara, aku ini sudah seperti buronan bukan anaknya."
"Sabar Tuan, dimana Nona Yuna?"
Pertanyaan itu sontak membuat Jungkook mengubah raut wajahnya,"Dia sudah pergi."
"Semenjak Anda di nyatakan sudah tidak ada Nona selalu saja kemari untuk melihat tempat peristirahatan Anda. Tapi apakah Tuan bertemu dengan Nona di sana? Bukankah dia di Swiss juga?"
Jungkook mengatakan segalanya dengan hati yang tersayat duri, memang mudah untuk mengucap tapi tidak dalam bertindak.
"Jadi Tuan akan menikah dengan Nona Alea? Saya kira hanya candaan."
"Tidak, itu semuanya nyata. Mereka hanya menganggapku sebagai peliharaan tidak lebih, bukankah hidup ini terlalu menyedihkan?"
Satu pelukan hangat mendarat di tubuh Jungkook yang mampu membuatnya tenang untuk sementara waktu.
"Tuan memilih ini karena demi keamanan Nona Yuna, saya mengerti akan hal itu. Tapi apakah Tuan tersadar bahwa kebahagiaan Anda lebih penting."
"Satu bulan bersamanya sudah membuatmu senang bukan main, meski kami harus berpisah aku tidak memiliki penyesalan untuk sekarang ini karena aku tidak bisa memberikan kebahagiaan yang dia harapkan selain melepaskan untuk saat ini."ujar Jungkook.
Selesai berbincang pria itu segera di antar ke kamarnya yang kini sudah tidak terurus, pelayan segera membersihkan kamar Jungkook. Jika di pikir mengapa tidak di lakukan saat pria itu dalam perjalanan, memang kejam.
"Tuan tunggu saja di luar, biar kami yang membersihkan."ujar pelayan berumur.
Di samping kamar Jungkook adalah milik kakaknya yang sudah lama tidak di tempati tapi semuanya masih sama, ukuran kamarnya lebih besar dari milik Jungkook.
"Tuan sudah selesai."
Menunggu lima belas menit untuk membersihkan kamar kecil tersebut hingga akhirnya Jungkook dapat beristirahat di sana.
"Selamat beristirahat, Tuan."ujar para pelayan pergi.
Sementara Jungkook bersusah payah seorang diri untuk bisa ke tempat tidurnya,"Dasar pria cacat!"pekik dirinya sendiri.