Mr. Jungkook's Naughty Wife

Mr. Jungkook's Naughty Wife
BAB 62



"YUNA!"


Sontak pandangan mata mereka menoleh pada sumber suara di belakangnya.


"Jungkook?"


Yuna bangkit dari duduknya, dengan segera ia menghampiri pria penuh amarah.


"Ada apa?"


"Kita perlu bicara."


"Bicara? Maaf sepertinya tidak ada yang perlu di bicarakan antara kita."


Jungkook tidak terima dengan ucapan Yuna tersebut yang menusuk hingga ke ulu hati.


"Ada apa? Tolong jangan ganggu Yuna lagi."ujar Gerld menjadikan tubuhnya tembok.


"Siapa Anda? Jangan ikut campur tentang kami."


"Kami? Kami sudah tidak ada hubungan, jadi sebaiknya tidak usah mengatakan itu."


Yuna pergi dari sana dengan terburu-buru di susul oleh Gerld yang membuntut di belakang.


"Apa kamu baik-baik saja? Eh Anda."


"Panggil saja sesuai dengan kenyamanan, saya tidak masalah."


"Baik."


"Saya baik-baik saja, hanya sedikit tidak enak hati karena dia cemburu namun tidak sadar diri tentang apa yang sudah ia lakukan."


"Sudah Yuna, jangan bersedih. Kalau begitu kita kembali ke kamar hotel untuk mengganti pakaian sudah saya siapkan, selama kamu mengganti baju saya akan tunggu di depan jika sudah selesai tolong keluar."


"Baik, terimakasih."


"Saya yang harus mengatakan itu, maaf sudah membuat ingatan menyedihkan kembali lagi."


"Tidak masalah, jangan di pikirkan."


Mereka kini berada di kamar hotel, seperti perjanjian Yuna mengganti bajunya sedangkan Gerld menunggu di depan.


Banyak orang lalu-lalang di depan pria tersebut berbisik seakan menyedihkan, opini orang tidak perlu di permasalahkan ucup yang menjalani saja yang mengerti.


Untuk saat ini banyak pria yang tidak menghargai wanita karena menurut mereka itu tidak penting, padahal pemikiran itu salah. Wanita harus di hormati dan di cintai bukan sebaliknya.


Tiga puluh menit berlalu, Yuna akhirnya keluar menggunakan gaun putih yang nampak berbinar ketika di kenakan oleh wanita itu. Gerld yang melihat wanita di hadapannya berpenampilan luar biasa sampai terpesona.


"Apakah bagus?"tanya Yuna.


"Tentu, apa yang kamu kenakan nampak indah. Boleh saya masuk?"


"Baik, maaf sudah menunggu lama."


Seperti pria biasanya, Gerld tidak membutuhkan waktu lama untuk mandi lalu mengganti pakaian berbeda dengan wanita. Sekitar lima belas menit pria itu keluar dengan jas berwarna senada dengan gaun Yuna.


"Apa bagus?"


"Tentu, warna pakaian kita sama."


Pesta sudah di adakan sekitar sepuluh menit yang lalu, pasangan pengantin memasuki ruangan dengan gaun yang indah.


Tibalah dimana sesi dansa, semua orang menari dengan lihai begitu pula Yuna dan Gerld. Sementara pasangan pengantin hanya melihat karena sang pengantin pria tidak mampu berdiri.


Jungkook menatap Yuna tanpa berpaling pada apa pun termasuk Alea yang terus mengoceh tidak jelas. Geram terus melihat hal tersebut Alea segera membentak Jungkook yang membuat semua orang menatap ke arahnya.


"Lanjutkan!"ujar Alea merasa malu.


"Apa kamu masih ingin dengan wanita itu? Sadarlah Jungkook bahwa aku adalah istrimu sekarang!"


"Istri? Pernikahan ini hanya palsu untukku."


"Aku sudah rela menahan malu karena menikahi pria cacat sepertimu, tapi apa yang aku terima?"


"Mengapa kamu menginkan semua ini? Aku sangat tidak ingin menikah dengan wanita sepertimu. Kamu tahu sendiri bahwa aku memiliki keluarga!"


Alea kesal, ia pergi menghampiri Yuna kemudian menjambak rambut berkilau wanita itu dengan kencang.


"ALEA!"


Gerld menghentikan itu semua, kelakuan Alea menjadi pusat perhatian.


"AKU SUDAH BERSAMABAR DENGANMU YUNA, APAKAH KAMU MERASA HEBAT KARENA SUAMIKU MASIH MELIRIK WANITA SEPERTIMU!"


"ALEA!"


"ALEA SADARLAH, KAMU HANYA AKAN MEMBUAT DIRIMU MALU!"


"Ada apa?"


"Apa wanita itu pelakor?"


"Wah aku tidak menyangka!"


Banyak bisikan tidak mengenakan terdengar di telinga Yuna yang membuat wanita itu memilih pergi dari pada harus menahan sesak di dadanya kembali.


"Yuna!"


Gerld segera berlari mengejar Yuna yang berjalan jauh ke sana, entah kemana wanita itu akan pergi untuk menenangkan diri.


"Kamu mau kemana?"tanya Gerld mencekal pergelangan tangan Yuna.


Yuna segera menepisnya,"Jangan mengikut, lanjutkan saja pestanya. Aku mohon, saat ini hanya ingin sendiri saja."


Wanita itu melangkahkan kakinya ke lift dan menekan tombol menuju atap hotel untuk menenangkan dirinya.


Lagi-lagi harus menenangkan pikiran, begitu beratkan hidup sampai haus akan kata tenang dan bahagia?


Sesampainya di atap hotel, Yuna merasa sedikit tenang. Rasa sesak di dadanya berkurang karena di sana ia melihat beberapa bunga yang sengaja di tanami sebagai taman.


Tentu semua yang Yuna lihat saat ini mampu melupakan masalahnya meski hanya sesaat.


Yuna duduk di sana dengan gaun putih bersinar melekat di tubuhnya, di tongakkannya kepala untuk melihat taburan bintang di angkasa.


"Sangat indah, apa aku bisa mengambilnya satu? Aku terlalu redup untuk kembali tersenyum."


Banyak curahan hati Yuna yang terlontar dari mulutnya.


"Akhirnya aku menemukanmu!"ujar Gerld dengan napas tersengal-sengal.


"Yuna, apa kamu baik-baik saja?"


Mata wanita di depan sana penuh dengan air mata mengalir terus hingga membasahi pipi yang bahkan tidak ingin ia hapus.


Segera Gerld merogoh saku celananya untuk mengambil sapu tangan dan memberikannya pada Yuna.


"Terimakasih."


Seakan mengerti perasaan Yuna, pria di sampingnya mempersilahkan wanita itu untuk bersandar.


"Jika kamu ingin bercerita seperti tadi sore maka jangan ragu, aku akan selalu mendengarkan."


Yuna mengangguk, ia segera mengambil handphone yang berada di tas.


"Bolehkah aku meminta.."


"Apa? Katakan saja."


"Tidak jadi."


Yuna kembali menatap bintang di langit kali ini dengan kepala yang bersender di pundak Gerld.


"Nyaman sekali, terimakasih sudah menemaniku."


"Tidak masalah, jika ada masalah apa pun katakan saja."


Semuanya sudah selesai saatnya kembali ke Swiss untuk menjalani hidup mereka di sana, sebelum itu Gerld berpamitan pada Alea yang menjadi temannya.


"Dimana wanita ****** itu?"tanya Alea pada Gerld yang membuat Jungkook menoleh.


"Dia sudah berada di mobil, sebaiknya jangan mengatakan hal itu kepada orang lain itu tidak sopan Alea."ujar Gerld memperingati.


"Ada apa denganmu Ger, apakah saat ini kamu lebih memilih dia dari pada sahabatmu ini?"


"Kamu sudah berubah, sebaiknya jangan seperti itu kepada orang lain."


"Jangan mengurusi hidup orang lain, urus saja hidupmu dan wanita itu jika memang kamu mencintainya. Aku tidak menyangka ternyata orang seperti itu yang mampu membuatmu melakukan hal seperti ini kepadaku, itu sangat buruk."


"Setidaknya dia tidak sepertimu, baik aku pergi semoga pernikahan kalian bahagia."


Di dalam mobil Yuna hanya bisa menatap ke luar tanpa memiliki keberanian akan menemui pasangan pengantin yang berbahagia itu.


"Maaf menunggu lama, aku hanya mengucapkan salam perpisahan kepada mereka. Mari kita pulang ke Swiss, dan aku memiliki sesuatu untuk anakmu."


Yuna tersenyum ketika menerima hadiah yang di berikan Gerld padanya sebuah gantungan kunci yang sangat indah.


"Terimakasih, dia akan suka."


Mobil hitam melesat pergi menjauh dari tempat penuh air mata bagi Yuna menyisakan seorang pria yang menatap kepergiannya dengan mata berkaca-kaca serta harapan bahagia untuk wanita yang ia cintai.


Selamat tinggal Yuna...