Mr. Jungkook's Naughty Wife

Mr. Jungkook's Naughty Wife
BAB 54



Yuna menatap bingkai foto yang selalu ia simpan, tidak sadar Jungkook memeluk tubuh wanita itu dari belakang.


"Sedang melihat apa?"tanya Jungkook tepat di belakang telinga Yuna.


Wanita tersebut kegelian,"Jangan aku geli!"


Jungkook tersenyum senang, menatap manik mata Yuna seakan meminta sesuatu.


"Cium, boleh?"


Yuna mencium bibir pria di depannya dengan lembut,"Aku hanya melihat foto kita, hanya ini yang selalu menemaniku ketika hidupku hancur karena kehilanganmu. Terimakasih sudah bertahan sejauh ini sampai mau menikah."


"Apa pun yang kamu minta akan aku berikan termasuk hidupku."


"Tidak seperti itu, aku hanya menginkan setiap kesulitanmu ada aku di dalamnya untuk menyelasaikan masalah bersama. Apa boleh?"


"Yuna, aku tidak merahasiakan apa pun."


"Aku mengetahui bahwa kamu sedang berbohong."


Jungkook mengelus puncak kening Yuna dengan lembut,"Aku tidak berbohong atau merahasiakan sesuatu semuanya sudah di katakan, apa kamu tidak percaya?"


"Aku selalu percaya padamu, tapi kamu selalu menyembunyikan masalahmu sendiri. Aku ini apa untukmu? Pasangan harus saling menemani apa- pun keadaannya."


"Aku mengerti Yuna, tapi aku ti-"


Sebelum menyelesaikan kalimatnya Yuna sudah pergi lebih dulu seakan kecewa dengan Jungkook yang tidak bisa terbuka.


Pria itu hendak mengejar tapi bagaimana bisa di kala ia tidak bisa menggerakkan kakinya sedikit- pun.


Karena terlihat menyimpan dendam, untuk meredakannya Jungkook akan mengantar Yuna ke kampus tentu dengan masker yang akan menutup wajahnya agar tidak ada yang mengenali.


"Aku antar ke kampus."


"Tidak usah!"


"Yuna, aku antar."


Akhirnya Yuna luluh juga, ia berjalan lebih dulu menuju mobil berbeda dengan Jungkook yang membuntuti di belakang bersama Jimin.


"Tuan ada apa dengan Nona?"


"Dia ingin tahu segalanya, hanya saja tidak mungkin mengatakannya."


"Tuan apa sebaiknya Nona di beritahu?"


Jungkook menggeleng,"Dia akan bahaya."


Jimin menurut saja apa yang di ucapkan oleh Jungkook karena dari dasarnya memang akan membahayakan Yuna.


Di dalam mobil tidak ada yang bersuara sedikit- pun sunyi rasanya, bahkan Yuna terlihat mengerutkan kening dengan wajah datar berbeda dari biasanya. Sedangkan Jungkook menatap Yuna dari jendela yang memantulkan wajah wanita itu.


"Nona sudah sampai,"ujar Jimin menepikan mobil.


Jungkook segera meminta Jimin untuk membawanya turun namun Yuna menyangkal agar pria itu mengurungkan niat.


Apa dia malu?


Yuna berjalan jauh di depan sementara Jungkook berada di belakang.


"SEMANGAT YUNA!"teriak Jungkook dengan senyum mengembangnya.


Tapi rupanya Yuna juga menyukai hal tersebut, sayangnya ada saja yang saling berbisik tentant kekurangan pria tersebut.


Hati Yuna bergetir mendengar orang mengatakan bahwa Jungkook pria cacat.


"Memangnya kenapa kalau dia lumpuh? Apa ada masalahnya untuk kamu?"tanya Yuna dengan sinis.


Mau marah seperti apa Yuna akan meluapkan emosi ketika ada yang menghina suaminya.


"Suamimu cacat?"tanya salah satu murid yang berpenampilan seperti artis.


"Memangnya kenapa? Aku dan dia saling mencintai."


"Pantas saja kamu mengatakan dia sudah meninggal ternyata kamu malu karena cacat, atau dia hanya salingan untuk menutupi ucapan bahwa anakmu anak haram."


"DIAM!"


Yuna geram, hampir saja ia memukul wanita tersebut tapi Jungkook segera melerai.


"Sudah Yuna, biarkan saja."


Kedua tangan wanita itu mengepal kuat seakan tidak terima dengan ucapan Yuna yang terlontar kepadanya.


Memangnya salah untuk terus menemani pria lumpuh?


Cinta tidak memandang kesempurnaan!


"Dasar pria cacat!"pekik wanita yang membuat Yuna jijik.


"Yang terpenting dia tidak cacat hati!"balas Yuna kesal.


"Sudah Yuna, jangan membuat masalah karena membelaku. Aku tahu bahwa pria cacat tidak baik untukmu yang cantik dan sempurna."


"JUNGKOOK!!"


Langkah milik wanita itu terus menjauh meninggalkan Jungkook dan Jimin yang tersenyum mengembang.


"Wanitaku sudah tumbuh dewasa Jimin, apakah aku mampu menjaganya?"


"Tentu Tuan, Anda dan Nona selalu saling melengkapi satu sama lain."


"Aku tahu pemikiranmu, tapi aku tahu dia memendang segalanya agar tidak membuatku khawatir."


Jungkook kembali masuk ke dalam mobil, tapi ia tidak pulang ke rumah melainkan ke suatu tempat terlebih dahulu.


"Tuan, syukur Anda bisa selamat."


"Mungkin saya seperti kucing yang memiliki sembilan nyawa."


"Anda bisa saja. Sebelumnya saya akan memberikan semuanya kepada Anda, tenang saya akan merahasiakan tentang semua ini."


"Terimakasih."


Ingat orang baik akan di kelilingi oleh orang baik juga seperti saat ini, maka jangan sungkan untuk berbuat baik meski tidak semua orang sadar diri tentang kebaikan orang lain.


Semuanya selesai, mereka berdua kembali ke kediaman.


"Tuan, apa Nona akan tahu suatu saat nanti?"


"Pasti, tapi tolong rahasiakan sampai aku bisa mengatakan secara langsung."


"Baik."


Jungkook berada di ruang kerja, menyembunyikan berkas di sebuah lukisan di antara dinding di sana.


"Permisi Tuan, saya mau meminta izin untuk pergi ke kota. Apa Tuan butuh sesuatu sebelum saya pergi?"


"Tidak, pergi saja. Urus dulu urusanmu, tenang saja aku baik-baik saja."


"Baik Tuan."


Di kediaman hanya ada Ayah dan anak yang tengah mengobrol berdua meski tidak mengerti apa yang di katakan oleh Ayahnya Yu-Jung selalu tertawa.


Rasanya menjadi seorang Ayah membuat Jungkook semakin bahagia, tidak ada sedikit pun yang dapat menggantikannya.


"Yu-Jung, apakah nanti kamu akan menggantikanku untuk menggantikan Ibumu jika memang tidak di berikan kesempatakan untuk hidup kembali? Ayah harap kamu akan menjadi pahlawan yang melindungi wanita sehebat dia."


Yu-Jung tertawa terbahak-bahak belum mengerti arti ucapan yang di keluarkan Ayahnya.


"Aku tidak akan membuatmu terbelenggu dalam pilihan sepertiku, aku ingin kamu menjadi orang yang dapat menentukan jalan hidupmu sendiri. Mengerti? Maaf jika suatu saat nanti aku tidak bisa melindungi bahkan berada di sisimu seperti ini. Jika hal tidak di inginkan terjadi, aku akan selalu melindungimu di atas sana. Kamu adalah hal yang paling indah selama ini selain Ibumu Yuna, terimakasih sudah bertahan."


Jungkook memberikan susu untuk anaknya yang sudah mengantuk,"Tidurlah, aku tahu kamu kelelahan tertawa."


Sekitar dua jam berlalu, Jungkook masih menatap layar komputer di depannya. Menghela napas gusar beberapa kali sampai akhirnya ada yang mengetuk pintu kamar.


"Yuna?"


"Apakah itu kamu?"


Jungkook terdiam, mengerutkan keningnya merasa aneh dengan wanita yang tidak membalas panggilannya. Apa masih marah?


"Yuna apa kamu masih marah?"


Perlahan kursi roda yang tengah ia duduki di dorong menggunakan kedua tangan dari samping untuk melihat siapa yang masuk ke dalam kamar.


"Aku kira siapa? Kenapa kamu tidak mengeluarkan suara. Maaf jika masih membuatmu marah, hal apa yang bisa aku buat hingga kamu tidak marah lagi."


Yuna masih terdiam membuat Jungkook khawatir,"Aku mohon jangan seperti ini, Yuna."


"Apa? Sudah urus saja urusanmu jangan mencampuri urusanku mengerti?"


"YUNA!"


"Kenapa kamu membentakku?"kesal Yuna dengan mata tajam.


Wanita itu terlihat seram jika tidak tersenyum, seperti tembok datar.


"Karena kamu tidak pernah memahami apa yang sedanh aku tanggung, aku tahu kamu malu membawaku ke kampus karena aku adalah pria cacat. Aku bersyukur kamu selalu menemaniku sampai membela seperti itu."


"Aku tidak mempermasalahkan itu!"pekik Yuna.


"Lalu apa?"


"Kamu selalu berbohong!"


"Cukup Yuna!"


Teriakan keras membuat Yu-Jung terbangun dari tidurnya, merengek menangis cukup keras.


"Aku pergi,"ujar Yuna bersama dengan Yu-Jung di pangkuannya.


"Kemana?"


"YUNA!"


"YUNA!"


"SIALAN!"