Mr. Jungkook's Naughty Wife

Mr. Jungkook's Naughty Wife
BAB 46



Yuna menarik selimut berwarna merah muda, dengan cepat ia menutup kedua bola matanya menggunakan tangan agar ia segera tertidur karena beberapa hari belakangan ini ia tidak dapat tertidur dengan baik, bahkan sampai di atas jam dua belas malam.


Sebetulnya tubuh Yuna memang letih, tapi sayang pikiran selalu memaksanya untuk tetap terjaga.


"Yuna, ayolah tidur!"ujar Yuna dengan kesal.


Seperti anak mahasiswa kedokteran lainnya jika tidak bisa tidur maka akan terus belajar.


Waktu berjalan begitu cepat bukan? Kini Yuna sudah menginjak semester dua, saatnya berpikiran lebih keras untuk menjadi dokter dengan lulusan terbaik. Jangan tanya soal praktek, ujian atau tugas lain tentu Yuna berhasil tepat waktu di banding yang lainnya.


Besok merupakan jadwal Yuna melakukan praktek tentang menyebutkan anatomi tubuh serta yang lainnya.


"Ayo, kita belajar saja!"pekik Yuna bangkit kembali dengan beberapa buku yang berserakan di sekitar.


Dengan perut yang besar, Yuna memang sedikit kesulitan bergerak seperti jongkok atau tidur maka ia harus menyesuaikan.


Pagi hari, tepatnya di kampus. Sengaja Yuna datang lebih awal agar ia bisa berada di perpustakaan meski baru saja di buka, setiap penjaga di kampus mengetahui wanita ambisius tersebut.


"Selamat pagi, masih ingin belajar? Apa tidak penuh?"


Yuna tersenyum pada penjaga perpustakaan,"Maaf selalu mengganggu."


"Tidak masalah, hanya saja tidak bosan belajar? Bahkan sepagi ini."


"Tidak,"ujar Yuna tersipu malu.


Penjaga wanita tersebut hanya tersenyum kikuk, mungkin merasakan bahwa Yuna terlalu bersemangat dalam meraih mimpinya hingga seperti itu tapi jika di pikirkan mahasiswa kedokteran memang sepintar itu dalam artian rajin belajar.


Yuna mulai mencari buku yang ia perlukan, membaca hingga mencatat beberapa hal yang penting di sana. Sebetulnya tidak akan banyak jika memang merangkum dengan baik.


Selesai, tepat di jam dimana ia harus segera ke ruang praktek.


Sesampainya di sana, Yuna melihat sudah banyak orang yang menunggu. Tapi anehnya mata mereka menatap tajam, seakan menjadi pusat perhatian.


"Ada apa?"tanya Yuna membuka pembicaraan terlebih dahulu.


Yuna menatap mereka lekat dengan penuh pertanyaan, tapi...


"Perutmu semakin besar? Apa anak itu memiliki seorang Ayah atau kamu hamil di luar nikah?"pertanyaan sinis di mulai.


"Apa benar itu anak sah?"


"Jawab Yuna!"


"Itu mungkin anak haramnya, lihat saja selama ini kita tidak pernah melihat suaminya."


Lontaran kata tajam mulai menusuk hati kebal Yuna, air matanya seakan hendak terjatuh.


"Jawab saja Yuna, jika memang itu betul."


"Yuna!"


"Mahasiswa kedokteran ternyata seorang wanita nakal yang sudah hamil selama sembilan bulan!"


"HENTIKAN!"teriak Yuna sambil menutup kedua telinganya.


Rasa nyeri di perut Yuna mulai terasa, apa ini yang namanya pembukaan?


"Kalian tidak bisa memahami orang lain jika belum merasakannya, sekarang aku bertanya. Apa kalian sanggup menanggung seorang anak ketika sedang kuliah serta kalian harus kehilangan seorang suami karena kecelakaan. Apa kalian akan sehebat aku?"


"Perjuanganku ini memang tidak bisa di hargain oleh kalian, namun aku bangga dengan diriku sendiri. Untuk apa aku memberitahu kalian, apa kalian akan memahaminya? Setidaknya kalian tidak harus memandang orang hina jika tidak tahu alasan di baliknya."


Tangis Yuna pecah ketika menjelaskan segalanya kepada mereka hingga semua yang ada di sana terdiam merasa bersalah karena menghakimi tanpa bukti padahal apa yang di lalui Yuna sangat tidak adil.


"Ada apa ini?"


Seorang dosen praktek menghampiri kerumunan yang mencuri perhatian bahkan Yuna yang menyeka air matanya.


"Ada apa Yuna?"


Yuna menggeleng pelan,"Tidak ada."


"Kami menyinggung tentang kehamilannya yang di luar pernikahan."ujar salah satu pria di antara kerumunan itu dengan jujur.


"Kalian bertanya soal itu? Ada hak apa kalian mempertanyakan masalah orang lain. Hari ini kalian melakukan praktek tambahan terkeculi Yuna, silahkan kamu duluan. Sebelum itu saya mau kalian meminta maaf kepada Yuna, cepat."


"Maafkan kami Yuna!"seru semua orang disana.


Yuna hanya mengangguk pelan dengan pipi basah.


Dosen masuk ke dalam di susul oleh Yuna yang berjalan kesusahan.


"Mereka tidak pantas bertanya soal urusanmu bahkan hal yang tidak di ketahui."


"Tentu, jawab setiap pertanyaan dari saya dan tunjukan tempatnya."


Dengan tegas serta lugas Yuna menjawab setiap pertanyaan dengan benar bahkan membuat dosen mengangguk cepat bangga dengan anak didiknya.


"Bagus Yuna, saya acungkan seribu jempol untuk kamu. Apa sudah ada pemikiran untuk mengambil spesialis?"


"Mungkin bedah atau jantung."


"Bagus, silahkan. Kamu sudah bisa kembali ke rumah agar istirahat dengan baik."


"Terimakasih."


Pintu ruangan di buka oleh Yuna, memperlihatkan semua orang yang tegang di sana. Tapi dengan senyum mengembang Yuna pergi meninggalkan mereka yang masih bekerja keras.


"Sombong, anak kebanggaan dosen. Kesayan karena pintar saja!"


Masih saja ada yang tidak suka dengan Yuna padahal ia sudah mencoba untuk baik ke setiap orang yang bahkan sering bertanya materi, begitulah manusia selalu tidak tahu diri.


"Yuna, bagaimana hasilnya?"tanya Delon yang akan segera menghadapi hal yang menegangkan, tentu KOAS.


"Baik!"


"Bagaimana anakmu?"


"Baik juga, dia mulai bisa menendang."ujar Yuna senang dengan perkembangan anaknya.


Oh iya, anak yang tengah di kandung oleh Yuna adalah seorang pria yang akan menjadi pahlawan untuknya nanti, pangeran kecil yang selalu menjaganya.


Tapi hal yang tidak terduga terjadi, perut Yuna merasakan kram nyeri seakan hendak melahirkan.


"Ada apa?"tanya Delon cemas melihat raut wajah Yuna berubah pucat.


"Sakit..."


"Ayo kita ke rumah sakit."


Yuna berjalan pelan menuju mobil Delon tepat di depan sana, lumayan jika berjalan. Tapi Delon tidak kehilangan ide ia segera mengambil kursi roda terdekat untuk membawa Yuna.


Singkatnya mereka sampai di rumah sakit terdekat, Yuna segera di bawa ke IGD terlebih dahulu tapi kemudian di tangani oleh dokter kandungan.


Dokter mengatakan bahwa Yuna sudah masuk pembukaan kedua, ia di pindahkan ke ruang rawat inap untuk menunggu kelahiran karena Yuna memilih normal dari pada caesar.


"Jika memang hendak normal kita tunggu sampai pembukaan terakhir yaitu sepuluh."ujar dokter kandungan yang segera di angguki oleh Delon.


Setelah di pindahkan Yuna selalu saja mengomel tidak jelas karena mungkin dia terlalu memikirkan rasa sakit melahirkan.


"Apa orang tuaku sudah di telepon?"tanya Yuna pada Delon.


"Sudah, tenanglah."


Yuna menghembuskan napas gusar, hatinya berdetak lebih cepat karena cemas. Begitulah wanita itu, mungkin karena bahagia soal kelahiran anaknya sudah depan mata.


"Bagaimana ini Delon?"


"Tenanglah, aku juga sudah memberitahu Melissa."


Panjang umur, orang yang mereka bicarakan sudah sampai bahkan bersama dengan kedua orang tua Yuna.


"Apa kamu akan melahirkan sekarang?"


"Baru pembukaan dua, masih lama."


"Apa betul? Wah aku tidak sabar untuk melihat anakmu."


"Sungguh!"sambung Melissa dengan antusias, heboh sendiri.


Ibunda Yuna mengelus puncak kening anaknya itu,"Kamu akan menjadi seorang Ibu, kamu kuat Yuna. Bagaimana kalau kita operasi caesar saja?"


"Tidak, aku ingin normal."


"Tap-"


"Sudah, biarkan saja. Dia sudah mempunyai pilihannya sendiri, hormati dan dukung saja."ujae Ayah Yuna menenangkan anaknya.


"Tap-"


"Sudah.."


Di lain tempat, ruangan yang bernuansa putih tepatnya di kamar rawat inap lainnya. Seseorang menggigit kuku jari ketika mendengar perkembangan seorang yang terbaring di atas brankar.


"Tuan bertahanlah.."