Mr. Jungkook's Naughty Wife

Mr. Jungkook's Naughty Wife
BAB 55



Yuna termenung seorang diri menatap pantulan wajahnya di kolam bereneng yang memperlihatkan kesedihan di raut wajah.


"Yu-Jung apakah kita akan seperti ini dalam kebohongan yang di lakukan Ayahmu."


Hembusan napas gusar Yuna terdengar nyaring bahkan membuat Jimin yang melintas segera menghampiri wanita itu.


"Ada apa Nona?"tanya Jimin membuat lamunan Yuna buyar.


"Ak-h.."


"Apakah Nona memiliki masalah?"


Jimin duduk di samping Yuna yang masih menggendong Yu-Jung.


"Udara semakin dingin sebaiknya Nona membawa Yu-Jung untuk segera masuk kedalam."


Perkataan pria tersebut memang ada benarnya, anak bayi tidak bisa terlalu lama di luar. Tapi wanita itu masih ingin mengobrolkan banyak hal tentang Jungkook masalah di hatinya.


Yuna bangkit dari duduknya, namun ia meminta Jimin untuk tetap di tempat karena wanita itu akan kembali lagi setelah menidurkan bayinya.


"Ada masalah apa Nona?"


"Jimin aku ingin bertanya, sebetulnya kalian berdua menyimpah rahasia apa?"


"Tuan?"


Yuna mengangguk cepat,"Siapa lagi."


Jimin menggaruk kepala bagian belakangnya nampak gugup dan enggan untuk melanjutkan pembicaraan jika menyangkut soal Tuannya.


"Nona saya tidak tahu."


"Aku tahu kalian menyimpan rahasia dariku, aku hanya ingin tahu saja. Bisa tolong katakan?"


Gelengan cepat pria tersebut membuat Yuna semakin yakin bahwa ada rahasia besar yang sedang mereka tutupi.


"Lama kelamaan bangkai akan tercium juga Jimin!"


Kalimat terakhir Yuna sebelum ia pergi membuat Jimin semakin ketakutan bingung ingin bertindak bagaimana, di lain sisi ia sudah berjanji dan di sisi lainnya berhak mengetahui.


...****************...


Ke esokan pagi di kediaman Jungkook, nampak tidak ada kehidupan sama sekali di karenakan Yuna yang diam membisu. Jungkook tidak tahu apa lagi yang harus di jelaskan karena segalanya sudah terbongkar oleh wanita itu, rahasianya hanya tentang dirinya ingin segera kembali ke perusahaan karena sudah genting tanpa pemimpin yang baik. Tapi tahu sendiri jika Yuna melarangnya sampai membuat marah.


"Apa Yuna sudah berangkat ke kampus?"tanya Jungkook pada Jimin.


"Hari ini Nona tidak berangkat ke kampus Tuan melainkan membawa Yu-Jung pergi ke rumah orang tuanya."


Sekarang Yuna sudah tidak meminta izin Jungkook lagi untuk pergi,"Apa dia marah? Salah aku apa Jimin?"


"Nona selalu merasa Tuan memiliki rahasia, saya mengerti sekali apa yang di rasakan Nona ketika hidupnya tanpa Tuan. Mungkin alasan Nona seperti ini di karenakan dia tidak mau kehilangan Tuan lagi, mohon di mengerti."


"Jujur aku tidak merahasiakan apapun selain tentang perusahaan yang bahkan sudah ia ketahui, apa dia mengira aku punya simpanan atau apa?"


"Sepertinya mengira Tuan masih punya rahasia, tapi apa Tuan tidak akan memberitahu Nona soal satu hal itu."


"Tidak usah, aku takut dia salah sangka lalu semakin gegabah."


Setiap orang memiliki masalahnya tersendiri, bukan Jungkook tidak ingin membagi masalahnya kepada Yuna hanya saja wanita itu sudah cukup menderita.


"Bagaimana ini, aku semakin galau karena masalah itu dan Yuna."


"Tuan, jika memang suatu saat nanti Nona mengetahuinya tolong bilang saja dia milik saya."ujar Jimin.


Mata Jungkook terbelalak,"Apa maksudmu?"


"Agar Nona tidak mempertanyakan lagi."


"Jimin!"


Sementara itu di sebuah taman yang sering Yuna kunjungi, seorang anak bernama Sona yang sepertinya masih kalian ingat. Betul anak yang kekurangan kasih sayang kedua orang tuanya itu kini tumbuh besar.


Menganggumkan, Sona selalu menjadi alasan dimana Yuna terpuruk. Jika bisa ia ingin sekali menjadikan Sona anaknya, tapi ia tidak bisa karena masih memiliki orang tua dan hanya dengan bertemu setiap minggu yang membuat mereka berdua tidak kesepian lagi.


"Yu-Jung, lihat Mamamu yang tengah melamun itu. Bukankah dia terlihat buruk?"


Yuna tersenyum,"Apakah aku terlihat buruk? Kenapa setiap aku murung kamu selalu mengatakan itu Sona?"


"Itu memang benar, karena kakak lebih cantik jika tersenyum."


"Betulkah?"


"Iya, benarkan adik bayi?"


Sona mencubit pipi Yu-Jung pelan tapi membuat bayi tersebut merengek,"Bisa-bisanya dia menangis seperti itu, kamu seorang pria hey!"


"Tapi dia sangat tampan, apa boleh aku menjadi istrinya nanti?"sambung Sona yang terdengar tidak masuk akal.


"Tapi bolehkan?"tanya kembali Sona.


Yuna mengangguk sambil tertawa cekikikan karena mendengar ucapan anak sepuluh tahun lebih sudah membicarakan pernikahan.


"Sayang, anak kak Yuna sangat tampan. Bukankah cocok denganku? Yu-Jung juga akan setuju nanti setelah dewasa."


"Tentu, kakak Sona cantik dan baik hati semua orang pasti akan suka."


"Tidak semua orang, buktinya orang tua ku tidak. Benarkan?"


Raut wajah Sona berubah drastis, anak kecil itu nampak membelakangi Yuna.


"Apa aku tidak berhak bahagia? Bukankah aku juga anak kecil yang haus akan cinta kedua orang- tua."


"Sona, dengarkan. Setiap orang memiliki titik kebahagiaan yang berbeda jika bukan pada mereka maka akan ada hal yang lain, apa kamu tahu? Seorang burung saja di biarkan terbang sendiri oleh induknya agar anak burung itu mengerti sulitnya hidup dewasa. Nanti setelah kamu tumbuh segalanya akan mengerti, tapi jika memang kamu tidak ingin tinggal bersama mereka apa mau tinggal bersama dengan kakak?"


Sona menggeleng, ia sudah banyak merepotkan Yuna sampai meluangkan waktu setiap minggu untuknya. Sadar diri saja, Sona merasa bahwa Yuna memiliki masalahnya tersendiri terlihat dari kerutan di wajahnya setiap melihat pasangan yang lewat di sekitar mereka.


"Kalau begitu mari kita makan, Sona ingin makan apa?"tanya Yuna membuat anak tersebut kembali ceria.


"Pasta!"


"Baik, kita akan makan pasta."


Yuna beranjak dari duduknya bersamaan dengan Sona yang membawa tas milik wanita itu yang berisikan popok serta susu.


Sesampainya di tempat makan, Yuna membelikan banyak makanan enak untuk Sona.


"Jika ingin hal yang lain bilang saja jangan sungkan, mengerti?"


Sona mengangguk,"Apa kakak akan kerumah kedua orang tua?"


"Tentu, karena sepertinya aku akan menginap satu hari saja untuk malam ini."


"Kenapa? Kakak jangan pernah lari dari masalah semuanya akan selesai jika di hadapi."


"Tentu, aku akan menghadapinya. Tapi untuk kali ini aku sangat lelah, ingin beristirahat sebentar dari masalah."


Sona mengusap pergelangan tangan Yuna dengan lembut, menatap manik mata wanita dewasa itu dengan tatapan penuh makna.


"Semangat, jika ada masalah apa pun hubungi saja aku. Bahuku ini akan selalu ada untuk bidadari seperti kak Yuna, aku akan sangat bahagia jika menerima tetes air mata."


Yuna mengangguk, setelah makanan di hidangkan ia segera meminta Sona memakannya sampai kenyang.


"Makan, tapi jangan tumbuh dewasa ya karena menjadi dewasa tidak seenak yang kamu pikirkan."ujar Yuna.


Sedangkan di lain tempat, tepatnya di kediaman Jungkook pria yang duduk di kursi roda tengah menatap langit malam menunggu seseorang kembali. Sekitar satu jam menunggu ternyata Yuna memutuskan untuk tidak kembali, wanita itu menginap di rumah orang tuanya.


"Apakah dia membenciku hingga tidak ingin bertemu? Ternyata rumah tangga akan semakin banyak masalah ketika kamu menutupi masalah yang lain."


Tanpa pikir panjang Jungkook masuk ke dalam, jika kalian berpikir kenapa pria itu tidak pergi saja menyusul Yuna jawabannya karena kaki pria itu tidak seperti dulu. Untuk apa kesana tapi membuat orang lain susuh?


Orang cacat hanya bisa menerima tidak mengejar!