Mr. Jungkook's Naughty Wife

Mr. Jungkook's Naughty Wife
BAB 38



Yuna menggigit kuku jarinya, pandangan wanita itu menatap lurus kearah laptop yang menyala dengan waktu. Entah rasanya seakan mati rasa seluruh tubuhnya saat ini ketika pengumuman hasil tesnya kemarin di umumkan hari ini.


Waktu menunjukkan lima menit sebelum semuanya terpampang dengan jelas.


Tibalah dimana waktu menunjukkan satu menit dua puluh detik, Yuna menutup kedua matanya kemudian menekan tombol di sebelah kanan.


Hinggaa....


Tring!


Sudah terbuka dengan jelas, tapi Yuna belum membuka kedua matanya karena takut tidak lulus.


Akhirnya Yuna memberanikan diri untuk mengintip, sampai ia berteriak kencang kegirangan.


"LULUS!"


"AKU JADI DOKTER!"


"YEY!"


Begitu bahagia teriakan yang keluar dari mulut Yuna hingga membuat seisi rumah segera masuk ke kamar wanita tersebut.


Saat tahu bahwa Yuna lulus semuanya ikut bahagia, mereka bertiga berpelukan. Kini Yuna bisa menerima takdir yang ia pilih sendiri, bukan menjadi penerus perusahaan seperti novel yang pernah ia baca. Syukurlah....


"Kami bangga dengan kamu Yuna!"


"Hebat anak appa."


Setelah hari menegangkan itu kini Yuna tengah berada di kampus untuk melakukan daftar ulang atas keberhasilan nya. Tidak lupa ia juga mengadakan pesta antara Melissa dan Delon yang selalu mendukungnya sebagai sahabat, selalu ada ketika Yuna sedang kesusahan.


Kini mereka bertiga sedang berada di restoran yang terkenal di sana, banyak makanan enak dan mahal yang menanti perut keroncongan.


"Selamat Nona Yuna, eh bukan, tapi dokter Yuna!"pekik Melissa.


Yuna tersenyum senang, masa sulitnya dalam mengambil jurusan ini memang bukan akhir tapi awal. Namun rasanya bahagia karena ada banyak orang yang ingin berada di posisinya.


"Selamat dokter Yuna,"ujar Delon dengan nada ketawa yang khas.


Mereka merayakan hingga larut malam, tentu dengan segelas wine hingga mabuk.


"Yun-a...."


"Kamu... Pas-tiii akan gilaaa...!"ujar Delon dengan mata tertutup karena mabuk berat, berbicara saja sudah melantur.


Yuna hanya bisa tertawa melihat sahabat-sahabatnya sudah tidak berdaya, dengan segera ia memberhentikan taksi dan meminta supir untuk mengantarkan mereka pada alamat yang tertuju. Sedangkan ia sendiri akan meminta sang Ayah untuk menjemputnya karena sudah larut malam.


Lamunan Yuna ketika ia menunggu membuatnya tersentak bahkan membuatnya hampir serangan jantung karena ia hampir jatuh, untungnya ada seorang pria yang menolongnya. Sebentar, kenapa pria itu terlihat tidak asing di mata Yuna.


"Terima-"sebelum Yuna mengucapkan terimakasih pria itu sudah pergi lebih dulu seakan terburu-buru.


Ketika punggung pria itu semakin menjauh dari pandangan matanya, seketika ia mulai curiga apalagi dengan pakaian yang berwarna hitam bahkan menggunakan topi. Aneh!


Yuna teringat sesuatu hingga ia memutuskan untuk mengerjar pria tersebut dengan berlari kecil, tapi baru seperempatnya sang Ayah sudah membunyikan klakson mobil menyuruh wanita tersebut untuk segera masuk.


Dengan terpaksa Yuna mengurungkan niatnya, tapi di lain waktu mungkin ia akan mengetahui siapa orang yang misterius tersebut. Topi, masker dan baju seluruh hitam, aneh bukan?


Di dalam mobil Yuna menceritakan apa yang ia alami tadi, tapi rupanya sang Ayah hanya acuh dan menganggap itu hanya kebetulan karena biasanya banyak orang sedang nyaman dengan warna hitam. Tapi sialnya Yuna tidak dapat percaya begitu saja, ia curiga tentang sesuatu.


"Apa ada yang mau mencelakaiku?"tanya Yuna cemas.


"Tidak ada, bukankah ada superman di sampingmu ini?"tanya Ayah Yuna sambil tertawa renyah.


Yuna tersenyum karena ucapan Ayahnya barusan yang sedikit membuatnya tenang meski belum sepenuhnya.


Sesampainya di rumah Yuna segera masuk ke dalam kamarnya, tapi ketika ia menyelesaikan aktivitas untuk menyegarkan tubuh tidak sengaja dirinya menguping pembicaraan kedua orang- tuanya yang khawatir kepada Yuna apalagi tentang cerita tadi.


Nahkan Yuna tahu bahwa Ayahnya berbohong, ia bukan anak kecil yang bisa di kibuli dengan mudah.


Perlahan Yuna merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit yang bertabur bintang kecil yang ia tempel dua hari lalu indah sekali seakan itu semua nyata.


Tidak lama Yuna terkejut karena ada hantaman keras dari arah jendela yang membuatnya terbangun seketika.


Apa ini teror? Yuna tidak pernah berbuat salah!


Karena penasaran Yuna segera mengintip dari sela jendela, ia tidak menemukan satu orang pun.


"Siapa disana!"


"WEY!"


Aneh udara malam ini terasa dingin, tidak mungkin ada orang yang berani ke luar karena bisa-bisa akan beku, mungkin hanya orang gila yang melakukannya.


Jendela yang biasanya terbuka, kini di tutup rapat oleh Yuna. Selain takut ia juga merasa bahwa udara terasa mencekam tidak seperti hari biasanya.


"YUNA!"


Tiba-tiba ada suara orang yang memanggil namanya ketika ia kembali ke tempat tidur, tapi setelah di lihat tidak ada seorang pun.


Orang asing!


Tunggu, kenapa orang asing tahu nama Yuna?


Dahi Yuna mengerut, rasanya mulai semakin aneh hingga membuat Yuna tidak berani di kamarnya lagi. Setelah pertimbangan Yuna memutuskan untuk tidur di kamar tamu yang lebih dekat dengan kamar tidur orang tuanya.


"Kamu baik-baik saja kan kalau di sini sendiri? Kami ada di sampingmu Yuna."


Yuna mengangguk,"Tidak apa-apa tadi hanya ada suara aneh."


"Hantu?"


"Sepertinya,"ujar Yuna berbohong karena jelas itu suara manusia.


Sekitar pukul dua dini hari mata Yuna masih terbelalak, ia memutuskan untuk terjaga dari tidur takut hal buruk terjadi. Maling misalnya?


Untuk mengisi kebosanan Yuna memutuskan untuk melihat acara di sebuah situs internet, tertawa kegirangan di tengah malam membuat stressnya sedikit hilang.


Tanpa di sadari kantuk mulai merajalela sampai tidak sadar Yuna tertidur dengan lelap.


Pagi menyambut senyum Yuna yang merekah ketika baru terbangun dari tidurnya, bukan hanya itu ia juga menyapa beberapa boneka yang sengaja di letakkan di samping sebagai teman tidur. Bukankah otak Yuna seperti bermasalah karena mengobrol dengan boneka? Biarkanlah kebahagiaan orang berbeda-beda.


Yuna bangkit dari ranjangnya, menyapa kedua orang tuanya yang sudah lebih dulu terbangun. Sarapan roti isi di atas meja yang menggiurkan membuat wanita tersebut segera duduk dan mengunyah.


"Apa tadi malam semuanya aman?"tanya kedua orang tua Yuna.


"Aman, bahkan tadi malam aku tertawa melihat acara di handphone."


"Syukurlah kalau begitu, kami tenang mendengarnya. Apa aktivitasmu sekarang, pergi ke kampus?"


"Tidak, hanya melakukan hal yang tidak menguntungkan mungkin."


"Memang kamu mau kemana?"tanya Ibunda Yuna.


"Membeli beberapa buku, kali ini bukan anatomi atau kedokteran melainkan novel. Aku ingin membaca yang lebih menarik, meski percintaanku tidak seindah di dalam novel."ujar Yuna sambil menguyah roti lapis.


Mata sendu Yuna kini sudah pudar seiring berjalannya waktu, wanita yang sering menikmati waktu di perpustakaan itu kini lebih bahagia karena sudah menerima takdir dengan lapang dada.


"Kami senang melihatmu tersenyum seperti sekarang, sejuk."


Yuna terkikik,"Memangnya dulu tidak? Panas ya."


Cara menikmati hidup yang sudah di rencanakan oleh takdir adalah dengan menjalaninya, jika itu sudah terjadi. Tapi ketika kamu ingin mengubahnya maka coba terlebih dahulu, siapa tahu bisa. Ke gagalanmu hari ini tidak menentukan arah lain yang kamu pilih juga gagal, bukankah mencoba lebih baik dari pada tidak sama sekali? Contohnya mengikhlaskan bukan melupakan, itu cara Yuna menjadi lebih dewasa melalui pikiran serta sikap yang nanti akan ia ambil di masa yang akan datang.