
Mata Yuna masih terbelalak, tugas kuliahnya masih menumpuk. Entah sampai kapan semua itu selesai, namun anehnya ia merasa bahagia ketika lelah kepalanya bisa menoleh kearah Jungkook. Tenang rasanya ketika melihat mereka, seakan energi Yuna tidak ada habisnya.
"Nona, mau sampai kapan mengerjakan tugas?"tanya Jimin yang terbangun dari tidurnya.
Pria yang tengah mengucek kedua matanya tersebut bangkit untuk mengambil air.
"Masih banyak pekerjaanku, Jimin. Apa aku mengganggu?"
"Tidak, hanya saja merasa bahwa Nona kurang istirahat."
"Aku sudah terbiasa, tenanglah."
Yuna mengucek matanya yang mulai kantuk, tapi pekerjaannya masih banyak untuk di tinggalkan. Tenang, ia akan menangani ini semua
"Semangat Yuna!"ujar Yuna tersenyum.
Untuk mimpi semua orang perlu mengorbankan waktu dirinya sendiri atau bersama orang lain.
Malam berganti pagi, kini ia masih tertidur dengan lelap. Untung saja Jimin segera membangunkan Yuna, jika tidak maka mereka bisa terlambat.
"Nona, segera bangun. Sudah siang, apa sekarang Nona ada jam kuliah?"tanya Jimin.
Yuna menoleh dengan wajah kusut, ia segera melihat kearah jam hingga akhirnya kedua mata wanita tersebut terbelalak.
"ASTAGA AKU TELAT!"teriak Yuna tidak tahu tempat sampai membuat anaknya menangis.
Jika menenangkan anaknya bisa-bisa Yuna terlambat masuk kelas, tapi...
Baiklah, ia harus bertanggung jawab untuk apa yang sudah di perbuat. Maka Ibu satu anak tersebut segera memangku anaknya untuk di tenangkan dengan susu yang di seduh oleh Jimin.
Yuna berhasil, masih ada waktu untuknya ke kampus. Dengan berlarian tapi hati-hati wanita itu segera ke halte bus.
"Yuna!"teriak Melissa membuat wanita yang akan turun dari bus tersebut segera menghampiri.
"Aku telat, aku duluan."ujar Yuna ngibrit begitu saja tanpa memperdulikan sahabatnya.
"Aneh, tumben sekali dia terlambat."
Akhirnya Yuna sampai di kelas, sudah banyak orang disana. Bahkan mereka menatap wanita yang baru saja datang tersebut dengan tatapan kurang suka. Begitulah orang yang selalu membuat iri orang lain dengan kelebihannya padahal ia tidak pernah mengusik orang lain.
Kelas selesai sekitar tiga jam lamanya, Yuna kini berjalan menuju supermarket terdekat untuk membeli sesuatu termasuk susu anaknya.
Di supermarket Yuna berbelanja banyak hal, ia bahkan membeli buah serta makanan beku yang ada di sana karena ia tinggal di rumah sakit mulai saat itu.
Meski Jimin selalu mencukupi kebutuhan mereka, bagaimana juga Yuna memiliki harga diri jika terus menerus melakukan itu.
Ketika memilih, tidak sengaja Yuna melihat Kevin yang tengah memilih daging sendirian.
"Kevin?"panggil Yuna yang membuat pria tersebut menoleh.
"Yuna, bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik, bagaimana dengan dirimu?"
"Baik."
Mereka mengobrol hingga akhirnya ada salah seorang wanita dengan senyum indah menghampiri mereka.
"Kevin, dia siapa?"tanya wanita tersebut.
"Sia, ini Yuna yang aku ceritakan kala itu."
"Oh aku tahu, dia yang.."
"Iya."
Yuna berkenalan meski sudah mengetahui nama wanita tersebut dari awal.
"Kalau begitu aku pergi duluan, sampai jumpa."
Selesai dengan perlengkapan Yuna segera kembali ke rumah sakit, tapi ada yang aneh. Nampaknya banyak pasien di UGD seperti ada kecelakaan beruntun.
Rumah sakit kekurangan dokter, dengan kepercayaan dari dokter juga dosennya di kampus Yuna di percaya untuk mengobati luka ringan. Tentu wanita itu menyanggupinya dengan syarat ia harus pergi ke ruang rawat inap terlebih dahulu untuk memberikan barang yang ia bawa.
Yuna segera ke ruang rawat inap, ia melihat Jimin ada di sana tengah membenahi Jungkook.
"Jimin, aku harus kembali ke UGD ada keadaan darurat. Tolong jaga mereka untukku, terimakasih."ujar Yuna segera pergi melesat secepat kilat.
Jimin hanya mengangguk, ia paham betul bahwa saat ini Yuna juga punya kesibukan sebagai seorang mahasiswa kedokteran. Tapi mengapa ia merawat orang di rumah sakit?
Yuna memompa salah satu pasien yang terlihat parah, bagian dada sebelah kiri mulai mengeluarkan darah yang melebihi kapasitas. Di takutkan terjadi hal tidak di inginkan jika di biarkan begitu saja, sementara dokter lain tengah mengurus pasien yang lebih membutuhkan. Yang bisa Yuna lakukan hanya menghambat pendarahannya.
"Jangan tidur, lihat saya!"ujar Yuna panik.
kapasitas penolongan terbatas bagi Yuna karena ia hanya mahasiswa bukan seorang dokter. Wanita itu hanya meminta perawat untuk segera melihat secara menyeluruh dan ternyata dugaan Yuna benar bahwa ada sebuah kaca tertancap di jantung pria paruh baya tersebut. Harus bagaimana?
"Dokter, pasien ini harus segera di operasi karena ada kaca bus yang menancap tepat di jantungnya."ujar Yuna.
"Saya tidak bisa Yuna, ada pasien lain yang membutuhkan. Bagaimana jika kamu yang menanganinya?"
Yuna menggeleng cepat, jujur saja ia tidak sanggup menerima tanggung jawab sebesar itu.
"Maaf, saya bukan dokter hanya seorang mahasiswa saja Pak."
"Tapi kamu bisa menolong nyawanya, bagaimana sekarang? Ingat tugas dokter adalah menolong Yuna, segera lakukan yang menurutmu baik."
Yuna segera mengangguk cepat, ia harus percaya pada dirinya sendiri.
"Segera masuk ke ruang operasi, sekarang!"tegas Yuna.
Perawat disana menurut, mereka segera mengambil perlengkapan.
Lampu ruang operasi memang tidak asing bagi Yuna, tapi ini pertama kalinya ia melakukan operasi sebesar ini.
Dengan mengucapkan segela doa Yuna memulai operasi dengan baik, cukup stabil hingga akhirnya selesai.
Dua jam berlalu, operasi sudah selesai di lakukan. Rasa tenang serta lega mulai menjalar pada tubuh Yuna, syukurlah semuanya dapat di tangani. Tidak menyangka bahwa wanita tersebut mampu melakukannya dengan baik.
"Sungguh hebat padahal baru mahasisw,"ujar perawat yang berjuang bersama Yuna.
Keberanian untuk mencoba memang ada pada diri beberapa orang saja, mungkin termasuk kalian juga. Lihatlah Yuna yang dapat menyelesaikan tugasnya meski bukan dokter melainkan mahasiswa. Ketakutan hanya akan membuatmu hancur maka lawanlah dengan keberanian yang masih tersisa tersebut.
"Bagaimana hasilnya?"tanya dokter juga dosen Yuna.
"Berhasil,"ujar Yuna sambil tersenyum senang.
Pelukan hebat berhasil Yuna dapatkan darinya, tentu karena sudah berani menjalankan tugas yang hanya bisa di lakukan sebagian orang.
"Kamu hebat Yuna!"
Yuna mengangguk senang,"Terimakasih, ini juga berkat dukungan Anda."
Semua sudah di lakukan, kini saatnya kembali ke ruang rawat inap. Tapi mata Yuna berkunang-kunang, ia mulai merasa pusing.
Keringat di kening Yuna semakin keluar dengan banyak, lelah. Ternyata menjadi seorang dokter pekerjaan yang mulia karena melihat keluarga pasien berterimakasih serta senyum mereka mengembang kembali.
"Terimakasih karena sudah menolong Ayahku!"ujar salah satu anak perempuan yang menghampiri Yuna.
Yuna yang terduduk letih kembali bugar, menerima setangkai bunga yang di berikan oleh anak perempuan tersebut.
"Terimakasih Tuhan karena sudah membuat semuanya lancar,"ujar Yuna.
Semua terkendali sudah, rasanya bahagia sunggug membuat Yuna tidak hentinya bersyukur.
Sementara itu, tepatnya di ruang rawat inap. Ada sebuah keajaiban disana, pria yang terbaring selama satu tahun lebih tersebut mulai membuka matanya secara perlahan membuat Jimin yang tengah memangku Seol segera menidurkan bayi itu.
Dengan tatapan terkejut bahkan bersyukur Jimin segera menghampiri Tuannya, ia terharu melihat pria tersebut berhasil melawan rasa sakitnya.
"Tuan?"
"SYUKURLAH TUAN SUDAH SADAR!".