Mr. Jungkook's Naughty Wife

Mr. Jungkook's Naughty Wife
BAB 64



Yuna menatap layar monitor di depannya dengan seorang pria yang tengah menjelaskan.


"Yuna, silahkan jawab!"


Wanita yang tengah memainkan balpoin segera bangkit dari duduk.


"Hah?"


Semua orang yang ada di sana tertawa mendengar jawaban dari Yuna.


"Ternyata seorang Yuna tidak bisa menjawab pertanyaan dari kekasihnya!"sorak salah satu dari mereka.


Yuna tersipu malu,"Bukan seperti yang kalian bayangkan!"


Gelrd menalan salivanya, ia segera melerai agar Yuna tidak merasa malu.


"Sudah, sudah!"


"Duh Bapak membela kekasihnya!"


"Kalian mau melanjutkan pelajaran ini atau tidak? Kalau memang tidak saya akan pergi tapi saya anggap kalian semua tidak hadir!"


Sontak tidak ada suara apa pun, sunyi. Pelajaran kembali di lanjutkan dengan lebih fokus terhadap apa yang di jelaskan.


"Yuna sebelum pulang saya harap kamu ke ruangan saya."


"Bisa tolong jangan seperti ini Pak? Saya tidak mau jadi bahan gosip di kampus."


"Biarkan saja mereka ber opini, kamu ikut saya sekarang."


Betul saja mereka berdua berada di ruangan yang sama, keduanya tengah menatap satu sama lain.


"Ada masalah apa Pak?"tanya Yuna.


"Kamu maukan menjadi asisten saya? Saya juga melihat potensi kamu yang baik dan dapat di percaya melebihi mahasiswa lain."


Yuna terdiam,"Masih banyak orang yang berhak dari pada saya."


"Tapi saya percaya kepada kamu, bagaimana apa kamu mau?"


Tentu saja Yuna menggeleng, gosip di kampus sudah memanas dan sekarang di tambah menjadi asisten dosen yang di gandrungi banyak orang.


"Yuna, coba kamu pikirkan kembali."


"Jawaban saya tetap sama, tolong jangan mengganggu lagi."


Yuna hendak pergi namun tangannya di cekal oleh pria yang bersikeras untuk tetap menyetujui tawarannya. Hingga akhirnya sebuah kursi membuat kaki Yuna tersandung hampir terjatuh, untungnya Gerld sigap menangkap tubuh Yuna di pelukannya.


Keduanya saling bertatapan..


"Pak!"


Seorang mahasiswa membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu, alhasil ia melihat kejadian antara Yuna dan Gerld.


"Maaf saya mengganggu."sambil tersenyum mahasiswa itu pergi.


Yuna yang malu segera menjauh dari Gerld,"Dia akan salah paham!"


"Biarkan saja."


Tidak dapat di percaya pria di depannya tidak memperdulikan apa yang orang lain pikirkan.


"Saya permisi!"ujar Yuna pergi dari sana dengan pipi yang memerah tersipu malu.


Sementara Gerld memiringkan kepalanya bingung atas sikap Yuna, ia selalu bertanya mengapa orang lain memikirkan sebuah pandangan yang bahkan tidak di mengerti.


Di lorong kampus Yuna memanyunkan bibirnya mengomel tidak jelas karena ia kesal dengan sikap Gerld terhadapnya. Kacau sudah semua orang akan berpikir bahwa antara mahasiswa dan dosen tersebut memiliki hubungan istimewa.


"Yuna, ada apa denganmu? Aku lihat sepertinya kamu tidak baik-baik saja."ujar Melissa yang songak membuat Yuna terkejut.


"Tidak ada."


"Baik, tapi aku ingin bertanya sesuatu kepadamu. Apa bisa jawab dengan jujur?"


"Tentu, memangnya ada apa?"


Melissa mengeluarkan handphone di saku celananya dan memperlihatkan gosip yang beredar di kampus, tepatnya tentang Yuna dan Gerld yang menghadiri acara pernikahan dengan status berhubungan.


"Jujur itu bukan seperti yang kamu pikirkan, dia hanya memintaku menemani ke acara pernikahan sahabatnya. Kami tidak memiliki hubingan apa pun, kamu juga tahukan bahwa saat ini hanya Yu-Jung yang aku pikirkan. Mana mungkin ada orang lain, benarkan?"ujar Yuna yang sudah tidak tahu harus menjelaskan seperti apa lagi.


Selesai bercengkrama mereka berdua pergi ke rumah sakit untuk bertemu dengan Delon sahabat yang terlupakan itu, meski pun begitu mereka hanya di izinkan bertemu ketika jam istirahat makan saja.


"Apa dia sangat sibuk?"tanya Melissa.


"Dia adalah dokter apalagi ini baru KOAS coba bayangkan."


Sepuluh menit berlalu, keduanya dapat tersenyum lebar ketika melihat orang yang selama ini di nantikan berjalan kearah mereka berada.


"Dari mana saja?"tanya Melissa kesal.


"Rumah sakit penuh apalagi IGD, aku baru saja merawat beberapa pasien yang kecelakaan."


"Wah dokter kami yang hebat!"


Delon menghembuskan napas gusarnya, segera memesan makanan kemudian menceritakan keluh kesahnya yang tidak dapat tidur nyenyak selama bertugas.


"Apa ada hantu?"


"Bukan, hanya saja sebagai dokter muda selalu di mintai menjadi IGD sepanjang malam."


"Kamu juga nanti akan merasakannya Yuna,"ujar Delon membuat wanita tersebut tersedak.


"Hati-hati,"ujar Delon memberikan selembar tisu.


Waktu mereka habis, Delon yang sibuk harus segera kembali ke tempat yang seharusnya. Sementara wanita-wanita itu berencana pergi ke Mall untuk berbelanja. Yuna belum pernah membeli baju baru sama sekali ketika ia pindah karena sering menolak sementara Melissa jangan di tanya lagi wanita itu sudah sering menghambiskan uang di sana.


Singkat cerita mereka sudah sampai di Mall yang di maksud, Melissa mengajak Yuna untuk membeli baju terlebih dahulu sebelum ke toko tas.


Pada toko pertama tidak ada yang cocok untuk kedua wanita itu hingga terus mencari ke berbagai toko lain. Sial memang Melissa tidak menemukan apa yang ia cari, sementara Yuna sudah tertarik pada salah satu dress yang simple.


"Kamu bali saja, ini sangat cocok di kulit putihmu itu. Aku serius!"


"Bagaimana dengan dirimu? Apa ada yang memikat hati?"


Melissa menggeleng,"Tidak ada."


Tanpa berpikir panjang lagi Yuna segera pergi ke kasir untuk membeli dress yang mencuri hatinya tersebut.


"Bagaimana? Bukankah menyenangkan berbelanja."


"Tentu, tapi satu jam lagi aku harus pergi bekerja. Apa kamu?"


"Ah aku lupa Yuna bahwa kamu harus pergi bekerja, kalau seperti itu pergi saja. Barang yang kamu cari sudah di dapatkan soal aku biar aku sendiri saja."


Yuna tersenyum,"Memang kamu yang terbaik!"


Bergegas Yuna pergi dari Mall tersebut dengan berlari pelan takut terlambat sampai di cafe, karena kecerobohannya Yuna tidak sengaja menabrak seorang wanita yang menatap dirinya dengan tajam.


"Maaf, saya tidak sengaja. Apa Anda terluka?"tanya Yuna.


Wanita tersebut malah menepis pergelangan tangan Yuna,"Jauhkan tangan kotormu itu!"


Beberapa kali meminta maaf tapi sikapnya angkuh membuat Yuna menyerah lalu pergi begitu saja, ia hanya memberikan nomor handphonenya di secarik kertas.


Sesampainya di cafe Yuna segera mengganti bajunya dengan seragam dan menyajikan minuman untuk pelanggan.


Tibalah dimana akhirnya wanita itu mengantarkan kopi pada salah seorang pria di depannya, punggung yang terlihat akrab di matanya.


Ternyata dugaannya betul, pria tersebut adalah Gerld.


Tanpa mengucapkan sepatah kata Yuna segera pergi tapi Gerld malah memanggil namanya.


"Yuna!"


Jika menoleh maka mereka akan bertatapan kembali tapi jika sebaliknya orang akan berpikir bahwa pelayanan di cafe tidak ramah.


Yasudahlah!


"Iya ada yang bisa saya bantu?"tanya Yuna tersenyum.


"Bisa kita duduk untuk membicarakan soal.."


"Maaf saya sedang bekerja sekarang."


Gerld tersenyum smirk,"Baik saya tunggu sampai kamu selesai."


Yuna mengangguk, mana mungkin seorang pria bermartabat seperti Gerld mau menunggu hingga cafe tutup. Mari kita lihat...


"Baik!"ujar Yuna sebelum pergi.