
"Bagaimana keadaanya?"
"Ini sangat ajaib, seakan Tuhan memintanya kembali hidup. Namun perkembangannya belum sepenuhnya, kematian bisa terjadi kapan saja untuknya."
"Tolong dokter, dia harus hidup kembali."
"Tuhan yang memberikan takdir, kami hanya perantaranya saja."
"Tapi ini sangat luar biasa, kita berdoa saja agar Tuanmu segera sadar kembali meski akan ada masalah lain."
"Baik dokter, dia harus bahagia untuk hidup kedua kalinya."
Pandangan mata keduanya mengarah pada sosok yang tidak berkutik sedikit pun di atas brankar yang sudah satu tahun lebih di tempatinya.
...***************...
Rasanya begitu nyata, sosok di depannya membuat segala penantian Yuna dapat terbayar dengan lunas. Rasa sakit serta makian yang terlontar untuknya sudah tuntas, ia berhasil melewati satu langkah dari hidupnya yang berat.
"Kamu wanita hebat, Yuna."ujar Ibundanya merasa terharu melihat anak serta cucu.
"Tampan sekali!"pekik Melissa ketika melihat anak Yuna yang sudah lahir sekitar dua jam yang lalu.
Anak pria dengan wajah sipit serta berat badan yang normal bahkan tampan dengan warna kulit putih membuat semua orang tercengang.
"Mirip dengan Ayahnya."ujar Yuna menatap sendu kearah anaknya.
"Sepertinya aku familiar , ah mirip pengusaha yang sudah meninggal itu!"ujar Melissa yang sontak membuat semuanya terkejut.
"Jungkook!"sambung Melissa.
Mendengar nama itu Yuna merasa hatinya tersayat kembali, bukankah setiap wanita ingin di temani oleh orang tersayangnya ketika melahirkan?
Di detik-detik melahirkan saat itu Yuna selalu mengingat wajah Jungkook hingga akhirnya ia memanggil nama tersebut, dan anaknya lahir dengan normal.
"Dia memang anak Jungkook, Jeon Jungkook tepatnya."ujar Yuna mengelus anaknya dengan lembut.
"Apa benar? Kenapa aku baru tahu? Astaga!"ujar Melissa heboh sendiri.
Semuanya hanya tersenyum mendengar kehebohan tersebut termasuk Yuna yang meneteskan air mata.
"Sehat selalu anakku,"ujar Yuna sampai akhirnya perawat disana membawanya kembali.
Yuna tersenyum kembali, rasanya memang sakit ketika harus melahirkan seorang anak seperti di ambang kematian. Tapi ketika tangis bayi baru keluar membuat ia bahagia sekali, begitulah rasanya menjadi seorang Ibu.
Empat hari berlalu, Yuna bersama dengan bayi yang belum ia beri nama sudah bisa pulang. Mereka kini berada di antara koridor rumah sakit, Yuna menggendong bayi sedangkan Ibunya tengah melakukan hal lain sebelum keluar.
Langkah kaki Yuna memang tidak lebar seperti biasanya, masih sakit. Anehnya bayi bermarga Jeon tersebut menangis ketika berada tepat di depan ruangan aneh yang pernah mencuri perhariannya.
"Sayang kenapa menangis? Tenanglah."
Alhasil Yuna harus memupuk anaknya agar terdiam, memberikan susu formula karena asinya belum bisa keluar.
Entah mengapa anaknya tiba-tiba menangis kencang seakan ada hal yang mengganggunya, padahal ia sedang tertidur pulas.
Sontak hal mengejutkan terjadi, Yuna mendengar suara histeris dari dalam ruangan di sampingnya. Beberapa dokter di kerahkan kesana, mulai berlarian terutama dokter yang sudah cukup berumur.
Yuna yang terduduk kembali berdiri, ia terkejut melihat hal itu.
"Ada apa ini?"tanyanya dalam hati.
Perlahan langkah kakinya berjalan menuju ruangan yang mulai membuka celah, ia melihat ada seorang pria di dalam sana yang tengah di tangani oleh dokter.
Tanpa sadar Yuna sudah berada di dalam, ia sangat terkejut ketika melihat satu sosok yang tidak asing.
"Ji-Jimin?"
Pria di samping dokter menoleh kearah Yuna yang tengah membawa bayi yang sudah tenang.
"Nona?"
"Kenapa kamu ada di sini?"tanya Yuna dengan getir.
Dengan kaki lemas, Yuna menatap pria yang terbaring itu. Terbalut banyak alat disana, bahkan monitor detak jantung yang terus bersuara.
"Ju-ngkook.."lirih Yuna mulai meneteskan air mata.
Lemas rasanya, kedua kaki milik Yuna tidak dapat berdiri kembali rasanya mati rasa.
"Mohon maaf semuanya segera keluar!"ujar perawat disana menyuruh Yuna serta Jimin untuk pergi.
Di luar dengan syok Yuna termenung, menatap Jimin dengan seribu pertanyaan yang membingungkan.
"Apa yang terjadi?"tanya Yuna.
Jimin dengan wajah frustasi menatap Yuna,"Tuan sudah koma selama ini, kematiannya hanya kebohongan agar dirinya bisa lebih bahagia dan bebas. Tapi Tuan berpesan agar tidak memberi tahu Nona sebelum ia benar-benar tidak sadar."
Yuna meneteskan air matanya, ia tidak bisa berkata-kata lagi beta bahagianya bisa kembali bertemu dengan Jungkook.
"Mengapa kalian ada di sini?"
"Tuan ingin lebih dekat dengan Nona tanpa di ketahui, karena itu ia memintanya kemari."
"Apa dia pernah sadar?"
"Tidak Nona, Tuan sudah terbaring selama satu tahun lebih karena koma. Kecelakaan itu memang nyata, namun yang terkubur atas namanya adalah orang lain. Ada seseorang yang menginginkan Tuan mati, maka dari itu sebelum pergi ia berpesan terlebih dahulu tentang semua ini."
"Apa dia tidak memikirkan perasaanku?"tanya Yuna menyeka air matanya.
"Bagaimana jika Tuan takut Nona dalam masalah, ia tidak mau membuat Anda tersiksa karena hal ini. Perusahaan memang memiliki banyak musuh saat itu termasuk Alea, maka ketika Tuan di nyatakan sudah tidak ada dan aku mengetahui yang sebenarnya. Maaf Nona sudah membohongi hingga selama ini."
"Apa Nona sudah menikah? Anak Nona pasti beruntung bisa memiliki Ibu sebaik Nona Yuna."
Yuna tersenyum keji,"Menikah? Bisakah aku menikah dengan orang lain selama aku kehilangan dia? Apa aku setega itu Jimin!"
Jimin terkejut, ia bahkan menatap bayi di gendongan Yuna."Apa ini.."
"Iya, ini anak Jungkook."
Banyak syukur yang di panjatkan oleh Yuna, ia bahkan menatap lekat bayi bergantian dengan ruangan tersebut. Pantas saja waktu itu Yuna sangat ingin masuk kedalam sana seakan ada hal yang akan menjawab segala kegelisahan wanita itu, ternyata benar yang ia pikirkan bahwa Jungkook masih hidup entah di hati atau jiwanya.
"Nona, tenang. Jika Tuan tahu bahwa kini kalian sudah bisa bersama bahkan memiliki anak ia pasti akan menjalani hidup dengan lebih baik."
"Aku takut Jimin, apa Jungkook akan mengingatku?"
"Tentu dia akan mengingat setiap hal tentang Nona, dia sangat mencintai lebih dari dirinya sendiri. Yakinlah Nona bahwa cinta sejati memang ada, contohnya kalian."
Yuna mengangguk, ia tidak akan membuat kesalahan lagi untuk menyia-nyiakan pria terbaik di dunia ini orang yang sudah mencintainya dengan dalam.
"Aku akan selalu menemaninya, tolong juga temani dia selalu seperti dulu sampai di masa depan nanti."ujar Yuna tersenyum.
Sekitar dua jam berlalu, Yuna kini sudah bisa melihat wajah Jungkook dengan sangat lekat bahkan setiap inci yang ia rindukan.
"Jungkook, ini aku Yuna dan ini anak kita. Aku tidak tahu harus memberinya nama apa karena aku rasa kamu yang pantas memberinya, aku hanya memanggilnya Seol."ujar Yuna menggenggam pergelangan tangan Jungkook.
"Dia sangat ingin melihat wajahmu, Ayahnya. Aku baru melahirkan di sini sekitar enam hari lalu, liat wajahnya mirip denganmu."
Entah sampai kapan Yuna harus terus menangis sampai mengobrol seperti itu, memang bahagia sudah melihat kembali namun ia takut Jungkook akan melupakan cinta mereka.
Itu tidak akan bukan?
Yuna memutuskan untuk tetap disana bersama dengan Jungkook yang hanya diam di tempat, Jimin membantu menjelaskan pada keluarga bahkan perlengkapan wanita itu.
Tidak akan ada wanita yang akan meninggalkan ketika ia tahu bahwa suaminya masih hidup setelah kabar kematian yang berlalu satu tahun .
"Aku di sini, menemanimu bersama anak kita."
Jimin sengaja menambah ranjang tambahan untuk Yuna dan anaknya, mereka kini bisa tidur bersama meski dalam keadaan yang menyedihkan.
Keluarga kecil itu kini bersama setelah banyaknya cobaan yang melanda, semoga kebahagiaan sekecil apapun akan tetap berada di sisi mereka. Semoga..