Mr. Jungkook's Naughty Wife

Mr. Jungkook's Naughty Wife
BAB 40



Pemeriksaan kandungan di sebuah rumah sakit tempat dimana pertama kali ia mengetahui ada seorang malaikat kecil bersinggah di janinnya.


Yuna berada tepat di depan ruang dokter kandungan, beberapa pandangan mata tajam terarah padanya. Mungkin mereka berpikiran bahwa Yuna sedang mengandung anak haram hingga akhirnya ada seorang wanita yang duduk di sampingnya.


"Sendiri saja?"


"Iya Bu, saya sendiri."


"Suaminya?"


Sudah tahu bahwa akan ada pertanyaan tersebut yang keluar, begitulah manusia selalu ingin tahu masalah orang lain tanpa berkaca pada dirinya sendiri.


"Sudah meninggal."ujar Yuna dengan tersenyum yang sontak membuat semua orang terkejut terutama wanita yang melemparkan pertanyaan tersebut.


"Maaf, saya turut berduka cita."


"Terimakasih."


Ada beberapa tipe manusia di bumi ini, yang betul mengerti dirimu adalah yang tidak akan menghakimi dan yang hanya sekilas akan terus mencerca tanpa tahu alasan di balik itu semua.


"Nona Yuna!"nama Yuna sudah terpanggil, saatnya ia masuk ke dalam.


Di dalam ruangan tersebut Yuna menerima beberapa pertanyaan dari dokter, dengan lantang ia menjawabnya. Setelah itu Yuna di berikan beberapa obat penguat kandungan karena janinnya sangat lemah, maklum masih usia muda.


Yuna mengangguk paham setelah semuanya di jelaskan."Terimakasih dokter."


Baru beberapa langkah perut Yuna rasanya sakit sekali, katanya ini juga di akibatkan banyaknya aktivitas tahulah wanita itu baru masuk ke perguruan tinggi.


Sebelum kembali pulang wanita itu mampir ke mini market terlebih dahulu untuk membeli buah, susu serta makanan bergizi lainnya. Orang hamil harus terpenuhi kebutuhannya, jika wanita lain terpenuhi oleh suaminya maka Yuna akan menjalani ini sendiri di temani oleh orang yang masih peduli padanya.


Dua kantung besar berisikan buah serta makanan yang bergizi sudah ia dapatkan, namun rasanya Yuna tidak ingin kembali ke rumah secepatnya karena itu ia memilih untuk pergi ke taman bermain yang ramai anak kecil disana.


Melihat beberapa anak tersenyum gembira membuat senyum Yuna mekar dengan sendirinya, apa bisa nanti ia menjadi orang tua yang baik untuk anak yang di kandung saat ini.


BRUG


"Aduh!"


Ada seorang anak wanita yang terjatuh disana, nampak tidak ada yang menghampiri seakan ia kesana seorang diri. Sigap Yuna menghampirinya, memapah anak tersebut untuk duduk karena lututnya mengeluarkan darah segar.


"Apa kamu kesini seorang diri?"tanya Yuna yang segera di jawab dengan anggukan anak tersebut.


Yuna membasuh luka anak tersebut dengan air lalu mambalutnya dengan kain seadanya, baju yang tengah ia pakai.


"Sakit!"ringis anak tersebut memegang tangan Yuna kencang.


"Jika sakit berteriak saja, tidak apa-apa jangan menahannya. Mau anak perempuan atau laki-laki menangis itu hal yang wajar saat terluka, mengerti?"ujar Yuna.


Setelah semuanya selesai di obati, Yuna memberikan satu kotak susu yang ia beli tadi.


"Terimakasih!"


Senyum tulus seorang anak terpancar,"Kakak mirip bidadari!"


Yuna yang mendengar ucapan tersebut sontak terkikik,"Betulkah?"


"Betul!"


"Apa kakak kemari bersama dengan anak? Atau.."


"Hanya berdiam diri, anak kakak masih berada di sini."ujar Yuna sembari mengelus perutnya yang rata.


"Boleh aku menyentuhnya?"


Yuna mengangguk.


Tangan kecil yang menjalar kearah perut Yuna terasa begitu hangat,"Usianya berapa bulan?"


"Tiga minggu,"ujar Yuna tersenyum.


"Wah hebat!"sorak anak tersebut.


"Sona!"


"Aku Yuna,"ujar wanita tersebut.


"Kita bertemankan?"


Yuna di buat tersenyum kembali,"Tentu."


"Sedang apa di sini sendiri, Sona?"


"Hanya bermain dengan teman, di rumah terlalu bosan. Ibu hanya bermain dengan adik tanpa memperhatikan aku, jadi aku memutuskan untuk kemari. Tapi aku sedih, anak yang lain bersama orang tuanya sedangkan aku hanya sendiri. Bukankah menyedihkan?"ekpresi wajah anak cerita itu berubah murung.


Yuna mengelus puncak kening Sona,"Kamu jangan bersedih, setiap sore kakak akan kemari bagaimana?"


"Benarkah?"


"Iya!"


Sona tersenyum senang, mata berwarna biru bening dengan rambut cokelat panjang membuatnya semakin indah ketika tersenyum karena menyipit ke dalam.


"Usiamu berapa tahun?"


"Sembilan!"


"Ah mengerti, mau pulang bersama? Biar kakak yang antar karena kamu juga terluka."


"Boleh!"


Tangan kedua wanita tersebut bergandengan, bahkan di sepanjang jalan tidak habis-habisnya mengobrol bersama tentang kartun yang ternyata mereka memiliki selera yang sama. Yuna senang seakan melihat dirinya saat kecil.


"Itu rumahku!"ujar Sona menunjuk salah satu rumah megah.


Bahkan seorang yang memiliki uang tidak dapat mengatur waktu bersama anak-anak mereka, sangat di sayangkan jika terjadi pilih kasih. Orang mungkin berpikir bahwa yang lebih muda berhak mendapatkan kasih sayang serta perhatian yang lebih, tapi bagaimana dengan perasaan anak yang lebih tua? Seharusnya setara agar tidak ada perdebatan di antara mereka saat dewasa.


"Ini nomor telepone kakak, jika merindukan seseorang untuk mengobrol bisa segera menelepon."


"Baik terimakasih, aku pergi dulu kakak bidadari. Selamat tinggal dedek bayi!"ujar Sona mencium perut Yuna secara tiba-tiba hingga membuat wanita tersebut tercengang.


Punggung kecil Sona mulai semakin mengecil hingga tidak terlihat di manik mata Yuna, kini wanita dewasa itu sudah mengerti banyak hal saat melihat beberapa orang yang pernah ia temui, kasih sayang sangat berharga. Semoga anaknya kelak mendapatkan satu hal tersebut dengan cukup tanpa kurang sedikit pun.


Perjalanan Yuna di mulai kembali, ia kini tengah melihat beberapa kue kesukaannya di sebuah toko yang tidak begitu jauh dari rumahnya berada. Ada satu kue yang mencuri pandangan wanita tersebut, lucu dan terlihat enak.


Tanpa berpikir Yuna segera membelinya untuk di bawa pulang menikmati kenikmatan kue tersebut bersama dengan keluarganya.


Sesampainya di rumah Yuna menyimpan kue tersebut di atas meja makan beserta dengan bahan makanan yang ia bawa, setelah itu ia menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Sudah pulang?"


"Sudah, oh iya aku membeli beberapa kue di bawah. Cobalah!"


"Baiklah sayang, terimakasih. Bagaimana pemeriksaannya? Apa malaikat di perutmu sehat?"


Yuna mengangguk sambil tersenyum,"Hanya perlu istirahat yang cukup."


"Baiklah jaga dia."


Membasuh setiap penat di tubuhnya Yuna segera mandi, setelah segar ia tertidur di atas ranjang dengan boneka beruang besar di sampingnya karena rasanya lebih hangat.


Di rasa hidupnya kini lebih bahagia bercampur dengan rasa takut membuatnya bingung harus melakukan apa, ia tidak ingin kehilangan anak di kandungannya kerena dokter sudah memperingati tentang janin yang ia kandung sedikit bermasalah.


Usia Yuna memang terbilang muda, tapi bagaimana pun kehilangan tunas dari seorang yang ia cintai sangat menyiksa.


Sebetulnya dokter mengatakan bahwa keguguran mengintai, tapi Yuna selalu menepis hal tersebut.


"Malaikat kecil bertahanlah sampai Mama bisa melihat wajahmu nanti, apakah seperti Ayahmu atau aku. Jika kamu memang mirip dengannya aku harap kamu bisa menjagaku selalu dan tidak meninggalkan seperti yang ia lakukan. Aku akan selalu melinduingimu, Seol."


Yuna sudah memberikan nama panggilan untuk bayi yang ia kandung, Seol namanya. Sederhana tapi bermakna indah yaitu salju yang dapat menenangkan hati dengan dinginnya serta di tunggu-tunggu kehadirannya oleh banyak orang, meski dia tidak terprediksi.