
"TUAN!"
Teriakan histeris terdengar dari dalam bilik ruangan tersebut membuat mata Yuna terbelalak, perawat yang tengah menghalau segera meminta wanita tersebut pergi. Sedangkan Yuna berusaha untuk menerobos masuk, melihat hal apa yang terjadi di dalam.
"Nona, maaf saya sudah memperingatkan. Apa Anda mengerti?"
"Tap-"
"Permisi,"ujar perawan tersebut masuk ke dalam dengan beberapa dokter yang mengikuti, terdengar pintu ruangan tersebut di kunci.
"Aneh, kenapa harus di kunci?"gumam Yuna keheranan, namun wanita itu tidak mau menggubrisnya karena bagaimana juga tidak ada hubungan dengan dirinya.
Langkah kaki Yuna menuju lift, menekan tombol di lantai paling atas. Dengan hembusan napas Yuna menatap lapang bertabur bintang di depannya, ia terus berjalan hingga duduk di kursi bekas.
"Langit begitu indah, ya?"tanya Yuna pada dirinya sendiri.
Kedua lutut di peluk erat oleh Yuna, ia bahkan memeluk dirinya sendiri.
"Tenang Yuna, hidup tidak harus berjalan sesuai dengan keinginanmu."
Beberapa kalimat penenang terus di lontarkan untuk dirinya sendiri, bahkan kata-kata mutiara seakan tidak mempan untuk dirinya.
"Sepertinya aku memang harus hidup seorang diri tanpa ada orang lain yang aku cintai kembali."
"Cinta?"suara serak seorang pria berhasil membuat wanita tersebut menoleh.
"Siapa?"kalimat pertama yang Yuna katakan.
"Aku hanya orang yang selalu kemari, hanya terkejut mengapa ada wanita di tempat sedingin ini."
"Memangnya kenapa?"
"Seorang pasien lagi,"sambung pria tersebut duduk di samping Yuna.
Mata Yuna terbelalak hingga ia menjaga jarak,"Apa yang kamu mau?"
Pria tersebut tertawa,"Apa terlihat seperti orang jahat?"
Dengan polos Yuna mengangguk,"Kita tidak bisa menilai orang begitu saja."
"Begitukah?"
"Iya."
"Kamu ini sakit? Kenapa berada di antara malam yang dingin seperti ini?"
Tatapan sendu Yuna menjawab pertanyaan,"Aku hanya rindu seseorang."
"Pacar?"
"Ayah dari bayiku."
"Apa dia tidak mau bertanggung jawab sampai membuat kedua matamu ini sendu?"
"Bukan begitu, dia sudah pergi menghadap sang pencipta."
Perlahan air mata bening menetes dari sela mata Yuna tanpa ia sadari. Pria di sampingnya mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku celananya.
"Usap pipimu itu."
Ternyata penampilan tidak dapat menilai seseorang, bahkan pria di sampingnya ini. Bajunya serba hitam, membuat setiap orang yang melihatnya akan takut.
"Kamu bukan orang yang selalu menguntit kan?"
"Memangnya aku terlihat seperti itu?"
"Akhir-akhir ini aku selalu di ikuti oleh orang yang tidak jelas tapi pakaiannya seperti kamu."
"Bukan aku!"
"Iya aku tahu!"
Keduanya tertawa terbahak-bahak, mereka bahkan berkenalan nama. Kini Yuna tahu nama pria humoris tersebut, Kevin.
"Aku harus ke bawah, dingin."ujar Yuna yang tubuhnya sudah menggigil.
Kevin segera membuka jaket denim berwarna hitam yang ia pakai,"Pakai ini."
"Tidak usah!"
"Pakai saja!"
Tangan berurat Kevin segera mengukung tubuh Yuna dengan jaketnya,"Tidak bayar, pakai saja dingin."
"Baik, terimakasih. Nanti aku harus mengembalikannya kemana?"tanya Yuna sebelum pria di hadapannya pergi.
"Ke perawat yang ada di meja pendaftaran!"
Yuna yang mengekor dari bawah mengangguk, ia juga ikut turun. Herannya lift tidak menunjukkan ada yang turun, artinya pria tersebut menggunakan tangga.
"Bagaimana bisa, dia gila!"pekik Yuna terheran.
Ternyata masih ada modelan pria menantang maut seperti itu, lantai rumah sakit sangat tinggi. Sangat gila!
"HEY APA KAMU BISA MENDENGARKU!"teriak Yuna.
Singkat cerita Yuna sudah turun, ia menatap ruangan yang pernah mencuri perhatiannya. Tidak ada sedikit suara yang terdengar, hanya ada denyutan dari monitor yang memperlihatkan detak jantung.
"Nona sedang apa lagi?"
Yuna hanya cengengesan seperti anak kecil,"Apa dia baik-baik saja."
Hembusan napas kesal terdengar dari perawat di depannya,"Dia baik-baik saja."
"Baik-baik, saya pergi."
Kesal sekali rasanya, padahal hanya tinggal menjawab nama orang di dalam sana. Tapi mereka mengatakan bahwa itu privasi, padahap Yuna hanya ingin tahu. Sepenting apa sampai penjagaannya tidak henti-henti, mungkin hanya dokter dan perawat yang tahu tentang wajahnya.
"Korban kecelakaan ya? Atau anak pengusaha ternama?"tanya Yuna tanpa jeda.
"Nona, kesabaran saya sudah habis!"
"Yasudahlah!"
Sampai di depan kamar inap miliknya Yuna segera masuk ke dalam, di sana sudah ada kedua orang tuanya yang tertidur pulang. Tidak mau mengganggu istirahat mereka, wanita itu segera menyelimuti lalu kembali tidur di atas brankar.
"Selamat malam bayi kecilku,"ujar Yuna sebelum kedua kelopak matanya tertutup.
Pagi hari kemudian, Yuna terbangun dari tempat tidurnya ketika sinar matahari membut kedua bola matanya menyipit karena silau.
"Sudah bangun anakku yang cantik?"
"Masih di rumah sakit? Yah aku kira sudah ada di rumah!"
"Yuna... Kamu masih perlu di rawat, mengerti? Jangan berpikiran untuk keluar paksa."
"Baik aku mengerti, tapi bosan!"
Tiga puluh menit selanjutnya, akan ada seorang dokter yang memeriksa keadaan Yuna sekarang ini. Tapi di rasa tubuh wanita itu sudah baik-baik saja bahkan tidak merasa mual atau pusing.
"Selamat pagi, bisa saya periksa tekangan darahnya?"tanya seorang perawat ketika mereka mengobrol.
Yuna memang kekurangan darah karena sering begadang untuk mengerjakan tugas kuliahnya, dan sialnya hal itu selalu membuatnya pusing bukan main.
"Silahkan,"ujar Yuna mempersilahkan tangannya untuk di ambil darah, pemeriksaan lebih lanjut juga.
"Sepertinya Nona harus beristirahat lagi, tekanannya semakin rendah. Saya akan mengambil darahnya nanti siang jika sudah lebih baik."
"Masih rendah?"
"Iya, harus banyak makan lagi juga. Apa tidak terasa lemah?"
"Sedikit, apa saya sudah boleh pulang?"
"Nona, tubuh Anda harus stabil terlebih dahulu baru bisa pulang. Kalau seperti ini khawatir untuk kandungan dan diri Anda sendiri."
Mereka memperingati Yuna yang selalu memaksa segera keluar dari tempat berbau obat tersebut.
"Nanti siang akan ada okter yang akan memeriksa kemari."ujar perawat tersebut kemudian pergi.
Ibunda Yuna terus memarahi anaknya yang merengek meminta pulang, sifat dan sikapnya masih seperti anak kecil tapi sekarang dia sudah akan menjadi Ibu bagi janin kecil di perutnya. Waktu memang cepat berlalu.
"Apa nanti dokternya tua dan menyebalkan?"tanya Yuna cemas.
"Dokter tua lebih bagus karena pengalamannya, Yuna!"
Yuna terdiam, ia hanya mengangguk menuruti segala ucapan yang keluar dari mulut Ibunya itu.
Siang hari, sudah saatnya Yuna melakukan tes pengambilan darah. Jantung wanita itu sudah berdeguk dengan kencang karena jujur jarum suntik menjadi musuh terberatnya dari kecil hingga saat ini.
"Aku takut, apa boleh jika kita tidak melakukannya. Pakai cara lain ya?"ujar Yuna membujuk Ibunya dengan muka memelas seperti anak kecil.
"Yuna, mau sampai kapan kamu takut jarum suntik?
"Selamanya mungkin."
"Kamu ini mahasiswa kedokteran, kalau kamu takut jarum suntik bagaimana kedepannya kamu bisa jadi orang yang berani dalam menghadapi pasien jika dokternya saja takut."
"Tap-"
Tok!
Tok!
Suara ketukan dari luar membuat dua wanita tersebut saling menatap, Yuna terus menggeleng berharap Ibunya tidak mengizinkan.
"Silahkan masuk."
Sialan!
Ketika kenop pintu di buka, kedua bola mata Yuna yang meringis ketakutan terbelalak melihat orang di depannya. Tepatnya pria yang pernah ia temui ketika malam, jelas wajahnya sama meski di tutupi topi.
Tidak menyangka orang yang berpenampilan seram dengan baju hitam merupakan seorang dokter terbaik di rumah sakit ini.
"KEVIN?!"tanya Yuna kaget.
"Selamat siang.."ujar dokter muda yang berada di ambang pintu tersebut.