
Jungkook menatap selembar kertas di depannya, sebuah pemberitahuan yang sudah di selidiki oleh Jimin.
Hembusan napas gusar terdengar nyaring, mata yang menunjukkan kelelahan semakin tergambar jelas.
"Bagaimana Tuan?"
"Aku sangat kecewa kepada mereka, ternyata kehilanganku menjadi peluang besar. Bagaimana bisa Alea menjadi seperti ini kepada keluargaku?"
"Nona Alea memang tidak berakal Tuan, selanjutnya kita akan bagaimana?"
"Biarkan saja, kita lihat sejauh mana dia akan bertindak."
"Baik Tuan."
Yuna tengah membersihkan dapur setelah ia memasak tadi untuk makan malam, ketika semuanya sudah selesai ia segera menuju kamar dimana Jungkook tertidur dengan lelap. Tapi perkiraan Yuna salah, pria itu tidak tidur melainkan tengah mengotak-atik laptop yang masih menyala.
"Belum tidur?"tanya Yuna duduk di samping Jungkook.
Jungkook menggeleng cepat,"Sudah selesai? Segera tidur karena aku tahu kamu lelah."
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Tidak ada,"ujar Jungkook segera menutup laptopnya.
Yuna merasa ada yang di rahasiakan oleh pria tersebut, wajah Jungkook selalu berubah ketika berbohong itu terlihat jelas.
Bukannya tidur Yuna malah bangkit kembali, melihat anaknya sebentar untuk memastikan sudah tidur dengan nyaman.
"Kalau kamu ada masalah cerita saja, aku selalu mendampingimu."ujar Yuna seraya mengayunkan anaknya secara perlahan.
Mata Jungkook yang hendak tertidur kembali terbuka mendengar ucapan tersebut.
"Tidak ada, sudah jangan banyak berpikir Yuna. Segera tidur."
"Apa kamu lupa bahwa kamu belum menamai anak kita?"
Jungkook menelan salivanya,"Jeon Yu-Jung, artinya budiman luar seperti alam semesta serta pintar dalam menyelesaikan permasalahan di hidupnya kelak. Yu juga bersalah dari namamu Yuna sertang Jung adalah Jungkook, bagaimana?"
Yuna tersenyum senang mendengar nama indah yang bahkan mempunyai gabungan nama mereka.
"Yuna, apa kamu suka?"
"Suka, nama yang bagus. Aku tidak salah memberikan hak atas nama anak kita kepadamu, yang terbaik memang."
Apakah kalian tidak merasakan sakit hati? Sampai sekarang Yuna belum memiliki status yang jelas tapi sudah memiliki seorang anak. Banyak memang yang seperti itu, tapi Yuna merasa hanya wanita yang di rugikan.
"Apa kamu tidak ada niatan untuk menikahiku?"
Pertanyaan tersebut membuat Jungkook menarik pergelangan tangan Yuna.
"Aku tidak memiliki sedikit pun keraguan kepadamu, tapi aku ingin bertanya apakah kamu mau menerima pria lumpuh sepertiku?"
Yuna mengangguk cepat,"Aku mencintai dirimu serta kekurangan yang ada pada dirimu Jungkook, kita sudah memiliki seorang anak. Lalu kenapa kamu masih bertanya soal itu? Aku menerima setiap kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirimu."
Jungkook tersenyum senang,"Kalau begitu kamu ingin kita melangsungkan pernikahan kapan? Aku akan melakukannya apa pun yang kamu minta, katakanlah."
Jujur Yuna ingin secepatnya mendapat status yang seharusnya ia dapatkan,"Aku tunggu dirimu sampai kamu siap."
"Aku selalu siap, katakan saja kapan?"
Yuna tidak ingin Jungkook bertanya seperti itu karena jatuhnya seperti memaksa pria itu.
"Besok?"tanya Jungkook yang berhasil membuat kedua mata Yuna terbelalak.
"Tidak seperti itu Jungkook, kita harus mempersiapkannya."
"Biar Jimin yang mempersiapkannya, kamu menerima lamaranku bukan?"
"Tentu."
Apakah Jungkook sudah gila? Kenapa kepalanya selalu berpikiran lain tidak seperti dulu.
"Tidurlah."
Satu kecupan berhasil mendarat di atas kening Yuna ketika ia hendak tertidur. Namun pria di sampingnya tidak dapat tertidur, bagaimana bisa ia tenang ketika mendapatkan Yuna menagih pernikahan. Jungkook ingin dirinya bisa berjalan kembali agar bisa melakukan pernikahan sesuai dengan yang di impikan Yuna, bukan pria dengan kursi roda.
"Yuna, aku harap kamu tidak malu menikah dengan pria sepertiku."ujar Jungkook mengelus puncak kening Yuna yang sudah terlelap.
Yuna di kejutkan oleh banyak pelayan yang bertengger menunggunya terbangun dari tempat tidur, dengan samar ia di bangunkan untuk bersiap.
Apa ini sungguhan? Hal tersebut hanya bisa ia lihat di drama.
"Kalian sedang apa?"
"Kami menunggu Nona, Tuan sudah memberi perintah."
"Tuan?"
Yuna kebinguangan, ia segera di giring untuk bersiap hingga akhirnya mereka menyuruh wanita itu memakai gaun putih.
Pernikahan? Apa ini nyata bukan mimpi?
Ah Yuna sangat senang!
Gaun berwarna putih terbalut indah di tubuh Yuna dengan pahatan kristal yang membuatnya mewah apalagi ketika di kegelapan.
Wanita yang berjalan perlahan menuju taman belakang itu terkejut bukan main ketika melihat beberapa bunga yang menghiasinya, ada beberapa kursi di sana yang terisi oleh para pelayan serta Jimin dengan Yu-Jung di pangkuannya.
Senyum bahagia Yuna tergambar jelas ketika ia berhasil menemukan Jungkook di depan sana, tidak lupa Ayah Yuna sudah siap siaga mengangarkannya ke atas mimbar pengantin.
"Jaga dirimu dan keluargamu Yuna, Ayah ikut bahagia untuk kalian."ujar Ayah Yuna sebelum menyerahkan anaknya kepada pria yang duduk di atas kursi roda.
Jungkook berpenampilan tampan meski tidak bisa menggerakkan kakinya Yuna sangat terpesona, seakan tidak ada yang berubah pada pria itu.
Pendeta di hadapan mereka bertanya banyak hal tentang keseriusan pernikahan, tidak lupa bertanya tentang kesetiaan menemani.
"Saya bersedia, menemani Yuna di masa sekarang dan yang akan datang serta kelebihan dan kekurangannya."
"Yuna apakah kam-"
"Saya sangat bersedia!"ujar Yuna dengan lugas membuat semua orang tersenyum.
Pernikahan mereka akhirnya berlangsung dengan lancar tanpa ada seorang pun yang menentangnya.
"Apakah kamu bahagia?"
"Kenapa kamu melakukannya sekarang? Aku kira kamu bercanda mengatakan itu semua."
"Seorang pria yang di pegang adalah omongannya dan janji, jika sudah berkata maka lakukan bukan menunda."
"Kamu memang yang terbaik."
Yuna memeluk Jungkook dengan erat, merasa bersyukur memiliki pria tersebut yang sudah sah menjadi suaminya.
Keadaan di kediaman Jungkook cukup ramai, membuat Yu-Jung tidak nyaman hingga menangis kencang. Dengan pakaian gaun Yuna izin untuk ke kamar menidurkan anaknya tersebut.
Setelah masalah Yu-Jung, Yuna kembali ke tempat acara yang di langsungkan secara sederhana namun penuh dengan cinta.
Mata berbinar Jungkook ketika melihat Yuna membuat semua orang iri, hanya orang beruntung yang mendapatkan cintab atas takdir seperti mereka.
Singkatnya malam tiba, Yuna dan Jungkook tidur di ranjang dengan kikuk. Sebelumnya mereka memang tidak melakukan hubungan yang serius karena masih menjaga batas, lucu juga menjaga batasan tapi sampai memiliki anak.
Ah mereka ini!
"Yun.."
Yuna menoleh kearah Jungkook."Ada apa?"
"Apa kit.."
"Aku belum siap."ujar Yuna kikuk.
Jungkook menelan salivanya,"Ahh.. Begitu.."
Ternyata sekian lama tidak berhubungan membuat mereka seperti orang asing padahal sudah merasakan tubuh masing-masing, aneh memang.
Suasana tidak mendukung, jika hujan mungkin Jungkook bisa melakukan keahlian lain yang bisa ia lakukan di atas meja. Jangan tanya seberapa hebatnya karena buktinya sudah nyata adanya Yu-Jung hanya satu kali ternyata sampai juga di rahim Yuna.
Di dalam hati jungkook terus meminta agar segera di kirimkan hujan tapi ia lupa bahwa sekarang bukan musimnya, mustahil.
Jungkook tidak bisa berkutik, sekarang ia sudah berbeda lalu bagaimana melakukannya? Tunggu sampai pria itu bisa berjalan kembali akan habis Yuna bahkan mendapatkan anak lain.
Tunggu saja!