Mr. Jungkook's Naughty Wife

Mr. Jungkook's Naughty Wife
BAB 63



Jungkook terdiam di kamar yang di penuhi oleh bunga mawar tepatnya di atas ranjang. Pria yang sudah menikah tersebut hanya dapat menghela napas dan berharap ia tidak melakukan apa pun seperti orang lain pikir.


"Apa malam ini kita akan melakukannya?"tanya Alea yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian terbuka.


"Jangan terlalu banyak berpikir, aku tidak akan menyentuhmu sedikit pun. Tidur saja Alea, jangan biarkan aku membentakmu malam ini."ujar Jungkook segera tidur di atas ranjang yang penuh dengan kelopak bunga.


"Apakah betul? Ayolah kita lakukan malam pertama, aku sudah siap."ujar Alea menggoda.


Iman pria di sampingnya masih kuat bahkan ia sudah menutup matanya dengan rapat karena tidak berharap apa-apa.


Sementara itu di lain tempat Yuna sudah sampai di depan rumahnya, Gerld mampir terlebih dahulu hanya untuk berkenalan dengan orang tua Yuna hingga tiba pada permintaan maaf karena sudah mengajak wanita itu membuka luka lama.


"Kami mengerti, sudahlah Yuna juga sudah melupakan hal itu. Bagaimana juga anak kami berhak bahagia dengan pria di masa depannya nanti."


"Maaf, sekali lagi saya meminta maaf dan menyesal."


"Apa Pak dosen sudah mempunyai pacar atau istri?"


"Belum Pak, memangnya kenapa?"


"Tidak, Anda terlihat cocok dengan anak kami Yuna. Itu pun jika Bapak berkenan."


Yuna yang berada tidak jauh dari tempat mereka berbincang segera menghampiri untuk membantah ketidak mungkinan itu.


"Sebaiknya Bapak segera pulang ini sudah malam, tidak baik."ujar Yuna mengusir secara halus.


Kedua orang tua Yuna hanya bisa mengangguk mengerti bahwa yang mereka katakan membuat anaknya tidak nyaman.


"Kami tidak bermaksud tidak baik, hanya saja di lihat-lihat dosenmu itu memiliki rasa kepadamu Yuna."


"Itu tidak mungkin, kalian berpikir berlebihan."ujar Yuna sebelum ia pergi menuju kamarnya.


Di dalam kamar yang sunyi Yuna hanya dapat menatap keluar jendela yang ia buka sedikit, melihat anaknya sudah tertidur lelap membuat wanita itu tersenyum. Hanya Yu-Jung yang ia punya saat ini sebagai kenangan terbaik serta buruk untuknya.


"Apakah kamu bahagia dengan pernikahan itu? Sedang apa kamu bersama dengan Alea sekarang? Aku merindukanmu."ujar Yuna seraya mencengkram kuat seprai.


Perlahan mata kering wanita tersebut berkunang-kunang samar hingga akhirnya menangis, entah harus bagaimana lagi untuk melupakan pria yang masih singgah di hatinya sangat sulit.


"Bagaimana sekarang Jungkook, apakah perusahaanmu akan tetap stabil?"


"Aku sangat kecewa dan sedih karena keputusan yang kamu buat kepadaku, aku kurang apa di matamu?"


Rinai air mata di pipi Yuna terus saja menetes hingga membasahi pipi bahkan bantal yang ia tiduri saat ini. Bayangan indah serta menyakitkan beriringan menerpa memaksa wanita itu untuk tetap mengingat.


Terkadang cinta memang membuat kita bahagia karena berhasil memilikinya tapi kita luka bayaran apa jika cinta tersebut berubah menjadi menyakitkan, kini Yuna sudah menanggung setiap cinta yang menyakitkan di hidupnya.


Kata sesal? Entahlah sepertinya Yuna tidak memilikinya meski sudah banyak menangis karena pria bernama Jungkook. Jika di ingat banyak hal yang membuat wanita itu bisa bangkit lebih dari dimana ia tertekan, seperti halnya kehilangan pada umumnya yang akan memberikan kita pelajaran.


Kehadiran seseorang di hidup kita jika tidak menetap maka menghilang, betul di setiap perjalanan kita akan menemukan hal tersebut entah memberikan pelajaran agar menjalani lebih baik atau memang akan berjalan bersama itu semua pilihan.


Tangisnya memang selesai pada saat ini tapi lukanya akan tetap membekas sampai ia tua nanti dan memiliki anak cucu kelak jika memang Yuna bisa melihat Yu-Jung memiliki cintanya.


Meski harus mengurus anak hingga membesarkannya nanti tekad Yuna akan tetap kuat bahwa ia mampu menyelesaikan sendiri tanpa bantuan siapa pun termasuk kedua orang tuanya yang takutnya akan merepotkan jika terus menerus.


...****************...


Mentari pagi datang memberikan semangat untuk setiap orang yang memiliki aktivitas selain tidur di atas kasur.


Seperti Yuna contohnya yang sudah memandikan Yu-Jung sebelum ia berangkat kuliah. Sebagai mahasiswa serta Ibu yang baik wanita itu harus mengatur jadwal untuk keduanya termasuk mencari pekerjaan tambahan untuk kebutuhannya beserta anak.


Kedua orang tua Yuna tidak mengetahui bahwa selama beberapa hari ini wanita itu sedang mencari pekerjaan sebagai pelayan di salah satu cafe yang tidak jauh dari kampus.


Setiap hari Yuna akan pulang begitu malam karena bekerja, tugas kampus serta yang lain. Jika di tanya apakah wanita itu lelah? Maka jawabannya tentu.


"Aku pergi, tolong jaga Yu-Jung!"ujar Yuna bergegas ke halte bus.


Sialnya bus yang akan Yuna tumpangi pergi tanpa ada dirinya di sana, wanita itu hendak berlari mengejar tapi tidak mungkin. Untungnya selalu ada sepeda yang sengaja di sediakan oleh pemerintah untuk umum menggunakan aplikasi di handphone.


Akhirnya sampai di kampus, dengan membanggakan diri Yuna menyimpan sepeda tersebut sebelum ia pergi ke dalam.


Sebelum itu Yuna bertemu dengan Melissa yang menatapnya keheranan.


"Sepeda?"


"Terlambat, bus sudah melaju kencang maka aku memilihnya."


"Baiklah."


"Aku sudah lama tidak melihat Delon, dia kemana?"


"Dia tidak akan ke kampus lagi, tempat sekarang hanya di rumah sakit mengurus pasien."


"Ah aku lupa!"


Kedua sahabat tersebut segera pergi ke kelas masing-masing untuk menyelesaikan tugas kulaih yang harus di kumpulkan.


Dosen yang akan masuk ke kelas Yuna adalah Gerld dengan segala rupa tampan pria itu. Tentu banyak mahasiswa yang tidak akan melewati mata pelajarannya.


"Yuna, duduk di sini!"ujar salah seorang wanita di kelasnya.


Jujur saja Yuna tidak pernah bercengkrama dengan wanita itu, ini kali pertama dan harusnya yang terakhir kali juga.


"Apa kamu mengenal dosen itu?"


"Yang mana?"


"Yang akan mengajar sekarang, apa kamu mengenal baik?"


Tepat sekali bukan, semua orang akan hadir karena ada maunya saja.


"Tidak, memangnya kenapa?"


"Aku kira kamu mengenalnya dengan baik, orang-orang menggosipkanmu dengan dosen tersebut. Apa kamu tidak tahu?"


"Apa? Tolong ulangi lagi."


"Kamu berkencang dengan dosen tersebut? Beritanya sudah menyebar di kampus. Coba kamu lihat!"


Yuna segera merogoh handphonenya untuk melihat pemberitahuan tersebut dan benar saja itu semua nyata. Wanita itu segera menutup mulutnya lalu pergi menuju ruang dosen.


Di sepanjang jalan wanita itu terus di tatap tajam oleh beberapa mahasiswa serta gumaman yang membuat Yuna segera berlari.


"Ada apa? Berlari dengan tergesa seperti itu."ujar Gerld yang hendak pergi ke kelas.


Dengan wajah pabik Yuna memperlihatkan gosip di handphonenya."Apakah Bapak sudah tahu?"


Gerld menggeleng,"Biarkan saja, sebentar lagi juga akan berlalu. Sebaiknya kamu segera kembali ke kelas jangan mengurusi hal yang tidak penting seperti itu."


"Tap-"


"Sudah Yuna, biarkan saja."


"Tapi apa Bapak tidak merasa nyaman?"


"Say-"


"Iya Pak, apa?"


"Sudahlah Yuna, segera masuk ke kelas kalau tidak kamu akan saya anggap absen."


Gerld pergi dari hadapan Yuna menyisakan dirinya yang masih termenung di sana.


"Apa dia tidak risih?"