Mr. Jungkook's Naughty Wife

Mr. Jungkook's Naughty Wife
BAB 45



"Selamat siang.."ujar dokter muda yang berada di ambang pintu tersebut.


Mata Yuna terus terbelalak sempurna ketika dokter tersebut tersenyum bahkan berjalan mendekat.


"Kalian saling kenal?"tanya Ibunda Yuna karena anaknya itu terlihat terkejut.


"Bentar, bentar, kenapa..."


"Kamu dokter?"sambung Yuna.


Kevin tersenyum, anggukan pelan membuat Yuna semakin lemas.


"Astaga!"


"Yuna, ada apa?"


"Kami memang pernah bertemu, di salah satu tempat. Benarkan Yuna?"tanya Kevin dengan gaya cekikikan yang di tahan.


Melihat Kevin yang hendak tertawa membuat Yuna memberikan kode agar tidak mengatakan bahwa ia pernah berada di suatu tempat yang di larang.


"Dimana?"


Yuna tersenyum,"Hanya di kantin sewaktu kalian sedang tidak ada."


"Apa betul?"


Kedipan mata Yuna terarah pada Kevin yang tidak hentinya tersenyum penuh kecurigaan.


"Betul."


Huh.. Syukur saja Kevin berbohong tentang apa yang sudah Yuna lakukan, jika tidak matilah dia.


"Baiklah, sekarang kita mulai."ujar perawat yang segera menyuruh Yuna untuk meletakkan tangannya agar bisa melakukan cek lebih lanjut.


"Apa sakit?"


"Tidak, seperti di gigit semut."ujar Kevin.


Yuna pasrah, ia segera menyerahkan tangan sebelah kiri untuk di periksa termasuk mengambil sebagian darahnya.


"Aww sakit!"ringis Yuna seperti anak kecil.


"Katanya seperti di gigit semut, kalau ini rasanya seperti di gigit harimau!"kesal Yuna cemberut.


Semua orang yang berada di sana tertawa mendengar ucapan Yuna yang lucu seperti anak kecil.


"Hasil pemeriksaan akan di berikan setelah satu jam, maka biar nanti perawat yang kemari. Sebelum itu saya permisi."


Yuna masih menggeleng cepat tidak menyangka bahwa pria yang ia temui adalah seorang yang begitu berwibawa di rumah sakit, tentu berbeda 180° dari penampilannya.


"Sejak kapan kamu kenal dengan dokter muda yang tampan itu?"tanya Ibunda Yuna seakan melihat berlian.


"Suka? Ingat umur."


"Tampan dan pekerja keras, apa kamu yakin tidak mau?"


"Aku sedang hamil anak Jungkook, untuk apa aku mencari yang lain?"


Deg!


Jantung mereka berdua berdeguk kencang seakan kembali mengingat segalanya.


"Maaf karena sudah mengingatkan tentang mendiang Jungkook,"ujar Ibunda Yuna merasa tidak enak.


Yuna tersenyum,"Tidak masalah, sudah berteman dengan keadaan. Jika memang ingin membicarakam tentang dia maka lakukanlah, mungkin pria itu akan semakin senang karena terus mengingat tentangnya."


"Yuna, kamu tahukan setiap orang tua hanya menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Jika dia tahu kamu bersedih seperti ini sampai tidak ingin membuka hati, bayangkan bagaimana? Pasti sedih."


"Tapi bukankah aku perlu waktu?"


"Tentu Yuna, kamu perlu waktu untuk segalanya termasuk masa depan untuk melanjutkan hidup."


"Terimakasih."


Mereka berdua berpelukan hangat layaknya Ibu dan anak.


Satu jam berlalu, benar saja seorang perawat masuk ke dalam ruang rawat yang hanya ada Yuna seorang diri.


"Nona, ini hasilnya. Mohon di baca dan di pahami, kesimpulannya Anda sudah boleh pulang tapi ada syarat yang perlu di penuhi."


"Syarat? Oh baiklah."


Yuna merasa sudah mengerti untuk semua yang ia pegang, tentu hasilnya. Tapi hatinya ingin bertanya satu hal tentang dokter muda bernama Kevin tersebut, bukan soal pacar atau yang lain tapi lebih tepatnya sejak kapan menjadi seorang dokter.


"Suster!"


"Iya, ada yang bisa saya bantu?"


"Boleh bertanya?"


"Boleh silahkan."


"Sejak kapan dokter Kevin menjadi dokter di rumah sakit ini?"tanya Yuna sambil tersenyum.


"Sekitar tiga tahun, dokter Kevin baru saja menyelesaikan spesialisnya dengan waktu dua tahun."


"WOW!"


"Betul, dokter Kevin memang sangat pintar. Jika tentang asmaranya, ia sudah memiliki tunangan yang baik dan perhatian juga. Dokter Asila yang merupakan dokter gigi di rumah sakit ini, mereka sudah dari kecil bersama."


Sama seperti Yuna & Jungkook.


"Oh begitu, terimakasih."


"Sama-sama, kalau begitu saya izin pamit."


Yuna termenung, ternyata bukan hanya dirinya yang sudah saling kenal sejak lama. Sialnya nasib mereka berbeda, Kevin dan tunangannya masih bersama sampai saat ini berbeda dengan Yuna yang seorang diri.


Jahat sekali takdir!


"Yuna, bagaimana hasilnya?"tanya Ibunda yang segera merebut selembar kertas di tangannya.


"Kamu bisa pulang sore ini Yuna, tapi dengan syarat harus istirahat dan makan yang bergizi."


"Makan melulu, istirahat juga. Aku ini seorang mahasiswa kedokteran, apa itu tidur?"


"Tapi kamu harus sadar ada seorang bayi di perutmu!"


"Betul, tap-"


"Yuna, kamu itu mengandung seorang janin. Malaikat kecil di dalam diri kamu, jangan pikirkan egomu!"


Anggukan lesu dari Yuna untuk Ibunya yang selalu berkata seperti burung beo.


Entah dua jam berlalu, dua sahabat Yuna mengetuk pintu kamar rawat inap yang terlihat jelas bahwa wanita tersebut tengah tertidur lelap. Dengan perlahan mereka masuk, tapi tidak seorang pun yang menjaga di dalam.


"Apa kita bangunkan?"tanya Melissa.


"Jangan!"


"Lalu kita hanya melihat Yuna seperti ini saja?"


"Kalau di bangunkan nanti dia tidak cukip istirahat."


"Baik Pak, dokter.."ujar Melissa sekalian mengejek.


Mereka hanya duduk saja, melihat raut wajah Yuna yang tertidur pulas.


"Kita kemari hanya untuk menonton pertunjukan tidur Yuna?"


"Bercanda terus Melissa!"


"Kalau tidak? Ini kan kenyataanya."


Ketika kedua orang itu sedang berdebat, tanpa di sadari ada satu orang yang senang melihatnya hingga...


"DAAAR!"


"Ah kaget!"teriak Melissa memeluk Delon dengan kencang.


"Cie, kalian sudah kencan ya?"tanya Yuna usil.


"TIDAK!"jawab mereka secara bersamaan.


Saling tatap sampai akhirnya mereka mengipaskan kedua tangan ke baju setelah pelukan tersebut.


"Teruskan, teruskan saja. Aku tidak melihat!"


"YUNA!"


Seperti persahabatan pada umumnya, mereka mengobrol tentang banyak hal yang begitu random bahkan tentang orang yang baru mereka temui dengan kelucuannya.


"Bagaimana kondisimu saat ini?"


"Sore ini sudah bisa pulang."


"Kenapa sebentar?"tanya Melissa dengan tidak merasa bersalahnya.


"MELISSA!"teriak Yuna dan Delon tepat di lubang telinga wanita tersebut.


"Aku tidak tuli!"


"Tapi otakmu itu.."ujar Delon gemas serasa ingin mencaci maki Melissa dengan banyak omongan.


"Sabar Delon,"ujar Yuna.


Gelak tawa mereka pecah, hingga akhirnya sunyi ketika Kevin masuk ke dalam ruangan tersebut. Entah apa yang akan ia lakukan, mungkin pengecekan terakhir.


"Ada apa?"tanya Yuna.


"Kak Kevin kan?"tanya Delon menghampiri dokter muda berparas tampan tersebut.


"Delon?"


"Betul!"


Mereka berpelukan, ternyata keduanya adalah sahabat ketika di fakultas kedokteran dulu. Tapi memang bahwa Delon adik kelasnya ketika Kevin sedang KOAS.


"Kita saling kenal, kakak kelasku."ujar Delon tersenyum senang tidak menyangka bisa bertemu kembali.


"Wah ternyata memang jodoh!"


"Kak Kevin ini merupakan pasangan yang sangat cocok dengan kak Asila. Bagaimana hubungan kalian?"


"Masih baik, bulan depan kami akan menikah. Jangan lupa datang, awas saja kalau tidak."ancam Kevin.


"Tentu, aku banyak berdoa baik untuk kalian. Sekarang kak Aslia dimana?"


"Ada di ruangannya, sedang sibuk."


Singkatnya Yuna sudah bisa pulang, ia sedang berganti pakaian sedangkan Ibunya mengemasi beberapa barang.


"Terimakasih Kevin, semoga pernikahan kalian berlangsung dengan lancar. Selamat tinggal, ini jaket milikmu waktu itu."ujar Yuna memberikan satu bingkisan berisikan jaket yang sudah bersih di cuci.


"Tidak masalah, selamat tinggal. Semoga anakmu sehat selalu, ingat makan dan istirahat."


"Tentu."