Mr. Jungkook's Naughty Wife

Mr. Jungkook's Naughty Wife
BAB 48



Yuna membersihkan tubuh Jungkook yang terbelit alat, dengan perlahan ia terus membersihkan setiap kulit milik pria itu dengan lembut. Manik mata tidak luput memandangi pria di hadapannya dengan letak, berharap ia segera terbangun dari tidur panjangnya.


Di dalam ruangan itu kini hanya ada dua orang yang masih saling mencintai meski sang pria di bawah alam sadar, namun wanita setia di sampingnya akan tetap mengurus dengan baik.


Bayi di sampaing mereka tertidur pulas seakan mengerti bahwa sang Ibu tengah kerepotan dengan Ayahnya, anak yang baik.


Lengkung senyum tergambar nyata ketika Yuna melihat dua pria tampan tertidur di sampingnya, ia kini sudah memiliki pelindung di hidupnya dua orang yang akan mencintai hingga hari tua.


Ketika melirik jam tangan di pergelangan sebelah kiri Yuna mulai tersadar bahwa ia memiliki jam di kampus, dengan segera wanita itu menelepon Jimin yang sudah siap siaga untuk menggantikan berjaga termasuk bayi yang akan di jaga oleh perawat khusus.


Yuna memberikan kecupan untuk kedua pria miliknya sebelum ia pergi berganti dengan Jimin.


"Tolong jaga mereka, Jimin."ujar Yuna sebelum pergi.


"Baik Nona."


Melangkah pergi dari rumah sakit, Yuna terus menguatkan dirinya sendiri. Mengurus anak dan suami memang pekerjaan berat untuknya yang tengah menjadi mahasiswa sekaligus setelah melahirkan, tapi rasa bahagia selalu tercipta dengan hal sederhana.


Tuhan baik kepada Yuna, sudah mempertemukan kembali dengan Jungkook meski dalam keadaan yang sekarang tapi ia tetap berterimakasih. Kesempatan kedua tidak akan lepas begitu saja, Yuna janji.


Sesampainya di kampus, Yuna memilih untuk segera menyelesaikan tugasnya. Tentu ia juga meminjam beberapa buku sebagai referensi nanti belajar ketika malam di rumah sakit.


"Bagaimana? Sudah jauh lebih baik?"tanya Melissa yang tengah menunggunya di perpustakaan.


"Sudah."


Melissa tidak tahu bahwa Jungkook masih hidup, karena Jimin meminta Yuna agar tidak ada yang tahu selain keluarganya. Meski terlihat tidak adil tapi Jungkook selalu dalam bahaya maka harus berwaspada.


"Aku ke kelas dulu, dah."


Yuna berjalan seorang diri, menelusuri koridor serta taman hingga akhirnya sampai di kelas. Belum banyak orang yang ada di sana, hanya lima orang saja termasuk Yuna.


"Bagaimana keadaan anakmu, Yuna?"tanya salah seorang yang membuat Yuna tersenyum, ia masih ingat dengan orang yang sudah berkata jujur kala itu.


"Baik, dia sehat."jawab Yuna.


Lima menit berlalu, kelas mulai di isi sepenuhnya sampai tibalah dosen baru yang akan membimbing mereka. Ketika masuk, mata Yuna membelalak tajam. Seorang pria yang familiar, tentu saja mereka pernah berpapasan beberapa kali. Itu orang yang aromanya mirip dengan Jungkook ketika di cafe.


"Perkanalan nama saya Gerld, dosen yang akan memberikan materi hari ini. Silahkan di persiapkan, catat semuanya."


Wajahnya tampan dengan potongan rambut yang seperti artis Korea, tinggi badannya semampai sekitar 190 cm. Tenang saja hati Yuna sudah di isi oleh orang lain, tidak akan ada alur yang membuat wanita itu berlain hati pada dosen muda di depannya.


Pasti!


Dosen bernama Gerld terus menjelaskan sampai pada sesi pertanyaan yang membuat Yuna berdiri agar bisa mendapatkan nilai tambahan.


"Bagus, jawabannya tepat. Kamu terlihat memperhatikan lebih dari yang lain, contoh dia."


Yuna menghela napas tenang, rupanya pria yang sedang menerangkan tersebut tidak memiliki dendam kusumat karena sudah bertemu dalam keadaan kurang baik syukurlah.


"Yuna!"


Panggilan yang membuat wanita tersebut memundurkan langkahnya kembali ketika kelas selesai.


"Iya, ada apa Pak?"tanya Yuna dengan cemas takutnya akan di mintai pertanggung jawaban.


Mana mungkin dia menganggap Yuna penguntit? Benarkan!


"Kamu tidak ingat?"


Yuna menggeleng, berbohong tidak mengingat wajah di depannya.


"Baik, silahkan pergi."


Setelah semuanya selesai, Yuna segera kembali ke rumah sakit untuk melihat perkembangan Jungkook dan anaknya.


Singkatnya Yuna sampai di rumah sakit, ia berjalan menuju ruang inap Jungkook. Ketika masuk di dalam sudah ada Jimin yang sudah setia menunggu.


"Apa tadi Seol menangis?"tanya Yuna yang di jawab gelengan oleh Jimin.


Entah sampai kapan akan seperti ini, menunggu pria itu tersadar dari komanya.


Ketika mereka bersedih, dokter datang untuk mengecek keadaan Jungkook.


"Dia akan tersadar, tenang saja."


"Eh, Yuna!"


Yuna yang menunduk lesu segera menongak melihat dokter yang memanggilnya, suaranya memang tidak asing.


"Pak dosen?"


"Sedang apa?"


"Dia suamiku."ujar Yuna dengan senyuman.


"Oh begitu."


Pemeriksaan sudah di lakukan, dosen yang ternyata termasuk dosen Yuna yang baik tersebut meminta wanita itu untuk mengikutinya.


Di ruangan berbau obat yang menyengat, dokter menjelaskan keadaan Jungkook saat ini. Sebagai mahasiswa kedokteran tentu Yuna paham betul akibatnya.


"Jadi Jungkook tidak bisa berjalan?"tebak Yuna yang membuat dokter tersebut mengangguk.


Yuna termenung sedih.


"Tenanglah, dia masih bisa berjalan. Asalkan ada dukungan. Akibat kecelakaan yang terjadi kepadanya membuat beberapa saraf mulai melemah terlebih ia sudah satu tahun lebih terbaring di sana. Itu akan membuatnya sulit untuk menggerakkan kakinya kembali."


"Baik dokter, eh Pak dosen."ujar Yuna kikuk.


"Sungguh, saya tidak menyangkan bahwa suamimu itu Jungkook. Saya paham perasanmu Yuna, tapi bagaimana pun kamu harus tabah menerima ini semua. Termasuk anak tampan yang sudah kamu lahirkan, siapa namanya?"


"Sampai saat ini saya belum memberinya nama, hanya panggil saja Seol."


"Bagus, saya paham bahwa kamu ingin Ayahnya yang memberikan nama. Syukurlah kalau kalian bisa bersama lagi, saya doakan tidak ada hal jahat yang menimpa kalian kembali."


Banyak kalimat penguat yang di lontarkan, setelah semuanya selesai Yuna kembali lagi ke ruangan. Tidak menyangkan Ibunya datang membawakan makanan dan buah untuknya, padahal Jimin tidak pernah membiarkan Yuna kelaparan.


"Bagaimana perkembangannya?"


"Jungkook mungkin lumpuh karena kecelakaan itu, apalagi ia koma selama ini yang membuat saraf-sarafnya lemah."


"Tenangkan dirimu, kita pasti bisa melaluinya. Jungkook juga akan berjuang agar kalian bisa bersama buktinya dia masih bertahan selama ini."


"Tentu, terimakasih."ujar Yuna memeluk Ibunya dengan lekat.


Mata sendu Yuna menggambarkan segalanya, lelah menjalani segalanya secara bersamaan tapi keiklasan dan cinta yang membuatnya bertahan hingga sejauh ini. Ia yakin suatu saat nanti kedua pria tersebut akan bangga dengan perjuangan Yuna.


Yuna memakan makanan yang di bawa oleh Ibunya, ia segera menghabiskan semua tapi ada juga makanan terpisah untuk Jimin.


"Kalian tenang saja, wanita kuat ini tidak akan menyerah begitu saja. Aku hebat karena ada kalian!"ujar Yuna dengan bangga pada dirinya sendiri.


Malam datang, Yuna tengah mengerjakan tugas kuliahnya termasuk membaca buku yang entah ada berapa berderet di sana. Jimin yang melihatnya saja di buat merinding.


"Nona masuk kedokteran?"tanya Jimin.


"Iya, aku harus menjadi seorang dokter. Bagaimana pun aku suka menolong dan melihat orang bahagia ketika berhasil terselamatkan."


"Semangat Nona, jika Tuan tahu ia akan lebih mendukung Nona. Tidak ada wanita sebaik Nona di dunia ini yang sampai saat ini menemani."


"Kamu terlalu berlebihan."


"Saya benar, Nona hebat!!"


Tanpa mereka berdua sadari pria yang tebaring di brankar tengah menggerakkan jemarinya.


Yuna....