Mr. Jungkook's Naughty Wife

Mr. Jungkook's Naughty Wife
BAB 39



Yuna berjalan kaki menelusuri koridor di rumah sakit karena akhir-akhir ini tubuhnya tidak sehat, sering pusing, mual dan tidak nyaman ketika mencium wewangian.


Ketika baru masuk ke dalam ruangan dokter semerbak bau khas rumah sakit membuat Yuna merasakan mual yang hebat.


"Nona tidak apa-apa?"tanya perawat yang sigap memapah Yuna.


"Boleh saya cek?"tanya dokter yang membuat wanita itu mengangguk.


"Silahkan dokter."


Setelah beberapa menit senyap, dokter yang tengah memeriksa keadaan Yuna malah tersenyum.


"Hamil ya?"


Yuna terkejut hingga kedua matanya terbelalak."Hamil?"


"Iya, apa Nona menikah muda?"


Sungguh, Yuna tidak mengerti kenapa ia bisa hamil padahal ia tidak per...


Seketika ingatan Yuna kembali mengingat tentang apa yang pernah ia lakukan dulu, tapi kenapa bisa seperti ini? Bukankah...


"Tolong dokter, saya tidak hamil!"


"Saya sudah memeriksanya, kalau mau lebih lanjut silahkan pergi ke dokter kandung yang ada di sebelah ruangan saya."


Sigap Yuna mendatangi dokter kandungan tersebut untuk melihat hasilnya, ternyata ia memang mengandung anak Jungkook selama dua minggu.


Pertanyaan nya bagaimana bisa? Mereka hanya melakukannya satu kali.


"Apa mungkin melakukan satu kali bisa hamil?"tanya Yuna takut.


Dokter menjawab bahwa ke hamilan bisa saja terjadi jika keduanya memang subur meski di lakukan satu kali.


"Apa Ayah bayinya ada?"


Wajah Yuna murung,"Dia sudah meninggal."


Semua yang berada di ruangan tertunduk lesu,"Kami turut berduka."


Dokter meresepkan beberapa obat serta vitamin penguat janin agar bayi yang di kandung Yuna bisa lahir dengan sehat.


"Terimakasih dokter,"ujar Yuna pergi.


Ketika berjalan menuju ke rumah Yuna merasa hancur, bukan menyesal karena sudah mengandung anak Jungkook hanya saja sedih menerima anaknya harus lahir tanpa sosok seorang Ayah nantinya.


Ketika melamun di jalan hampir saja kaki Yuna tergelincir akibat batu yang berada tepat di depannya.


"Mama akan melindungimu, Nak."


Yuna tersenyum sambil mengelus perut yang berisikan toge kecil.


"Sehat-sehat ya,"sambung Yuna kembali.


Perasaan Yuna sudah tidak enak seakan ada yang memperhatikan dari kejauhan, dengan sigap wanita itu pergi berjalan cepat.


Sesampainya di rumah Yuna menghampiri Ibunya yang tengah memasak untuk makan malam, melihat wajah anaknya suram membuat sang Ibu khawatir.


"Ada masalah apa?"


Yuna menggeleng, tidak berani mengatakan bahwa dia sedang hamil.


"Ada apa? Wajahmu kusut sekali."


Dengan keberanian setipis tisu Yuna memberikan surat pernyataan kehamilan miliknya."Aku hamil anak Jungkook."


Singkatnya Ibunda Yuna terkejut, menatap anaknya bergantian dengan perut yang di elus Yuna.


"Apa ini serius?"


Yuna mengangguk,"Serius, kami hanya melakukannya sekali."


"Lalu bagaimana sekolahmu?"


"Sepertinya baik-baik saja, aku akan menjelaskannya."


"Tidak, hanya khwatir akan masa depanmu. Jangan sampai keluarga Jeon tahu kalau tidak anakmu ini akan mereka renggut."ujar Ibunda Yuna.


Lemah lembut perlakuan sang Ibu membuat Yuna tenang, hal seperti ini memang sudah lumrah terjadi maka mereka tidak akan menimbulkan reaksi berlebih.


"Jaga dirimu dan bayi di kandunganmu ini Yuna. Ingat dia anak Jungkook yang akan selalu menjadi incaran orang jahat."


Yuna mengangguk,"Aku tidak akan membiarkannya terluka."


Malam berganti semua orang kini tengah tertidur lelap, selain Yuna. Wanita itu tengah mengobrol dengan anak yang bahkan belum bisa mendengar, rupanya ia sudah menerima kelahiran anak tersebut nantinya. Bagaimana juga anak ini tercipta atas cinta.


"Nak, suatu saat nanti jika kamu tahu bahwa Ayahmu orang yang hebat maka kamu akan sangat bangga kepadanya."ujar Yuna.


Beberapa kalimat yang di ucapkan Yuna membuatnya tersenyum senang, tidak masalah jika orang yang ia cintai kini sudah bahagia di alam yang berbeda setidaknya ia kini memiliki tunas orang tersebut di dalam janinnya.


Entahlah di hidup Yuna sosok Jungkook selalu mengawasi dari langit yang tengah ia tatap, seakan ada satu bintang yang bersinar lebih terang. Mitosnya orang yang meninggal akan tetap memperhatikan kita melalui langit karena ia sudah berubah menjadi bintang. Yuna berharap Jungkook pun sama tetap menjaganya lewat sana.


Kerinduan memang selalu ada, apa lagi ia akan melahirkan anak yang tidak pernah ia sangka akan hadir di hidupnya sebagai pengingat serta pemudar kesedihan.


"Aku selalu merindukanmu Jungkook,"setelah kalimat tersebut Yuna tertidur lelap.


...****************...


"APA? HAMIL?"tanya dua sahabatnya yang terkejut bahkan tidak menyangka.


"Bukankah kamu.."


"Sebelum aku pindah aku punya seorang tunangan dan aku melakukan hubungan suami istri padahal hanya satu kali. Sekitar enam bulan lamanya akhirnya kami berpisah, lalu aku menerima kabar ini kemarin. Tapi jaraknya jauh sekali, apa itu mungkin?"


Delon menerka-nerka apa yang di ucapkan oleh Yuna,"Mungkin saja bila Tuhan berkehendak."


"Tapi jaraknya lama, sekitar enam bulan."


"Tapi bisa saja kan?"


Melissa mencari tahu melalui media sosial dan kenyataan memang bisa terjadi,"Lama juga pembuahannya."


Delon memang sayang kepada Yuna tapi ia tidak tahu bahwa wanita itu sudah memiliki seseorang di hati, sekarang lebih parahnya hamil sudah tidak ada kesempatan untuknya.


"Sudah periksa?"tanya Delon.


"Kan kemarin, entah berapa hari lagi akan periksa. Apa aku bisa membesarkannya?"


"Bisa Yuna kamu harus semangat!"


"Apa aku bisa terus menjadi dokter,"tanya Yuna pada Delon.


Dengan anggukan Delon menjawabnya,"Bisa saja tapi jika kamu mampu mengimbanginya. Hanya sembilan bulan dan selanjutnya kamu akan fokus kembali."


Betul juga!


Setelah perkumpulan antara ketiga orang itu mereka kembali pada aktivitas biasanya. Sementara Yuna tengah berjalan seorang diri dengan hati-hati takut ada sesuatu yang membuatnya terluka, bukan dia tapi bayinya.


Manik mata Yuna menatap permen gulali di depannya seperti memiliki rasa enak yang tiada tara, namun sebelumnya ia tidak pernah menyukainya. Apa ini karena keinginan bayi? Ngidam namanya.


Rasanya beribu kali enak saat ia menjilat permen tersebut, ah begini rupanya menjadi wanita hamil apa pun yang tidak di sukai akan menyukai jika memang bayi yang menginginkannya.


Andai Jungkook ada, akan sebahagia apa di jika melihatnya. Yuna kembali sedih, entah ia lebih sensitif belakangan ini.


"Jungkook, aku rindu."ujar Yuna pelan.


Sebelum pulang Yuna membeli buku terlebih dahulu, kali ini dongen anak kecil untuk anaknya nanti. Bukankah terlihat berlebihan?


Bibir Yuna tidak hentinya tersenyum, menatap setiap inci buku yang berjejer di rak tepat di depannya. Ketika ia menemukan buku yang dapat membuatnya tertarik tanpa pikir panjang ia segera membelinya.


Tapi lagi-lagi hati Yuna merasa cemas ketika melihat ada seorang laki-laki berpakaian serba hitam sama percis seperti waktu itu, jantungnya terpompa lebih cepat.


Setelah membayar buku di kasir Yuna segera pergi mencari tempat aman seperti di antara kerumunan.


"Syukurlah aku bisa bebas."


Yuna selalu curiga dengan orang yang selalu mengikutinya sebetulnya apa mau dia? Semakin banyak ketakutan yang menimpa pikirannya terutama ada yang harus ia jaga.