Mr. Jungkook's Naughty Wife

Mr. Jungkook's Naughty Wife
BAB 21



Sekolah di hebohkan oleh penampakan seorang laki-laki berkuda hitam dengan pengawal di belakangnya. Sungguh membuat mata terpanah, serta hati yang tidak baik-baik saja ketika melihat aura yang terpancar.


"Hei, boleh panggilkan siswi bernama Shin Yuna?" tanya laki-laki berkuda besi itu.


"Shin Yuna?" tanya sekumpulan anak laki-laki remaja dengan wajah kebingungan.


"Sudah, sudah tidak jadi. Terimakasih."


Tanpa bertanya pada siapapun. Ia langsung merogoh handphone di dalam saku celananya.


"Segera ke depan, atau aku yang menerobos masuk? Atau meminta kepala sekolahmu yang menyeretmu?"


Kalimat itu yang terucap dari mulut tajamnya.


Sekitar lima menit lamanya, akhirnya wanita yang di tunggu datang dengan napas tersengal-sengal karena berlari.


Ketika langkah kakinya terhenti, sorot mata menatap kedepan. Alangkah terkejut ketika melihat penampilan Jungkook.


"Kemarilah istri kecilku." ujar Jungkook dengan gayanya.


Yuna menghela napasnya, dengan cepat ia meminta Jungkook agar pergi dari sana.


"Mencari mati? Sedang apa disini?" tanya Yuna cemas. Satu yang ia takuti, Hina melihat ini semua.


"Kamukan kemarin malam mabuk, jadi aku bawakan sup dan boneka beruang ini untuk menemanimu di kelas." ujar Jungkook.


"Dan lihat, apakah kamu merasa aku jauh lebih muda? Tampankan?" sambung Jungkook bertanya dengan wajah sombong.


"Jeon Jungkook. Bisakah pergi? Ini bukan waktunya untuk bercanda. Lihatlah di sekitarmu, banyak yang memperhatikan." ujar Yuna menyuruh Jungkook pergi.


"Ayolah!" ujar Yuna sedikit mendorong.


"Ambil supnya, dan.."


"Sup aku ambil, tapi tidak dengan boneka di belakangmu. Ini sekolah, simpan saja di rumah." ujar Yuna.


"Tapi kamu makan ya.."


"Iya Jungkook."


"Aku tampankan?" tanya Jungkook sambil menyalakan mesin motornya.


"Sangat tampan sehingga aku ingin membunuhmu." ujar Yuna.


Mendengar itu sudah membuat Jungkook bahagia setengah mati.


"Baik aku pergi. Kalau begitu sampai jumpa!" ujar Jungkook pergi dengan motor besarnya.


Yuna menggelengkan kepalanya. Kelakuan Jungkook sekarang makin aneh saja.


Hingga...


"Yuna. Sedang apa?" tanya Hina yang hampir membuat jantung Yuna copot.


"Hin..na?" tanya Yuna kikuk.


Hina mengerutkan keningnya,"Ada apa denganmu? Apa ada yang salah?"


"Tidak, aku.."


"Itu dari siapa? Aku dengar dari anak-anak bahwa ada laki-laki yang mencarimu. Siapa? Pacarmu ya?" tanya Hina dengan runtut.


"Bukan, itu hanya temanku."


"Aku heran, sejak kapan kamu dekat dengan laki-laki selain Sunoo dan Haruto."


"Ah sudahlah jangan di pikirkan. Mari kita masuk kedalam."


"Tap.."


"Ayolah.."


"Oke."


Huh.... Yuna selamat....


Jujur Yuna tidak ingin kucing-kucingan seperti ini dari Hina. Tapi setahu Yuna, jika sahabat kita mencintai laki-laki yang mencintai kita maka persahabatan itu akan hancur. Yuna tidak ingin hal itu terjadi pada mereka. Tidak ada ikatan yang bisa di gantikan dari pada persahabatan. Tapi lama kelamaan rahasia akan terbongkar juga. Apakah Yuna sanggup? Ah...


...****************...


Kelas di bubarkan lebih awal, Yuna dan Hina berencana untuk pergi menonton film terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk pulang. Tapi ketika mereka berada di dekat restoran, tiba-tiba perut mereka kelaparan.


"Aku ingin makan terlebih dahulu!" ujar Hina.


"Sama. Perutku sudah lapar."


"Kalau begitu kita makan dulu saja?"


"Ide yang bagus!"


Mereka berdua masuk ke restoran. Alangkah sialnya, hari yang buruk untuk Yuna tapi sebaliknya untuk Hina.


"Yuna, lihatlah itu Tuan Jungkook!" ujar Hina dengan histeris.


Yuna menatap tajam kearah telunjuk Hina. Sial, benar saja!


"Itu memang dia kan? Aku tidak salah lihat!" ujar Hina.


"Kita makan di tempat sebelah sana," ujar Yuna. Tapi Hina menolah, dia ingin dekat dengan meja dimana Jungkook berada. Mati sudah!


"Yuna, kamu kenapa terlihat tergang? Apa sedang tidak enak badan?" tanya Hina.


"Bukan begitu, sepertinya kita harus mencari restoran lain. Disini kurang enak." bisik Yuna.


Hina menggeleng,"Enak kok kan ada Oppa ganteng di sana."


"Oppa? Mata kamu sepertinya buta." ujar Yuna.


"Dia sudah tua!"


"Tapi di mataku dia masih muda."


"Huh terserah. Kamu memang keras kepala."


"Aku mohon Yuna, aku mau melihat dia. Postur tubuhnya sangat indah."


Memang! Balas Yuna dalam hatinya.


"Kalau aku tidur dengan dia sepertinya akan indah sekali!" ujar Hina berhalusinasi.


Aku sudah mencobanya! Batin Yuna.


"Sudah, kita pesan makan saja."


Sebenarnya ketika Yuna makan. Jungkook selalu saja memperhatikannya dan itu berlaku sebaliknya. Tapi Yuna masih takut Hina tahu.


"Yuna? Kamu masih memiliki dendam dengannya?"


"Tentu saja. Aku sangat dendam dengannya!"


"Jangan dendam Yuna, itu tidak baik apalagi nanti dia akan menjadi suamiku." ujar Hina.


Yuna mengangguk,"Iya deh terserah."


Mata Yuna terbelalak ketika melihat Jungkook bangkit hendak menghampirinya. Gila memang. Sigap Yuna memberikan kode agar Jungkook diam di tempat atau tidak pergi saja.


Huh.... Yuna bisa bernapas lega sekarang karena Jungkook pergi dengan menyisakan pesan keramat yang seketika Yuna hapus.


"Ada apa? Melihat ke layar handphone mu saja. Makan!"


"Iya Nona!"


Singkatnya mereka berdua akan pulang dengan menggunakan bus kota. Tentu dengan terpaksa Yuna harus turun di dekat rumahnya. Padahal ia sudah pindah dan tinggal bersama dengan Jungkook.


"Selamat tinggal Yuna!" lambai tangan Hina ketika Yuna turun di halte dekat rumahnya.


"Dah!"


Yuna berpura-pura pergi. Tapi ketika bus itu sudah melesat jauh, Yuna memesan taxsi untuk pulang. Dompet Yuna akhirnya kering, tapi tenang ada Jungkook sebagai sugar daddy.


Sepuluh menit berlalu, akhirnya Yuna sampai di depan mansion milik Jungkook yang jaraknya cukup jauh.


"Nona Yuna?" tanya Jimin.


"Huh. Ada apa Jimin?" tanya Yuna dengan penat.


"Kenapa baru kembali? Kenapa tidak menelepon saja? Biar saya yang jemput."


"Tidak masalah, saya punya ATM berjalan. Saya masuk dulu." ujar Yuna. Ternyata kesunyiam memakan banyak uang Yuna. Andai masih di apartement mungkin tidak akan seperti ini.


Dengan setelan baju tidur, Jungkook menenteng gelas kearah ruangan kerjanya.


"Dari mana saja kamu? Sudah lupa jam pulang?" tanya Jungkook sinis.


"Dan kenapa waktu di restoran tidak mau saya kesana? Malu dengan suamimu yang biasa ini?"


"Atau karena kamu ingin di anggap masih gadis huh?"


"Haaaaah....." Yuna duduk di lantai begitu saja sambil menghembuskan napasnya lega.


"Kenapa?" tanya Jungkook menghampiri.


"Aku hampir gila!" pekik Yuna.


"Memang kamu sudah gila Shin Yuna!"


"Boleh aku minta uang?"


"Memangnya aku ini mesin uang?" tanya Jungkook.


"Memang. Gara-gara pindah di sini kantongku jadi kosong, hilang semua."


"Kenapa? Sebenarnya kenapa dengan dirimu hari ini?" tanya Jungkook.


"Ceritanya panjang sepanjang harapan." ujar Yuna.


"Sekarang mandi dan makan. Lihatlah dirimu kotor sekali, menjijikkan!"


"Ohohohoo... Sudah berani ya? Baik, aku akan berhenti mencoba mencintaimu!" pekik Yuna sambil pergi berlarian menuju anak tangan.


"Baik, siap-siap saja untuk malam yang panas!"