
Yuna menatap kedua orang tuanya dengan lesu, sedangkan mereka tengah menunggu jawaban pasti dari anak gadisnya, tidak dia bukan gadis lagi melainkan wanita.
"Bagaimana pendapat-mu?"
Hembusan napas gusar Yuna terdengar nyaring,"Bagaimana dengan sekolah?"
"Kami akan mengurusnya, bagaimana? Lagi pula kami tidak tenang jika harus meninggalkan kamu seorang diri di sini. Dan terlebih lagi berita tentang dia yang sudah mau menikah, apakah kamu memiliki kenangan yang sulit di lupakan? Ayo ikut dengan kami pindah ke Swiss memulai semua hidup baru di sana. Lupakan segalanya tentang dia."
Yuna terdiam,"Apakah ini pikihan yang tepat?"
"Yuna kami tidak ingin melihat-mu sedih, jika kami ada di samping-mu itu kebih baik bukan?"
Dengan anggukan pelan Yuna setuju, ia akan memulai hidup yang baru di sana tanpa cinta atau pun merasakan jatuh cinta.
"Selama satu minggu kami akan mengurus segalanya di sini, lalu kita akan terbang ke sana."
"Baik."
Tidak ada yang bisa Yuna lakukan, alasan apa agar ia masih bisa di sini? Yuna sudah tidak punya orang yang dapat di jadikan sandaran, pilihan terbaik adalah ikut bersama kedua orang- tua.
...****************...
Waktu berlalu begitu cepat berlalu, kini saatnya Yuna meninggalkan setiap kenangan yang terukir di negera tercinta. Memang tidak menyimpan banyak kenangan bahagia, tapi Yuna senang berada di sana. Pengalaman indah seumur hidupnya.
Yuna memandangi setiap inci rumah yang selalu menyimpan gelak tawa, tidak lupa ia juga mengucapkan perpisahan kepada teman sekolahnya. Ia juga mendatangi apartemen yang pernah di tinggalinya bersama Jungkook, memang tidak berkesan lebih namun bagaimana juga ia pernah tinggal di sana. Yuna sudah berteman dengan luka dan menganggap-nya sebagai pelajaran.
Bandara adalah tempat paling tulus untuk merasakan pelukan perpisahan, seperti saat ini yang tengah di lakukan dua sahabat itu. Mereka berpelukan dan saling berjanji untuk selalu mengabari satu sama lain.
"Janji ya Yuna, kamu harus selalu mengabari-ku apa pun itu. Aku tidak ingin kamu hilang begitu saja, karena kita kan sahabat selamanya." ujar Hina dengan air bening menetes dari sela matanya.
Yuna tersenyum, mana bisa ia mengabaikan sahabat terbaiknya. Kalian salah jika berpikir tidak ada sahabat terbaik, buktinya Hina. Ia tidak pernah menentang pilihan Yuna jika memang benar bahkan mendukungnya, itu termasuk alasan dimana Yuna tidak ingin menyakiti Hina.
"Aku pergi ya, selamat tinggal Hina. Jaga diri baik-baik, aku akan sangat merindukan-mu." ujar Yuna dengan senyum di paksakan.
Langkah kaki Yuna melangkah menjauh dari sana meninggalkan segalanya, terimakasih sudah menjadi bagian terbaik dari perjalanan kisah hidupnya.
selamat tinggal..... Jungkook..
Meski membenci Yuna tidak melupakan pria itu begitu saja, ia sudah terlanjur mencintainya. Namun getir hati Yuna mengatakan bahwa Jungkook meninggalkan-nya karena sebuah alasan dan pernikahan tersebut hanya palsu.
Itu hanya harapan, bukan kenyataan.
Sekitar tiga jam, akhirnya pesawat yang di tumpangi oleh Yuna mendarat di bandara. Ia menatap setiap lampu yang berbinar menerangi setiap sudut kota, indah sekali.
Tanpa sadar bibir Yuna melengkung dengan indah, ia mengatakan pada dirinya sendiri agar menjalani hidup lebih baik di sini.
Keluarga Yuna memang memiliki rumah di berbagai negara, termasuk Swiss yang akan menjadi tempat tinggal mereka secara permanen.
"Bagaimana, apa kamu suka kamarnya?" tanya Ibunda Yuna yang tengah membuka-kan satu kamar yang terdapat di lantai atas, itu kamar baru Yuna.
Yuna mengangguk dengan pelan, dekorasinya indah seperti kamar milik Yuna sebelumnya.
"Apakah kita akan hidup bahagia di sini?" tanya Yuna yang sontak membuat sang Ibu mengelus puncak rambut anaknya.
Yuna mengangguk.
Pikiran Yuna semakin dewasa, bukan tentang menonton video tidak senonoh atau hal lainnya. Kini ia fokus pada pendidikan yang akan ia ambil setelah lulus.
Semangat Yuna!
...****************...
Setelah menerima masukan dari Jungkook, para dewan akhirnya setuju untuk tidak mencabut suntikan dana pada perusahaan milik keluarga Jeon.
Kehancuran adalah awal dari kesuksesan yang sejati.
"Baik, terimakasih untuk tetap mempercayai kami." ujar Jungkook dengan senyum sumbringahnya.
Jungkook sebetulnya sudah keluar dari jeratan sesak masalah ini, semuanya hampur selesai di tangani. Niat hati ia akan pulang untuk menemui Yuna yang mungkin sudah tidak membencinya, namun perlahan ia akan menjelaskan segalanya.
"Tuan, saham perusahaan sudah stabil kembali." ujar Jimin.
"Baik, kalau begitu tolong pesan tiket kembali. Aku akan pergi menemui Yuna, dia pasti sangat merindukan-ku."
"Baik."
Akhirnya Jungkook bisa mengalahkan kelicikan Alea sehingga ia tidak jadi menikah dengan wanita lintah tersebut. Sebetulnya Alea bukan mencintai Jungkook, tapi ia mengincar kekayaan keluarga Jeon yang berada di genggaman Jungkook.
Dasar wanita licik!
Besok akan menjadi hari terbahagia Jungkook karena berhasil menyelesaikan segalanya dan kembali bersama dengan Yuna. Ia juga sudah menyiapkan cincin berlian yang di pesan khusus dari Amerika Serikat untuk Yuna.
Cinta Jungkook tulus dan nyata.
Tidak lama berbagai panggilan mulai berdatangan, siapa lagi kalau bukan Alea. Itu semua karena nomor Alea sudah di blokir oleh Jungkook sehingga ia menghubungi dengan nomor orang lain. Pantang menyerah, tapi Jungkook sangat jijik dengan wanita seperti itu.
"Ada apa Alea? Berhenti untuk terus mengganggu seperti benalu, apakah kamu tidak letih? Aku peringatkan. Aku tidak akan menikah dengan wanita sepertimu, lagi pula aku sudah mempunyai cinta sejati. Biarkan media terus bertanya kepadamu, siapa yang mencari masalah? Selamat menikmati kehancuran." ujar Jungkook menutup panggilan.
Alea yang berada di seberang sana mengepalkan kedua tangannya, ia adalah wanita pedendam. Untungnya dia mengetahui siapa nama wanita yang di cintai oleh Jungkook tersebut, biodata lengkap wanita tersebut sudah berada di tangannya.
"Yuna, kita lihat seperti apa penderitaan Jungkook ketika kehilangan-mu." ujar Alea sambil tersenyum smirk.
Bukan hanya itu, Alea juga berencana untuk menguntit ketika Jungkook kembali. Tidak akan ia kehilangan pria dengan segudang kekayaan dan prestasi tersebut. Ingat Jungkook adalah kriteria pria idamannya sejak dulu.
Kembali pada Jungkook yang tengah menikmati kafein di sebuah cafe terkenal di sana, kedua bola matanya menatap jalanan yang tengah menurunkan dadaunan yang berguguran. Indah sekali melihat hal tersebut, namun akan lebih indah jika bisa melihatnya berdua dengan Yuna.
"Tuan, apakah aku boleh duduk di samping-mu?" tanya seorang wanita berambut pirang serta manik mata biru.
Jungkook memperlihatkan cincin di jari manis seakan mengatakan ia sudah menikah.
Wanita tersebut sontak terkejut beriringan dengan anggukan pelan,"Baik permisi."
Senyum Jungkook mengembang, ternyata rasanya begitu tenang ketika kita mencintai satu orang saja sehingga kita tidak bisa dekat dengan siapa pun.
Tunggu aku Yuna....