Mr. Jungkook's Naughty Wife

Mr. Jungkook's Naughty Wife
BAB 61



Janji suci sudah di ucapkan oleh kedua pasangan di atas mimbar, sampai pada sesi ciuman. Anehnya pengantin pria tidak dapat memberikan satu kecupan singkat saja untuk pasangannya, ia malah menatap kearah lain seakan meminta persetujuan.


"Cepatlah Jungkook,"ujar Alea yang membuat pria itu tersadar dari lamunannya.


Satu kecupan singkat berhasil di berikan Jungkook tepat di kening Alea yang membuat gemuruh tepuk tangan terdengar nyaring.


Sementara Yuna yang melihat hal tersebut membuat hatinya semakin sakit, ia hanya bisa berdoa agar dirinya nanti bisa mendapatkan pasangan yang terbaik.


Sungguh wanita itu ikhlas melihat Jungkook menikah dengan Alea, bukan hanya mereka yang akan bahagia tapi keluarga juga. Bukankah itu lebih lengkap? Soal hak asuh anak tentu Yuna yang akan memegangnya karena selama ini ia sudah berhasil melewati kesulitan.


Sesi berfoto di adakan, ternyata Gerld adalah sahabat Alea dari mereka kecil seperti Jungkook dan Yuna, namun mereka tidak ada ikatan cinta.


Yuna begitu kaku di dalam foto tersebut, bibir yang di paksa tersenyum membuat Jungkook menghembuskan napas.


"Pengantin pria tolong lihat ke kamera."


Sudah jelas bahwa pandangan Jungkook akan tetap pada Yuna bagaimana pun itu, tidak ada yang bisa menggantikan.


"Ada apa denganmu, Yuna?"


"Tidak ada, lanjutkan."


Beberapa foto terbaik sudah di ambil, saatnya mereka mengucapkan selamat.


"Selamat, semoga bahagia selalu."ujar Gerld di sambung Yuna.


"Serta segera memiliki momongan."


"Sejak kapan kamu kenal dia? Kenapa membawa dia?"pertanyaan dari Jungkook pada Gerld yang di cekal pergelangan tangannya.


"Di.."


"Pasanganku."sambung Yuna menyelanya.


Yuna segera menarik pergelangan tangan Gerld agar pergi dari sana sebelum air matanya tidak dapat di tampung lagi.


"Ada apa denganmu?"tanya Gerld.


"Bisa kita makan?"


"Yuna jangan alihkan pembicaraan, ada apa di antara kalian?"


"Apa ini karena saya menyebut Anda pasangan?"


"Bukan itu, tolong jawab saya. Apakah kamu pernah memiliki hubungan dengan mereka?"


"Tidak ada, jangan berkata terlalu jauh. Saya di sini hanya menemani Anda, tidak usah terlalu banyak bertanya."


Punggung kecil Yuna pergi dari sana, entah kemana ia mencari tempat untuk menenangkan diri sampai akhirnya ia bertemu dengan Jimin.


"Nona?"


Langkah kaki Yuna terhenti, ia segera menoleh dan tersenyum secara paksa pada pria tersebut.


"Ada apa?"


"Bagaimana kabarmu?"sambung Yuna bertanya.


"Mengapa Anda bisa ada di sini? Dari mana Anda tahu?"


"Kenapa? Kamu terkejut karena aku mengetahui bahwa Jungkook sudah menikah."


"Nona, seb-"


"Tidak masalah, semoga mereka bahagia termasuk dirimu. Saya permisi, mari."


Yuna kembali melangkahkan kaki mungilnya berjalan hingga kearah pantai yang tidak jauh dari hotel.


"Kenapa kamu harus pergi sejauh ini? Tadi saya juga melihat kamu mengobrol dengan Jimin. Apa kamu kenal?"


Apakah tidak bisa jika hidup wanita itu tidak selalu di iringi oleh masalalunya? Lelah sekali!


"Kenapa Anda kemari?"


"Saya khawatir, bukankah saya yang membawa kamu ke sini. Kamu adalah tanggung jawab saya selama di sini."


"Baik, baik!"


Yuna terduduk di atas hamparan pasir di sana, menatap langit yang berwarna biru cerah dengan gelombang air laut yang menjadikannya sempurna.


Melihat Yuna duduk, Gerld ikut duduk di samping wanita itu sambil menatap lekat.


"Kalau kamu sedang sedih dan butuh teman cerita saya siap mendengarkan."


"Kamu kenapa? Apa ada yang mengganggu?"


Yuna kembali menatap laut, mulai membuka satu perkata tentang yang terjadi pada dirinya.


"Pria yang ada di mimbar tersebut adalah mantan suamiku, kami berpisah karena dia dinyatakan sudah meninggal kemudian kami di persatukan kembali. Namun ternyata takdir berkata lain, kami berpisah sekitar lima hari yang lalu. Kami juga sudah mempunyai satu putra yang di beri nama Yu-Jung itu pemberiannya. Bukankah menyedihkan? Seperti drama yang ada di televisi."


"Lalu?"


"Tidak ada lalu hanya akhir, apakah tadi saya terlihat sedih?"


Gerld mengangguk,"Sudah terlihat jelas, saya yakin ada sesuatu di antara kalian dan ternyata benar."


"Apa yang Anda pikirkan sekarang?"


"Sebelumnya aku minta maaf karena sudah membawamu kemari untuk melihat hal yang menyakitkan seperti ini, tapi sungguh aku tidak mengetahuinya."


Yuna tersenyum,"Tidak masalah, jika aku tidak datang hari ini mungkin aku tidak akan tahu bahwa dia sudah menikah dengan wanita itu."


"Alea?"


"Anda kenal dengan dia?"


"Tentu, dia teman terbaikku."


"Dia mencuri suamiku, bukankah dia jahat? Kenapa harus menjadi teman terbaik."


"Dia memang baik kala dulu tapi semenjak memimpin perusahaan setelah kuliahnya di luar negeri dia semakin berubah dari yang di kekal setiap orang. Bukankah perubahan memang ada?"


"Tentu ada tapi tidak menjadi jahat seperti itu. Aku tahu kebusukan dia ketika aku dan mantan suamiku masih bersama. Keluarga mereka berteman baik dan perusahaan mereka saling menguntungkan, berbeda denganku."


"Apa salahnya? Setiap orang memiliki hal baik tersendiri. Jika memang bukan dia yang ada di samping saat ini berarti bukan dia yang di takdirkan."


"Ternyata pria seperti Anda bisa mengatakan hal ini, apa ini nyata?"


"Tentu, tapi memang tidak terucap begitu saja."


Yuna tertawa,"Apa Anda memiliki pasangan, saya tebak tidak ada!"


"Jawaban yang betul!"


"Kenapa? Karena saya terlihat kaku?"


"Itu sangat betul!"


Aneh kesedihan di hati Yuna mulai memudar seiring berjalannya waktu, bahkan kini ia malah tersenyum dengan bahagia mendengar banyak ucapan dari pria yang menemaninya.


Ada satu hal yang Yuna pegang teguh, setiap orang menyukai pantai tapi tidak semua orang yang mampu bertahan melihat pantai secara bersama karena itu di anggap membosankan. Apakah ini artinya mereka berdua cocok? Seperti dua orang yang saling membutuhkan dukungan satu sama lain.


Tenang saja Yuna tidak akan melupakan semudah itu, ia masih butuh waktu agar tidak salah memilih pasangan seperti saat itu.


"Apakah kamu buaya?"


"Apa? Bukankah kamu dugong!"


"Yuna!"


"Apa? Coba katakan lagi!"


Keduanya tidak mengetahui waktu hingga akhirnya senja menghampiri, berwarna kekuningan bercampur merah disana.


"Yuna, sepertinya kita tidak bisa pulang malam ini. Mereka mengadakan pesta dansa, apa kamu baik-baik saja dengan itu?"


"Tentu, tidak masalah."


Bukan kekanak-kanakan hanya saja Yuna akan menunjukkan bahwa hidupnya akan tetap sama meski Jungkook sudah meninggalkannya, masih banyak orang baik di luar sana yang peduli pada perasaannya.


"Yuna, saya akan mengantarmu ke kamar hotel yang di siapkan. Tapi hanya ada satu dan semuanya sudah terisi, jika keberatan bisa katakan."


Yuna tidak enak, bukankah masih ada cara lain agar mereka tidak tidur bersama lebih tepatnya satu ranjang.


"Tidak masalah, saya bisa tidur di sofa."


Gerld menggeleng,"Saya di sofa kamu di ranjang."


"Kamu?"tanya Yuna geli.


"Maaf, Anda."


Yuna tertawa terbahak-bahak melihat mimik wajag Gerld yang tersipu. Tanpa sadar ternyata ada orang lain yang melihat semuanya dengan kecemburuan hati yang terus menggerogoti hingga tidak sanggup menahannya.


"YUNA!"