
Kaylee kini bertukar cerita dengan Rachel. Ia merasa bahagia karena akhirnya Rachel mendapatkan kebahagiaannya.
Kaylee sudah mendengar dari Austin mengenai Rachel yang merupakan Valeri, cucu kandung Tuan Albert, serta tunangan Nick sejak mereka masih kecil.
" Kau bahagia Rachel ? Atau aku harus memanggilmu Valeri ? " tanya Kaylee.
" Ya, nona... Tentu saja saya sangat bahagia karena akhirnya saya bisa bertemu dengan keluarga saya yang sebenarnya " jawab Rachel.
" Aku turut bahagia melihatmu bahagia. Aku yakin Kakak Nick akan membuatmu lebih bahagia lagi " ucap Kaylee tulus.
" Semoga seperti itu, Nona... " sahut Rachel dengan senyuman di wajahnya.
Kaylee ikut tersenyum melihat senyuman di wajah Rachel.
" Jadi nona, berapa usia kehamilan anda ? tanya Rachel antusias.
" Dokter bilang usia kandunganku memasuki minggu ke 3 " jawab Kaylee sambil melihat dan mengelus perutnya.
" Tuan Austin pasti sangat bahagia, Nona " ucap Rachel kemudian.
" Ya, dia sangat bahagia dan juga tersiksa " ucap Kaylee sambil tertawa kecil.
" Tersiksa ? Kenapa bisa begitu, nona ? " tanya Rachel heran.
" Tentu saja tersiksa karena dia mengalami kehamilan simpatik " jawab Kaylee.
" Kehamilan simpatik... ? Apa itu nona ? " Rachel semakin tak mengerti.
" Ya... Kehamilan simpatik itu berarti pasangan kita yang merasakan gejala kehamilan, seperti ngidam, mual, muntah, bahkan perubahan emosi. Hal itu dikarenakan suami memiliki empati yang tinggi saat istri sedang mengandung " jelas Kaylee.
" Kalau begitu, saat saya hamil nanti. Apakah kakak Nick bisa merasakan kehamilan simpatik juga ? " tanya Rachel polos.
Kaylee tersenyum,
" Mungkin saja, kakak Nick kan sangat mencintaimu " seloroh Kaylee membuat wajah Rachel merona.
Mereka menghentikan obrolan mereka saat Nenek Eliza datang dan bergabung bersama mereka.
Nenek Eliza sangat senang bisa berjumpa langsung dengan Valeri. Ia tahu jika Nick sangat mencintai Valeri, karena Nick adalah sahabat Austin sejak masa sekolah sampai saat ini.
Nenek Eliza tahu banyak, bagaimana Nick meyakini jika Valeri masih hidup. Dan ia juga tahu bagaimana Nick mencari keberadaan Valeri hingga akhirnya mereka dipertemukan kembali oleh takdir.
" Kay... Apa kau mau menemani Nenek ? " tanya Nenek Eliza.
" Memangnya Nenek mau kemana ? " Kaylee bertanya balik pada Nenek Eliza yang nampak sudah siap.
" Nenek akan pergi ke yayasan sosial... Nenek ingin berbagi kebahagiaan bersama mereka karena akhirnya Nenek diberikan seorang cicit, calon penerus keluarga " jawab Nenek Eliza.
" Aku ingin sekali menemanimu, Nek. Tapi... Austin melarangku untuk pergi dari rumah " keluh Kaylee.
" Tidak apa, my dear... Kau memang harus menjaga kehamilanmu, apalagi kau ini sedang hamil muda " timpal Nenek Eliza.
" Ya sudah, kalau begitu Nenek pergi dulu, sayang ! " pamit Nenek Eliza lalu mencium pipi Kaylee.
" Valeri... Nenek tinggal dulu ya ! Kalian berdua baik-baik di rumah " seru Nenek Eliza sambil mencium pipi Valeri.
Tak lama Nenek Eliza pun segera berlalu meninggalkan Kaylee dan Valeri.
Bagaimana jika kita membuat roti, Nona ? Sudah lama saya tidak merasakan roti buatan Nona " pinta Rachel.
" Baiklah, kalau begitu... Aku juga sudah lama tidak membuat roti. Ayo kita ke dapur ! " ajak Kaylee yang segera diikuti oleh Rachel.
Sementara itu, di perusahaan. Austin sedang melakukan meeting penting bersama dengan Nick. Ia menahan rasa yang bergolak di perutnya saat ini. Jika saja tidak ada meeting ini, tentu saja ia akan berduaan saja dengan Kaylee. Karena hanya dengan berada di dekat Kaylee saja, Austin akan merasa lebih baik.
" Aus... Are you oke ? " tanya Nick yang khawatir melihat Austin.
Nick sengaja menjeda meeting karena melihat keadaan Austin yang memprihatinkan.
" Yes, I'm oke " jawab Austin sambil memijit keningnya yang sangat pusing. Belum rasa mual yang melandanya.
Austin mengeluarkan ponselnya lalu melakukan video call kepada Kaylee.
Kaylee tampak cantik mengenakan apron dengan rambut yang diikat ekor kuda sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus.
Tuhan... ! Rasanya aku ingin sekali mendekap istriku ini
Batin Austin menelan salivanya.
" Hai, honey....Are you oke ? " tanya Kaylee saat melihat suaminya yang terlihat pucat.
" I'm oke, honey....Don't worry ! " jawab Austin memaksakan diri untuk tersenyum.
" What are you doing, honey ? " tanya Austin lagi.
" I make a bread with Rachel " jawab Kaylee antusias.
" Don't be too tired, honey ! Ingat ada nyawa lain di dalam kandunganmu " ingat Austin.
" Yes, I know.... " jawab Kaylee singkat.
" Baiklah, aku harus melanjutkan meeting kembali, sweet heart. Thanks honey, melihatmu saja sudah membuatku merasa lebih baik " ucap Austin lalu menutup panggilan telepon.
" Nick, setelah meeting selesai. Kita segera kembali ke mansion " seru Austin.
" Baiklah, lagi pula nanti siang, saya harus fitting pakaian pengantin " timpal Nick.
Austin dan Nick kini kembali ke ruang meeting. Meskipun tidak tahan untuk memeluk Kaylee, tapi Austin harus menahannya untuk sementara waktu.
Meeting selesai saat waktu menunjukkan pukul 11 siang. Austin segera menuju mobilnya diantar oleh Nick.
" Kau bisa menyetir sendiri Aus ? " tanya Nick khawatir.
" Tentu saja, kau harus mengantarku. Bukankah kau tadi yang menjemputku dari rumah " sentak Austin.
" Astaga, Aus... Kenapa kau itu menyusahkan sekali " gerutu Nick menatap Austin.
" CK... Baiklah... Baiklah ! " jawab Nick.
Mereka berdua kini berada di dalam mobil, Nick kini mereka menuju kediaman Austin.
" Nick, mulai besok kau ganti parfummu. Aku tidak suka baunya " seru Austin sambil membuka kaca mobil, membiarkan udara memenuhi ruang kemudi.
" What ? " Nick menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya, Austin mengatakan hal itu. Padahal parfum ini adalah parfum kualitas no. 1
Nick berhenti di sebuah toko bunga. Ia berencana untuk membeli bunga.yang akan diberikannya kepada sang calon istri.
Nick membeli satu buket bunga mawar untuk ia berikan pada Rachel.
Austin menatap tak suka, lalu ia menyuruh Nick untuk membuang bunga yang ia beli. Tentu saja Nick menjadi kesal karena Austin telihat santai aman.
Nick tak membuang bunga yang dibelinya, ia menyimpannya di dalam bagasi.
Nick kembali melakukan perjalanan. Kini ia lebih tenang dan santai. Sesekali Austin melihat ke luar jendela. Hingga akhirnya ia meminta Nick untuk menghentikan laju mobilnya.
" Apa lagi, Aus ?! " sentak Nick kesal lalu mengamati Austin.
" Aku ingin, makanan itu " tunjuk Austin memberitahu kepada Nick.
Nick melihat keluar, ke arah tatapan Austin tertuju. Nick menghela kasar nafasnya.
" Ia melihat penjual es krim yang tadi ditunjuk oleh Austin.
" Baiklah kau mau es krim rasa apa ?" Tanya Nick bersiap-siap turun dari mobil.
" Aku ingin semua rasa " jawab Austin.
" Baiklah ! " sahut Nick pasrah. Ia lalu menuju tempat penjual es krim yang ditunjuk oleh Austin tadi.
Kenapa jadi aku yang susah ? Bagian enak dimakan sendiri. Giliran susah dibagi-bagi...
Gerutu Nick dalam hati.