Me And My Amnesia CEO

Me And My Amnesia CEO
Kedatangan Stefhani



Austin membawa Kaylee ke dalam kamar yang disiapkan secara khusus untuk Kaylee.


" Ini kamar siapa ? " tanya Kaylee penasaran melihat sekeliling kamar yang bernuansa putih dan peach.


" Untuk sementara ini adalah kamarmu, dan setelah kita menikah kau harus tidur di kamarku, ok " ucap Austin sambil mengedipkan sebelah matanya.


Kaylee hanya tersenyum samar mendengar perkataan Austin.


Austin membawa Kaylee menuju walk in closet.


" Ini semua milikmu. Nenek yang memilihkannya untukmu " ucap Austin sambil memperlihatkan deretan pakaian bermerk dan aksesorisnya, termasuk sepatu.


Kaylee menutup mulutnya, lalu melirik Austin.


" Aus... Ini berlebihan ! Seharusnya... "


" Seharusnya lebih baik lagi daripada ini, Kay... Untuk wanita seperti dirimu, ini bukan apa-apa. Aku harap kau bahagia bersamaku " jelas Austin.


" Aku bahagia, Aus... Aku tak perlu kemewahan, selama kamu bersamaku, aku akan bahagia " sahut Kaylee menatapi Austin.


" Begitukah ? " selidik Austin dan Kaylee mengangguk membenarkan.


Austin mendekati Kaylee, lalu meraih tangannya.


" Kalau begitu berjanjilah kau akan selalu berada disisiku, apapun yang terjadi. Berjanjilah untuk percaya padaku, percaya pada cintaku " ucap Austin menggenggam tangan Kaylee.


Kaylee tersenyum,


" Baiklah, aku berjanji ! " ucap Kaylee.


Lantas keduanya saling memeluk, mengekspresikan kebahagiaan di hati mereka.


Keesokan harinya,


" Kaylee sayang... Hari ini kau dan Austin fitting baju pengantin ke butik ya ! Nenek sudah bicara dengan pemilik butiknya " seru Nenek Eliza.


" Iya, nek " sahut Kaylee singkat sambil merapikan hidangan untuk sarapan di meja makan.


" Halo nenekku sayang dan calon istriku tercinta " ucap Austin lalu mencium pipi sang nenek dan pipi Kaylee.


" Hem, semangat sekali kamu hari ini " ucap Nenek Eliza memperhatikan Austin.


" Tentu saja, Nek... Kan ada calon istriku disini " sahut Austin melirik Kaylee.


" Aih, rupanya kamu sudah kena virus cinta sekarang. Pantas saja sikapmu berubah seperti ini " goda Nenek Eliza.


" Tentu saja, dan wanita ini yang sudah menebarkan virusnya " ucap Austin sambil merengkuh pinggang Kaylee.


" Aus... Malu sama Nenek ! " ucap Kaylee berusaha melepaskan tangan Austin dari pinggangnya.


" Biar saja, nenek senang melihat kita mesra seperti ini " sahut Austin acuh lalu mencium pipi Kaylee kembali tanpa dosa.


" Astaga... Austin ! " pekik Kaylee tertahan dengan pipi merona.


Nenek Eliza terkekeh melihat tingkah cucunya itu. Dalam hatinya, ia bersyukur karena Austin telah menemukan tambatan hatinya yang sudah membuat hari-hari cucunya itu berwarna.


" Good morning, every one... " ucap Nick saat memasuki ruang makan.


" Oh, Nick... Masuklah, ayo kita sarapan bersama !" seru Nenek Eliza saat melihat Nick datang.


Nick mengangguk kemudian ikut bergabung bersama mereka.


" Halo, Kaylee... Apa kabar ? " tanya Nick saat melihat Kaylee.


" Baik, Kak " jawab Kaylee ramah sambil tersenyum.


" Ish, kau ini mengganggu sarapanku saja. Mengapa pagi-pagi begini sudah datang ? " tanya Austin ketus melihat sikap Kaylee pada Nick.


" Kita kan ada meeting pagi ini. Aku mengingatkanmu karena aku tahu kau pasti melupakannya " jawab Nick enteng.


" Austin, kamu ada meeting hari ini ? Bukankah Nenek sudah bilang untuk pergi bersama Kaylee hari ini. Kamu masih saja mengurusi pekerjaan " gerutu Nenek Eliza.


Austin menatap Nick dengan tajam.


" Bukankah sudah ku katakan untuk reschedule meeting hari ini ? " tanya Austin.


" Ya, memang benar. Tapi pimpinan perusahaan ini hanya bisa meluangkan waktunya pagi ini saja, karena dia akan bertolak ke negara A siang nanti. Karena itu meeting ini tidak bisa direschedule " jawab Nick.


Austin mengurut pangkal hidungnya.


" What ? Kamu ingin melepaskan perusahaan ini. Bukankah kamu sendiri yang menginginkan kerja sama ini ? " tanya Nick tak percaya dengan ucapan Austin.


" Tidak apa, bagiku saat ini yang terpenting adalah Kaylee " jawab Austin tegas.


Nick menghembus kasar nafasnya. Jika bos besar sudah berkehendak tidak ada yang bisa melawannya.


" Baiklah, aku akan membatalkan meetingnya " ucap Nick.


" Tunggu, kakak Nick ! " seru Kaylee saat melihat Nick mengeluarkan tabnya.


" Jangan dibatalkan meetingnya. Jika kerja sama ini penting sebaiknya kalian teruskan. Aku bisa menunggu " jelas Kaylee.


" Tapi Kay... " sela Austin tak percaya dengan ucapan yang didengarnya.


" Jangan hanya karena aku, kau harus kehilangan kesempatan penting dan berharga. It's ok, Aus ! " sahut Kaylee.


" Lagipula kita bisa pergi setelah meetingmu itu selesai, benar kan ? " tambah Kaylee lagi.


Austin mengacak rambutnya yang sudah rapi. Sementara Nick menatap Kaylee, kemudian berterima kasih dengan gerakan bibir mengucapkan kata thank you tanpa suara.


" Kaylee benar, Austin. Biar nanti nenek yang menghubungi butik untuk menjadwalkan ulang. Biar nanti Kaylee pergi ke kantormu saat jam makan siang lalu kalian bisa pergi bersama " tambah Nenek Eliza.


" Betul itu, Nek. Supaya semua orang di perusahaan mengetahui jika Kaylee adalah calon istrimu. Bagaimana, Aus ? " tanya Nick.


Austin terlihat berpikir, namun kemudian ia mengangguk setuju. Ucapan Nenek Eliza dan Nick ada benarnya, ia harus memperkenalkan Kaylee sebagai calon istrinya supaya tidak ada lagi nyamuk-nyamuk nakal yang mengganggu hubungan mereka.


Siang harinya, Kaylee berangkat menuju ke perusahaan milik Austin dengan diantar oleh sopir Nenek Eliza.


Kaylee yang mengenakan dress selutut dengan rambut yang digerai dan dihiasi pita serta make up tipis pada wajahnya nampak begitu cantik dan menawan. Kaylee menuju meja resepsionis untuk mengatakan akan pergi ke ruangan Austin.


" Selamat siang, nona. Ada yang bisa saya bantu ? " tanya Resepsionis itu ramah.


" Saya ingin bertemu dengan Tuan Austin " jawab Kaylee.


" Apakah sudah ada janji sebelumnya ? " tanyanya kembali.


" Sudah. Tolong katakan saja Kaylee sudah ada disini " jawab Kaylee.


" Baiklah, Nona... Anda mohon tunggu sebentar, saya akan menghubungi Tuan Nick dahulu " ucapnya. Kaylee pun akhirnya menunggu di lobi.


Tak berselang lama, datang seorang wanita cantik berpakaian seksi menuju resepsionis.


" Saya ingin bertemu dengan Tuan Austin " ucapnya.


" Maaf, Nona... Apakah anda sudah memiliki janji temu sebelumnya ? " tanya Resepsionis itu ramah.


" Saya tidak perlu janji untuk menemui calon suami saya sendiri kan " ucapnya percaya diri.


Resepsionis itu mengingat bahwa Tuan Nick mengatakan jika nanti ada calon istri Tuan Austin yang akan datang berkunjung.


" Maaf Nona, saya tidak mengenali anda. Silakan anda masuk " ucap Resepsionis itu.


Wanita bernama Stefhani itu kemudian masuk ke dalam lift.


Sementara Kaylee hanya memandangi wanita yang baru saja memasuki lift. Ponsel milik Kaylee berdering dan Kaylee segera mengangkatnya.


" Honey... Kau sudah sampai ? " tanya Austin.


" Sudah, aku menunggu kakak Nick di lobi " jawab Kaylee.


" Di lobi ? Mengapa kamu tidak naik langsung ke ruanganku ? " tanya Austin lagi.


" Aku kan tidak tahu, dimana ruanganmu " jawab Kaylee polos.


" Ah iya, baiklah aku akan menunggumu datang " ucap Austin dengan senyuman di wajahnya.


Mereka pun mengakhiri panggilan.


Tak berapa lama, pintu ruangan Austin terbuka. Dengan percaya diri, Stefhani memasuki ruangan Austin kemudian mendekati Austin yang tengah duduk di kursi kebesarannya


" Kakak Austin... I'm back ! " ucapnya sumringah.


Austin mengangkat wajahnya, lalu menatap wanita yang telah berdiri di hadapannya.


" Stefi ? Kapan kau kembali ? " tanya Austin begitu terkejut melihat wanita yang ada di depannya.