
Austin menelan salivanya sendiri saat melihat Kaylee turun dari tangga dengan mengenakan midi dress berwarna hitam dengan model off shoulder yang menampilkan bahunya yang mulus. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai dengan model keriting gantung dengan bun di tengahnya. Membuat Kaylee terlihat cantik dan anggun.
Austin mengulurkan tangannya saat Kaylee berada di anak tangga terakhir. Kaylee menerima uluran tangan Austin dan meletakkan tangannya di atas telapak tangan Austin. Senyuman tampak terukir di wajah keduanya.
Setelah berpamitan pada Nenek Eliza, keduanya meninggalkan rumah menuju restoran. Sepanjang perjalanan, Austin terus menggenggam tangan Kaylee sementara tangan satunya memegang kemudi. Tak peduli meskipun terasa kebas, mereka tak melepaskan tautan tangan mereka.
Akhirnya, merekapun sampai di lokasi. Keduanya turun dari mobil lalu memasuki area restoran. Austin merengkuh pinggang Kaylee dengan begitu posesif seolah ingin menunjukkan pada semua orang jika gadis cantik itu adalah miliknya.
Melihat kedatangan Austin, Stefhani segera berdiri menyambut kedatangan Austin.
" Kakak Austin, akhirnya kau datang " ucap Stefhani sambil menghampiri Austin lalu mencium pipi Austin. Ia seolah tak peduli jika saat itu Austin tengah menggandeng Kaylee.
Stefhani berusaha untuk menggandeng tangan Austin, namun segera Austin menepisnya.
" Ehem... Stefi... Jaga sikapmu ! " seru Austin.
" Ah iya, maafkan aku Kak ! Aku masih mengira jika kau belum akan menikah " sahut Stefi menyembunyikan kekesalannya.
" Hai, Kay... Aku pikir kau tidak akan datang, mengingat kau kan hanya orang baru dalam circle kami " ucap Stefi sinis.
Kaylee tersenyum tipis, ia tak mengira jika wanita di depannya ini mengibarkan bendera perang secara terang-terangan.
Baiklah, kau yang memulainya... Maka aku akan mengikuti permainanmu. Jangan salahkan aku, jika aku tak lagi bersikap manis.
Batin Kaylee.
" Walaupun aku orang baru, tetapi aku akan selamanya bersama Austin. Lagi pula Austin sudah memilihku dan sudah sepatutnya aku bersama dengan Austin kemanapun dia mengajakku. Betul kan sayang ? " jawab Kaylee dengan tenang lalu bertanya pada Austin sambil menatap Austin.
" Ya, betul sekali honey....Karena aku tak ingin berpisah darimu " sahut Austin sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Kaylee.
" Meskipun ia mengajakmu ke kamar tidur ? Kau akan mematuhinya ? " tanya Stefi menatap dengan pandangan meremehkan.
" Stefi... Perhatikan caramu berbicara. Apa kau tak bisa menghormati orang lain ! " gertak Austin tak suka mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Stefi.
Kaylee menyentuh tangan Austin, menenangkan Austin agar ia tidak emosi. Lalu menatap Stefi dengan pandangan tak bisa diartikan.
" Tentu saja, kenapa tidak ? Sekarang ataupun nanti, aku akan menemaninya di kamar. Dan kami akan sangat bahagia melakukannya bersama. Kau tahu kenapa ? Karena kami saling mencintai satu sama lain " tegas Kaylee sedikit menaikkan rahangnya.
Menghadapi wanita seperti Stefi, Kaylee harus bisa menunjukkan dirinya bukanlah wanita lemah yang mudah ditindas.
Mendengar ucapan Kaylee, Austin tersenyum simpul. Ia tak menduga jika Kaylee berani berbicara seperti itu untuk mempertahankan apa yang menjadi miliknya.
Austin mengecup pucuk kepala Kaylee di depan Stefi.
" I love you, honey ! " ucap Austin yang tentu saja dapat dilihat dengan jelas oleh Stefhani.
" Love you to " sahut Kaylee lalu mengecup pipi Austin. Kaylee melirik Stefi saat melakukannya, sengaja membuat Stefi jengkel.
" Kakak Austin... Kau duduklah dulu " ucap Stefi, mencoba merebut perhatian Austin. Stefi menarik kursi di samping kursi miliknya. Namun Austin justru mempersilakan Kaylee duduk disana dan Austin menarik kursi yang ada di samping Kaylee.
" Thank you, Stef " ucap Kaylee dengan senyuman tersungging di bibirnya.
Tak berselang lama, Nick dan Edward datang. Stefipun berdiri menyambut mereka.
" Astaga Stefi, lama tidak bertemu, kau terlihat semakin cantik saja " puji Edward menatapi Stefhani yang mengenakan pakaian berwarna merah dengan model sheath dress yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi.
Stefhani tersenyum karena akhirnya ada yang menyadari jika ia terlihat luar biasa setelah Austin dan juga Nick yang menanggapi penampilannya biasa saja.
Nick lantas duduk di samping Austin, sementara Edward duduk di sebelah Stefhani. Mata Edward beralih pada Kaylee yang terlihat sangat cantik malam ini.
" Kaylee ? Wow... Kau sangat cantik malam ini. Austin benar-benar beruntung bisa mendapatkan dirimu " puji Edward, matanya tak lepas memandangi Kaylee yang nampak mempesona.
" Ekhem... Jaga pandanganmu, Ed ! Wanita ini adalah milikku ! " seru Austin menatap Edward dengan tajam. Ia tidak suka ada pria lain mengagumi Kaylee, meskipun harus ia akui jika pesona Kaylee yang membuat pria-pria mengaguminya.
" Ok... Ok... I know this beauty women is yours " sahut Edward merasa terintimidasi oleh Austin.
Stefi mengepalkan tangannya, ia tak terima jika Kaylee mendapatkan perhatian dari pria-pria yang ada di sekelilingnya.
" Kalau begitu, kita langsung pesan makanan sekarang ya " ucap Stefi sambil melambaikan tangannya memanggil pelayan.
Mereka pun memesan makanan. Pada saat makan, mata Stefi selalu mencuri pandang kepada Austin. Tetapi Austin justru selalu memperhatikan Kaylee. Bagi Austin seluruh perhatiannya hanya dicurahkan untuk Kaylee seorang.
Tak berbeda jauh dengan Stefi, Edward pun sesekali melirik Kaylee. Meskipun ia sudah merelakan Kaylee bersama dengan Austin, tetapi masih ada rasa yang tersisa untuk Kaylee.
Edward baru menyadari jika ternyata hatinya telah tertawan oleh pesona Kaylee. Bukan lagi sekedar rasa penasaran untuk memiliki Kaylee namun ia menyadari bahwa mungkin ia telah jatuh cinta pada gadis cantik itu. Gadis cantik yang telah menjadi milik sahabatnya sendiri.
Stefi menyadari jika Edward kerap mencuri pandang ke arah Kaylee. Ia pun memutuskan untuk menggali informasi dari Edward mengenai Kaylee. Ia bertekad untuk mencari celah yang dapat memisahkan Austin dan Kaylee.
Setelah selesai menyantap makanan, mereka berbincang sejenak. Menceritakan kenangan masa lalu. Meskipun Kaylee tidak tahu apapun tetapi ia bersikap menjadi pendengar yang baik. Hingga akhirnya, mereka mengakhiri obrolan dan bersiap untuk pulang.
" Kakak Austin... Bisakah kau mengantarkanku pulang ? Tadi aku pergi naik taksi " pinta Stefi manja sambil bergelayut di lengan Austin.
Austin melepaskan tangan Stefi dari lengannya, kemudian menggamit tangan Kaylee yang masih asyik berbincang bersama Nick dan Edward.
" Maaf, Stef... Tapi aku dan Kaylee harus secepatnya pulang. Jika tidak nenek pasti akan marah " tolak Austin.
" Kau diantar oleh Nick atau Edward saja " tambah Austin kemudian.
" Tapi, Kak... Aku ingin diantar oleh Kak Austin. Aku merindukan saat-saat Kakak mengantarku pulang. Kita bisa berbincang banyak hal di perjalanan " rayu Stefi.
Austin menatap Kaylee.
" Maaf Stef... Aku tidak bisa mengantarmu ! " ucap Austin tegas, ia tak ingin memberikan kesempatan pada Stefi untuk mendekatinya.
" Kaylee... Tolong kau bujuk Kakak Austin agar mau mengantarkanku. Lagipula kau kan bisa diantar oleh Kak Nick atau Kak Edward " ucap Stefi meminta bantuan Kaylee tanpa tahu malu.
" Maaf, Nona Stefi... Aku ini calon istri Austin. Mana mungkin aku membiarkan calon suamiku mengantarkan wanita lain sementara aku diantar oleh pria lain juga. Lagi pula, kami masih mau menikmati malam ini berdua tanpa ada pengganggu " tegas Kaylee menekankan kalimat terakhirnya.
" Sudahlah Stefi... Kaylee benar. Sebaiknya kamu tidak mengganggu mereka berdua. Aku akan mengantarmu pulang " ucap Nick.
" Tapi Kak... Aku ingin diantar oleh Kak Austin " ucap Stefi merajuk.
" Terserah kau saja. Austin tidak akan mengantarmu. Edward pun memiliki urusannya sendiri. Kalau kau tak ingin ku antar, terserah dirimu saja ! " ucap Nick lalu meninggalkan Stefi sendiri karena baik Austin dan Kaylee, serta Edward pun sudah meninggalkan restoran. Akhirnya, mau tidak mau Stefi diantar oleh Nick.