
Aku tak ingin menikah denganmu...
Sebuah kalimat yang meluncur dari bibir Kaylee, sukses membuat dunia Austin terasa berhenti.
" No, Kay... Don't ever say like that, please !! " mohon Austin. Ia meraih tangan Kaylee.
" Jangan pernah mengatakan perpisahan Kay ! Aku mencintaimu, aku tak ingin berpisah denganmu... " ucap Austin lagi.
Kaylee melepaskan tangannya dari genggaman Austin.
" Kay... Aku harus bagaimana untuk membuatmu percaya padaku ? Bukankah kau pernah berjanji untuk percaya padaku ? " ucap Austin sambil meletakkan tangannya di pundak Kaylee.
" Ya, dan aku menyesal pernah berjanji untuk mempercayaimu... " sela Kaylee.
Austin menggelengkan kepalanya,
" Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu percaya Kay ? Aku benar-benar mencintaimu dan aku menginginkanmu menjadi istriku... " lirih Austin.
" Lebih baik aku mati saja, Kay. Daripada aku melihatmu meninggalkanku " sambung Austin lagi dengan pasrah.
" Jangan membuang-buang waktumu untukku... Terima kasih sudah mengakui perbuatanmu. Aku membebaskanmu dari rasa tanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan. Tetapi aku mohon, biarkan aku pergi " sahut Kaylee menatap Austin dengan tatapan memohon.
" Tidak Kay... Aku bisa kehilangan apapun, tetapi tidak kehilanganmu ! Jadi berhenti memintaku meninggalkanmu. Aku akan tetap menikahimu, kau suka atau tidak " tegas Austin lalu melajukan kendaraannya untuk kembali ke kediamannya.
Tak ada lagi pembicaraan diantara mereka berdua. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Austin yang memikirkan cara untuk membuat Kaylee berada disisinya, sementara Kaylee justru memikirkan cara untuk menghilang dari kehidupan Austin.
Austin menghentikan laju kendaraannya saat telah sampai di halaman depan mansion keluarganya.
Austin hendak membukakan pintu untuk Kaylee, namun diluar dugaannya Kaylee justru keluar lebih dulu dan segera berjalan memasuki mansion.
Austin menghela nafasnya, ia tidak pernah mengira jika akan berakhir seperti ini. Dan hal inilah yang selama ini dikhawatirkannya.
Kaylee berjalan cepat memasuki kamarnya diikuti oleh Austin yang mengekor di belakangnya. Hingga akhirnya Kaylee masuk ke kamar lantas membanting pintu dengan kerasnya berharap agar Austin segera pergi.
" Astaga... " gumam Austin sambil mengurut pelipisnya. Ia baru tahu ternyata kemarahan wanita itu begitu menakutkan.
Selama ini, tidak ada yang bisa membuatnya takut. Tapi kali ini, entah mengapa Austin begitu takut kehilangan Kaylee.
" Kay... " ucap Austin dari balik pintu.
Tidak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar. Austin membuang kasar nafasnya.
" Honey... Cobalah berpikir dengan kepala dingin. Aku akan selalu menunggumu " ucap Austin lagi.
Tak berapa lama, Austin meninggalkan kamar Kaylee dengan perasaan tak menentu. Austin memasuki kamarnya untuk membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Austin kembali ke depan kamar Kaylee. Dengan berbekal bantal dan selimut, Austin tidur di depan kamar Kaylee. Ia tak peduli jika badannya akan merasa sakit, ia hanya khawatir Kaylee akan pergi meninggalkannya karena itu ia akan berjaga di depan kamar Kaylee.
Pagi menyapa, Austin yang baru saja tertidur karena semalaman berjaga langsung bangun karena pintu kamar Kaylee terbuka.
" Astaga... Austin ! Sedang apa kau disini ? " tanya Kaylee terkejut sambil memegangi dadanya
" Kau sudah tidak marah lagi kan Kay ? " serobot Austin dengan muka bantalnya. Austin kemudian berdiri.
Kaylee menghela nafasnya, semalaman ia berpikir dan merenungkan segalanya.
" Kay... Kau tidak akan meninggalkanku kan ? " tanya Austin sambil meraih tangan Kaylee.
" Austin... Aku perlu waktu untuk berpikir " jawab Kaylee.
" Ok, berapa lama waktu yang kau perlukan ? " tanya Austin sambil mengamati Kaylee yang tampak sudah rapi.
" Kau mau kemana ? " tanya Austin lagi memindai penampilan Kaylee saat ini.
" Aku mau pulang " jawab Kaylee singkat kemudian keluar dari kamar dengan membawa sling bagnya.
" Biar aku yang mengantarmu ! " seru Austin.
Austin menahan lengan Kaylee.
" Jadi, kau benar-benar meninggalkanku Kay ? Pernikahan kita hanya tersisa 2 minggu lagi, Kay... Dan kau pergi di sisa waktu tersisa ? Kay bagaimana lagu caraku menahanmu pergi ? " tanya Austin merasa begitu frustasi.
" Apa kau lupa ? Bukankah kita sudah membuat kesepakatan, jika aku tidak memcintaimu maka kita tidak akan menikah " ucap Kaylee dengan penekanan.
Austin mengacak rambutnya.
" Aku tahu kau mencintaiku, Kay... Perasaanmu sama seperti perasaanku padamu. Mengapa kau tak mengakui itu " ucap Austin.
" Kau benar....Tapi setelah aku mengetahui kebenarannya, rasa cintaku menjadi terkikis " sahut Kaylee lalu berjalan meninggalkan Austin yang hanya termangu mendengar pengakuan Kaylee.
Kaylee menuju kamar Nenek Eliza, lalu mengetuk pintu besar di hadapannya.
Nenek Eliza membuka pintu, ia sedikit terkejut karena Kaylee berada di hadapannya dengan pakaian yang rapi.
" Kau mau kemana sayang ? " tanya Nenek Eliza menyisir penampilan Kaylee.
" Nenek, aku mau pamit " ucap Kaylee membuat Nenek Eliza terkejut.
" What you said ? " tanya Nenek Eliza meyakinkan jika pendengarannya tidak salah.
" Nenek, aku mau pulang ! " jawab Kaylee.
" Tapi kenapa Kay ? Pernikahanmu akan diadakan 2 minggu lagi " heran Nenek Eliza.
" Ada urusan yang harus ku selesaikan, Nek " jawab Kaylee.
" Austin mengantarmu ? " tanya Nenek Eliza lagi.
Kaylee menggeleng,
" Austin ada pekerjaan yang harus diselesaikan, Nek. Aku sudah meminta Cris untuk menjemputku dan dia kini sudah ada di depan mansion " jelas Kaylee.
" Kau ada masalah dengan Austin ? " selidik Nenek Eliza.
Kaylee tidak menjawab apapun. Ia hanya tersenyum.
" Nenek....Aku pamit ya ! Nenek jaga kesehatan ya ! " ucap Kaylee kemudian.
" Kamu akan kembali lagi kan ? " tanya Nenek Eliza lagi.
Lagi-lagi Kaylee tidak menjawabnya, ia tersenyum kembali kemudian mencium pipi Nenek Eliza dan memeluknya.
" Terima kasih, Nenek sudah menerimaku dan menyayangiku... Aku menyanyangi Nenek " ucap Kaylee lantas segera berlalu sambil melambaikan tangannya.
Kaylee berjalan menuju mobil Cris yang terparkir di depan mansion. Cris membukakan pintu mobil untu Kaylee dan gadis cantik itu pun masuk ke dalamnya.
Austin hanya mampu melihat Kaylee pergi bersama dengan Cris tanpa bisa menghentikannya.
Pergilah, Kay ! Aku melepaskanmu untuk sementara waktu. Kau tenangkanlah dirimu... Aku memberimu waktu untuk berpikir. Tapi aku bersumpah akan membawamu kembali di hari pernikahan kita nanti.
Austin menyaksikan mobil milik Cris keluar dari mansionnya di atas balkon kamar miliknya. Rasanya sulit untuk digambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Harus membiarkan Kaylee pergi darinya. Tapi Austin menyadari jika ini semua adalah kesalahannya.
Seandainya saja waktu bisa ia putar kembali, tentu ia akan berterus terang sejak awal. Ah... Nasi sudah menjadi bubur...
" Austin... ! " teriak Nenek Eliza di depan kamar Austin sambil menggedor pintu kamar cucu kesayangannya.
Austin bergegas membuka pintu kamarnya setelah mobil Cris hilang dari pandangannya.
" Iya, Nek... " sahut Austin saat melihat Neneknya itu berdiri di hadapannya sambil berkacak pinggang.
" Katakan pada Nenek, apa yang sudah kau lakukan hingga membuat Kaylee pergi ? Ayo cepat katakan ! "