Me And My Amnesia CEO

Me And My Amnesia CEO
Ketahuan



Austin memasuki kamar Kaylee, namun ia tak menemukan calon istrinya itu disana. Ia mencari Kaylee, lalu melihat silouet gadis itu di balkon kamar. Austin berjalan menuju Kaylee yang tengah asyik memandang taman bunga yang ada di bawah kamarnya.


Satu pelukan melingkar di pinggang Kaylee membuatnya terkejut. Namun kemudian tersenyum saat Austin meletakkan dagu di bahunya.


" I miss you, honey ! " bisik Austin tepat di telinga Kaylee.


" I miss you to " sahut Kaylee kemudian membalik badannya hingga mereka saling berhadapan.


" Nenek bilang tadi Stefi kemari " ucap Austin menatap wajah Kaylee yang selalu dirinduinya.


" Hem... " jawab Kaylee lalu mengalihkan pandangan matanya dari Austin.


Austin meraih wajah Kaylee,


" Apapun yang Stefi katakan, cukup percaya padaku. Aku memang bertanggung jawab padamu karena aku sangat mencintaimu dan aku ingin membuatmu bahagia " jelas Austin menatap lekat Kaylee.


Kaylee hendak mengatakan sesuatu, namun Austin segera meletakkan telunjuknya di bibir Kaylee. Austin menggeleng kemudian menyatukan kening mereka.


" Please, jangan mengatakan sesuatu yang hanya akan membuatmu atau membuat kita berdua terluka. Cukup percaya dengan cintaku padamu ! Aku tidak akan pernah membuatmu terluka " tegas Austin.


Kaylee mengangguk, kini ia sepenuhnya akan mempercayai ucapan Austin. Kaylee sadar jika ia memang seharusnya mempercayai Austin. Pria yang mau menerima dirinya apa adanya dan begitu mencintainya.


" Aku akan menemui Stefi... Sudah seharusnya dia tidak mengganggu hubungan kita. Dia harus sadar jika keinginannya tidak akan pernah menjadi kenyataan " ucap Austin memberi tahu Kaylee.


Kaylee melepaskan tangan Austin yang melingkar di pinggang rampingnya.


" Dia sangat mencintaimu, Aus... " ucap Kaylee sambil menghembus nafasnya.


" Tidak... Dia tidak mencintaiku. Dia hanya terobsesi untuk memilikiku... " sahut Austin.


" Dia pasti terluka Aus " ucap Kaylee sambil membalik badannya kembali memandangi taman bunga.


Austin kini berdiri di samping Kaylee, ia merapikan helaian rambut Kaylee yang melambai tertiup angin lalu menyematkannya ke belakang telinga gadis cantik itu.


" Lebih baik dia terluka sekarang, sebelum luka itu bertambah besar dan tak lagi bisa terobati " tutur Austin yang kemudian ditatapi oleh Kaylee.


" Baiklah... Kalau begitu ijinkan aku pergi bersamamu. Aku tidak ingin, dia salah paham dengan kedatanganmu ke sana " pinta Kaylee.


" Ok... But wait... Are you jealous ? " selidik Austin mengangkat sebelah alisnya.


" No, i'm not ! " jawab Kaylee.


" Hei... Kalau cemburu, katakan saja ! Aku tidak pernah keberatan untuk itu. Karena itu berarti kau juga mencintaiku " ucap Austin dengan senyum menawan.


Wajah Kaylee merona dan itu sudah menggambarkan perasaannya pada Austin. Mereka pun akhirnya pergi bersama menuju apartemen Stefi.


Stefi membuka pintu apartemen saat ada orang yang menekan bel apartemennya. Matanya melebar saat melihat Austin berdiri di depan pintu.


" Kakak Austin... " pekiknya merasa seperti mendapat undian berhadiah.


Segera Stefi bergerak untuk memeluk Austin, namun Austin segera menghindar. Austin meraih tangan Kaylee yang semenjak tadi berada di belakangnya.


Stefi memandang sebal pada Kaylee, namun kemudian tersenyum dan mempersilakan mereka masuk.


" Kakak Austin ada perlu apa ? Sudah lama Kakak tidak datang kemari. Kakak pasti merindukan saat-saat kita bersama dulu kan " Stefi dengan antusias mengatakan hal-hal yang malas untuk ditanggapi oleh Austin.


" Stefi... Itu hanya masa lalu. Baik dulu ataupun saat ini, tidak akan ada yang berubah. Perasaanku tetap sama padamu, perasaan kakak terhadap adiknya " tegas Austin.


" Apa karena dia, Kak ? " tunjuk Stefi pada Kaylee yang duduk di samping Austin.


" Karena Kaylee atau bukan, tetap saja tak akan mengubah posisimu yang hanya kuanggap adik saja " sahut Austin terus terang.


" Apa kurangnya aku, Kak ? Aku sudah meningkatkan kemampuanku agar pantas mendampingi kakak. Tapi mengapa kakak tidak menghargai usahaku " pekik Stefi tak terima.


Austin berdiri diikuti oleh Kaylee yang juga bangkit dari duduknya.


" Aku hanya ingin menegaskan padamu... Jangan pernah berharap lebih. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menganggapmu lebih dari sekedar adik saja. Dan satu hal lagi, jangan pernah mengganggu hubunganku dan Kaylee atau aku akan menghukummu dan tidak akan pernah menganggapmu lagi " gertak Austin.


Austin segera membawa Kaylee pergi dari apartemen Stefi. Meninggalkan gadis cantik.dan manja itu dalam limpahan air mata dan sakit yang menghujam dadanya.


Austin menghubungi Nick dan Edward untuk menemani Stefi. Walaupun Austin bersikap ketas, tetapi ia masih memperhatikan Stefi. Ia hanya ingin Stefi tahu batasan dan tak berharap lebih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kaylee menyiapkan makan siang untuk Austin. Hari ini, ia berencana untuk mengirimkan makanan ke perusahaan Austin. Mengingat jika Austin akan mengambil cuti, maka Kaylee berencana untuk makan bersama dinkantor bersama dengan Austin dan Nick.


Kaylee meletakkan beberapa macam makanan ke dalam paper bag.


" Sayang... Kau akan makan di kantor bersama Austin ? " tanya Nenek Eliza saat melihat Kaylee memasukkan makanan ke dalam paper bag.


" Iya, nek. Hari ini, hari terakhir Austin bekerja sebelum cuti. Karena itu, aku akan makan bersamanya dan Kak Nick di kantor. Sebagai ucapan terima kasih karena, Kakak Nick akan menghandle urusan kantor untuk sementara " jelas Kaylee.


" Aku berangkat ya, Nek " pamit Kaylee dambil menjinjing paper bag lalu mencium pipi Nenek Eliza.


" Baiklah... Hati-hati sayang ! " sahut Nenek Eliza sambil melambaikan tangannya.


Kaylee pun segera berangkat dengan diantar oleh supir menuju perusahaan Austin. Sesampainya disana, Kaylee segera menaiki lift khusus yang hanya bisa digunakan oleh para petinggi perusahaan.


Sementara itu, di dalam ruangan milik Austin.


" Bagaimana keadaan Stefi ? " tanya Austin pada Nick.


" She' hurt ! Tapi aku bisa pastikan kamu akan leluasa bersama calon istrimu. Stefi sudah berjanji tidak akan mengganggumu lagi " jawab Nick yakin.


" Semoga saja, itu tak hanya di mulut saja " sahut Austin.


" Aus... Kau sudah membicarakannya dengan Kaylee ? Stefi bilang, kau marah besar karena dia menceritakan tentang kau yang bertanggung jawab hingga bersedia menikahi Kaylee "


" Ya... Itu benar " jawab Austin.


" Mengapa kau tidak mengatakannya sekarang ? Aku rasa ia akan menerimamu " tawar Nick.


Austin menggeleng lemah,


" Apa kau pikir ia akan menerimaku sepenuhnya ?Laki-laki yang telah merenggut kehormatannya lalu meninggalkannya ? " tanya Austin.


" Setidaknya kamu sudah jujur, Aus... " ingat Nick.


" Ya, tapi aku menghadapi resiko besar. Kaylee akan menerimaku atau justru ia pergi meninggalkanku " sahut Austin.


Brak... Tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu.


Nick segera menuju ke pintu, namun ia tak menemukan siapapun disana. Ia hanya menemukan paper bag yang telah berada di lantai tanpa ada orang yang membawanya.


Nick lantas membawa paper bag masuk ke dalam ruangan Austin.


" What's wrong Nick ? " tanya Austin saat Nick membawa paper bag.


" Ada yang mengantarkan ini, tetapi tidak ada pengirimnya sama sekali " jawab Nick.


" Oh ya ? Coba kulihat isinya " cetus Alvin.


Austin melihat isinya dan sesaat kemudian ia menyadari jika yang membawa makanan tersebut adalah Kaylee. Untuk lebih meyakinkan lagi, Austin melihat CCTV dan ternyata dugaannya benar.


" Oh, S**t ! Jangan-jangan dia mendengarnya lalu meninggalkan paper bag ini disana. Aku harus mencarinya " ucap Austin lalu bergegas keluar dari ruangan menuju lift.