
Kaylee keluar dari ruang ganti dengan mengenakan gaun yang begitu cantik secantik wajahnya. Disaat yang sama Austin pun keluar dengan mengenakan jas berwarna putih yang membuatnya semakin tampan.
Austin menatapi calon istrinya itu yang terlihat begitu cantik tanpa berkedip sekali pun. Jantungnya terasa berdetak berkali-kali lipat lebih cepat.
" Kaylee... Kau sangat cantik " puji Nenek Eliza saat melihat Kaylee mengenakan gaun pengantinnya meskipun tanpa make up dan tatanan rambut yang tergerai.
Kaylee hanya tersenyum mendengar pujian dari Nenek Eliza.
" Terima kasih, Nek " ucap Kaylee masih dengan senyuman mengembang di wajahnya.
" Austin, kau tidak ingin mengatakan sesuatu ? " tanya Nenek Eliza melirik Austin yang sejak tadi tak mengalihkan pandangannya dengan menatap Kaylee tanpa berkedip.
" Austin... " ucap Nenek Eliza menepuk lengan Austin.
" Eh... I, iya Nek... " Ucap Austin sambil mengusap tengkuknya.
" Anda beruntung sekali Nyonya El, memiliki cucu yang tampan serta cucu menantu yang sangat cantik " puji Nyonya Laura.
" Ya, tentu saja aku sangat beruntung ! " sahut Nenek Eliza bangga.
" Baiklah, kalau begitu kita tinggalkan dulu calon pengantin kita berdua... Biarkan mereka saling mengagumi " ucap Nyonya Laura diiringi kekehan dari mulut Nenek Eliza.
Saat ini, hanya ada Austin dan Kaylee berdua di ruang ganti. Austin mendekati Kaylee yang sejak tadi ditatapnya. Austin pun dengan gerakan cepat memeluk Kaylee dari belakang.
" You're so beautiful, Kay ! I can't take my eyes out of you " ucap Austin sambil meletakkan dagunya pada bahu mulus Kaylee.
" Gombal " celetuk Kaylee berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Austin.
Namun Austin semakin erat memeluknya,
" Aus... " ucap Kaylee menyentuh tangan Austin yang melingkar di pinggangnya. Nafas Austin terdengar menderu.
" Kay... Bisakah kita langsung menikah saja saat ini. Aku mana bisa tahan melihatmu seperti ini " ucap Austin kini ia mulai menciumi bahu dan leher Kaylee.
" Aus... Geli... " ucap Kaylee berusaha melepaskan diri dari sergapan Austin.
Austin menahan gerakan Kaylee,
" Honey... " Austin memutar tubuh Kaylee hingga mereka saling berhadapan.
Austin tersenyum dengan sangat manis menatap calon istrinya yang nampak salah tingkah. Ia menyematkan anakan rambut Kaylee ke telinganya.
Wajah Austin mendekati wajah Kaylee dan detik berikutnya kedua benda kenyal mereka menyatu, saling memagut satu sama lain hingga menimbulkan suara decapan di ruangan tersebut.
" Su... Sudah, Aus ! Bagaimana jika ada yang melihat kita " ucap Kaylee saat tautan bibir mereka terlepas.
" Biarkan saja ! Lagipula mereka pasti mengerti " sahut Austin kemudian memeluk gadis di hadapannya kembali.
Austin mencoba mencari kesempatan untuk mencium bibir Kaylee kembali, namun Kaylee mencegahnya.
" Stop, Aus ! Kalau seperti ini terus, kita tidak akan pernah selesai " cegah Kaylee.
" Biar saja... Aku hanya ingin berduaan denganmu. Masa itu saja tidak boleh " rajuk Austin.
Kaylee meraba pipi Austin membuat pria tampan itu menatap Kaylee dengan lekat.
" Setelah kita menikah nanti, kita bisa terus berduaan... Sabar ya, sayang " ucap Kaylee lagi.
Namun rupanya Austin terlanjur terbawa gairah sehingga ia kembali menyerang Kaylee dengan ******* ganas.
" Astaga... Austin ! " pekik Nenek Eliza yang baru saja kembali dan disuguhi kelakuan mesum cucunya yang melahap bibir Kaylee.
Kaylee mendorong tubuh Austin, namun Austin justru merengkuh tubuh calon istrinya itu seolah tak ingin berpisah.
Nenek Eliza menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara Kaylee menundukkan wajahnya tak berani melihat Nenek Eliza.
" Ck... Nenek ini mengganggu saja " gerutu Austin sambil merapikan jasnya.
" Kau ini, kalau mau melakukan hal seperti itu jangan di tempat umum. Bawa saja Kaylee ke kantor atau kamarmu " ucap Nenek Eliza yang spontan membuat Kaylee mengangkat wajah menatap Nenek Eliza tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Nenek Eliza terkekeh melihat sikap Kaylee yang nampak kebingungan.
Kaylee mendelik pada Austin, sementara sang nenek semakin terkekeh.
" Austin benar Kaylee sayang... Nenek memang ingin segera menimang cicit " ucap Nenek Eliza kemudian.
" Kalau begitu kita majukan saja pernikahan kami, Nek " pinta Austin.
" Ya, kamu benar. Bagaimana sayang, apa kamu setuju untuk memajukan pernikahan kalian ? " tanya Nenek Eliza.
Kaylee terperangah mendengar pertanyaan dari Nenek Eliza. Kaylee hanya diam, ia sibuk mencerna ucapan dari wanita yang sangat menyayangi Austin itu.
" Itu... Bukankah ini terlalu cepat, Nek " sanggah Kaylee.
" Semakin cepat, semakin baik sayang " sahut Nenek Eliza.
Kaylee menghembus nafasnya.
" Nek... Satu bulan itu tidak lama, lagipula jika harus dipercepat, bukankah akan terlihat tidak baik " jawab Kaylee berharap Nenek Eliza dan Austin tidak memaksa.
" Lagi pula, Mommy pasti bingung jika aku dan Austin menikah secepat ini... " ucap Kaylee.
" Baiklah, kita akan menikah sesuai kesepakatan awal. Tapi kamu harus tinggal di rumahku sampai hari pernikahan kita tiba " ucap Austin.
" But, Aus... "
Austin menggeleng, pertanda ia sudah memutuskan dan Kaylee hanya bisa pasrah.
" Ck, kau ini suka sekali mengatur ! " gerutu Kaylee berdecak kesal.
" Aku hanya takut kamu berubah pikiran dan meninggalkanku " balas Austin.
" Sudah... Sudah... Sebaiknya kita segera pulang ! Dan kalian bisa berduaan lagi di rumah " sahut Nenek Eliza.
Patuh, keduanya pun tak lagi bersuara. Mereka saling diam hingga mereka akhirnya tiba di kediaman keluarga Austin.
Baru saja Austin tiba di kamar pribadinya, ponselnya berdering memperlihatkan nama seseorang. Walaupun malas, tetapi Austin tetap menjawabnya.
" Kakak Austin... " sapanya.
" Hem... "
" Nanti malam jangan sampai lupa ya ! Aku akan mengirimkan alamat restorannya dan aku akan berdandan yang cantik demi kakak " ucap Stefi tak tahu malu.
" Tidak perlu berlebihan Stef... Aku sudah memiliki orang yang cantik dihatiku " ucap Austin dengan penekanan.
" Ah iya... Aku lupa jika sudah ada Kaylee di hatimu " jawab Stefi dengan rasa kesal.
." Baiklah, kalau begitu kau kirim alamatnya. Jangan lupa kirimkan juga kepada Nick dan Edward " titah Austin lalu menutup panggilan.
Tak seberapa lama, Austin menerima pesan dari Stefhanie. Austin membacanya lalu memforward pesan dari Stefi kepada Nick dan juga Edward.
Austin kini menuju kamar Kaylee, setelah mengetuk pintu, Kaylee membukanya.
" Aus, ada apa lagi ? " tanya Kaylee.
" Hanya ingin memberitahumu jika Stefi sudah memberikan alamat restoran untuk makan malam kita nanti " jawab Austin.
" Oh, begitu ? Baiklah... Aku akan menyiapkan pakaiannya dulu " sahut Kaylee.
" Honey... Kalau kamu tidak ingin pergi, katakan saja ! " seru Austin tak ingin membuat Kaylee merasa tidak nyaman.
" It's ok, Aus. Kita akan pergi bersama, jadi jangan mengkhawatirkanku " ucap Kaylee jujur.
Austin mendekap tubuh Kaylee, merasakan aroma gadis cantik itu.
" I love you, Kay ! Jangan pernah meragukan cintaku apapun yang terjadi " Austin meyakinkan Kaylee.
Kaylee tersenyum mendengar ucapan Austin. Entah sudah berapa kali Austin mengucapkan hal itu.
" I love you to , Mr. Austin. Tetaplah mencintaiku " tegas Kaylee.