Me And My Amnesia CEO

Me And My Amnesia CEO
Perasaan Kaylee



Dua bulan sudah berlalu semenjak acara lamaran dadakan yang dilakukan oleh Austin dengan nenek Eliza.


Hubungan antara Kaylee dan Austin pun kini sudah mengalami kemajuan, mereka sudah jauh lebih dekat. Bahkan Kaylee mungkin sudah sedikit membuka diri dan hatinya.


Austin senantiasa mengunjungi Kaylee setiap akhir pekan. Ia akan menghabiskan waktu membantu Kaylee membuat roti, ataupun sekedar berjalan-jalan bersama dengan gadis yang dicintainya itu.


" Kay....Nenek memintaku untuk membawamu memilih gaun pengantin untuk pernikahan kita " ucap Austin berhati-hati. Austin sangat paham jika Kaylee tidak menyukai membahas pernikahan mereka.


" Maksudnya ? " tanya Kaylee mempertanyakan ucapan Austin.


" Nenek meminta kita untuk melakukan persiapan pernikahan. Aku harap kamu bersedia ikut denganku " jawab Austin sambil menggenggam tangan Kaylee.


" But, Aus... "


" Please, Kay ! Apakah perasaanmu masih belum berubah padaku ? " tanya Austin menatap ke dalam maya Kaylee.


Kaylee hanya menundukkan wajahnya. Austin mengangkat dagu Kaylee membuat netra mata mereka kembali bertemu.


" Aku yakin, perasaanmu sudah berubah " ucap Austin sambil tersenyum.


" Si... Siapa bilang ? " kilah Kaylee.


" Bibirmu mengatakan tidak, tapi mata dan hatimu tidak akan berdusta. Ayolah Kay... Cukup akui jika kau sudah mulai mencintaiku " goda Austin.


" Ish... Mana mungkin begitu, anda terlalu percaya diri Tuan Austin " dalih Kaylee kemudian melangkahkan kakinya menjauhi Austin.


Austin tersenyum tipis,


Walaupun kau tak mengakuinya tapi kau tak bisa menghindar apalagi lari dariku, Nona Kaylee !


Austin memanjangkan langkahnya untuk mengejar Kaylee sampai akhirnya ia berhasil meraih tangan Kaylee lalu merengkuh pinggang gadis cantik itu kemudian mendekapnya.


" I love you, Kay... Apakah kau masih ragu ? Tak bisakah kau mendengar detak jantungku yang selalu memacu lebih cepat saat berada di sisimu"


ucap Austin dengan hembusan nafas yang bisa Kaylee rasakan di telinganya.


Austin menopangkan dagunya di bahu Kaylee, sementara tangannya tak bergerak sedikitpun tetap melingkar di pinggang ramping Kaylee.


" Austin... " lirih Kaylee.


" Yes, Kay... Say my name again, i will always be your man who love you so much " Austin mengukuhkan diri.


" Are you sure ? I'm not good enough for you " sahut Kaylee dengan lirih.


" You are the best women than other for me. Jangan lagi merasa rendah diri, kau sangat pantas diperjuangkan ! " timpal Austin.


Kaylee tak lagi menjawab Austin, ia tergugu mendengar semua pernyataan dari Austin yang selalu mematahkan ucapannya.


" Apakah aku memang layak diperjuangkan, Aus... Setelah semua hal yang terjadi ? Bahkan aku tak lagi memiliki muka di depan pria manapun " gumam Kaylee begitu pilu.


Austin membalik tubuh Kaylee hingga mereka kini berhadapan satu sama lain.


" Kay... Tak peduli apapun yang terjadi padamu, bagiku kau tetaplah sama. Aku mencintaimu Kaylee " ucap Austin. Kini Austin memberanikan diri mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Kaylee.


Merasa tak ada penolakan dari Kaylee, Austin melanjutkan kembali dengan memperdalam ciumannya. Hingga tautan bibir mereka terlepas, Austin menghapus bibir Kaylee yang basah dengan telunjuknya.


" Aku bisa merasakan jika kau pun mencintaiku, Kay. Hanya saja kau masih ragu untuk mengakuinya. Tapi jangan khawatir, aku akan terus membuatmu yakin akan perasaanmu itu ! " tegas Austin membelai pipi Kaylee dengan senyuman yang terkembang.


Kaylee menatap Austin penuh harap,


" Kalau begitu, jangan pernah menyerah untuk meyakinkanku " ucap Kaylee dengan jelas.


" Aku tidak akan menyerah Kay... Percayalah padaku ! Aku akan selalu membahagiakanmu sepanjang hidupku. My beauty baby... " ucap Austin begitu bersemangat.


Deg... !


Beauty baby ? Bukankah pria itu yang menuliskan kata itu ?


" Kay... Honey...! " ucap Austin menyentuh pundak Kaylee dengan lembut.


" Honey... Are you ok ? " tanya Austin lagi menatap Kaylee sambil memainkan helaian rambut Kaylee.


" Hem... I'm ok " jawab Kaylee singkat dengan senyuman tipis tersemat.


" Tadi apa yang kau katakan ? " tanya Kaylee kemudian.


" Honey... Kau keberatan jika aku memanggilmu seperti itu ? " tanya Austin.


" Honey ? Bukankah kau tadi memanggilku... " Kaylee menghentikan ucapannya.


Austin nampak menautkan kedua alisnya.


" Nevermind... Lupakan saja ! " seru Kaylee kemudian.


" Jadi bolehkah aku memanggilmu, honey ? " tanya Austin lagi penuh harap.


Kaylee menatap Austin, lantas menganggukan kepalanya.


" Thanks, honey ! Aku semakin mencintaimu " ucap Austin lalu mencium pucuk kepala Kaylee.


" Ayo kita temui, mommy Joana. Aku harus meminta ijinnya sebelum membawamu pergi bersamaku " seru Austin antusias.


Mereka berdua pun akhirnya berlalu menuju ke rumah Kaylee. Austin menyampaikan maksudnya kepada Joana dan Joana pun akhirnya mengijinkan Kaylee untuk pergi bersama Austin.


Keesokan harinya, Austin membawa Kaylee ke kediamannya. Nenek Eliza begitu bahagia bisa bertemu kembali dengan calon cucu menantu kesayangannya itu. Hingga akhirnya, ia mengambil alih Kaylee dari Austin. Hal ini membuat Austin sedikit kesal karena Kaylee telah dimonopoli oleh sang nenek. Tetapi, Austin pun merasa bahagia karena sang nenek begitu menyayangi Kaylee.


Tiba saatnya makan malam, Kaylee dan Nenek Eliza sudah memasak makanan istimewa. Nenek Eliza memberitahu pada Kaylee tentang makanan yang disukai dan tidak disukai oleh Austin. Dan ia pun mengajarkan cara memasaknya. Kaylee yang memang berbakat dalam dunia memasak dengan mudahnya mengikuti arahan Nenek Eliza dan berhasil membuatnya dengan rasa yang tak kalah lezat dengan buatannya. Hal ini tentu saja membuat Nenek Eliza semakin yakin jika Kaylee adalah wanita yang tepat untuk Austin.


" Kaylee, sayang... Malam ini kamu bisa menemani Nenek kan ? Ada banyak hal yang ingin Nenek ceritakan " ucap Nenek Eliza begitu semangat.


" Nek... Nenek kan bisa bercerita besok, biarkan Kaylee beristirahat dulu ! Sejak tadi, Nenek sudah membuatnya hanya memperhatikan Nenek saja " gerutu Austin.


" Anak nakal ! Kau cemburu pada nenekmu ini, hah ? " tukas Nenek Eliza.


" Tentu saja Nenekku sayang ! Aku cemburu karena sejak tadi, aku tidak bisa berduaan dengan calon istriku ini " timpal Austin sambil merengkuh pinggang Kaylee, membuat wajah Kaylee bersemu merah.


" Ya... Ya... Baiklah. Kalau begitu kau temani calon cucu menantuku ini dengan baik " seru Nenek Eliza sambil melirik Austin.


" Kay... Nenek ke kamar dulu. Kalau Austin berbuat macam-macam, kau teriak saja. Nenek pasti akan segera menolongmu ! " ucap Nenek Eliza santai.


" Astaga, Nenek ! Memangnya aku mau berbuat apa " decak Austin meraup wajahnya.


Sementara sang nenek hanya terkekeh sambil berlalu menuju ke kamarnya.


" Maaf ya, Nenek sudah membuatmu repot hari ini. Padahal kamu baru saja datang "


" It's ok, Aus. Aku senang karena Nenek bisa menerimaku dengan baik " potong Kaylee.


" Kau dan Nenek senang, tapi aku yang tidak senang " keluh Austin.


" Why ? " tanya Kaylee penasaran.


" Tadinya aku berharap bisa menghabiskan waktu bersamamu, tapi ternyata Nenek mendominasi dirimu " jawab Austin masih merasa kesal.


" Ya, ampun, Austin... Dia itu nenekmu sendiri. Masa kau cemburu ? " gurau Kaylee sambil geleng-geleng kepala.


" Siapapun orangnya, jika dia bisa merebut perhatianmu dariku maka aku akan selalu merasa cemburu ! " ucap Austin membuat Kaylee ternganga.


" Astaga, Aus ! Kau posesif sekali " sahut Kaylee memutar bola matanya.


" Jika itu menyangkut dirimu, aku akan selalu bersikap protektif. Tak peduli jika kamu menganggapku posesif. Yang jelas ini adalah bentuk rasa cinta dan sayangku padamu " timpal Austin lalu memeluk Kaylee dengan erat.


Tak perlu bertanya kenapa Kay ? Ini semua karena aku sangat mencintaimu dan tak ingin kehilangan dirimu !!