Me And My Amnesia CEO

Me And My Amnesia CEO
Berbaikan



" Jadi karena penebusan dosa, kau bersedia mencintaiku ? " tanya Kaylee menatap Austin dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


Austin menggeleng,


" Tidak... ! Karena aku benar-benar jatuh cinta padamu. Kay, aku memang ingin bertanggung jawab padamu tetapi bukan semata karena penebusan dosa. Karena aku mencintaimu, bahkan aku merasakannya sejak aku melakukan hal itu pertama kali denganmu " jelas Austin.


" Katakan padaku, jika kau memang mencintaiku berapa kali kau melakukannya padaku ? " selidik Kaylee.


" Berjanjilah jika kau tidak akan marah jika aku mengatakannya ? " pinta Austin.


" Tergantung " sahut Kaylee tak acuh.


" Kalau begitu aku tidak akan mengatakannya " timpal Austin.


" Baiklah... Baiklah... Aku tidak akan marah " ucap Kaylee mengalah.


" Saat itu... Dengan pengaruh obat dalam diriku, aku melakukannya sekali " Austin nampak menarik nafasnya lalu mengeluarkannya.


" Tapi... " Austin menggantung ucapannya.


" Tapi kenapa ? " tanya Kaylee penasaran. Ia ingin tahu yang sebenarnya terjadi.


" Itu jadi pengalaman pertamaku tetapi juga awal untuk melakukannya kembali padamu. Dan aku melakukannya hingga tiga kali pelepasan. Aku benar-benar tak tahan melihatmu, Kay " jawab Austin jujur.


Plak...


Kaylee mengayunkan tangannya ke pipi Austin, dengan mengatur ritme pernafasannya.


" Aku pikir itu murni karena obat. Rupanya itu hanya akal bulusmu saja " tuduh Kaylee.


" Aku sudah mengatakan yang sebenarnya dan kamu pun sudah berjanji tidak akan marah " ucap Austin menatapi Kaylee.


" Aku tak menyangka ternyata kau juga bisa mencuri kesempatan " ucap Kaylee terdengar seperti sindiran.


" Karena aku telah jatuh cinta padamu Kay. Saat pertama kali melihatmu, perasaan yang ada semakin tak menentu. Debaran antara rasa kagum dan rasa ingin memiliki seolah berlomba satu sama lain " sahut Austin.


" Aku tahu ini terdengar gila, tapi aku tak menyesal melakukannya denganmu... " tambah Austin.


Kaylee menggelengkan kepalanya.


" Lalu siapa ? Siapa yang tega memberikanmu obat itu ? Dan apa alasannya ? " tanya Kaylee kemudian.


Austin menghela nafasnya,


" Edward yang melakukannya " jawab Austin.


" Apa ? Tapi kenapa ? Bukankah dia sahabatmu sendiri ? " heran Kaylee.


" Karena keusilannya itu justru aku mendapatkan berkah. Malam itu, kami merayakan ulang tahunku di club tempat kau bekerja. Tanpa sepengetahuanku, rupanya Edward memberikan obat dalam minumanku. Dia berdalih sebagai hadiah ulang tahunku agar aku mau menghabiskan malam bersama seorang wanita " jelas Austin.


" Lalu bagaimana kau bisa menemukanku dan memilihku sebagai pemuas dirimu ? " tanya Kaylee kembali.


" Saat itu, aku dan Nick mencari dokter tapi karena sudah larut malam, kami tidak menemukan satu klinik pun. Saat Nick mencari, aku menunggu di dalam mobil di dekat apartemenmu dan saat itu kau mabuk berat. Kau bersandar di mobilku namun hampir terjatuh. Aku membawamu ke apartemenmu setelah kau memberitahu dan terjadilah hal itu disana " jawab Austin panjang lebar.


Kaylee memijat pelipisnya, mengingat kembali kejadian saat itu.


" Lalu mengapa kau meninggalkanku ? "


" Tidak, aku tak bermaksud meninggalkanmu. Karena itu aku menulis di secarik kertas. Setelahnya, aku pergi mencari Edward untuk memberinya pelajaran. Lalu aku kembali lagi ke apartemenmu, namun kau sudah pergi. Aku bahkan meminta Nick untuk membeli unit apartemenmu, untuk mengingatkanku saat menghabiskan malam bersamamu " tambah Austin.


" Aku mencarimu Kay untuk bertanggung jawab dan akhirnya aku berhasil menemukanmu tapi ternyata aku malah mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatanku. Tapi selama kehilangan ingatan, aku masih bisa merasakan keterikatan denganmu. Bahkan aku kembali jatuh cinta padamu " sambung Austin lagi, kini ia sudah meraih wajah Kaylee.


" I love you, Kay ! Believe me... " ucap Austin lalu mengecup bibir Kaylee yang sudah sejak tadi ingin dirasainya. Tak ada penolakan dari Kaylee dan itu membuat Austin semakin memperdalam pagutannya.


Tanpa mereka berdua sadari, ada dua pasang mata memperhatikan mereka dari balik pintu dapur. Mereka adalah Rachel dan Nick.


" Hm... They are so romantic... " gumam Rachel dengan senyum di wajahnya.


" Yes, they are really romantic... " tambah Nick yang ikut melihat adegan romantis Austin dan Kaylee secara live.


Rachel mendongakkan wajahnya hingga ia bisa melihat wajah Nick tepat berada di atas kepalanya sedang tersenyum melihat Austin.


" Astaga... " pekik Rachel dengan mata membulat yang tentu membuat Austin dan Kaylee segera menyudahi adegan mereka.


Deg...


Manik mata Nick beradu dengan manik mata milik Rachel yang berwarna hazel dibalik kaca matanya. Entah mengapa Nick, begitu nyaman memandangi wajah Rachel yang begitu polos dan sederhana.


" Tuan... " ucap Rachel.


" Sstt... Diamlah ! Kau tidak ingin mereka mengetahui jika kita mengintip mereka kan ? Austin bisa marah besar jika kita ketahuan " seru Nick.


Dengan patuh Rachel mengikuti arahan Nick untuk diam. Hingga tak lama kemudian, Nick sadar dan langsung melapaskan kungkungannya dari Rachel.


" Ish, kau ini sengaja ya ingin berdekatan denganku ! " tuduh Nick.


" Bukankah Tuan sendiri tadi yang meminta saya untuk diam " sanggah Rachel tak terima dengan tuduhan Nick.


" Kau suka kan berada di dekatku ? " timpal Nick sinis.


" Cih... Untuk apa saya menyukai orang plin plan seperti anda ! Wajahnya saja yang tampan, tapi kelakuannya seperti bunglon, mudah berubah-ubah " gerutu Rachel kesal.


" Dasar bunglon ! " oceh Rachel sambil mendorong tubuh Nick yang ada di hadapannya.


" Kau ! " tunjuk Nick.


" Apa ? " tantang Rachel lalu menjulurkan lidahnya sebelum berlalu meninggalkan Nick.


" Astaga... ! Gadis itu benar-benar... " gumam Nick mengepalkan tangannya saat melihat punggung Rachel yang menjauh.


" Nick... Aku dan Kaylee akan keluar sebentar " ucap Austin yang tiba-tiba berada di samping Nick.


" Kalian sudah baikan ? " tanya Nick penasaran.


" On process " bisik Austin.


" Lalu aku bagaimana ? " tanya Nick.


" Kakak Nick bisa istirahat di kamar yang dulu ditempati Austin. Aku akan meminta Rachel untuk merapikannya dulu " jawab Kaylee.


Kaylee berjalan menuju Rachel dan langsung meminta Rachel untuk merapikan kamar yang berada di samping ruang kerja Kaylee. Tak lama, Kaylee dan Austin pun keluar dari Toko.


Nick mengikuti Rachel naik ke lantai 2. Ia membiarkan Rachel untuk merapikan kamar lebih dulu. Setelah Rachel selesai, barulah ia masuk.


Nick kini duduk di tepi ranjang, sementara Rachel tengah mencuci tangannya.


" Baiklah, kamarnya sudah rapi. Silakan anda beristirahat ! " ucap Rachel lalu menuju pintu tanpa melihat ke arah Nick.


" Tunggu ! "


" Ada apa lagi ? " ketus Rachel.


" Kau ini, galak sekali. Kaylee saja bersikap baik padaku. Apa kau tidak tahu aku ini siapa ? " ucap Nick sombong.


" Saya tidak tahu dan tidak mau tahu ! " jawab Rachel tak peduli.


" Tolong, bawakan aku makanan ! Aku sangat lapar, seharusnya kamu berbaik hati padaku. Bukankah aku sudah menolongmu merapikan toko tadi " ucap Nick lagi.


Rachel meremat apron yang ia gunakan.


" Memangnya saya meminta anda membantu saya ? Jangan pikir saya akan melakukan apapun yang anda suruh. Saya bukan pelayan anda, saya juga tidak bekerja untuk anda " tekan Rachel yang seketika membuat Nick menyeringai.


" Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika Kaylee nanti memecatmu karena kau tidak memperlakukanku dengan baik. Kau tahu betul jika aku adalah sahabat serta orang kepercayaan Austin " ancam Nick.


Dan ucapan Nick itu sukses membuat Rachel mengubah sikapnya.


" Baiklah... Saya aka membawakan makanan untuk anda. Ada lagi yang anda perlukan ? " tanya Rachel mencoba bersikap tenang.


" Ya, jangan lupa kau bawakan kopi juga dengan sedikit gula " tambah Nick.


" Baik, Tuan... Harap menunggu sebentar " ucap Rachel lalu meninggalkan kamar.


Nick menyeringai penuh kemenangan.


Hah... Ternyata mengerjainya itu sangat menyenangkan !