Me And My Amnesia CEO

Me And My Amnesia CEO
Ingin ditemani



Stefhani memasang wajah masam saat masuk ke dalam mobil Nick. Sementara Nick bersikap acuh pada Stefhani. Nick menyadari jika Stefhani tentunya tidak akan dengan mudah melepaskan Austin. Nick mengenalnya sejak gadis itu masih kecil.


Daniel sangat menyayangi Stefhani dan selalu memanjakan sang adik. Apapun keinginan Stefhani selalu ia turuti sehingga membuat Stefhani menjadi egois, selalu ingin menang sendiri.


Sikap Stefhani perlahan berubah saat Daniel mengalami kecelakaan. Namun, rasa cintanya pada Austin tak pernah berubah kendati Austin telah menolaknya berulang kali.


" Kak... Mengapa Kak Austin bisa bersama dengan wanita itu ? Apa hebatnya dia ? " tanya Stefhani dengan gerutuan.


" Austin bersama Kaylee itu sudah suratan takdir. Austin jatuh cinta padanya sejak pertama bertemu dengan Kaylee... Tentu saja Kaylee gadis yang hebat karena bisa membuat pria dingin macam Austin jatuh cinta. Bahkan lelaki buaya darat saja bisa mencintainya " jawab Nick.


" Maksudnya ? " tanya Stefhani penasaran.


" Bukan hanya Austin yang mencintai Kaylee. Ku rasa Edward juga mencintainya " jawab Nick sesuai pemikirannya.


" What ? Kakak Ed juga menyukainya ? Impossible " Stefhani membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang Nick ucapkan.


" Stef... Kakak mohon, jangan buang waktumu untuk mengejar Austin lagi. Dia berhak menemukan kebahagiaannya dan kau pun berhak untuk bahagia " ingat Nick sambil fokus mengendarai mobilnya.


" Tapi aku hanya akan bahagia jika bersama dengan Kak Austin " ucap Stefhani keukeuh pada pendiriannya.


" Itu menurutmu ! Apa kau pernah berpikir jika Austin bahagia bersamamu ? Jangan berpikiran picik Stefi ! " gertak Nick.


" Mengapa Kakak seolah menyudutkanku ? Apa salah jika aku ingin bahagia dengan pria yang kucintai ? Rupanya gadis itu sudah meracuni pikiran kalian " gerutu Stefhani.


" Stefi...!! " sentak Nick membuat Stefhani langsung diam.


" Jangan pernah mengatakan hal buruk tentang Kaylee. Kau belum mengenalnya ! " ingat Nick.


Aku memang belum mengenalnya, tapi aku tahu dia sudah mengambil perhatian kalian semua... Aku membencinya !!


Stefhani menyilangkan tangannya di depan dada. Ia merasa sangat kesal, karena Nick justru membela Kaylee. Apalagi gadis itu juga sudah berhasil merebut hati Austin bahkan juga Edward.


Nick hanya melirik Stefhani tanpa ingin berbicara lagi. Ia merasa sudah cukup memberi alasan kepada Stefhani. Nick pun tak ingin terlalu menekannya, ia tahu Stefhani hanya sedang merajuk ingin diperhatikan karena merasa tersaingi oleh Kaylee. Apalagi mengetahui jika Austin akan segera menikahi Kaylee. Nick yakin jika Stefhani lambat laun akan menerima kenyataan bahwa Austin tidak akan pernah bisa menjadi miliknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Kaylee tak banyak bicara semenjak meninggalkan restoran. Ia lebih banyak menatap ke arah luar jendela mobil. Austin menyadari jika Kaylee merasa tidak nyaman saat ini.


" Honey... Are you ok ? " tanya Austin membuka pembicaraan.


" Hem... " jawab Kaylee tanpa melihat Austin. Matanya tetap menatap ke arah jalanan.


Cup...


Tanpa Kaylee duga, Austin segera mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya setelah menepikan mobilnya lebih dulu.


" Aus... " ucap Kaylee kaget, tak siap dengan serangan dadakan Austin.


Austin terkekeh melihat tingkah Kaylee.


" Ish... It's not funny, Aus ! " cebik Kaylee mengerucutkan bibirnya.


Kembali Austin mendaratkan ciuman di bibir Kaylee, bahkan kali ini bukan lagi kecupan singkat namun begitu menuntut dan membuai Kaylee.


Austin melepaskan pagutan mereka saat Kaylee memukul dadanya karena kehabisan oksigen. Austin menyentuh bibir Kaylee dengan ibu jarinya lalu tersenyum.


" Ini selalu membuatku candu " ucap Austin dengan seringai di wajahnya.


" Kau ini... " sela Kaylee sambil mengalihkan pandangannya ke luar, menenangkan debaran rasa yang menghantam jantungnya.


" Honey... Kau merasa tak nyaman karena Stefi ? "


" Sepertinya dia sangat mencintaimu, Aus ! " ucap Kaylee.


" But I'm not ! " sahut Austin langsung menanggapi ucapan Kaylee.


Austin tak ingin Kaylee berpikir yang tidak-tidak.


" Dia pasti membenciku karena akan menikah denganmu " ucap Kaylee lagi.


" Ck... Kau tidak perlu memikirkan perasaannya. Cukup pikirkan saja perasaanku yang tentunya sangat mencintaimu " gombal Austin.


" Oh my God, Mr. Austin... Aku tak menyangka kau bisa segombal ini " Kaylee menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Yes and it's because of you " sahut Austin lantang, ia menatap lembut Kaylee dan membuat gadis cantik itu salah tingkah.


" Kay... Sejak bertemu denganmu, duniaku berubah. Dan aku bahagia karena Tuhan menakdirkan kita untuk bersama dengan jalan yang tak pernah diduga sama sekali " ucap Austin, tangannya meraih tangan Kaylee.


" Maksudnya ? "


" Bertemu denganmu adalah anugrah terindah yang ku miliki dan aku tak pernah menyesalinya " jawab Austin membelai lembut pipi Kaylee.


Kaylee tak mengatakan apapun, ia dapat merasakan betapa tulusnya Austin.


" Aus... Apa kau yakin dengan keputusanmu menikahiku ? Aku masih merasa tak pantas untuk mendampingimu " ucap Kaylee lirih.


" Hei... Kau sangat pantas untuk mendampingiku. Seandainya saja kita bertemu dengan jalan yang lebih baik... " Austin menghentikan ucapannya.


" Jalan yang lebih baik ? " sela Kaylee bingung dengan ucapan Austin.


" Ya... Seandainya saja, aku menemukanmu sejak awal. Dan semua berjalan dengan sewajarnya tanpa kau harus melalui semua ini, aku akan sangat bahagia " ucap Austin dengan rasa bersalah meliputi hatinya.


Maafkan aku, Kay... Maaf atas semua hal yang menimpa dirimu. Tapi aku tak menyesal melakukannya denganmu...


Kaylee tersenyum simpul, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Mungkin ia pun berpikir andai saja semua hal buruk itu tak pernah terjadi.


" Mulai saat ini, aku akan selalu disampingmu Kay. Aku akan bertanggung jawab padamu dan akan selalu membahagiakanmu. Ku mohon ijinkan aku membahagiakanmu dan percayalah aku akan mewujudkannya ! " ucap Austin penuh keyakinan sembari menatap Kaylee.


Melihat kesungguhan Austin, hati Kaylee semakin meleleh dan semakin jatuh dalam pesona Austin.


" Baiklah, Aus ! Aku percaya kau akan selalu membuatku bahagia. Kita pasti bahagia " sahut Kaylee yakin.


Keduanya tersenyum bahagia.


" Honey... Bolehkah aku bertanya sesuatu ? Sedari tadi ada yang mengganggu pikiranku " tanya Austin sambil menjalankan kembali mobilnya.


" Soal apa ? " tanya Kaylee mengernyitkan keningnya.


" Apakah ucapanmu tadi serius ? " Austin balik bertanya.


" Ucapan yang mana ? " Kaylee nampak kebingungan.


" Tadi kau bilang jika kau akan menemaniku di kamar, sekarang atau nanti sama saja. Benarkah itu ? Bisakah aku memintamu menemaniku sekarang ? " tanya Austin menggoda Kaylee.


" Astaga, Aus... Kamu ini bicara apa ? " sanggah Kaylee salah tingkah sendiri.


" Aku hanya bertanya, Kay... Aku sungguh mendengar kau mengatakan itu pada Stefi tadi. Jadi bisakah kau menemaniku ? " goda Austin. Ia begitu senang bisa membuat Kaylee salah tingkah dengan wajah yang merona.


" Bukankah kau juga mengatakan jika bahagia melakukannya karena kita saling mencintai ? So, can we do it ? " tanya Austin lagi sedikit berbisik.


Wajah Kaylee semakin merona, ia tak menyangka jika ucapannya tadi kepada Stefi justru menjadi senjata ampuh bagi Austin untuk memintanya melakukan hal tersebut. Sementara Austin tersenyum smirk sambil melirik ke arah Kaylee.