
Kaylee turun dari mobil Cris, kemudian segera menghambur memeluk Sang ibu yang telah menyambutnya di depan pintu.
" Mommy... " ucap Kaylee, tak terasa air matanya meleleh.
" I miss you ! " tambah Kaylee lagi, memeluk erat Joana.
" I miss you to, sweet heart " jawab Joana sambil mengusap punggung Kaylee.
Cukup lama mereka berpelukan, hingga akhirnya Cris menginterupsi kebersamaan mereka.
" Kay... Aunty... "
Baik Kaylee maupun Joana segera melepaskan pelukannya saat menyadari Cris masih ada disana. Kaylee segera menghapus air matanya.
" Ah, iya... Maaf kami sudah melupakanmu Cris " ucap Joana sambil tersenyum.
" It' s oke aunty ! Aku yakin kalian pasti saling merindukan " sahut Cris balas tersenyum.
" Thank you, Cris ! " ucap Kaylee sambil menghampiri Cris.
" No problem Kay... I'll do anything for you " balas Cris dengan senyuman yang selalu tersungging di bibirnya.
" Masuklah lebih dulu, Cris... Kita minum kopi dulu. Kau pasti sangat lelah, karena sudah menjemput Kaylee " ajak Joana.
Cris menatap pada Kaylee, melihat gadis cantik itu mengangguk, Cris pun segera melenggang masuk ke dalam rumah mengikuti Joana dan Kaylee.
Sementara itu, di tempat lainnya.
Austin tiba di kantornya, ia segera mendatangi Nick di ruangannya.
" Austin ? What are you doing here ? Bukankah kau mengambil cuti ? " tanya Nick yang merasa heran karena Austin kini muncul di hadapannya.
Austin menghempaskan badannya di atas sofa.
" She's go, Nick ! " lirih Austin.
" What ? But why, Aus ? " tanya Nick penasaran.
" Kau sudah menjelaskan semua padanya kan Aus ? " tanya Nick lagi.
" Tentu saja sudah, hanya saja dia tidak bisa menerimanya begitu saja... Dia merasa aku dan kita semua membohonginya. Dan tadi pagi dia pergi bersama Cris... " jawab Austin lirih.
" Bukankah sudah kukatakan padamu untuk berterus terang padanya sejak awal. Sekarang... Kau lihat kan apa yang terjadi " oceh Nick sambil duduk di sisi Austin yang sibuk memijat pelipisnya.
Kepala Austin menengadah ke atas, sementara matanya terpejam.
" What should i do, Nick ? What should i do if she's doesn't wanna to comeback " tanya Austin lirih, sepertinya ia sudah kehilangan separuh jiwanya.
" You have to fight Aus ! Jangan menyerah begitu saja, kecuali kau mau melihatnya bersama pria lain. Dan aku yakin akan ada banyak pria yang ingin bersamanya " jawab Nick.
Austin segera membuka matanya, lalu duduk dengan tegap.
" Selama aku hidup, tidak akan pernah aku biarkan pria manapun bersama dengan Kaylee... " tegas Austin.
" So prove it, Aus ! " seru Nick.
" Buktikan jika kau akan memperjuangkannya, jangan hanya menunggu ia berubah pikiran " tambah Nick lagi memprovokasi Austin.
" Aku tidak menunggunya berubah pikiran. Aku hanya memberinya waktu untuk berpikir... " tukas Austin.
" Kau memang memberinya waktu untuk berpikir. Tanpa kau sadari, kau juga memberikan celah pada orang lain untuk mendekati Kaylee " sahut Nick terdengar sebagai ancaman bagi Austin.
" Kalau begitu, aku akan menyusulnya saat ini juga ! " ucap Austin lalu bangkit dari sofa.
" Dan kau ikut denganku ! " titah Austin.
" What... ? " Nick merasa tak terima.
" Kau kan tadi mengatakan jika aku harus berjuang. Maka aku akan berjuang, Nick. Dan sebagai orang kepercayaanku, kau harus selalu mendampingiku " sahut Austin.
" You are right ! Saat aku menikah nanti, kaulah yang akan menjadi pendamping pengantin pria. Dan masalah pekerjaan, aku tahu kau bisa memghandlenya dari jauh " sahut Austin.
Nick mengacak rambutnya...
" Ish.. Dasar kau ini suka seenaknya... Berbuat sesukamu sendiri. Disaat enak kau lakukan sendiri, tapi giliran susah aku juga harus kebagian susah. Bos macam apa kau ini ? " gerutu Nick.
" Jadi kau ikut tidak ? " tanya Austin sambil melirik Nick.
" Cih, memangnya aku punya pilihan ? " ungkap Nick lalu memimpin langkahnya dengan berjalan di depan Austin.
Baru saja mereka keluar dari ruangan Nick, mereka dikejutkan dengan kedatangan Stefhani.
" Stefi... What are you doing here ? " tanya Nick memicingkan matanya.
Nick dan Edward memang datang ke apartemen Stefhani setelah Austin meminta mereka untuk menghibur Stefhani. Stefhani yang saat itu masih bersikeras untuk memiliki Austin harus menelan pil pahit setelah Nick mengatakan jika Austin memang mencintai Kaylee. Nick dan Edward pun kemudian menceritakan semuanya kepada Stefhani.
Stefhani terguncang mendengarkan penjelasan dari Nick dan Edward. Ia tak pernah menyangka jika Austin akan menemukan tambatan hatinya dengan cara seperti itu hingga akhirnya mau tidak mau Stefhani harus merelakan perasaannya itu tak bersambut.
" Kak... Aku minta maaf ! " lirih Stefhani menatap Austin dengan tatapan sendu.
Austin hanya menganggukkan kepalanya tanpa ingin mendekati Stefhani.
" Bisakah kita bicara berdua ? " pinta Stefhani lagi.
" Kita bisa bicara bertiga bersama Nick " sahut Austin.
Stefhani terlihat kecewa, namun kemudian ia setuju. Dan akhirnya mereka kembali masuk ke ruangan Nick.
" Kak... Aku tahu, aku bersalah. Walaupun semua yang ku lakukan itu karena perasaanku padamu tetapi aku tahu jika hatimu hanya untuk Kaylee kini. Kak... Bisakah kita seperti dulu lagi ? Kau menganggapku sebagai adikmu lagi. Kita semua bisa seperti dulu, bersama-sama, saling menyayangi..." ucap Stefhani penuh harap.
" Baguslah jika kau menyadari kesalahanmu... Stefi aku menghargai perasaanmu tetapi kau tak bisa memaksakan perasaan orang lain... Aku akan selalu menyayangimu selayaknya seorang kakak yang menyayangi adiknya. Aku, Nick, juga Edward akan selalu menjaga dan melindungimu "
ucap Austin bijak.
" Dimana Kaylee ? Aku juga ingin meminta maaf kepadanya " tanya Stefi.
Austin dan Nick saling berpandangan.
" Kaylee, dia sedang pulang " jawab Austin.
" Jangan bilang jika Kaylee marah karena aku ? Sungguh Kak... Aku tak ingin membuatnya pergi darimu " sahut Stefi dengan rasa bersalah.
" Tidak... Bukan karenamu Stef. Tapi karena diriku sendiri " tukas Austin sedih.
" Tapi, kami akan menjemputnya " timpal Nick kemudian.
" Bolehkah aku ikut bersama kalian ? Aku juga ingin menyampaikan permohonan maafku langsung kepada Kaylee "
Austin menatap curiga pada Stefhani. Ia merasa heran karena sikap Stefi begitu cepat berubah, padahal ia tahu betul sikap keras kepala Stefi. Meskipun Nick dan Edward sudah berhasil menyadarkan Stefhani, tetapi setidaknya ia harus waspada.
" Kakak masih tidak percaya padaku ya ? " Stefhani menundukkan wajahnya.
Austin menghela nafasnya,
" Baiklah kau boleh ikut, tapi jika kau membuat masalah baru maka aku tak segan-segan lagi memberi hukuman padamu " ucap Austin sedikit mengancam Stefhani.
" Terima kasih Kak... Aku berjanji tidak akan membuat masalah " sahut Stefhani dengan senyum sumringah di wajahnya.
Nick hanya melirik ke arah Stefhani. Ia berharap apa yang keluar dari mulut Stefi itu bukanlah kepalsuan.
" Kalau begitu, kita berangkat nanti malam saja. Jadi besok pagi kita sudah sampai di rumah Kaylee " seru Austin.
" Baiklah, itu lebih baik. Jadi aku bisa menyelesaikan pekerjaan lebih dulu serta menyiapkan orang untuk menghandle pekerjaan selagi kita tidak ada di kantor " sahut Nick.
" Kau atur saja, aku percaya padamu ! " ucap Austin kemudian berlalu dari ruangan Nick menuju ke ruangannya.
" Stef... Kau pulang dan bersiaplah. Nanti kami akan menjemputmu ! " titah Nick pada Stefi. Dengan patuh Stefi pun segera pulang.