Me And My Amnesia CEO

Me And My Amnesia CEO
Pengakuan Austin



Austin duduk di tepi ranjang sementara sang nenek duduk di sofa yang ada di kamar Austin. Nenek Eliza memandangi Austin dengan tatapan tajam.


Austin hanya pasrah dengan sikap Nenek Eliza yang seolah sedang melakukan sidang atas kejahatan yang dilakukannya.


" Jelaskan pada Nenek, apa yang sudah kau lakukan pada Kaylee ! " seru Nenek Eliza dengan melipat tangan di dada.


Austin menghela nafas dengan berat. Cepat atau lambat ia harus menceritakan semua hal pada sang Nenek.


" Kau melakukan apa hingga membuat Kaylee pergi ? " tanya sang Nenek lagi.


" Aku sudah membohonginya, Nek... " jawab Austin menghembus kasar nafasnya.


" Membohonginya ? Kebohongan macam apa yang telah kau lakukan ? " selidik Nenek Eliza.


" Kebohongan yang membuat dia terluka amat dalam " ucap Austin penuh rasa bersalah.


" Jadi benar apa yang Stefi katakan jika kau hanya ingin bertanggung jawab karena Kaylee sudah merawatmu ? " tanya Nenek Eliza sambil mengusap wajahnya.


" Tidak Nenek, bukan karena itu. Aku benar-benar mencintai Kaylee juga bertanggung jawab padanya tetapi bukan karena dia sudah merawatku " jawab Austin tegas.


" Lalu karena apa ? " tanya Nenek Eliza menatap Austin tajam.


Austin bergerak mendekati Nenek Eliza, lantas duduk bersimpuh di hadapan sang Nenek yang terlihat begitu penasaran.


" Karena aku sudah mengambil apa yang paling berharga dari diri Kaylee, Nek... " jawab Austin lirih.


" Apa katamu ? " Nenek Eliza terhenyak mendengar penuturan Austin, tangannya memegangi dadanya saking terkejut mendengar


jawaban Austin.


" Nenek baik-baik saja kan ? " tanya Austin kemudian bangkit dan mengambilkan air minum.


Nenek Eliza lebih tenang setelah meminum air yang diberikan oleh Austin.


" Jelaskan mengapa bisa begitu ? Nenek mengenalmu dengan baik, mana mungkin kau... " Nenek Eliza tak melanjutkan ucapannya.


" Aku bisa jelaskan, Nek " ucap Austin, lalu menceritakan semua yang terjadi pada sang nenek tanpa ada yang ditutupi sedikit pun.


Nenek Eliza mengurut-urut pelipisnya saat mendengar semua penjelasan dari Austin. Ia tahu cucunya itu memang bersalah walau ada campur tangan orang lain yaitu Edward di dalamnya.


" So, what will you do now ? " tanya Nenek Eliza.


" Just give her time to think " jawab Austin pasrah.


" And then...? "


" I will bring her back to me ! " tegas Austin.


" Aku mencintainya, Nek ! Dan aku akan memastikan jika selamanya dia hanya akan menjadi milikku " tambah Austin lagi.


" Good ! Nenek juga hanya menginginkan Kaylee yang jadi cucu menantu Nenek. Jadi apapun yang terjadi kau harus membawanya kembali ke rumah ini sebagai satu-satunya Nyonya Austin Beldiq Hamilton " sahut Nenek Eliza yang kemudian memeluk Austin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Kaylee yang hanya diam saat berada di dalam mobil membuat Cris merasa khawatir.


" Kay... Are you oke ? " tanya Cris, melirik ke arah Kaylee.


" Hem " jawab Kaylee singkat.


" But you seem not oke " tukas Cris.


" I'm oke, Cris... It just... " Kaylee menghirup udara dalam-dalam lalu menghembusnya perlahan.


" Nevermind, Cris. I'm oke " sambung Kaylee dengan senyum yang dipaksakan.


Cris menatap Kaylee sekilas lalu kembali mengalihkan tatapannya menatap jalanan.


Kaylee dan Cris hanyut dalam pikirannya masing-masing.


Mengapa kau tega membohogiku selama ini Aus ? Apa pernyataan cintamu itu juga salah satu kebohonganmu yang lain ? Bahkan kau membiarkanku pergi tanpa berusaha menahanku. Sepertinya, aku terlalu berharap banyak padamu... Seharusnya aku cukup tahu diri.


Mobil milik Cris kini sudah berada dalam kapal menuju kota tempat tinggal mereka.


" Aku akan pergi ke dek. Kau ingin di mobil saja atau kau ingin melihat pemandangan lautan dari atas dek kapal bersamaku ? " tanya Cris sambil membuka seat belt yang melingkar di tubuhnya.


Kaylee terlihat berpikir lalu kemudian mengangguk.


" Aku akan ikut denganmu " jawab Kaylee lantas membuka seat belt dan segera turun dari dalam mobil Cris.


Cris tersenyum samar, lalu turun dari mobil dan menyusul Kaylee yang sudah melangkah menuju geladak kapal.


Kaylee merapikan rambutnya yang dipermainkan oleh angin. Ia menghalangi sinar matahari dengan menggunakan tangannya menghalaunya agar sinarnya tak langsung menerpa wajahnya.


Dengan tanggap Cris memberikan topinya kepada Kaylee.


" Pakailah, agar kau tak merasa silau saat memandangi lautan " seru Cris menyodorkan topinya.


" Tidak perlu, aku punya kaca mata hitam agar mataku tidak silau " tolak Kaylee lalu mengambil kaca mata hitam dari dalam sling bag miliknya.


Kaylee mengenakan kaca matanya lalu kembali menatap lautan lepas yang membentang di hadapannya. Namun Cris segera memakaikan topinya di kepala Kaylee dan hal itu spontan membuat Kaylee menatap Cris.


" Kaca matamu hanya membuat matamu terlindung. Tapi topi ini bisa melindungi kepala dan wajahmu dari sinar matahari. Sama seperti aku yang akan selalu melindungimu, Kay " ucap Cris balas menatap Kaylee.


Kaylee segera mengalihkan pandangannya dari Cris.


" Thanks, Cris " ucap Kaylee sambil kembali menatap lautan.


" Kay... Apakah dia menyakitimu ? " tanya Cris sambil berdiri di samping Kaylee, ikut melihat lautan lepas.


Kaylee menggelengkan kepalanya, ia tak bisa menceritakan masalahnya kepada orang lain.


" Kay... Jika ada yang mengganggu pikiranmu, katakan padaku. Aku akan dengan senang hati membantumu... " Cris menawarkan diri.


Kaylee hanya mengangguk tanpa melihat Cris. Ia takut dirinya hanya akan melukai hati pria itu. Lagipula, ia belum berani menceritakan pada siapapun masalahnya saat ini.


Austin...


Tiba-tiba pikiran Kaylee dipenuhi oleh sosok Austin. Pria yang sudah berhasil mencuri hatinya, pria yang sudah ia percayai namun nyatanya pria itu pula yang sudah menorehkan luka dalam hidupnya.


Austin melihat ponselnya, ia mendapatkan kiriman beberapa foto Kaylee bersama dengan Cris. Foto saat Cris memakaikan topinya pada Kaylee serta beberapa foto lain yang memperlihatkan Cris begitu perhatian pada Kaylee.


Austin mengepalkan tangannya karena kesal. Seharusnya tadi dirinya sendiri yang mengikuti Cris dan Kaylee bukan meminta anak buahnya mengawasi Kaylee. Ya, Austin memang menugaskan beberapa anak buahnya untuk mengawasi dan melindungi calon istrinya itu.


Hanya kali ini, Kay. Kali ini saja aku membiarkannya bisa dekat denganmu. Karena setelah ini, aku sendiri yang akan memastikanmu kembali ke sisiku.


Austin lantas merapikan dirinya. Ia akan kembali lagi ke perusahaan. Pada awalnya ia memang mengambil cuti namun karena Kaylee kembali ke rumahnya, maka ia memutuskan untuk masuk kerja kembali.


Austin menemui sang Nenek sebelum berangkat ke perusahaan.


" Austin kau pergi kemana ? " tanya Nenek Eliza saat melihat Austin sudah nampak rapi.


" Aku akan pergi bekerja, Nek " jawab Austin jujur.


" Ck... Calon istrimu pergi dan kau masih bisa pergi bekerja " decak kesal Nenek Eliza.


" Hanya 3 hari, Nek. Dan setelah itu, aku akan memastikan Kaylee kembali lagi menjadi cucu menantu Nenek " sahut Austin yakin.


" Kau yakin bisa membuat Kaylee kembali ? " tanya Nenek Eliza.


Austin mengangguk yakin.


" Aku tidak akan membuatnya pergi lagi, Nek. Aku hanya memberinya waktu untuk menenangkan diri dan setelah batas waktunya habis aku akan membawanya kembali ke sisiku " tegas Austin.