
Austin hanya bisa melihat Kaylee dari kejauhan. Ia telah memberikan ijin kepada Cris untuk berbicara berdua dengan Kaylee. Walauoun terasa berat tetapi ia harus melakukannya agar Cris bisa tahu perasaan Kaylee yang sebenarnya saat ini. Austin tahu jika Cris masih begitu mengharapkan Kaylee.
" Kak... Sampai kapan kau akan memandanginya seperti itu ? Lagipula, aku ada disini sekarang menemanimu. Kakak seharusnya bisa lebih santai " ucap Stefhani berdiri di samping Austin.
Austin hanya melirik Stefhani lalu kembali memusatkan matanya ke arah Kaylee.
" Bagaimana kalian bisa sampai disini ? " tanya Austin tanpa melihat Stefhani.
" Tadi, setelah mengantarku ke hotel, aku meminta Cris mengantarku berkeliling kota ini. Cris membawaku ke pantai, dan ternyata kau dan Kaylee pun berada disini. Kebetulan sekali bukan ? " ucap Stefhani berdusta.
" Ya, kebetulan sekali " sinis Austin memutar bola matanya.
" Sudah lama, aku ingin menikmati keindahan pantai berdua denganmu, Kak. Akhirnya hari ini bisa terwujud " ucap Stefhani sangat senang.
" Kak... Kakak Austin ! " panggil Stefhani karena Austin tak menanggapinya sama sekali.
" Ck... Apa sih yang kakak lihat ? Memangnya ada yang lebih menarik dibandingkan aku ? " gumam Stefhani dengan sombongnya.
Stefhani kemudian memberanikan diri melingkarkan pelukan di punggung Austin lalu menyandarkan kepalanya disana.
" Kak... Aku rindu pada Kakak ! Bisakah Kakak melupakan gadis itu ? Ada aku yang bisa membahagiakan Kakak " ucap Stefhani lagi.
Austin yang merasa terkejut langsung melepaskan diri dari pelukan Stefhani.
" Apa-apaan kau Stefi ? Jaga batasanmu ! " sentak Austin sambil menatap tajam pada Stefhani.
" Tapi Kak... Aku mencintaimu ! Tak bisakah kau melihat ketulusanku ? "
" Tutup mulutmu ! Seharusnya aku tahu, jika kau ikut kemari hanya untuk memata-mataiku dan Kaylee. Berapa kali harus ku katakan jika aku tidak mencintaimu ! " ucap Austin geram.
" Tidak Kak... Aku tahu kau mencintaiku, kau hanya terpengaruh oleh gadis itu. Lihat aku, Kak ! Hanya aku yang tulus mencintaimu " sahut Stefhani mendekati Austin.
Satu tamparan mendarat di wajah Stefhani.
" Kau menamparku, Kak ? Tapi kenapa Kak ? " tanya Stefhani, kini air mata telah menetes di pipinya.
" Untuk menyadarkanmu dimana posisimu berada ! Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mencintaimu. Camkan itu ! " tegas Austin.
" Tapi Kak... "
" Posisinya tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapapun termasuk dirimu. Kau hanya akan menjadi adikku, sadarlah ! Jika kau terus memaksa, maka jangan salahkan aku jika aku tak lagi menganggapmu sebagai seorang adik. Bahkan aku akan menganggapmu telah tiada, sama seperti kakakmu " tambah Austin dengan penekanan.
Stefhani tergugu mendengar ucapan Austin. Pupus sudah semua rencana dan harapannya untuk bersama dengan Austin. Pria itu sudah tak bisa lagi berpaling.
" Hiks... Hiks... Apa kurangnya aku dibandingkan dia ? "
Austin membuang kasar nafasnya.
" Kelebihannya adalah memiliki hatiku "ucap Austin lalu meninggalkan Stefhani yang masih menangisi keadaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Austin melihat Kaylee memeluk Cris dan pria itu membalas pelukan Kaylee. Sungguh hatinya terasa sangat panas.
" Ehem ... Sudah 16 menit berlalu dan kalian sepertinya sudah selesai bicara " tegur Austin dengan suara baritonnya yang khas.
Menyadari itu adalah suara Austin, Kaylee segera melepaskan pelukannya.
" Austin... " ucap Kaylee saat melihat pria itu kini berada di depan mereka dengan tatapan tak.bisa dimengerti.
" Honey... Ayo kita pulang ! Sinar matahari tidak cocok untuk kulit cantikmu " sahut Austin lalu membawa Kaylee ke dalam pelukannya.
Kaylee patuh, ia tak menolak sedikitpun.
" Kumohon jaga dan bahagiakan Kaylee. Kau sangat beruntung karena bisa dicintai oleh wanita seperti Kaylee " seru Cris pada Austin.
" Aku pasti melakukannya tanpa kau minta " tukas Austin pasti.
" Bagus ! Karena jika kau membuatnya terluka, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri dan aku pastikan akan menikahi Kaylee " ucap Cris mengancam Austin.
" Kau tidak perlu repot mengingatkanku. Karena aku sendiri yang akan menghukum diriku jika aku menyakitinya. Kau peganglah ucapanku... Aku akan terus membahagiakan Kaylee selama jantungku masih berdetak dan nafasku masih berhembus " tukas Austin dengan tegas.
" Kakak Austin... " panggil Stefhani saat ia tiba.
Austin tak menoleh sedikit pun pada Stefhani.
" Kau yang membawanya sampai kemari. Kau antarkan juga dia kembali ! " seru Austin pada Cris.
" Tapi, Aus... Sebenarnya ada apa dengan Stefi ? " tanya Kaylee heran karena melihat Stefhani terlihat begitu sedih.
Austin meraih tangan Kaylee lantas membawa Kaylee meninggalkan Cris dan Stefhani.
" Aus... "
" Biarkan saja dia ! Sudah saatnya ia menerima kenyataan jika apa yang ia inginkan tidak selalu tercapai sesuai keinginannya " ucap Austin fan Kaylee pun tak lagi bertanya tentang Stefhani.
Kaylee tahu, jika Stefhani masih menginginkan memiliki Austin. Dan Kaylee kini belajar egois dengan mempertahankan apa yang ia miliki.
" Kak... " ucap Stefhani hampir berlari mengejar Austin, namun Cris menghalanginya.
" Biarkan mereka ! " seru Cris.
" Tapi Cris ... Mereka... "
" Mereka saling mencintai dan kita tidak dapat melakukan apapun " ucap Cris.
" Jadi kau berhenti memperjuangkan cintamu begitu saja ? " tanya Stefhani kesal.
" Aku tidak berhenti memperjuangkan cintaku. Tetapi inilah caraku mencintainya. Membiarkannya hidup bahagia... " jawab Cris.
" Impossible ! Mana mungkin kau bisa bahagia hanya dengan melihatnya bahagia. Seharusnya kau berusaha untuk menjadikannya milikmu ! " seru Stefhani dengan suara meninggi.
Cris tersenyum merendahkan Stefhani.
" Seperti dirimu ? Yang tanpa tahu malu, mengemis cinta. Berusaha memiliki kebahagiaanmu walau kau tahu jika kau hanya akan menemukan luka ? Dan kau katakan itu cara untuk bahagia ? Tanya pada hatimu sendiri Stef ! Apakah kau bahagia, memiliki raganya tapi tidak pikiran dan hatinya ? " cecar Cris.
Stefhani merasakan tamparan yang lebih menyakitkan dibanding tamparan yang diberikan oleh Austin tadi.
" Setidaknya aku sudah berjuang... " kata yang keluar dari mulut Stefhani kini bergetar selayaknya tubuhnya yang kini ikut bergetar.
" Berjuang ? Berjuang untuk apa ? " sahut Cris
" Yang namanya berjuang itu, rela mengorbankan perasaan kita untuk melihat orang yang kita cintai bahagia. Bukan berjuang menjadikannya milik kita tapi hatinya mati rasa tak bisa mendapatkan kebahagiaan sejati " tambah Cris.
Ucapan Cris membuat Stefhani terhenyak. Ia kemudian terduduk di pasir. Stefhani menekuk kedua lututnya lalu memeluknya sambil menundukkan kepala. Air mata kini mengalir deras membasahi wajahnya.
" Lalu, apa yang harus kulakukan Cris ?" lirih Stefhani.
Cris duduk di samping Stefhani. Ia bisa merasakan kepedihan yang teramat dalam.Cris memberanikan diri mengusap pucuk kepala Stefhani dengan lembut.
" Relakan ia bahagia... Aku yakin setiap orang akan berbahagia karena Tuhan yang sudah menentukan jalan kebahagiaan seseorang. Setidaknya itu yang dikatakan oleh seseorang, bahwa jodoh tak akan tertukar. Kita hanya harus menjalani dengan hati lapang serta tangan terbuka " jelas Cris.
Stefhani mengangkat wajahnya lalu memandangi Cris.
" Kau benar Cris... Aku akan mencoba merelakannya ! Tolong kau ingatkan aku jika aku melakukan kesalahan lagi, ok ! " pinta Stefhani.