Me And My Amnesia CEO

Me And My Amnesia CEO
Kau Valeri



Tuan Albert menatap Nick dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Setelah tadi mendengar ucapan Rachel, Tuan Albert seolah memiliki secercah harapan mengenai cucunya yang hilang dan dinyatakan telah meninggal.


Rachel kini berada diantara Nick dan Tuan Albert di dalam ruang kerja Tuan Albert. Rachel sendiri masih merasa terguncang atas apa yang dilihatnya tadi. Tuan Albert meminta pelayan untuk membawakan secangkir teh agar Rachel merasa lebih tenang.


Kini Rachel duduk sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Ia memejamkan matanya, mencoba menarik garis lurus atas apa yang terjadi.


" Nick... Sebenarnya ada apa ini ? Mengapa gadis ini begitu mirip dengan Valeri. Lalu, dia mengatakan jika Celine dan Arthur selalu datang di dalam mimpinya ? Tolong kau jelaskan yang sebenarnya terjadi ! " pinta Tuan Albert pada Nick.


Nick menghela nafasnya, berusaha menenangkan dirinya sebelum memberikan penjelasan pada kakek Albert mengenai asumsinya tentang Rachel.


" Kakek... Jika aku mengatakan Valeri masih hidup, apakah kau akan percaya padaku ? " tanya Nick.


" Tentu saja... Itu juga yang ku harapkan selama ini " jawab Tuan Albert penuh harap.


" Kakek... " Nick melirik ke arah Rachel yang masih memejamkan matanya.


Tuan Albert mengikuti arah pandangan Nick yang jatuh pada diri Rachel.


" Apakah gadis itu Valeri ? Dia adalah Valeriku kan Nick ? " tanya Tuan Albert mendesak Nick.


Nick menghela nafasnya.


" Sepertinya begitu, Kek. Perasaanku mengatakan jika dia adalah Valeri. Valeriku... Valeri kita, Kek... " jawab Nick.


" Benarkah ? Terima kasih Tuhan, kau telah mengembalikan cucuku kepadaku " ucap Tuan Albert penuh rasa syukur.


Tuan Albert berjalan mendekati Rachel. Ia menatapi Rachel yang sedang terpejam. Lama ia duduk di depan Rachel, memandangi cucunya yang telah lama terpisah darinya. Sesekali ia menyeka air mata yang jatuh dari sudut matanya. Air mata bahagia karena bisa kembali bertemu dengan cucunya.


Tuan Albert melihat liontin yang tak sengaja terlihat menggantung di leher Rachel. Ia hafal betul jika liontin itu merupakan hadiah ulang tahun cucunya, karena ia sendiri yang memesannya.


" Nick... Liontin itu ! " tunjuk Tuan Albert saat melihat liontin.


" Iya, kek... Liontin yang sama yang diberikan pada Valeri saat ulang tahunnya dulu " sahut Nick.


Tuan Albert makin tergugu, Rachel yang mendengar suara berisik, kemudian membuka matanya dan melihat Tuan Albert tengah menangis.


" Tuan... Apa yang terjadi pada anda ? " tanya Rachel yang kebingungan melihat Tuan Albert.


Tuan Albert memeluk Rachel dengan erat, Rachel menatap Nick dan melihat jika kekasihnya itu hanya menganggukkan kepalanya.


" Valeri... Valeri kau sudah kembali " ucap Tuan Albert sambil terus mengeluarkan air matanya.


" Valeri ? " tanya Rachel tergagap.


Tuan Albert melepaskan pelukannya, lalu menatap Rachel.


" Kau adalah Valeri. Kau cucuku yang hilang ! Kau Valeriku... " ucap Tuan Albert kemudian menyentuh wajah Rachel.


" Tidak... Mana mungkin saya adalah cucu anda, Tuan ! " tolak Rachel sambil menggelengkan kepalanya.


" Kau memang Valeriku... Lukisan yang kau lihat tadi adalah lukisanmu dan kedua orang tuamu. Bahkan kau juga memiliki liontin yang sama dengan liontin yang ada pada lukisan tersebut " sahut Tuan Albert.


" Tidak... Itu tidak mungkin ! " sanggah Rachel lalu mencoba untuk berdiri namun Tuan Albert menahan tangannya.


" Biarkan aku membuktikannya, Nak ! Berikan liontinmu itu " titah Tuan Albert.


Rachel membuka kalungnya dibantu oleh Nick, kemudian menyerahkan kalung dan liontin tersebut pada Tuan Albert.


" Kau lihat, Nak ! Ada ukiran huruf C dan A di belakangnya. Itu berarti Celine dan Arthur, inisial nama orang tuamu " jelas Tuan Albert kemudian.


Rachel tercengang, ia sama sekali tak menduga dan tak menyangka kisah hidupnya seperti ini.


" Tidak...Ini tidak mungkin ! Sama sekali tidak masuk akal ! " bantah Rachel masih belum bisa mempercayainya.


" Baby... Kemungkinan kau mengalami amnesia akibat terjatuh dari mobil sebelum mobil itu meledak " ucap Nick menenangkan Rachel.


" Tenanglah ! Kami akan membantumu mengingat semuanya. Percayalah, aku akan menjaga dan melindungimu. Aku tidak akan membiarkan seorang pun memisahkan kita lagi " Nick meyakinkan Rachel sembari memeluk gadis cantik itu.


" Ayo, Nak... Aku akan membawamu berkeliling rumah ini. Mungkin kau bisa mengingat sedikit demi sedikit " ajak Tuan Albert.


Rachel menatap Nick seolah meminta jawaban. Dan Nick pun mengangguk sambil tersenyum.


" Come on, baby ! Aku akan menemani kalian " ucap Nick.


Mereka bertiga akhirnya memulai home tour kepada Rachel, berharap agar Rachel mendapatkan sedikit demi sedikit ingatannya sebagai Valeri.


Tuan Albert membawa Rachel dan Nick mengelilingi rumah. Dimulai dari ruang tamu kemudian menuju ruang tengah, ruang makan, dapur, lalu menuju kamar Valeri yang walaupun sudah tidak ditempati tetapi masih sangat rapi. Tidak ada yang berubah dari kamar itu semenjak Valeri dan orang tuanya tiada.


Rachel menuju balkon kamarnya, disana ia dapat melihat ke arah taman belakang yang dipenuhi oleh bunga mawar beraneka warna.


" Double delight rose " gumam Rachel saat melihat bunga mawar dengan dua warna berbeda dalam satu bunga.


" Hem... That's your favorite flower, baby " sahut Austin yang kini telah berada di samping Rachel.


Sekelebat bayangan muncul, bayangan seorang remaja pria yang memberikan setangkai bunga mawar double delight berwarna peach pada seorang gadis kecil.


Rachel memegangi kepalanya, merasakan denyutan nyeri yang akhir-akhir ini mengganggunya.


" Are you ok, baby... ? " khawatir Nick.


" Hem... I am ok. Jangan khawatir " ucap Rachel.


" Kau sangat menyukai bunga mawar ini, sama seperti ibumu. Kalian selalu menghabiskan waktu di taman hanya untuk mengagumi keindahan bunga-bunga ini " jelas Tuan Albert.


" Benarkah ? " tanya Rachel.


" Ya... Kau dan ibumu adalah bunga di rumah ini " jawab Tuan Albert mengenang masa lalunya.


Kini Tuan Albert duduk di atas tempat tidur Valeri.


" Kau tahu, dulu kau sangat menyukai cerita. Setiap malam sebelum tidur, kami akan bergantian membacakanmu cerita. Dan kau tahu, apa cerita favoritmu yang selalu ingin kakek bacakan ? "


" Sleeping Beauty " gumam Rachel membuat Nick dan Tuan Albert terkejut.


" Ya... Kau benar, Nak ! Kau selalu meminta kakek untuk membacakan cerita itu. Tak peduli jika kau bahkan sudah hafal ceritanya, kau selalu meminta kakek untuk menceritakannya " tutur Tuan Albert kembali menitikkan air matanya karena haru.


" Kau mengingatnya Nak ? " tanya Tuan Albert sambil menghapus air matanya. Ia melihat ke arah Rachel.


" Iya, aku mengingatnya Kek ! Aku ingat saat kakek.menyuruhku untuk tidur lalu mengecup keningku setelah selesai membacakan cerita " ungkap Rachel pasti.


Rachel kemudian menghambur memeluk sang Kakek yang tampak bahagia.


" Akhirnya kau mengingatnya, Nak. Valeri... Akhirnya kau kembali lagi ! Valeri... Kau lah Valeri yang ku cari dan kurindukan selama ini " ucap Tuan Albert sambil mengelus rambut dan mengecupi pucuk kepala sang cucu.