Me And My Amnesia CEO

Me And My Amnesia CEO
Permohonan Austin



" Hai, honey... I miss you so much ! " ucap Austin disertai senyum termanisnya.


Kaylee mencoba menarik tangannya dari genggaman Austin namun usahanya sia-sia karena Austin tak berniat melepaskannya


" Sepagi ini kalian sudah berada disini. Sepertinya kalian menunggu sejak tengah malam " ucap Cris berbasa basi.


" Tentu saja... Kami menunggu semalaman di mobil. Mengkhawatirkan Kaylee tapi sepertinya dia baik-baik saja, bahkan bisa pergi berduaan dengan pria lain " ketus Stefhani ketus.


Ucapan Stefhani lantas membuat Austin, Nick, bahkan Cris menatap ke arahnya. Sementara Kaylee, bersikap tenang dan biasa saja.


" Aku tidak pernah meminta kalian untuk datang kemari " ucap Kaylee datar.


Austin mencoba angkat bicara, namun diurungkannya karena mendengar suara Stefhani.


" Kakak... Ayolah, aku ingin beristirahat " rengek Stefhani pada Nick dan Austin.


" Nick... Kau antarkan Stefi ke hotel " seru Austin memberikan perintah kepada Nick.


"Ck... Nanti saja, aku kan harus menemanimu. Biarkan Stefi menunggu di dalam mobil saja jika ia tidak mau masuk " sahut Nick cuek.


What.. ? Mereka berdua tak mempedulikanku ?


Batin Stefhani tak terima.


" Kakak..." rengek Stefhani manja sambil menatap Austin.


" Kalau begitu, Cris bisakah kau antarkan adik kami ke hotel ? Ada yang harus aku lakukan lebih dulu " ucap Austin tanpa mempedulikan rengekan Stefhani.


Cris menghembus kasar nafasnya, namun ia akhirnya bersedia mengantarkan Stefhani.


" Aku tidak mau bersamanya, Kak. Kalau begitu, aku ikut bersama kalian saja " tolak Stefhani.


" Cukup, Stefi ! Sejak tadi kau mengeluh ingin istirahat. Sekarang ada yang bersedia mengantarmu tapi kau menolaknya " sahut Austin dengan suara meninggi.


" Tapi Kak... "


" Dengar Stefi, sejak awal kami tidak pernah memintamu ikut bersama kami. Kau yang menginginkan untuk ikut. Jadi jangan pernah mengganggu urusanku ! " tegas Austin penuh penekanan.


Stefhani terperangah mendengar ucapan Austin. Ia bahkan tak mempercayai jika pria yang bersikap dingin itu bisa berbicara seperti itu.


" Ba... Baiklah... Maafkan aku karena telah merepotkan kakak semua " ucap Stefhani lirih.


Stefhani lantas berlalu dari hadapan Austin dan Kaylee lalu mengikuti Cris menuju mobilnya.


Kaylee menatapi kepergian Cris dan Stefhani, hingga tangan Austin mengangkat dagunya dan membuat mata Kaylee bersitatap dengan Austin.


" You're not miss me like, honey ? " tanya Austin yang menatapi wajah Kaylee dengan intens.


Pandangan Austin beralih pada bibir Kaylee yang berwarna pink dan terlihat menggoda.


Kaylee melepaskan tangannya dari genggaman tangan Austin, kemudian masuk ke dalam toko.


Austin mengusap wajahnya lalu meniup nafasnya. Melihat itu, Nick segera menghampiri Austin lalu menepuk pundak Austin.


" Sabar, Aus... Keep fighting ! " ucap Nick menyemangati sahabatnya itu.


Austin mengangguk lalu memasuki toko untuk menyusul Kaylee.


" Morning, Rach... " sapa Kaylee saat melihat Rachel berada di dapur.


" Nona... Anda sudah pulang ? " tanya Rachel lalu memeluk Kaylee.


" Saya pikir anda tidak akan pulang sebelum hari pernikahan anda " ucap Rachel lagi sambil melepaskan pelukannya.


" Well, sepertinya aku merindukan tempat ini " sahut Kaylee sambil tersenyum.


Rachel mengamati Kaylee dari atas sampai ke bawah.


" Wah, Nona... Semakin mendekati hari pernikahan anda, anda bertambah cantik ! Pasti anda sangat bahagia, Nona... " ucap Rachel dengan polosnya.


Kaylee hanya menanggapi dengan senyuman. Hingga tak lama Austin menyusul Kaylee diikuti oleh Nick.


Austin hanya menanggapi dengan senyuman tanpa bersuara. Sementara Kaylee kini telah berjalan menuju dapur.


" Rachel... Hari ini biar aku yang membuat adonan, kau bantu aku ya " seru Kaylee.


" Baik Nona... " jawab Rachel kemudian hendak berjalan menuju ke dapur.


Austin segera mencekal lengan Rachel.


" Biar aku yang membantu Rachel. Kau beres-beres saja di depan " seru Austin menghalangi Rachel.


" Tapi Tuan... "


" Nick, tolong kau bantu Rachel ! " seru Austin pada Nick lalu menuju ke dapur.


Sebelumnya, Austin menggulung kemejanya hingga sebatas sikutnya.


" Sebenarnya ada apa dengan mereka ? " gumam Rachel sambil menggaruk kepalanya bingung.


" Kau tidak perlu repot memikirkan mereka berdua. Biarkan saja mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri. Kita tidak perlu ikut campur ! " seru Nick pada Rachel.


Rachel manggut-manggut, namun kemudian memekik.


" Jadi Nona Kaylee dan Tuan Austin sedang ada masalah ? Lalu bagaimana pernikahan mereka ?" ucap Rachel kaget.


Nick mendekati gadis muda itu, lalu menyentil dahinya membuat Rachel meringis sambil mengusap-usap keningnya.


" Ish... Tuan ini apa-apan sih ? Ini sakit, apa anda tahu !" gerutu Rachel mengerucutkan bibirnya.


" Itu hukumanmu karena terlalu banyak bicara. Sekarang diamlah dan segera bereskan tempat ini ! " seru Nick.


" Bukankah tadi Tuan Austin juga menyuruh anda untuk membantu " sahut Rachel.


" Aku akan membantumu jika kau tidak banyak bicara " tukas Nick.


" Baiklah, saya akan menutup mulut di depan anda " timpal Rachel lalu melenggang pergi meninggalkan Nick.


Haish... Gadis ini !


Gerutu Nick dalam hati sambil memperhatikan Rachel yang kini mulai merapikan dan mengelap meja dan kursi.


" Hei, Tuan ! Apakah anda hanya akan menonton saja ? Atau saya akan laporkan anda pada Tuan Austin " ancam Rachel pada Nick.


Dan setelah itu, Nick pun segera bergerak untuk membantu Rachel. Bukan karena takut akan ancaman dari Rachel tetapi karena ia merasa harus membantu gadis itu.


Sementara Austin masih berusaha untuk berbicara dengan Kaylee kendati calon istrinya itu masih dalam mode mendiamkannya. Walaupun Kaylee tak berbicara apapun, namun Austin dengan cekatan membantunya menyiapkan bahan-bahan adonan.


Kaylee memasukkan adonan ke dalam oven. Akhirnya, pekerjaannya itu selesai juga dan ia hanya tinggal menunggu rotinya matang. Kaylee membuka apron yang ia kenakan lalu mencuci tangannya.


" Kay... Sampai kapan kau akan mendiamkanku seperti ini ? " Austin membuka suaranya. Kini ia berdiri di belakang Kaylee yang sedang mencuci tangannya di wastafel. Kaylee mematikan keran air kemudian ia bergerak menjauh dari Austin.


Namun belum sempat ia menjauh, Austin sudah lebih dulu melingkarkan tangannya di perut Kaylee. Austin memeluk Kaylee hingga punggung gadis itu menempel di dadanya.


" Kay... Kumohon jangan acuhkan aku ! " ucap Austin sambil meletakkan dagunya di bahu Kaylee.


" I love you so much ! Trust me, Kay ! I do everything for you even if I have to die " sambung Austin setengah berbisik.


Kaylee mencoba melepaskan tangan Austin yang melingkar di perutnya namun sia-sia karena Austin justru semakin mengeratkan pelukannya.


" I'm sorry for hiding this fact from you. Trust me, I did that because I love you " tutur Austin tulus.


Air mata kembali menetes di pipi Kaylee tanpa bisa ia tahan. Menyadari pujaan hatinya itu tengah mengeluarkan air mata, Austin segera membalik badan Kaylee. Ia bisa melihat pipi Kaylee yang basah dengan air mata.


Austin segera menghapus air mata dari wajah Kaylee.


" Maaf... Aku telah membuatmu menangis ! Aku berjanji tak akan pernah membuatmu menangis lagi. Aku akan mengganti semua tangisanmu dengan kebahagiaan. Berikan aku kesempatan untuk menebusnya Kay ! Biarkan aku menebusnya dengan mencintaimu dan membahagiakanmu dengan segenap cintaku Kay... " mohon Austin sambil menggenggam tangan Kaylee. Ia menatap Kaylee dengan lembut.


" Anggap saja ini sebagai penebusan dosaku padamu dengan memberikan cintaku seumur hidup padamu " tambah Austin lagi.