
Nick berjalan memasuki ruang Tuan Albert setelah Austin dan Kaylee pergi. Nick melihat ke arah foto keluarga Valeri yang masih terpajang di dinding ruang kantor Tuan Albert.
Valeri... Aku akan membawamu kembali !
Gumam Nick saat melihat foto gadis kecil sedang tersenyum bersama kedua orang tuanya.
" Kau sudah datang Nick ! Setelah sekian lama, akhirnya kau bersedia menginjakkan kakimu lagi di tempat ini " ucap Tuan Albert mendekati Nick yang masih berdiri di depan foto Valeri.
Tuan Albert ikut menatap foto yang tengah dipandang oleh Nick.
" Sudah sekian lama, kau masih belum bisa melupakannya ? "
" Kakek sudah melupakan mereka ? " Nick balik bertanya sambil melihat wajah Tuan Albert.
Pria tua itu menggelengkan kepalanya, menatap nanar foto yang memperlihatkan foto anak, menantu serta cucunya yang telah lama meninggalkannya.
" Mereka selalu ada di dalam hatiku, hanya saja Tuhan lebih menyayangi mereka... " lirih Tuan Albert.
Nick merangkul pundak Tuan Albert.
" Kau tidak ingin membantu Kakek di perusahaan ? Apakah kau lebih memilih bersama orang lain ketimbang keluargamu sendiri ? " ucap Tuan Albert.
" Perusahaan ini milikmu Kek... Aku dan keluargaku sama sekali tidak berhak sedikit pun atas perusahaan ini " jawab Nick lalu membawa Tuan Albert untuk duduk di sofa.
" Setelah anak, menantu, dan cucuku tiada. Ayahmulah yang ku percaya dan kau sebagai anaknya akan menjadi penerusnya di perusahaan ini. Kembalilah Nick ! " mohon Tuan Albert.
" Kakek... Jangan terlalu percaya padanya ! " sahut Nick lirih.
" Mengapa kau mengatakan hal seperti itu... Baik atau buruk dia tetap ayahmu ! " timpal Tuan Albert.
Nick menggelengkan kepala lalu menghela nafasnya.
" Kakek... Aku tahu dia bukan ayah kandungku, dia hanya memanfaatkan keadaan kita untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri " ucap Nick kemudian.
" Karena itu kau memilih untuk meninggalkan rumah dan bekerja bersama orang lain " Tuan Albert mencecar Nick.
" Mereka bukan orang lain. Mereka sahabatku ! " sahut Nick tegas.
Nick mengatur kembali nafasnya,
" Kakek, aku tidak ingin berdebat denganmu. Aku hanya meminta agar kau percaya padaku. Aku akan segera membawa kembali apa yang seharusnya kembali ! " ucap Nick.
" Nick ? Kau disini, Nak ? " seorang pria masuk ke ruangan Tuan Albert dan menatap Nick dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Nick memandang sinis pria tersebut yang tak lain adalah ayah tirinya sendiri.
" Pulanglah Nick ! Ibumu merindukanmu ! " serunya lagi.
" Kakek... Aku permisi, masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan " pamit Nick lalu bangkit dari duduknya.
Nick tak menggubris keberadaan Jeremy yang berada disana.
" Nick... Sampai kapan kau seperti ini ? " tanya Tuan Jeremy mencekal lengan Nick.
Nick melepaskan tangan Tuan Jeremy dari lengannya lalu menepuk-nepuk jasnya seolah ada debu yang menempel disana.
" Saya permisi, Tuan Jeremy... Tolong sampaikan salam saya kepada istri anda " ucap Nick lalu meninggalkan mereka.
Sial... Kalau saja dia tidak mengetahui rahasiaku, aku pasti sudah melenyapkannya. Aku hanya butuh bukti yang dimilikinya. Dan setelah aku memilikinya, maka dia dan ibunya akan kusingkirkan bersama Tua bangka ini !!
Batin Tuan Jeremy, tangannya mengepal dibalik jasnya.
Nick memang mengetahui jika Jeremy hanya memanfaatkan ibunya untuk memperoleh kekuasaan dan harta. Karena itu, ia memilih untuk tinggal terpisah dari sang ibu sejak sekolah dulu. Tuan Albert merupakan paman dari sang ibu. Sejak ibunya menikah dengan Jeremy, Nick lebih dekat dengan Celine, ibu dari Valeri yang merupakan sepupu dari sang ibu. Oleh karena itu, Nick begitu dekat dengan Valeri dan sangat menyayanginya.
Sang ibu, sebelumnya pernah meminta Nick untuk menjalankan perusahaan Tuan Albert namun Nick menolak. Ia lebih suka menjadi asisten Austin dan hidup jauh dari bayang-bayang keluarganya. Terlebih lagi ia tak ingin melihat manusia serakah dan munafik macam Jeremy di dekatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Aus... Memangnya Tuan Albert siapanya Kakak Nick ? " tanya Kaylee saat mereka kini berada di dalam mobil meninggalkan perusahaan milik Tuan Albert.
Austin hanya mengangkat bahunya.
" Entahlah... Nick jarang membicarakan keluarganya. Yang aku tahu, ia memilih berpisah dengan orang tuanya karena tidak ingin melihat ayah tirinya. Ada hubungan apa dengan Tuan Albert aku juga tidak tahu " jawab Austin tetap fokus mengemudikan mobilnya.
" Lalu siapa itu Valeri ? " tanya Kaylee lagi, sepertinya banyak hal yang mengganggu pikirannya.
" Valeri itu sepupu jauh Nick mungkin juga cinta pertamanya. Usia Valeri sepertinya sama denganmu. Hanya saja dia sudah tiada " jelas Austin.
" Kakak Nick pasti sangat kehilangan, karena itu dia tidak pernah dekat dengan seorang wanita " Kaylee merasa empati.
" Hei... Mengapa kau jadi perhatian pada Nick ? Tidak boleh ! Hanya aku saja yang harus kau perhatikan " seru Austin tak terima Kaylee terus-menerus membicarakan Nick.
" Ish, kau ini... Aku kan hanya... "
Cup...
Sebuah kecupan di bibir berhasil membuat Kaylee diam dan Austin tersenyum sambil kembali fokus mengendarai mobilnya.
" Jangan membuatku terus menghentikan laju kendaraan honey. Percayalah, jika kau terus membicarakan pria lain, maka aku tak akan ragu untuk ******* habis bibirmu itu " Austin tersenyum smirk, sementara Kaylee terlihat mengerucutkan bibirnya.
Hah... Mengapa pria ini jadi sangat posesif ?
Gerutu Kaylee dalam hati sambil melirik Austin.
" Jangan mengataiku, honey... ! Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kau tak perlu heran, aku melakukan ini karena sangat... sangat mencintaimu !! " tutur Austin sambil meraih tangan Kaylee lalu mengecup punggung tangan gadis cantik itu.
Perlakuan Austin tentu membuat wajah Kaylee merona. Ia menyadari jika perasaan cinta pria itu begitu besar terhadapnya tercermin dari perlakuan yang diberikan oleh Austin.
Austin mengatur kemudi dengan sebelah tangannya. Sementara tangannya yang lain tetap menggenggam jemari tangan Kaylee.
" Aus... Apa kabar Kakak Edward ? Biasanya kalian kan selalu pergi bersama. Tetapi kemarin dia tidak bersama dengan kalian. Apa dia baik-baik saja ? "
Pertanyaan spontan yang meluncur dari bibir Kaylee tentu saja membuat Austin menjadi kesal. Baru saja ia mengatakan untuk tidak membahas pria lain, kini Kaylee justru kembali mengulang kesalahannya.
Austin dengan segera menghentikan laju mobilnya dan menepi.
" Aus... Mengapa kita berhenti disini ? " heran Kaylee.
Austin meraih wajah Kaylee lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Kaylee, tak lama kemudian ia mel*mat habis bibir Kaylee.
Kaylee mendorong dada Austin saat menyadari oksigen yang disuplainya menipis.
" Austin... Apa-apaan sih " sentak Kaylee terengah.
" Bukankah sudah kukatakan untuk tidak membicarakan pria lain saat bersamaku. Ini hukumanmu karena tak patuh padaku " sahut Austin dengan seringai di wajahnya.
" Aku kan hanya bertanya karena mereka itu sahabatmu " tukas Kaylee tak terima.
" Mereka memang sahabatku, tapi kau lupa jika mereka itu juga pria " kilah Austin.
Kaylee membuang nafasnya kasar.
" Oke, okee... Aku mengerti ! Aku tidak akan mengulanginya lagi ! " timpal Kaylee, sekarang lebih baik ia mengalah saja atau urusannya akan semakin panjang dan ia akan semakin sering kekurangan oksigen akibat ulah Austin.
" Bagus... Kalau kau mengerti ! Ingat satu hal honey... Hanya aku ! Satu-satunya pria yang harus ada dalam hatimu ! " seru Austin mengingatkan Kaylee kemudian melajukan kembali kendaraannya.