
" Oke Dhik, gue cukupin meeting kita buat pagi ini, great job buat Lo sama Patrick "
" Gue apriciate banget kinerja tim kalian, kalo kalian butuh nambah orang buat handle perusahaan diluar please info gue, biar gue pertimbangin dari sekarang "
" Masih ke handle Mike, ente jangan khawatir " Dhika terlihat mengacungkan dua jempolnya.
" Disini juga Mike, Lo fokus aja buat yang di Paris " Pat sama-sama mengacungkan dua jempol nya
Mike mengakhirinya sesi meeting online nya dengan kedua sahabat sekaligus partner kerjanya yang begitu dia percayai, tak salam memang mempercayakan perusahaan kepada mereka disana.
Tok... tok...
" Masuk...!"
" Tuan muda..." Rosa terlihat menghela nafasnya, Mike terlihat mengerutkan keningnya
" Ada tuan Gilbert ingin bertemu dengan anda " Rosa menganggukan kepalanya pelan.
Mike ingat benar siapa Gilbert, dia adalah orang yang sangat dipercayai oleh ayahnya dulu. Tetapi semenjak kedua orangtuanya meninggal, Gilbert yang saat itu begitu syok memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya.
Jujur saja, Mike kecil sangat kecewa dengan kepergian pria itu apalagi saat dia menitipkan Mike kepada Wallace dan pergi meninggalkan nya yang masih dalam keadaan berkabung.
" Suruh dia masuk Ros " Pinta Mike.
Tak lama berselang pria yang selama ini telah membuat nya kecewa sekaligus rindukan hadir dihadapan nya.
" Selamat pagi tuan muda "
Gilbert tidak berani untuk menatap wajah Mike lebih lama, perasaan bersalah nya lebih besar dari keberanian nya untuk menatap wajah seorang anak yang sekarang sudah begitu dewasa dimatanya.
" Pagi paman Gil, duduklah "
" Apa kabar paman?" Mike menghampiri pria itu.
" Aku baik-baik saja tuan, terimakasih "
" Aku telah mendengar kepulangan anda sejak lama, mohon maaf aku baru bisa menemui anda hari ini " Lanjutnya.
" Tidak apa-apa paman, jangan sungkan "
" Bagaimana dikampung halaman mu paman?" Lanjut Mike.
" Semua baik-baik saja tuan, perkebunan anggur berjalan dengan baik selama ini "
Gilbert mengurus perkebunan anggur milik ayah Mike yang diturunkan kepadanya, tetapi karena kekecewaan Mike kala itu terhadap pria yang ada dihadapannya saat ini, Mike memutuskan untuk tidak mau tahu dengan urusan perkebunan dan memilih untuk kuliah ke Paris lalu pergi ke Indonesia setelah nya.
Indonesia adalah tanah kelahiran almarhum ayahnya, Kakek Mike menikah dengan wanita keturunan Perancis. Kerinduan terhadap sang ayah telah membuat Mike lupa untuk pulang dan justru malah membuat serta membesarkan sebuah perusahaan disana.
" Bagus sekali paman..."
" Tuan, kedatangan saya hari ini untuk menyerahkan perkebunan kembali kepada anda, saya tidak berhak atas perkebunan itu..."
Akhirnya Gilbert memberitahu maksud kedatangan nya menemui Mike.
" Dan....Saya mohon maaf karena telah meninggalkan tuan saat itu, saya tidak bisa menerima kematian orang tua anda saat itu tuan..." Gilbert terisak .
" Sekarang tuan sudah kembali kemari, jadi tidak ada alasan lagi bagi saya untuk tetap mengelola perkebunan itu " Lanjutnya.
"Apa paman sudah selesai ?" Tanya Mike, nada suara Mike begitu tenang dan ini membuat pria yang ada dihadapannya merasa sedikit lega. Gilbert berpikir bahwa Mike akan memarahi nya karena kejadian saat itu.
" Saya sudah merelakan kejadian itu paman, maafkan saya karena saat itu saya marah sekali kepada paman "
" Apakah paman mau memaafkan saya?" Mike meraih tangan tua laki-laki itu dan tersenyum kepada nya.
Entahlah Gilbert merasakan kebahagiaan saat Mike meraih tangannya, perasaannya begitu lega, beban berat yang dipikulnya selama ini seakan sirna. Pria kecil yang sudah dewasa ini bukan pria yang sama yang dia kenal selama ini, Mike yang manja, egois serta semena-mena. Ini adalah seorang Mike yang belum Gilbert kenal, anak ini telah berubah 380 derajat!
" Aku selalu memaafkan mu tuan muda " Gilbert menatap kearah Mike, mencari keberadaan anak yang dulu begitu dekat dengannya melalui sorot matanya.
" Alhamdulillah..." Ucap Mike.
Gilbert mengerutkan keningnya, dia tidak memahami apa yang diucapkan tuan mudanya.
Mike lalu menceritakan tentang keyakinan baru yang dia anut begitu menikah dengan istrinya, laki-laki itu juga menceritakan kisah hidupnya kepada Gilbert.
" Aku akan mengenalkan istriku kepadamu, dia sedang bersama anak kami saat ini "
Mike beranjak dari duduknya, dia mengajak pria itu untuk mengikuti nya menemui Andromeda yang sedang asik bermain-main bersama bayi mungilnya di halaman belakang rumahnya.
" Sayang..." Mike memeluk Andromeda dan mengecup kening nya.
Gilbert membulatkan matanya seketika, setelah Andromeda mendongakkan kepalanya.
" Iya hunny ?" Jawabnya dengan senyuman
" Aku ingin mengenalkan mu kepada seseorang "
" Ini paman Gilbert " Lanjutnya.
" Selamat siang nona " Gilbert menganggukkan kepalanya
" Saya Gilbert " Lanjutnya
" Selamat siang paman Gilbert, saya Andromeda dan kenalkan ini Magenta "
Andromeda memperkenalkan Magenta yang masih berada didalam gendongan tangannya, bayi anteng itu langsung menatap kearah Gilbert.
" Sepertinya Magenta menyukai mu paman " Kekeh Andromeda.
" Apa paman akan tinggal bersama dengan kami ?" Lanjutnya.
Deg.
Bukan hanya wajahnya saja yang mirip dengan mendiang ibunya Mike, tetapi suara dan kehangatan nya pun mirip dengan mendiang wanita itu.
" Dia mirip sekali dengan ibuku bukan?" Menyadari keterkejutan Gilbert saat ini.
" I...iya tuan, seperti reinkarnasi dari mendiang ibu anda " Jawabnya terbata.
" Jadi... Apakah paman akan menjawab pertanyaan istriku ?"
" Aku...aku akan mempertimbangkan nya tuan "
" Owh ayolah paman, aku butuh bantuan mu untuk menghalau pria-pria yang akan menatap nya nanti "
Meski terdengar begitu konyol ditelinga Gilbert, tetapi Mike tidak main-main dengan ucapannya ini.
" Aku bahkan belum mengijinkan pelayan laki-laki untuk memasuki ruangan dimana istriku berada " Lanjutnya.
Gilbert sedikit memahami akan kekhawatiran Mike terhadap istri nya yang begitu mirip dengan mendiang ibunya, sepertinya Mike sangat melindungi gadis ini pikirnya.
" Tapi bagaimana dengan perkebunan tuan? Maksudku...."
" Kau dan aku akan mengelola nya paman, hanya kali ini kau akan tinggal bersama dengan kami "
" Aku akan meminta bantuan kepada uncle Wallace untuk itu, jangan khawatirkan hal itu paman " Lanjutnya.
" Aku harus kembali untuk mengambil barang-barang ku terlebih dahulu tuan "
" Baiklah... Baiklah... Aku akan memberikan waktu hingga lusa kepada paman, jika paman belum kembali hingga saat itu aku akan menyusul paman kesana "
Ternyata sikap nya yang ini masih melekat pada diri tuan muda pikir Gilbert, pria itu terkekeh dalam hatinya.
Kau sangat beruntung nona muda....
.
.
.
To be continued 😉
Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘
Happy reading 🤗