Me, My Self And I

Me, My Self And I
Pencarian Andromeda



Dulu mungkin ada almarhum abah dan ambu yang bisa Mike kunjungi untuk sekedar menghilangkan kerinduannya, tetapi mereka sekarang sudah berpulang hanya batu nisan mereka yang bisa Mike datangi untuk dia menangisi semua nya.


" Maafkan aku abah, ambu...aku telah gagal melindungi anak kalian " Mike terisak disana. Andai keduanya masih ada, mungkin mereka akan memberikan nasehat-nasehat kepadanya agar dia tidak panik dan lupa diri seperti sekarang ini.


" Adik saya hanya perlu waktu untuk bisa berpikir " Ridwan kakak dari Andromeda mendekati Mike. Suaranya membuyarkan lamunannya.


" Eh...Kang, maaf tadi saya langsung kesini " Mike menyalami nya, Ridwan sudah tahu kabar perihal kepergian sang adik yang tiba-tiba dari Mike sebelum dia memutuskan untuk datang kesana.


" Gak apa-apa, itu makanan sudah siap Mike...Kita makan dulu " Ridwan merangkul Mike dan mengajaknya pergi dari sana.


Mungkin lebih tepatnya adalah sosok abah yang tergantikan oleh Ridwan dan ambu yang tergantikan oleh Rina istrinya, Mike menyadari hal itu ketika mereka sedang bersantap siang bersama. Kebetulan rumah yang dulu ditinggalkan oleh Abah dan ambu diserahkan kepada Ridwan sebagai warisan untuk anak tertuanya.


" Tinggal saja disini untuk sementara waktu Mike, itung-itung kamu menenangkan diri disini " Ridwan memasukan potongan sayuran kukus yang sudah dibubuhi nya dengan sambal kedalam mulutnya, dia melahapnya dengan nikmat.


" Iya kang, rencananya memang seperti itu...Tapi saya masih harus mengunjungi beberapa tempat untuk mencari Andromeda " Andai sang istri ada disampingnya sekarang ini pasti Mike akan menghabiskan isi piring nya sampai bersih. Masakan Rina hampir mirip rasanya dengan masakan almarhum Ambu.


" Memangnya habis ini kemana lagi?"


" Saya rencana mau ke Jogjakarta kang, ke tempat bude Sum. Dulu Nda sempat tinggal disana lama "


" Hari ini juga?" Ridwan meraih gelas yang diberikan sang istri kepada nya, dia menyudahi acara makannya dengan meminum air teh hangat.


" Besok pagi kang, nanti sore saya ketemu sama teman saya dulu.. Saya mau kerumah lama dulu dari sini " Mike menyudahi santap siangnya.


.


.


.


Pintu gerbang terbuka setelah Mike menekan tombol kode masuk kedalam rumah lamanya, terakhir kali dia dan Andromeda tinggal disini adalah ketika Abah dan Ambu masuk rumah sakit dan pada akhirnya menghembuskan nafasnya.


Dengan langkah lunglai Mike memasuki rumah itu, disambut oleh bi Siti dan mang Dahlan yang didaulat sebagai penjaga rumah olehnya.


" Aden udah makan? biar bibi siapkan dulu makanannya.."


" Sudah bi tadi disana " Mike menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang keluarga, tubuhnya sudah mulai terasa lelah.


" Kamarnya udah siap den, bisi mau tidur dulu " mang Dahlan menghampiri nya, dia baru selesai mengganti seprei yang sebenarnya masih bersih itu.


" Iya mang, makasih...Nanti bangunin saya jam 5 sore yah mang, saya ada janji dengan teman saya " Mike berlalu dari hadapan mereka menuju kamarnya. Kamar yang menjadi saksi awal mula Andromeda memasuki rumah ini ketika dia mengantarkan Mike dalam keadaan mabuk.


Mike merebahkan tubuhnya diatas kasur, dia menghela nafasnya kasar. Rasa lelahnya membuat dia tidur seketika.


" Sayang ...Jangan tinggalkan aku!!" Mike berlari mengikuti arah lari Andromeda nya, tetapi dia kehilangan arah saat istrinya itu hilang seketika.


" Sayang kamu dimana??! Maafkan aku sayang...Aku salah...Maafkan aku!" Mike berlutut disana, dunia seakan berputar mengelilingi nya. Dia menangis sejadi-jadinya tatkala Andromeda hilang dari pandangan nya.


" Maafkan aku Mike..." Hanya bisikan suara Andromeda yang dia dengar saat terakhir kali dia masih terlihat olehnya. Andromeda terlihat sangat cantik dengan gaun putih yang dikenakan nya.


" Andromeda....!!!!" Mike terbangun dari tidurnya seketika. Tubuhnya sudah dibasahi oleh keringat, dia mengusap wajah nya kasar.


Tuhan...Tolong tunjukkan dimana istriku berada, aku sungguh sangat mengkhawatirkan keadaannya...


Mike melihat jam menunjukkan pukul 4.30 sore, masih ada kesempatan untuk nya membersihkan dirinya sebelum bertemu dengan Dhika jam 5 nanti di cafe yang biasa mereka kunjungi dulu saat Mike masih tinggal disini.


" Gimana kabar ente Mike? Ente sehat kan?" Dhika dan ciri khas keakraban nya, dia memeluk Mike dan meninju pelan lengannya.


" Ginilah Dhik... Gue masih terus nyariin dia " Mike terlihat lesu dan pucat.


" Besok pagi ente jadi ke Jogja? Ane udah ngabarin si Petrus temen ane itu...Masih inget kan sama die ??"


" Iya Dhik...Besok gue kesana, gue gak bakalan brenti nyariin dia Dhik..." Mike tertunduk, tanpa Mike sadari Dhika menyunggingkan senyuman nya.


Ente kagak belajar juga rupanya Mike...Sorry untuk sekarang ane gak bakalan bantu ente, ane yakin Nda baik-baik saja disana.


" Thanks Dhik...Lo emang paling tau " Mike memaksa kan senyuman nya.


Handphone Mike tiba-tiba berdering ditengah-tengah acara makannya bersama Dhika, Pat menelpon nya.


" Ya Pat??" Jawab Mike malas, dia masih kesal dengan Patrick.


" Gue gak mau tau Pat! Cari sampe ketemu! Kalo perlu lu tambahin orang buat nyari dia! Paham?! " Mike menutup sambungan telponnya dengan paksa. Dia melemparkan benda pipih itu tetapi ditangkap oleh Dhika.


" Sabar bro... Gue yakin si Nda baek-baek aja. Lo banyakin doa deh Mike, jangan cuma nyari doang "


Deg


Perkataan Dhika seperti sebuah pedang yang menusuk jantung nya, dia akui memang dia telah jauh dari sang Pencipta akhir-akhir ini.


" Kita cuma bisa usaha Mike, yang tentuin tetep Die itu " Dhika menyesap minuman dinginnya.


" Ente udah kelarin masalah anak ente?" Dhika menatap Mike, dia berusaha mencari sinyal kebohongan dari wajah pria blasteran itu.


" Anak nya udah sembuh sekarang Dhik, mereka udah dibawa ke Surabaya sama Pat " Mike menatap makanannya dengan tatapan kosong, pikiran nya hanya tertuju kepada istri tercintanya yang kini entah ada dimana.


" Lho... Bukannya Pat masih ada di Jakarta?"


" Iya...dia gue suruh kerjain semua kerjaan sementara gue nyariin bini gue " Mike menghela nafas panjang


" Mike...Ane yakin Andromeda gak bakalan suka dengan keputusan ente yang model begituan "


" Maksud Lo Dhik?"


" Perusahaan ente itu butuh pemimpin hebat macam ente dan ane yakin klien-klien ente cuma pengen ketemu sama ente bukan sama si Pat itu...Boleh lah dia jadi asisten ente Mike, tapi perusahaan ente nyawanya ya ada di diri ente Mike..."


" Tapi Andromeda Dhik...Gue gak bisa hidup tanpa dia, dia terlalu berharga buat gue "


" Apa ente pikir die bakal seneng liat ente yang model begini pas dia pulang nanti? Nyari boleh Mike, harus malah...Tapi ente musti waras dulu "


" Maksud Lo, gue gila sekarang? Gitu? Mike mulai tersulut emosi


" Kalo otak ente udah waras, ente bakal nemuin dimana Andromeda berada saat ini dengan mudah Mike "


.


.


.


To be continued 😉


Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘


Happy reading 🤗


Happy weekend 🤗😘