Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
The Fire of Eternity - Revenge




Revenge


“APA SAJA YANG kau tahu tentang kami?” Cyrus duduk di dalam sebuah rumah, menghadap pria berambut hitam dengan seragam Wisteria Academy. Jika dihitung, maka ini adalah pertemuan mereka yang ketiga.


Pemilik rumah itu menuang segelas air kemudian menyuguhkannya. “Tidak banyak. Hanya nama, asal, dan ... tujuan.”


“Kalau begitu, izinkan aku mengakhiri nyawamu!” ujar lelaki berkulit pucat dengan tatapan tajam, tidak main-main dengan ucapannnya. Mereka hanya berdua dan jarak antar rumah juga cukup jauh, jadi tidak akan ada yang menghalangi.


“Kau yakin bisa melakukannya? Jika kau mati di tanganku, bagaimana nasib teman-teman dan misimu?” Arcus menepuk-nepuk tangan kiri, tahu kalau bakatnya tidak aktif. “Tanpa bakat itu, kau hanyalah Elementer lemah.”


Cyrus menahan amarah, keinginan untuk menghabisi pria itu makin tinggi. Namun, ia sadar dengan kekuatannya. “Aku—”


“Satu lagi. Kau tidak peduli dengan silsilah keluarga kita? Mungkin dengan mengabisiku, kau tidak akan terlahir di dunia ini. Sangat lucu, bukan?”


Makin banyak yang ia tahu, makin aku benci. Namun, lebih baik didiamkan saja. Cyrus menggebrak meja hingga gelas air tumpah, lalu berjalan keluar. “Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Memberitahu Aleesia?”


“Apa untungnya? Aku tidak mau masuk terlalu dalam. Bahkan pagi ini, aku juga tidak ada niat sama sekali untuk menemuimu. Ini kampung halamanku, tempat keluarga Ferront.”


Cyrus membanting pintu, kemudian pergi meninggalkan rumah Arcus. Ia memantau daerah sekitar, mencari keberadaan Ignis. Ketika berkeliling, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Lelaki itu menoleh, ternyata tim sudah bersama dengan makhluk api. Claryn pun menarik tangannya lalu memberikan sebongkah batu berwarna biru. Cyrus mengernyit, gadis itu tidak menjelaskan apa-apa. Namun, dilihat dari tas penuh perbekalan yang dibawa Ayaka, menunjukkan kalau mereka ingin melanjutkan perjalanan.


Lelaki itu menengadah, memperhatikan posisi matahari. Kemungkinan sekarang sudah pukul sembilan. Ia pun menyimpan batu Claryn dan mulai melangkah. “Ikuti aku! Kalau ada sesuatu, tanyakan saja sambil jalan.”


Ketua tim mengikuti lalu bertanya, “Ke mana kita akan pergi?”


“Sebenarnya, aku juga tidak yakin seratus persen, tapi kemungkinan besar Gohol memiliki elemen yang cukup kuat,” jawab Cyrus. Ia tidak pernah menjelajah Fyreville sampai ke bagian terdalam, tetapi ia tahu sedikit mengenai tempat di sana dari ibunya, terutama Grave of Heaven on Hell atau disingkat Gohol. Itu adalah tempat keramat di mana para Warlock pertama kali melakukan kontrak dengan roh.


“Apa tempatnya jauh?” tanya Ayaka. Gadis itu terlihat gelisah membayangkan perjalanan panjang yang akan ia lalui.


Cyrus hanya menggeleng, tetapi tidak untuk berbohong lagi. “Kurang lebih sama seperti perjalanan sebelumnya, tapi kali ini kita benar-benar tidak bisa terbang.”


“Kalau ragu, kenapa harus jauh-jauh? Coba saja di dekat sini,” bujuk gadis itu sambil menggenggam tangannya.


Cyrus yang merasa risi langsung menepis, tidak mau menanggapi. Ia justru menatap Claryn karena masih bingung dengan batu biru itu. “Kapten, benda apa yang tadi kau berikan padaku?”


“Aku sudah memberitahumu tadi pagi,” jawabnya ketus.


“Aku tidak ingat, tapi kalau kau malas mengulanginya, tidak apa-apa.”


“Blue Light Stone!” sentak Claryn, “batu itu bisa memantulkan sekaligus melipatgandakan serangan. Kau membutuhkannya untuk menghancurkan serpihan cermin.”


“Sejak awal, ini salahmu karena selalu memberikan informasi secara sepotong. Katakan semuanya sekarang jika masih ada!” titah Leena.


“Serpihan cermin dihancurkan di wilayah berelemen samakuatnya dengan bantuan pusaka. Ingat itu di kepalamu!”


 Tidak terasa, sudah dua jam mereka berjalan, pemukiman tadi kini menghilang dari pandangan. Tim sampai di dekat sebuah bukit yang dipenuhi pohon Poplar, terdapat pula bukit-bukit lain di kedua sisi, sehingga tampak seperti perbukitan memanjang yang mengelilingi Fyreville. Hal yang paling unik adalah setiap bukit ditumbuhi oleh pohon yang berbeda. Namun, tempat itu terpaksa harus dihindari karena keluarga bangsawan tinggal di sana dan tentu akan ada banyak sekali penjaga.


Seperti biasa, mereka mengambil jalan yang jauh dari pemukiman. Cyrus, Claryn, dan Ayaka berjalan santai sembari mengawasi sekitar, tetapi tiba-tiba mereka dikejutkan dengan pergerakan Leena yang melempar pisau ke belakang. Gadis itu sadar kalau sedang diikuti. Namun, saat diperiksa ternyata seekor gagak milik Arcus. Burung hitam itu lagi-lagi menjatuhkan secarik kertas. Cyrus bergegas merebut surat dari tangan Leena, karena masih merasa kesal, ia pun langsung membakarnya.


Elf itu memiringkan kepala, dengan tatapan kosong ia bertanya, “Kenapa?”


“Maaf, tanganku gatal.”


“Bagus, sekarang kalian duluan, aku ingin mencari pisauku.”


“Hati-hati, cepat menyusul!” teriak Ayaka sambil tersenyum.


Leena baru saja ingin mencari, tetapi tiba-tiba burung gagak itu kembali dan mengambilkan pisaunya. Ia pun berterima kasih, kemudian berbalik menyusul tim. Karena tahu suratnya belum terbaca, burung itu tidak mau pergi dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti mereka.


Burung gagak terbang di atas tim, kemudian mematuk kepala laki-laki yang telah membakat suratnya. Cyrus berdecak, ingin menangkap makhluk berbulu hitam itu, tetapi tidak bisa karena terlalu gesit. Ia meminta bantuan Ignis, tetapi ditolak. Entah kenapa, sejak ia membongkar identitas, sifatnya berubah drastis dari yang penurut jadi suka membantah.


Akhirnya, gagak itu pun pergi, kembali ke tempat Arcus untuk menyampaikan pesannya. Tim hanya melongo, tidak mengerti apa yang baru saja lelaki itu lakukan. Mereka lebih memilih untuk mengabaikan dan fokus pada perjalanan. Dari tempat tim berdiri, sudah mulai terlihat hutan aneh lagi yang menunggu di depan.


Ayaka berhenti lalu mengusap mata, memastikan kalau penglihatannya benar. “Kalian melihat apa yang aku lihat?”


“Maksudmu pepohonan mati yang dicat putih?” tanya Leena.


Gadis itu mengangguk. Usai mendapat kepastian soal hutan itu, ia kembali melihat para penjaga yang berada di sekelilingnya, hampir tidak ada celah untuk lewat. “Bagaimana, Kapten?”


“Seperti biasa, pengalihan!” jawab Claryn sambil menatap gadis berambut pirang.


Seakan itu mudah, batin Leena.


Ia berpikir keras, mencari sesuatu yang mencolok untuk memancing para penjaga. Sayangnya, ia hanya menduplikat sesuatu yang ada di sekitar, bukan dari pikiran. Elf itu melirik teman-temannya, seseorang yang bisa membantu hanyalah Cyrus. “Aku ada ide, tapi kita harus sembunyi dulu.”


Mereka bertiga menuruti rencananya, tetapi karena tidak ada tempat yang benar-benar tertutup, tim hanya bisa bersembunyi di balik dua pohon besar.


“Tidak banyak yang ingin kujelaskan. Cyrus, buat makhluk api raksasa! Itu bahan bagus untuk pancingan,” pinta Leena, “kalau bisa, yang menyeramkan sekaligus gesit.”


Pria itu mengangguk dan langsung mengeluarkan api besar dari tangannya. Layaknya api yang selalu bergerak ke atas, tubuh monster terbentuk dari kaki. Wujudnya hampir menyerupai manusia, hanya saja berkepala naga serta memiliki sayap malaikat dan ekor iblis.


“Ini cukup?” tanya Cyrus. Ia bisa membesarkannya lagi jika makhluk setinggi tiga meter itu masih terlalu kecil.


“Sudah.” Leena berkedip, iris mata kanannya berubah menjadi putih sehingga terlihat menyatu dengan sklera. Dua bayangan perlahan-lahan bergeser dari tubuh makhluk api itu. Kini mereka memiliki tiga monster api yang sudah tidak diragukan lagi bisa menarik perhatian penjaga.


“Kenapa kau menciptakan bayangan ini lebih lama dari biasanya?”


Elf itu menawab, “Karena aku mengeluarkan banyak mana agar mereka bisa bertahan lebih lama dan jauh juga.”


 Ketiga monster tadi terbang melewati hutan, kemudian berbelok ke arah bukit tempat tinggal keluarga bangsawan. Para penjaga pun langsung mengejar, menyisakan beberapa yang masih berjaga di depan hutan. Meski tidak semuanya pergi, tetapi itu sudah cukup memberi celah untuk masuk.


Sesampainya di sana, tim dikejutkan oleh kenyataan kalau ternyata pohon itu tidak dicat, melainkan asli terbuat dari tulang. Ayaka menutup mulut rapat-rapat agar tidak berteriak, lalu merangkul lengan sahabatnya. Sebenarnya, dua gadis itu juga takut, tetapi karena lebih takut dengan penjaga, mereka mau memasuki hutan tersebut lebih dalam.


Cyrus tiba-tiba berhenti, kemudian mengeluarkan serpihan cermin, teringat dengan ucapan Ayaka. “Mungkin aku akan mencobanya.”


“Kau mau menghancurkannya di sini?” tanya gadis berambut hitam itu, rasa takutnya kini sudah sedikit terobati.


Pria itu mengangguk lalu berjalan menjauh dari mereka, hendak meletakkan cermin di tanah. Namun, tiba-tiba sebatang anak panah cahaya memelesat dan menusuk tubuhnya. Tim langsung menoleh, tampak gadis bersayap emas terbang sambil membidikkan busur ke arah mereka.


Orang ini pasti sengaja, dia tahu tubuhku bisa beregenerasi. Benar-benar menjijikkan, batin Cyrus.


Ia menggenggam kuat anak panah kemudian mencabutnya. Darah mengalir deras dari dadanya, membuat kemeja yang awalnya putih berubah warna menjadi merah.


Leena menciptakan tiga bayangan tim, mencoba untuk kabur. Namun, Aleesia dengan cepat menembakkan tiga panah ke arah bayangan-bayangan itu hingga lenyap. Gadis Elf itu mencoba menciptakan lebih banyak, tetapi percuma. Aleesia mampu mengimbangi kecepatannya dalam membuat bayangan dengan panahan.


Kaki Ayaka gemetar dan akhirnya jatuh karena tidak sanggup lagi berdiri. “A-apa yang harus kita lakukan?”


“Tidak ada menurutku,” sahut Leena pasrah karena tidak bisa menggunakan bayangan.


Cyrus bangkit, menyerahkan serpihan cermin dan pusaka pada Claryn. “Aku ingin menghabisinya.”


“Jangan bodoh! Dia bukan tandinganmu.” Claryn mencekal tangannya, tidak membiarkan lelaki itu melakukan sesuatu yang dapat merepotkan tim lagi.


“Dia hanyalah siswa yang menangkis seranganku dan selalu mengarahkan panahnya padaku, aku—”


“Kembalikan serpihan cermin itu padaku! Sebagai gantinya, nyawa kalian juga akan kembali.” Aleesia mendarat, kemudian berjalan mendekati mereka.


“Jangan harap! Aku merelakan nyawaku asalkan kau tidak mendapatkan serpihan cermin!” Untuk pertama kalinya, lelaki itu mengucapkan kata-kata yang menyenangkan tim.