Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
Last Chaos in Boneyard - Apex




Apex


SINAR MATAHARI DI Darksville tidak pernah menyengat kulit, tetapi tidak menjadikan wilayah ini bersuhu dingin layaknya bagian utara Autumnland. Meskipun daerah Darksville memiliki pencahayaan yang terbatas, hal itu tidak menampik kenyataan kalau daerah tersebut memiliki keunikan tersendiri. Seperti halnya keberadaan hewan sejenis Shine yang sering bermunculan ketika pagi hingga menjelang petang. Namun, keberadaan hewan tersebut akan menjadi langka ketika malam datang, kecuali ada warga yang menjadikannya sebagai hewan peliharaan, pengganti lampu yang tidak berpengaruh banyak ketika malam hari.


Candra yang terlahir di Darksville memiliki ikatan batin yang kuat dengan setiap wilayahnya, terlebih ketika dirinya tidak sengaja menemukan bayi Shine yang terluka dan tampak terpisah dari induknya. Bayi Shine yang diperkirakan belum genap sepuluh bulan itu mengalami luka pada kaki depan, sehingga menyulitkannya berjalan. Karena terlena untuk membantu hewan tersebut, tanpa sadar Candra sudah meninggalkan timnya. Melihat jarak antara hutan jamur dengan pelabuhan yang cukup jauh, Candra berencana untuk beristirahat sebentar. Kakinya terasa keram akibat kebanyakan berjalan.


Bayi Shine yang ditolong oleh Candra tampak nyaman meskipun ditempatkan pada anyaman rotan bundar, lalu dilapisi dengan sapu tangan agar tidak melukai tubuh hewan yang terlihat mendengkur itu. “Kamu cukup tangguh untuk anak seusiamu yang ditinggalkan orang tua.” Candra membelai bulu-bulu berkilau kebiruan milik Shine dengan pelan. Hatinya seakan mengerti penderitaan apa yang tengah dihadapi oleh bayi Shine.


“Tidak apa kalau kamu merasa takut dan ingin menangis. Tak perlu ditahan-tahan, setidaknya di sini tidak ada yang akan melihat.” Seakan memiliki koneksi dengan alam sadarnya, Candra merasa telapak tangannya basah. Ia mengusap wajah, ternyata ada butiran air di sana. “Ah, aku berkeringat, ya?” Lalu tak lama kemudian, muncul tetesan butiran air dari angkasa. Candra menengadah, membiarkan rinai hujan itu berjatuhan pada wajahnya. “Ternyata turun hujan.”


 “Makhluk Berbulu, kau yakin kita tidak tersesat di sini? Perasaan kita hanya mutar-mutar saja,” kata Evander yang mulai meragukan indra penciuman Arion. “Sudah cukup untuk buta arah, aku harap kau tidak mengecewakan dengan hidungmu yang bermasalah.”


“Diamlah, Tukang Makan! Jangan ganggu konsentrasiku. Lakukanlah sesuatu yang berguna selain memikirkan makanan.”


“Jika kau tidak memikirkan makanan, maka kau akan sekarat.”


“Kesimpulan macam apa yang kau buat itu?”


Evander tampak tak acuh dengan mengedikkan bahu. “Kau perhatikan saja orang yang sekarat. Dia tidak nafsu makan meskipun disodorkan makanan lezat.”


“Baiklah, kali ini aku menyerah.” Sebetulnya, Arion tidak ingin mendapatkan hukuman lagi dari Ashlen yang sudah mendelik padanya. Daripada mulutnya terkunci rapat, dia lebih memilih membiarkan telinganya bengkak mendengarkan tutur kata Evander.


Karena kondisi Hutan Jamur di sekitar Gantor mempengaruhi penglihatan mereka, maka menunjuk Arion sebagai pemandu jalan adalah pilihan bijak. Yah  … walaupun mereka sempat memutar jalan beberapa kali akibat petunjuk palsu yang menyesatkan penciuman Arion.


“Ketua, Aku menemukan anak hilang!”


 Kondisi Candra yang lemah karena guyuran hujan membuat penyihir kurus itu harus bergantung pada punggung Arion yang memiliki keunggulan dalam fisik. “Sudah puas tertidur, Pangeran?” sindir Arion ketika Candra meminta diturunkan dari gendongannya.


Wizard pirang itu terpaksa berhenti melangkah ketika jantungnya tiba-tiba bergejolak. Terdapat rasa nyeri yang mendadak menyerbu ulu hati. Ia beberapa kali menepuk dada, membuat anggota tim menjadi khawatir.


“Kau tidak baik-baik saja, Can?” Ashlen membantu memapah Candra agar duduk di salah satu jamur raksasa yang memiliki lengkungan yang cukup besar untuk menampung dua orang duduk di atasnya.


Candra menjawab dengan gelengan. Topeng yang selama ini menutupi sebagian wajahnya dilemparkan ke sembarangan tempat. Ia menyikap tudung kepala dan menarik rambut ke belakang, sehingga menonjolkan seluruh bagian wajahnya. Coretan hitam tak beratur yang berada di sekitar matanya terlihat jelas. Napas Candra memburu, dia rakus dalam menghirup udara. Seakan-akan lehernya sedang dililit oleh sesuatu yang abstrak.


“Minum ini.” Evander memberikan sebuah ramuan kehijauan berupa vitamin yang mampu memberikan suntikan energi beberapa persen kepada Candra dengan percuma, tanpa perang urat dulu. “Bukan berarti aku peduli padamu. Aku hanya ingin kita segera menuntaskan misi.”


“Ah, terima kasih.”


“Ternyata kau punya sisi manis juga, Evan,” goda Arion.


“Bukan seperti itu, Anjing Besar!” sergah Evander cepat. “Aku hanya teringat pesan Kepala Sekolah yang menyuruh kita untuk tetap beradab ketika di luar, walaupun kita biadap di dalam.”


Mendengar penuturan Evander, otomatis Ashlen juga ikut tercengang. “Akhirnya aku bangga dengan fungsi otakmu yang kembali normal.”


Setidaknya dengan mendengar bualan tak bermutu rekan timnya, kali ini Candra merasa merasa lebih lega. Perasaan tercekik dan seolah-olah ada puluhan mata yang memerhatikan, sungguh menguras batinnya. Tersadar karena mereka telah berpindah tempat, dengan cemas akan kemungkinan terburuk, Candra berkata, “Apa kita sudah tidak berada di Gantor?”


Arion mengangguk. “Karena di Gantor kita tidak merasakan reaksi pada cermin, kita meminta bantuan dari Penyihir Berjenggot tadi untuk mengantarkan kita ke seberang pulau. Kau, tidak keberatan, kan, Can?”


“Tentu saja, tidak! Namun …, tampaknya sekarang kita di Apex, ya?”


“Iya, kata orang yang kita temui jalan, mereka menyebutkan bahwa bangunan itu  …. ” Arion menunjuk pada menara tinggi yang konon katanya menjadi tempat tinggal Archimage dan Auditor Darksville. “... adalah Apex.”


“Kau tidur seperti orang mati, Can. Jadinya, kita memilih secara acak lokasi penghancuran cermin,” kata Ashlen, menambahkan.


Sejenak, sambil mencoba menetralkan perasaannya, akhirnya Candra buka suara. “Hmm  … apakah selama aku tidur, cermin itu masih belum bereaksi di Apex?”


“Kurasa belum.”


“Baiklah, sebelum petang tiba, kita sebaiknya bergegas pergi dari sini.” Terlebih perasaan tidak nyaman itu benar-benar mengganggu.


 Di antara dataran di Darksville, satu-satunya tempat yang paling dihindari oleh Candra adalah Apex. Menara tinggi yang dapat melihat hampir seluruh wilayah Darksville itu memiliki reputasi buruk di ingatannya. Menjelang usia 10 tahun, Candra sempat diisolasi akibat kutukan yang dideritanya. Ia dikurung di menara Apex karena dianggap sebagai tempat yang memiliki penghuni paling sedikit dibandingkan tempat lainnya.


Melalui izin khusus dari Archimage kala itu, Candra diberikan tanda khusus pada pipi sebelah kiri. Namun, ketika beranjak remaja, segel tersebut memudar, tetapi mengingat tanda bahwa dia harus dihindari oleh orang-orang di sekitarnya, membuat Candra sering merasa terpuruk. Ia ingat betul bagaimana tatapan merendahkan sekaligus ketakutan yang pernah diberikan oleh orang-orang yang pernah berpapasan dengannya. Maka dari itu, Candra paling enggan menapakkan kaki di wilayah tersebut.


Karena tidak ada reaksi dari cermin, akhirnya tim memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Emgel. Seketika, Candra merasa hatinya sedikit lapang karena dia tidak mesti berlama-lama di daerah yang membuatnya merasa sesak.